
Dulu Daniela memang begitu mencintai Dave, wanita itu bahkan rela membohongi dirinya sendiri. Wanita itu bahkan rela menjadi orang yang bodoh, wanita itu rela memaafkan kesalahan pria itu. Kesalahan fatal yang membuat dirinya ikut melakukan kesalahan.
Kini, setelah melihat kehidupan Dave yang dirasa lebih baik. Setelah melihat kebaikan yang didapatkan oleh pria itu, rasanya Daniela begitu iri melihatnya.
Apalagi ketika melihat wajah Dave yang begitu ceria dan juga sumringah ketika berhadapan dengan Dea dan juga Dilla, rasanya Daniela ingin menampar wajah pria itu.
"Sayang, duduklah!" pinta Danish seraya menuntun istrinya untuk duduk kembali di tempatnya.
Daniela tersenyum hangat ke arah suaminya, lalu dia menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut. Lagi pula membuat keributan di acara pernikahan orang lain tidak akan baik.
Daniela duduk anteng seraya mengelusi perutnya dengan lembut, dia menghela napas sepenuh dada lalu berkata dengan sangat lirih.
"Ya Tuhan! Kenapa aku sangat membenci Dave? Aku mohon jangan sampai anakku mirip dengan lelaki itu!"
Daniela memang berkata dengan begitu pelan, tetapi Danish masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia hanya menghela napas panjang lalu merangkul pundak istrinya.
Pada akhirnya acara ijab kabul pun dilanjutkan, Dave harus mengulang kembali kalimat kabulnya. Karena saat mengucapkan kalimat Kabul, dia salah menyebutkan nama.
Daniela!
Ya, pria itu terlalu gugup menghadapi pernikahannya bersama dengan Dea. Terlebih lagi tadi Daniela menghampirinya dan mengatai dirinya, hal itu membuat dirinya tanpa sadar menyebut Daniela sebagai calon pengantin wanitanya.
Mendengar kesalahan nama yang Dave sebutkan, Dea sempat menatap tajam ke arah calon suaminya tersebut. Walaupun mereka belum lama saling mengenal, tetapi mereka sudah melakukan percintaan panas di atas ranjang.
Rasanya tidak pantas jika Dave sampai salah menyebutkan nama, terlebih lagi mereka sudah saling berjanji akan melupakan masa lalu. Lebih tepatnya, melupakan orang-orang yang datang di dalam masa lalu mereka.
"Kita ulang sekali lagi ya, Nak Dave. Jangan sampai salah dalam menyebutkan nama pengantin wanitanya lagi, takutnya nanti malah batal nikah." Pak penghulu nampak tertawa setelah mengatakan hal itu.
"Iya, Pak," jawab Dave dengan tidak enak hati.
Kembali acara ijab kabul dilakukan, untuk yang kedua kalinya Dave mengucapkan kalimat kabulnya. Beruntung kali ini dia bisa berucap dengan benar, tidak lama kemudian terdengar kata sah yang begitu menggema di dalam rumah Dilla itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian sudah resmi menjadi pasangan halal. Karena sudah halal, kalian sudah boleh ninu-ninu. Tapi nanti, ngga sekarang juga. Masih ada acara yang harus dilanjutkan soalnya," goda pak penghulu.
Dave hanya tersenyum canggung mendengar apa yang dikatakan oleh pak penghulu, karena mau menimpali ucapan pak penghulu pun dia tidak bisa.
Akhirnya setelah acara ijab Kabul terlaksana dan sudah saling memakaikan cincin nikah, pak penghulu membacakan doa nikah. Dilanjutkan dengan serah terima mahar, lalu dilanjutkan kembali dengan acara sungkeman.
Setelah itu, acara dilanjutkan kembali dengan sesi foto bersama. Dimulai dengan foto pasangan pengantin, lalu setelah itu semua anggota keluarga, kerabat dan semua tamu yang datang ikut berfoto bersama.
Walaupun pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana dalam versi Dilla, Alhamdulillah acara bisa berlangsung dengan lancar.
"Terima kasih karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk hadir, silakan nikmati makanan dan suguhan yang sudah disediakan." Dilla mempersilakan tamu yang hadir untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
__ADS_1
Danish tersenyum dan menghampiri Dilla, wanita yang sudah dari muda bersahabat dengan almarhum ayahnya.
"Ehm! Tan, sorry aku ngga bisa lama-lama. Ini sudah larut, kasian baby kami." Danish mengelus lembut perut istrinya.
"Hem! Pulanglah, terima kasih atas bantuannya." Dilla memeluk Danish dan berbisik tepat di telinga pria itu. "Aku titip Dea, jika Dave macam-macam jangan segan untuk menghukum pria itu."
"Ya, Tante. Akan aku lakukan," ucap Danish menyanggupi.
Beberapa hari yang lalu, di saat dia memeriksakan kondisi kehamilan Daniela, Danish sempat melihat Dilla keluar dari ruangan dokter spesialis kanker. Danish yang merasa penasaran langsung mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Danish sangat kaget ketika mengetahui jika Dilla ternyata memiliki penyakit kanker otak stadium akhir, dia benar-benar tidak menyangka jika di balik sikap Dilla yang sangat arogan menyimpan rasa sakit yang sangat dalam.
