
"Semoga saja Dave senang karena aku sudah menemuinya dan aku su--"
Ucapan Daniela terhenti ketika dia melihat Dave sedang tertawa dengan begitu riangnya bersama dengan seorang wanita yang sangat dia kenal.
Dave bahkan tanpa ragu merangkul pundak wanita itu, sedangkan wanita itu nampak memeluk pinggang Dave dengan posesif.
Mereka tampak seperti sepasang kekasih, begitu mesra dan mebuat banyak orang yang melihatnya merasa iri.
"Dave, kamu dan Darra kenapa bisa bersama?" tanya Daniela lirih dengan air mata yang sudah berurai di kedua pipinya.
Jika Darra satu pekerjaan dengan Dave, rasanya itu tidak mungkin. Karena Darra memakai dress ketat berwarna terang, jelas itu bukan stelan kerja.
Lalu, apakah Darra sengaja datang untuk pergi bersama dengan Dave atau mereka memang sudah janjian untuk bertemu, pikir Daniela.
"Dave, kamu tuh tega banget." Daniela mengusap air matanya yang terus saja mengalir dengan kurang ajarnya.
Dia berjalan tanpa arah, dia merasa sangat sedih. Untuk pulang pun terasa begitu enggan, dia merasa butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Pantai, sepertinya aku harus pergi ke pantai. Aku harus menenangkan diri," ucap Daniela.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela langsung naik bis menuju kota B. Tentu saja dia lebih memilih untuk menaiki bis, karena naik taksi pasti akan sangat mahal.
Selama perjalanan menuju kota B, Daniela hanya terdiam seraya membayangkan kemesraan antara Dave dan juga Darra.
Hatinya sangat sakit, air matanya bahkan terus saja mengalir tanpa diminta. Sesekali dia akan menyusut air matanya dengan tisu yang dia beli dari tukang asongan.
"Selamat datang di pantai, Daniela!" pekik Daniela setelah melakukan perjalanan selama dua jam menggunakan bis.
Walupun waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk berjalan kaki tanpa alas.
Tentu saja hal itu dia lakukan agar dinginnya air bisa langsung menyejukan hati dan pikirannya, setidaknya itulah yang dia pikirkan.
"Uuh! Dingin ternyata," ucap Daniela seraya terkekeh.
Dia merasa sangat konyol, karena kecewa terhadap kekasihnya dia malah pergi ke tempat yang jauh.
"Kamu sangat pengecut, Daniela. Seharusnya kamu jambak wanita jambang itu, terus kamu tampar wajah tampan kekasih kamu itu!" rutum Daniela.
Walaupun mulutnya berceloteh tidak jelas, tetapi air matanya malah kembali mengalir. Dia merasa jika hidupnya benar-benar payah, tidak ada kebahagiaan yang datang.
Berkali-kali dia mendapatkan kekecewaan dari Dave, kekasih hatinya. Dia jadi berpikir, haruskah dia mengubur keinginannya untuk menikah dengan Dave.
__ADS_1
"Putus! Ya, aku harus putus dengan Dave." Daniela duduk di atas pasir yang basah, seraya menangis sesenggukan.
Dengan seperti itu dia berharap, semoga kesedihannya akan ikut berlalu dengan air asin itu.
"Kamu jahat, Dave. Kamu jahat!" ucap Daniela seraya memukul-mukul air yang terkadang datang menerjang tubuh mungilnya.
Cukup lama Daniela menangis, hingga dia merasakan tubuhnya terasa dingin. Matanya terasa berat dan sulit untuk dibuka.
"Oh Tuhan! Sepertinya aku harus mencari tempat penginapan, mungkin aku harus cuti. 3 hari lumayan lama, semoga saja hatiku bisa sembuh setelah aku berlibur."
Daniela melangkahkan kakinya dengan langkah gontai, dia berjalan menuju penginapan yang tidak jauh dari pantai.
