
Setelah memakai baju yang disiapkan oleh Dea, Dave langsung keluar dari dalam kamar calon istrinya tersebut. Kamar yang masih terlihat begitu berantakan akibat ulahnya bersama dengan Dea.
Jika saja sedang tidak terburu-buru, Dave ingin sekali membenahi kamar tersebut. Kamar yang menjadi saksi bisu pergulatan panas antara dirinya bersama dengan Dea.
Kamar yang menjadi saksi bisu di mana dia dan juga Dea bercinta dengan penuh gairah, keduanya melebur menjadi satu dalam kenikmatan yang mereka ciptakan sendiri.
Saat tiba di dalam ruang keluarga, Dave melihat Dilla sedang duduk bersama dengan Dea. Wanita yang akan menjadi mertuanya itu terdiam seraya mengetuk-ngetukkan jari tangannya di atas meja.
Dia seolah sedang menunggu Dave dengan tidak sabar, karena ada yang ingin disampaikan oleh wanita itu kepada calon menantunya.
"Mom!" panggil Dave seraya duduk tepat di hadapan wanita itu.
Dilla yang merasa namanya dipanggil langsung menolehkan wajahnya ke arah Dave, wanita itu langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Dia bahkan memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.
"Ke-kenapa kamu memakai baju kesayangan almarhum daddy?" tanya Dilla dengan tubuh yang gemetaran.
Baju kesayangan suaminya tidak pernah dia berikan kepada siapa pun, baju-baju kesayangan suaminya selalu menggantung rapi di dalam lemarinya.
Jika dia rindu kepada suaminya tersebut, dia akan mengambil salah satu baju kesayangan suaminya. Dia semprotkan parfum kesukaan suaminya, lalu dia peluk dan dia hirup aroma parfum yang melekat di baju itu.
Melihat Dilla yang merasa tidak suka saat baju almarhum suaminya dia pakai, Dave langsung menghampiri calon mertuanya tersebut. Dia berjongkok dan mencium punggung tangan Dilla.
"Ampun, Mom. Dea yang memberikannya kepada aku, karena aku tidak mempunyai baju ganti." Dave mengusap-usap punggung tangan calon mertuanya.
"Ck! Itu baju favoritnya," ucap Dilla tidak senang.
''Kalau gitu aku akan membuka bajunya," ucap Dave.
"Eh? Mana boleh, Mom tidak mau melihat tubuh polos kamu. Ieeeww!" ucapnya seraya memalingkan wajahnya.
"Maaf, Mom. Aku tidak akan membuka bajunya, tapi aku mohon aku meminjamnya hari ini saja. Nanti akan aku kembalikan," ucap Dave.
"Hem! Sekarang kembalilah duduk, Mom ingin membicarakan hal penting dengan kalian." Dilla melepaskan genggaman tangan Dave.
Dave menuruti apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut, dia duduk tepat di samping calon istrinya. Dea sempat menolehkan wajahnya ke arah Dave, lalu wanita itu kembali menundukkan pandangannya.
Sebelum Dave datang, Dilla sempat memarahi putrinya tersebut. Karena putrinya dalam keadaan sadar melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebelum dia menikah.
Maka dari itu, Dea tidak berani untuk menatap wajah Dave ataupun wajah Dila. Dea justru sedang menyiapkan hatinya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ibunya.
__ADS_1
"Ehm! Awalnya Mom ingin menikahkan kalian bulan depan, karena Mom ingin mempersiapkan pesta yang besar untuk kalian. Namun, karena kalian sudah tidur bersama, Mom memutuskan akan menikahkan kalian malam ini juga."
Dilla sudah memikirkan semuanya dengan matang, setelah melihat apa yang dilakukan oleh putrinya dan juga calon menantunya, dia berpikir untuk segera menikahkan mereka berdua saja.
Hal itu dia lakukan karena Dilla takut jika Dea akan hamil jika dinikahkan bulan depan, karena walaupun mereka sudah menikah, tetapi tetap saja nanti anak yang dikandung oleh Dea jatuhnya anak yang tidak bernasab.
Anak haram yang jika terlahir perempuan, maka dia tidak boleh diwali nikahkan oleh bapaknya ketika dia akan memulai rumah tangga nanti. Jika anak haram itu terlahir sebagai seorang anak laki-laki, maka anak itu tidak boleh mendapatkan warisan dari kedua orang tuanya.
Jika kedua orang tuanya memaksa memberikan warisan kepada anak lelaki tersebut, maka baik orang tua ataupun anak haram tersebut, kedua-duanya akan mendapatkan dosa yang besar, itulah sepengetahuan Dilla.
Haduh! Padahal yang haram itu adalah perbuatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, tetapi tetap saja jatuhnya anak yang terlahir dari rahim wanita yang tidak dinikahi terlebih dahulu jatuhnya adalah anak haram.
Maka dari itu, sebelum hal itu terjadi Dilla ingin menikahkan anak kesayangannya dengan Dave. Sebelum Dea hamil, Dilla mau mereka berdua sudah menikah.
Untuk sesaat baik Dea ataupun Dave terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Dilla, tetapi tidak lama kemudian mereka begitu kaget dan langsung melayangkan protesnya.
