Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Teringat Dulu-dulu


__ADS_3

Pagi telah menjelang, Debora terbangun dari tidurnya. Dia menolehkan wajahnya ke arah jam digital yang berada di atas nakas, dahinya mengernyit dalam karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Ternyata dia tidur dengan begitu pulas, sampai-sampai adzan subuh pun dia tidak mendengarnya. Walaupun terkadang dia tidak melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, tetapi biasanya jika adzan subuh berkumandang, dia pasti akan terbangun.


"Oh ya ampun, kenapa aku bisa tidak bangun? Apakah mungkin aku terlalu nyaman tidur di dalam kamar ini?" tanya Debora.


Debora memutuskan untuk segera turun dari tempat tidurnya, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, dia pun keluar dari dalam kamar. Tentu saja tujuannya untuk pergi ke dapur, karena tenggorokannya terasa begitu kering.


Debora tidak meneruskan langkahnya, dia langsung terdiam di ambang pintu. Karena dia melihat Danish dan juga Daniela kini sedang berada di dapur, sepasang suami istri itu sedang membuat sarapan.


Daniela terlihat sedang memasak sup jagung, sedangkan Danish sedang membuat roti isi. Keduanya terlihat begitu kompak, sesekali mereka akan tertawa dengan begitu riang.


Melihat kebersamaan Daniela dan juga Danish, dia teringat akan almarhum suaminya. Jika saja dia tidak berselingkuh, mungkin suaminya itu tidak akan meninggal karena serangan jantung.


Rasa salah yang begitu dalam langsung menyeruak ke dasar hatinya, dia terlalu egois dan terlalu takut jatuh miskin. Makanya saat itu dia berselingkuh, karena dia tidak mau hidup miskin dengan almarhum suaminya.


Tanpa Debora tahu, saat itu almarhum suaminya sedang berjuang untuk menaikkan kembali perusahaan yang sedang dipimpin olehnya saat itu.


"Mas! Jangan kaya gitu ih, aku lagi masak." Daniela menggeser letak tubuhnya, karena Danish malah memeluk Daniela dan mengusap-usap perutnya.


Namun, Danish malah terus aja memeluk Daniela tanpa mau melepaskan wanita itu. Karena menurutnya hanya memeluk Daniela saja tidak mengganggu acara memasak istrinya tersebut.


Lagi pula Daniela itu hanya sedang mengaduk sup saja, pelukan yang dilakukan Danish tidak akan membahayakan Daniela sama sekali.


"Cuma peluk doang, Yang. Elusin Dedek juga," ucap Danish.


"Aih! Mas, jangan kaya gitu." Daniela menepis tangan suaminya karena tangan itu merayap turun ke bawah dan mengusap miliki Daniela.


Debora langsung menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya, karena menurutnya Danish itu benar-benar begitu mirip dengan almarhum suaminya. Tidak lama kemudian, air matanya turun dari kedua pipinya.


"Maafkan aku, mas. Saat itu aku terlalu takut jatuh miskin," ucap Debora lirih.


Dia usap air matanya, lalu dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri anak dan juga menantunya. Setelah dekat dengan anak dan menantunya, Debora terlihat berdehem beberapa kali.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Danish dan juga Daniela saling menjauh, kemudian mereka menolehkan wajahnya ke arah Debora.


"Mom, sudah bangun?" tanya Daniela dengan gugup.


Bermesraan dengan suaminya bukanlah hal yang salah, tetapi melakukan kemesraan disaksikan langsung oleh mertuanya membuat dirinya tidak enak hati.


"He'em! Mom haus, Mom mau minum air hangat." Debora mengambil gelas lalu menuangkan air hangat.


Setelah itu, Debora langsung duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Lalu, dia menenggak air hangat itu dengan begitu perlahan, dia begitu hati-hati dalam menghabiskan air hangat itu.


Danish dan juga Daniela nampak saling pandang, kemudian mereka kembali melanjutkan aktivitasnya. Debora tersenyum, kemudian dia kembali menghampiri Daniela dan mengelus lembut lengan menantunya itu.


"Sudah ada sup jagung dan juga roti isi, jadi tugas Mom hanya perlu menyediakan susu hangat untuk kalian."


Melihat sikap Debora yang berubah menjadi lebih baik saja Daniela benar-benar merasa sangat senang, tidak perlu membantu dirinya untuk membuatkan apa pun. Karena jujur saja hal itu malah akan membuat Daniela merasa tidak enak hati.


