
Pagi telah menjelang, Daniela merasakan hawa di pagi hari ini sangatlah dingin. Dia kembali menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Namun, tidak lama kemudian dengan cepat dia membuka mata dan bersiap untuk mandi. Hari ini dia tidak boleh telat, karena ini adalah hari pertama dia bekerja.
"Semangat Daniela, hari pertama bekerja. Datang lebih pagi walaupun harus bertemu dengan pak bos," ucapnya dengan lirih di akhir kalimatnya.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Lalu, setelah selesai dia bersiap dan segera keluar untuk mecari sarapan pagi.
Baru saja dia membuka pintunya, tetapi dia sudah dikagetkan oleh rubuhnya tubuh Dave. Dave ternyata semalaman tidur di atas lantai dengan posisi duduk dan menyandarkan punggungnya pada pintu.
"Dave!" pekik Daniela kala melihat tubuh Dave yang terkulai lemas.
Daniela mencoba untuk membangunkan Dave dengan menepuk-nepuk pipi Dave agar pria itu cepat bangun, tetapi dia sangat kaget karena Dave dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bahkan, suhu tubuhnya sangat tinggi.
"Ya ampun, kamu demam, Dave! Aku harus apa?" pekik Daniela panik.
Karena dia tidak bisa mengangkat tubuh Dave yang besar, Daniela memutuskan untuk meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Mending bawa ke Rumah Sakit aja, pacarnya. Takutnya nanti akan jadi fitnah kalau Mbak membawa dan merawat pacarnya di dalam rumah," ucap tukang sol sepatu yang ngontrak tidak jauh dari sana.
"Hooh, Mbak. Nanti Mbak juga yang rugi disangka yang tidak-tidak karena mengizinkan seorang pria masuk di dalam rumah," jelas tukang es pudeng yang biasa mangkal dekat Resto.
"Kalau begitu tolong berhentiin taksi, aku mau ngambil tas dulu. Sekalian tolong bopong pacar saya ke dalam taksi," pinta Daniela.
"Boleh, Mbak!" jawab keduanya.
Daniela dengan cepat mengambil tas yang berisikan ponsel dan juga dompetnya, lalu dengan cepat dia membawa Dave ke Rumah Sakit dibantu oleh kedua tetangganya.
Saat tiba di Rumah Sakit Dave langsung meminta tolong kepada suster yang berjaga di sana, dengan cepat Dave mendapatkan pertolongan.
Bahkan, setelah mendapatkan tindakan di ruang IGD, tidak lama kemudian Dave dipindahkan ke dalam ruang perawatan.
"Sus, saya mau kerja. Bisa titip pacar saya nggak?" tanya Daniela resah, karena setengah jam lagi dia harus masuk kerja.
"Bisa, Nona. Tolong tinggalkan nomor ponselnya, jadi kalau ada apa-apa saya bisa langsung menghubungi," jawab suster.
"Terima kasih, sus. Saya pergi dulu," pamit Daniela setelah meninggalkan nomor ponselnya.
Sebenarnya dia sangat ingin terlepas dari Dave, tapi dia merasa bingung jika harus mengabaikan pria itu.
"Ingat Daniela, hanya untuk kemanusiaan," ucap Daniela seraya memesan ojek online agar bisa cepat sampai di Resto.
Beruntung selepas mandi Daniela langsung memakai seragamnya, jadi dia tidak perlu kembali ke rumah. Namun, dia bisa langsung pergi ke Resto.
"Selamat pagi Daniela," sapa Desi.
"Pagi, Desi. Ayo kita ke dapur buat siap-siap," ajak Daniel.
"Eh? Tugas elu duduk manis di depan kasir, bukan di dapur kata pak bos gitu. Oiya, tadi pak bos titip pesan. Sebelum elu kerja, dia minta supaya elu masuk dulu ke dalam ruang kerjanya," ucap Desi.
"Hah? Untuk apa gue ke sana?" tanya Daniela was-was.
"Paling elu mau dikasih wejangan supaya kerja yang bener, terus tuh duit jangan ampe elu korupsi," jawab Desi seraya terkekeh.
"Haish! Kerja aja belum udah ngurusin korupsi, elu aneh." Daniela mencebikkan bibirnya kemudian pergi untuk masuk ke dalam ruangan Danish.
Saat tiba di depan ruangan Danish, Daniela langsung disambut oleh pria itu dengan senyum kecut di bibirnya. Tentu saja hal itu terjadi karena dia tahu jika Daniela baru saja pulang dari Rumah Sakit untuk mengantarkan Dave.