Pantas saja wanita itu selalu berdandan dengan berlebihan, karena ternyata wanita itu ingin menutupi wajah pucatnya.
"Terima kasih, pulanglah dan jaga istri serta calon anakmu." Dilla melerai pelukannya lalu mengusap lengan Danish dengan lembut.
"Ya, Tante."
Setelah berpamitan dengan Dilla, Danish mengajak istrinya untuk segera pergi dari sana. Dia takut jika istrinya itu akan kelelahan, dia takut jika calon buah hatinya akan kenapa-kenapa kalau terlalu lama di luaran.
*
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, semua tamu undangan yang hadir sudah pulang ke kediaman masing-masing. Dilla sudah masuk ke dalam kamarnya karena begitu lelah, begitupun dengan Dea dan juga Dave mereka langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuh yang terasa sudah lengket.
Dave berdehem ketika Dea keluar dari dalam kamar mandi, Dea hanya memakai handuk yang melilit sampai sebatas dada saja.
"Apaan sih?" tanya Dea malu-malu.
Dave yang mandi terlebih dahulu kini sedang duduk di atas sofa, dia memperhatikan Dea yang mulai membuka lemari pakaian dan mengambil piyama tidur.
''Mau ke mana?" tanya Dave ketika melihat Dea hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau ganti baju di kamar mandi," jawab Dea.
"Ya ampun, Dea. Kita sudah pernah saling melihat semuanya, kenapa harus ganti baju di dalam kamar mandi?" tanya Dave.
"Ck! Aku malu," jawab Dea.
Dave bangun dan menghampiri Dea, lalu dia meloloskan handuk yang Dea pakai dan membantu wanita itu memakai piyama tidur. Dea sampai deg-degan dibuatnya, karena dia mengira jika Dave akan melakukan hal yang lain kepadanya.
"Sudah selesai, aku tahu kalau kamu pasti sangat lelah. Ayo kita tidur, besok aku akan mengantarmu ke kantor sebelum aku pergi bekerja. Terima kasih untuk semuanya, istriku."
Dave mengecup kening Dea, lalu dia menuntun Istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dea tersenyum karena Dave dirasa sangat pengertian.
__ADS_1
"Kamu ngga mau itu dulu?" tanya Dea ketika melihat Dave yang ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Dave menolehkan wajahnya ke arah Dea, dia tersenyum lalu mengusap pipi istrinya dengan begitu lembut.
"Bukannya ngga mau, tapi aku takut kamu kelelahan. Karena kata mom, besok kamu akan diperkenalkan sebagai pemimpin perusahaan yang baru."
Dea terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Dilla memang berkata jika setelah Dea menikah, Dilla akan menyerahkan perusahaan kepada dirinya.
"Oh! Iya juga sih, ya udah kita tidur aja. Kamu juga pasti le--"
Tok! Tok! Tok!
Dea tidak meneruskan ucapannya, karena dia mendengar pintu kamarnya diketuk dengan begitu kencang. Bahkan, Dea mendengar ada bibi meneriaki dirinya dengan begitu kencang.
"Aku buka pintu dulu," ucap Dea.
"Aku ikut," jawab Dave.
Dave dan Dea langsung turun dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamar, bibi nampak menarik lengan Dea agar segera mengikuti langkah wanita itu.
"Ada apaan sih, Bi?" tanya Dea.
"Itu, Non. Nyonya tadi pingsan di dapur, tapi sudah dipindahkan ke atas sofa sama mang Darma," jawab Bibi.
Tanpa menunggu Dea, Dave langsung berlari ke ruang keluarga, dia benar-benar khawatir dengan keadaan ibu mertuanya.
Terlebih lagi dia memang sudah sangat tahu apa yang diderita oleh wanita itu. Dea yang melihat Dave berlari ikut panik, dia mengejar suaminya dengan cepat.
"Mom!" panggil Dave seraya meluruhkan tubuhnya, lalu dia genggam tangan mertuanya dengan erat.
Dea ikut meluruhkan tubuhnya ke atas lantai, lalu dia mengusap wajah ibunya dengan begitu lembut. Dia sangat khawatir.
"Mommy kenapa? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Dea seraya memandang wajah Dilla dengan lekat.
Wajah wanita itu terlihat begitu pucat, rambutnya putih dan hanya sedikit. Tubuhnya lebih kurus daripada biasanya, padahal biasanya Dilla selalu terlihat cantik dan rambutnya hitam tebal.
Lalu, apa ini? Kenapa rambutnya hanya sedikit dan sudah memutih? Apakah mungkin dalam setiap harinya Dilla memakai wig?
"Dave! Mommy kenapa?" tanya Dea ketika melihat Dave mengangkat tubuh mertuanya dan membawanya tubuh kurus itu menuju halaman depan.
"Kita ke rumah sakit, De. Nanti aku jelaskan," jawab Dave.
Walaupun bingung, Dea menurut. Dia mengikuti langkah suaminya dengan bibir terkatup rapat, tetapi air matanya terus saja mengalir. Dia memang lemot dalam berpikir, tetapi Dea paham jika keadaan ibunya tidak baik-baik saja.
__ADS_1