"Tidak usah, Mom. Biar nanti aku saja yang menyiapkannya," ucap Daniela tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, biar Mom juga ikut beraktivitas di pagi hari ini," ujar Debora seraya mengambil 3 buah gelas dan membuatkan susu hangat untuk dirinya dan juga untuk Danish. Sedangkan untuk Daniela dia membuatkan susu hamil.


Terus terang saja dia kini merasa suudzon kepada ibunya sendiri, dia takut jika ibunya itu mencampurkan obat yang berbahaya ke dalam susu hamil milik istrinya.


Namun, setelah dia perhatikan ternyata ibunya sama sekali tidak memasukkan obat apa pun. Setelah selesai membuatkan susu hangat, Debora langsung menata susu hangat tersebut di atas meja makan.


Di lain tempat.


Dave terlihat begitu gelisah, dia ingin sekali langsung berangkat ke kediaman Atmaja. Namun, dia juga merasa bimbang. Karena dia juga merasa tidak begitu mengenal Dea, untuk apa juga dia membantu wanita itu, pikirnya.


Namun, jika dia tidak membantu wanita itu, rasanya dia tidak rela melihat wanita itu harus berdampingan dengan Dirgantara, pria yang tidak disukai sama sekali oleh wanita itu.


"Ck! Kenapa wanita itu membuat aku gelisah? Padahal dia bukan kekasihku, dia juga bukan wanita yang penting di dalam hidupku." Dave meraup wajahnya dengan kasar.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Dave memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah itu, dia langsung pergi ke kediaman Atmaja.

__ADS_1


Walaupun dia begitu enggan untuk pergi ke rumah mewah milik kediaman Atmaja itu, tetapi kakinya menuntunnya untuk melangkah ke sana.


"Permisi, apakah benar ini kediamannya Dirgantara?" tanya Dave kepada security yang berjaga di sana.


"Betul, anda siapa ya?" tanya security tersebut.


"Saya, Dave. Saya ingin bertemu dengan tuan Damian," ucap Dave.


Security yang berjaga di sana nampak mengernyitkan dahinya, pria yang ada di hadapannya menanyakan tentang keberadaan Dirgantara, tetapi yang ditanyakan malah tuan Damian.


"Sebenarnya anda ingin bertemu dengan siapa, Tuan?" tanya security tersebut.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Damian," jawab Dave seraya nyengir kuda.


"Apa ada hal penting yang harus dibahas?" tanya security itu dengan kekepoan yang sangat luar biasa.


"Ya, ada sedikit masalah pribadi yang harus dibahas. Ini tentang pernikahan Dirgantara," jawab Dave.


"Oh! Silakan masuk, silakan tunggu di teras. Saya takkan memanggilkan tuan Damian," ucap security tersebut.


Dave menganggukan kepalanya, lalu dengan cepat dia duduk di atas sofa yang ada di teras tersebut. Selama menunggu security itu untuk memanggil tuan Damian, Dave mengedarkan pandangannya.


Dia memperhatikan rumah megah tersebut, nampak sepi. Seperti tubuh manusia, tetapi tidak ada nyawanya.


Tidak lama kemudian, seorang pria tua dengan memakai tongkat di tangannya menghampiri Dave. Tanpa bertanya terlebih dahulu pria itu langsung menodong Dave dengan banyak pertanyaan.


"Siapa kamu? Mau apa kamu ke sini? Jangan bilang kalau kamu pria yang sudah berselingkuh dengan calon menantuku? Lalu, mau apa lagi kamu ke sini? Mau minta modal kawin?"


Tubuh Dave tiba-tiba saja membeku mendapatkan berondongan pertanyaan seperti itu dari pria tua itu, beberapa kali dia menelan ludahnya dengan begitu susah. Namun, tidak lama kemudian dia pun berkata.


"Hah? Bukan, Tuan. Saya--"


"Mau membela diri? Kalau begitu siap-siap untuk merasakan peluru yang akan bersarang di kepala kamu!" ujar pria tua itu seraya menodongkan pistol yang dia ambil dari saku celananya.

__ADS_1


"Bapak!" teriak Dave ketakutan, tetapi dia tidak bisa melangkahkan kakinya untuk berlari dari sana. Kakinya bergetar dengan begitu hebat, bahkan lututnya terasa kopong dan membuat tubuhnya seakan jatuh.


__ADS_2