__ADS_1
"Ada apa Pak Bos manggil saya?" tanya Daniela dengan gugup.
"Temani saya sarapan di dalam," ucap Danish seraya menarik lembut tangan Daniela untuk masuk.
"Tapi, Pak Bos. Saya--"
"Duduk dan makan dengan benar, jangan membantah. Ini adalah perintah, aku tidak menerima penolakan." Danish langsung mendudukan Daniela di atas sofa, lalu menyuruh wanita itu untuk makan.
Walaupun pada awalnya dia terlihat ragu, tetapi pada akhirnya dia memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Danish. Awalnya dia mengira jika pria itu akan marah terhadap dirinya, tetapi dia salah.
Danish tersenyum melihat Daniela yang memakan sarapannya dengan lahap, karena dia tahu jika wanita itu belum sarapan. Dia terlalu mengkhawatirkan Dave kala melihat pria itu pingsan, dia mengabaikan dirinya sendiri yang belum mengisi perutnya.
Setelah melihat Daniela yang sudah selesai sarapan, Danish menyuruh Daniela untuk segera bekerja. Tentunya pria itu sengaja menempatkan Daniela di belakang kasir, agar tidak terlalu capek.
Dia takut jika Daniela sedang hamil, kalau menjalankan tugas sebagai pelayan, dia takut nanti Daniela malah akan keguguran. Karena ini adalah minggu kedua setelah mereka tidur bersama, Danish mulai berpikir jika kecebong unggulan miliknya pasti sudah mulai berkembang di dalam rahim Daniela.
Hari ini Daniela menjalankan tugasnya dengan sangat baik, walaupun pikirannya terbagi menjadi dua. Karena dia harus bekerja, tetapi dia juga terus saja mengingat keadaan Dave.
"Gue balik, elu bengong aja. Apa emang elu ngga mau balik?" tanya Desi yang melihat Daniela malah asik melamun setelah jam kerja mereka habis.
"Eh? Gue juga mau balik," ucap Daniela dengan cepat.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela dengan cepat pergi ke rumah untuk berganti baju. Karena dia ingin melihat keadaan Dave di Rumah Sakit, karna walau bagaimanapun juga dia tetap mengkhawatirkan keadaan pria itu.
Sesampainya di Rumah Sakit, dia melihat keadaan Dave yang sudah lebih baik. Bahkan, pria itu terlihat duduk seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang pasien.
"Apakah keadaan kamu sudah lebih baik, Dave?" tanya Daniela.
"Sudah, tentu saja sudah. Terima kasih karena kamu sudah membawaku ke Rumah Sakit," ucap Dave tulus.
"Aku mohon maafkan aku, aku janji hanya akan ada kamu satu-satunya wanita yang berada di dalam hidupku. Aku tidak akan berselingkuh lagi dengan Darra, aku mohon berikan aku suatu kesempatan lagi." Dave begitu mengiba.
"Maaf, Dave. Aku tidak bisa, kita jalani saja hidup kita masing-masing, aku tidak bisa menjadi kekasihmu lagi," ucap Daniela.
"Aku mohon, aku akan membuktikannya kepadamu. Aku sudah mengambil cuti selama satu minggu, aku akan tinggal di sini. Aku akan ngekost di dekat tempat kamu tinggal agar bisa bertemu dengan kamu setiap hari, aku akan buktikan sama kamu kalau aku benar-benar mencintai kamu. Aku tidak akan kembali kepada Darra," rayu Dave.
Daniela hanya menghela napas berat, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Dia tidak menyangka jika Dave akan terus berusaha untuk bisa berpacaran kembali dengan dirinya.
"Terserah kamu saja, Dave. Aku sudah tidak bisa berkata apa pun lagi, karena kamu sudah benar-benar mengecewakan aku," ucap Daniela.
Setelah mengatakan hal itu Daniela segera pulang, karena hari memang sudah sangat sore. Dia sudah tidak sanggup berlama-lama lagi bersama dengan Dave, karena hatinya merasa muak dan juga peduli dalam waktu yang bersamaan.
Keesokan harinya.
Daniela sudah kembali bersiap untuk bekerja, dia begitu kaget ketika membuka pintu rumahnya. Di sana sudah ada Dave yang sedang menggenggam sebuket bunga dan juga sekotak coklat.
"Selamat pagi, Sayang. Bunga dan juga coklat untuk kekasih hatiku yang cantik dan juga manis," ucap Dave dengan senyum manis di bibirnya.