"Tapi, Mom. Aku tidak mau menikah secepat itu dengan Dave, aku maunya nanti aja." Dea langsung memeluk lengan Dilla.
Dave langsung bangun, lalu dia duduk tempat di samping calon mertuanya tersebut. Dia usap lengan calon mertuanya lalu berkata.
"Bulan depan aja, Mom. Jangan nanti malam juga, aku belum mempersiapkan apa pun." Dave tersenyum kaku, karena calon mertuanya memutuskan hal tersebut pasti karena ulahnya sendiri.
"Tidak bisa, kalian harus menikah nanti malam. Mom takut jika kalian menikah bulan depan, sudah ada janin yang berkembang di dalam perut Dea," putus Dilla.
Namun, tadi malam dia mengeluarkan ****** ***** itu di dalam milik calon istrinya. Sudah dapat dipastikan jika Dea akan hamil atas perbuatannya itu.
"Kamu punya tabungan berapa, Dave?" tanya Dilla.
"Entahlah, Mom. Dave belum lihat," jawab Dave.
Uang tabungannya sempat dia ambil dan dia belikan cincin untuk melamar Daniela, walaupun acara lamarannya tidak jadi terlaksana karena Daniela sudah memilih Danish kala itu.
Lalu, uangnya kembali dia tabungkan. Karena dia takut akan menghabiskan tabungan yang selama ini sudah dia kumpulkan.
"Apakah cukup untuk menikahi putri Mom?'' tanya Dilla.
"Sangat cukup, Mom. Kalau untuk melaksanakan pernikahan sederhana pasti cukup, itu adalah uang tabunganku selama 4 tahun." Dave tersenyum kecut.
Dulu dia begitu rajin menyisihkan separuh uang hasil kerjanya, karena dia memikirkan masa depannya bersama dengan Daniela. Setelah uangnya terkumpul, Dave akan menikahi Daniela dan mengadakan pesta yang sederhana.
__ADS_1
Setelah mereka menikah nanti, Dave akan menggunakan uang sisa tabungannya untuk kredit rumah. Karena jika untuk membeli rumah secara cash, Dave tidak sanggup.
"Bagus, kalau begitu pulanglah. Persiapkan diri kamu dan juga siapkan berkasnya, selepas maghrib datanglah lagi. Bawa mas kawin dan juga cincin kawinnya, untuk sisanya biar nanti Mom yang mengurusnya."
"Tapi, Mom. Kalau nikahnya malem-malem, ngga nikah resmi dong?" tanya Dave.
Dave ingin memulai hidupnya menjadi lebih baik, mana mungkin dia harus menikahi Dea secara siri. Dia ingin menikahi wanita itu secara resmi, agar nantinya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Enak aja, kamu ngga tau kalau anaknya tukang kebun Mom itu jadi Naib? Nanti malam dia yang akan menikahkan kalian, makanya untuk berkas-berkasnya kamu harus urus sekarang. Biar nanti malam tinggal akad," jelas Dilla.
"Syukurlah kalau aku dinikahkan secara resmi," celetuk Dea dengan senyum manis di bibirnya.
Baik Dilla atau pun Dave langsung menolehkan wajah mereka ke arah Dea, mereka seolah bertanya-tanya kenapa Dea mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Dave.
"Aku hanya takut, Dave. Kalau misalkan kita nikah siri, nanti kamu pasti akan dengan mudahnya cerein aku. Bisa saja nanti kalau udah bosen kamu cerein aku hanya lewat SMS," jelas Dea.
"Ya ampun, mana ada kaya gitu? Aku tuh serius mau nikah dan berumah tangga sama kamu, ngga ada niat buat main-main." Dave menatap Dea dengan bersungguh-sungguh.
Dea tersenyum dengan begitu senang mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dia lalu menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat.
"Beneran ya, kamu ngga bakal cerein aku!" pinta Dea seraya mengusap-usap dada Dave.
Tangan itu terlihat benar-benar nakal, Dave sampai harus menahan napasnya. Jika saja tidak ada calon mertuanya, Dave pasti akan melakukan hal yang lebih.
"Iya, Dea," jawab Dave dengan yakin.
Dia akan berusaha untuk menjadi pria yang baik dan pria yang bertanggung jawab, tidak ada niat main-main lagi di dalam hidupnya.
"Ah! Aku jadi cinta sama kamu," ucap Dea seraya mengecup bibir Dave.
Melihat akan hal itu Dilla langsung mengerjapkan matanya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh putrinya terhadap calon suaminya tersebut.
Walaupun nanti malam mereka akan menikah, tetapi bukan berarti mereka boleh bermesraan seperti itu. Apalagi mereka bermesraan di hadapan dirinya.
"Ya ampun, Dea! Tidak bisakah kamu menahan diri? Tahanlah sebentar lagi, lagi pula nanti malam kalian sudah menjadi pasangan halal. Kamu tuh bener-bener!" kesal Dilla.
Dalam keadaan sadar saja Dea melakukan hal tersebut terhadap Dave, lalu apa yang Dea lakukan dalam keadaan tidak sadar, piri Dilla.
__ADS_1
"Sorry, Mom. Refleks," jawab Dea seraya nyengir kuda.
Dilla tidak bisa berkata apa pun lagi, dia hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan absurd dari putrinya tersebut.