"Dave, maaf. Aku--"
"Terimalah, aku akan tetap berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan kamu," ucap Dave.
"Tapi, Dave--"
"Aku tahu kamu mau kerja, bekerjalah dengan baik. Nanti aku akan datang untuk membawakan makan siang untuk kamu, bekerjalah dengan baik." Dave tersenyum manis.
"Tidak perlu, aku sudah dapat jatah makan siang," ucap Daniela beralasan.
__ADS_1
"Makan siang yang aku bawa pasti lebih enak, karena aku akan memasaknya sendiri untuk kamu," putus Dave.
"Terserah!" ucap Daniela yang tidak ingin berdebat.
Karena tidak mau berdebat, akhirnya Daniela memutuskan untuk segera berangkat bekerja. Menurutnya lebih baik pergi bekerja walaupun harus bertemu dengan Danish, setidaknya pria itu tidak menyebalkan seperti Dave.
Satu minggu sudah berlalu, setiap hari Dave selalu saja datang untuk memberikan kejutan manis terhadap Daniela. Walaupun Daniela berusaha untuk menghindari Dave, tetapi pria itu tetap saja tidak putus asa.
"Daniela, Sayang. Ini adalah malam terakhir aku di sini, bisakah nanti malam kita makan malam bersama?" tanya Dave.
"Aku malas pergi ke mana pun," ucap Daniela.
"Kita makan malam di rumah kamu saja, aku yang akan memasaknya. Anggap saja ini sebagai malam perpisahan kita kalau memang kamu tidak mau kembali lagi kepadaku," pinta Dave.
Ada rasa senang di hati Daniela, saat Dave mengatakan hal itu. Karena itu artinya, Dave sudah paham jika dia tidak ingin lagi kembali kepada pria. Namun, ada juga rasa kecewa yang dia rasakan.
"Baiklah, nanti malam kita makan malam bersama," putus Daniela.
"Oke, aku yang akan masak dan aku juga yang akan berbelanja. Kamu tinggal duduk manis aja," ucap Dave.
"Oke," jawab Dave sumringah.
Malam telah menjelang, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dave. Pria itu yang berbelanja dan juga yang memasak, Daniela hanya duduk anteng di depan televisi seraya menonton drama kesukaannya.
Setelah semuanya tertata rapi di atas meja makan, Dave mengajak Daniela untuk makan malam bersama. Malam yang katanya di mana mereka akan mengadakan malam perpisahan.
"Silakan Daniela, Sayang." Dave menarik salah satu kursi yang berada di ruang makan untuk Daniela.
"Terima kasih," ucap Daniela.
"Sama-sama," jawab Dave.
"Dave, bukankah itu minuman yang mengandung alkohol?" tanya Daniela ketika Dave memberikan segelas minuman kepada Daniela.
"Kadar alkoholnya sangat rendah, kamu tidak akan mabuk," jawab Dave. "Lagi pula ini malam perpisahan kita, jangan protes!" imbuh Dave.
"Baiklah, tapi setelah makan malam kamu harus langsung pulang ya, Dave?" pinta Daniela.
"Oke!" jawab Dave.
Malam ini mereka berdua melaksanakan makan malam dengan begitu romantis, Daniela dan juga Dave bahkan menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol yang sudah Dave campurkan dengan obat perangsang yang dia beli secara online.
"Dave, panas banget deh. Aku mau mandi dulu, kamu pulang aja gih!"
"Aku juga merasakan hal yang sama, aku numpang mandi juga," pinta Dave.
"Ya udah gantian aja," putus Daniela.
Dave dan juga Daniela berjalan menuju kamar dengan tubuh mereka yang sempoyongan, mereka mabuk dan lebih parahnya keduanya dalam pengaruh obat perangsang.
"Daniela, Sayang. Aku sudah tidak tahan," ucap Dave yang langsung menarik tubuh Daniela dan menghempaskannya ke atas tempat tidur.
"Danish, aku juga sudah tidak tahan." Daniela menatap Dave dengan mata yang menyipit, karena dia merasa jika yang ada di atas tubuhnya adalah atasannya sendiri.
Dave menulikan telinganya, dia seolah tidak peduli dengan siapa yang Daniela panggil. Dengan cepat dia melucuti pakaian Daniela dan melemparkannya secara asal.
"Malam ini kamu adalah milikku, Sayang," ucap Dave yang sama-sama berada di dalam pengaruh alkohol dan obat perangsang yang sudah dia masukkan ke dalam minuman yang dia buat sendiri.
__ADS_1