Saat tiba di penginapan, Daniela langsung menghampiri seorang wanita cantik di balik meja resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya mau pesan kamar, saya juga mau tanya. Apakah di sini ada toko baju? Baju saya basah," ucap Daniela berusaha untuk tersenyum.
Wanita cantik itu sempat memperhatikan Daniela dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia tersenyum melihat penampilan Daniela yang acak-acakan.
Sudah banyak wanita putus asa yang datang untuk meneriakan keluh kesahnya di pantai, mereka berharap jika kesedihan yang mereka rasakan akan menghilang terbawa deburan ombak.
Wanita itu jadi berpikir, sepertinya Daniela adalah salah satu wanita yang sedang putus asa. Makanya penampilannya begitu berantakan.
"Anda mau memesan kamar, Nona?" tanya wanita itu.
"Saya paham, Nona. Ini kunci kamar anda, kamar nomor 89. Untuk bajunya nanti saya sendiri yang akan memesankan, dress atau stelan?" tanya wanita itu.
"Satu piyama tidur dan satu dress, ukuran br--"
"Saya tahu, badan anda basah. Saya sudah tahu berapa ukurannya," ucap wanita itu seraya menatap dada Daniela dan juga area bawahnya.
"Oh!" jawab Daniela dengan bingung, karena wanita itu seakan tahu ukuran dada dari semua wanita yang datang.
"Silakan mandi saja dulu, nanti saya antarkan bajunya." Wanita itu seolah mengusir keberadaan Daniela, karena Daniela malah terdiam dengan mode bingung.
"Ah, iya." Daniela segera berlalu dari sana, lalu dia mencari letak kamarnya.
Sesekali Daniela merapikan rambutnya yang dirasa berantakan, tidak lama kemudian dia melihat kamar dengan nomor 89.
"Akhirnya, aku bisa cepat mandi dan tidur." Daniela membuka pintu kamarnya, lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian.
__ADS_1
Daniela sudah terlihat cantik dengan piyama tidur yang dia pakai, niat hati ingin segera tidur. Namun, perutnya yang terus berbunyi membuat dia tidak tahan.
Dengan cepat dia keluar dari dalam kamarnya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju warung makan yang tidak jauh dari pantai.
Di sana banyak sekali warung yang menyediakan berbagai jenis sea food, dari mulai kerang, kepiring sampai cumi.
"Pesan cumi bakar aja ah, dimakan pake nasi pasti enak." Daniela mengusap perutnya yang terasa keroncongan.
Dia benar-benar merasa lapar karena kini waktu memang sudah larut, sedangkan dia terakhir makan pukul dua belas siang.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya salah satu pelayan yang ada di sana.
"Cumi bakar pake nasi ya?" pinta Daniela.
"Boleh, silakan duduk dulu di sana. Nanti kalau sudah jadi saya akan bawakan," ucap pelayan itu seraya menunjukkan tempat di mana Daniela bisa makan.
Ternyata di sana banyak saung yang hanya dialasi tikar saja, terlihat sederhana tetapi sangat nyaman untuk disinggahi.
"Sepertinya duduk di sini akan sangat nyaman, bisa langsung menatap pantai yang terkena cahaya rembulan."
Daniela duduk seraya mengelus-elus lengannya yang terasa dingin, angin yang berhembus seakan menusuk sampai ke tulang.
"Permisi, Nona. Aku tidak kebagian tempat duduk, bolehkah aku duduk dengan anda?"
Mendengar ada seseorang yang menyapanya, Daniela langsung menolehkan wajahnya ke arah suara.
Tubuhnya langsung menegang kala melihat wajah pria tersebut, dia masih sangat ingat jika pria tampan yang ada di hadapannya itu adalah pria yang pernah tidur bersama dengan dirinya.
Walaupun pada saat mereka melakukan penyatuan Daniela tidak menyadari melakukannya dengan siapa, tetapi saat dia terbangun dari tidurnya, Daniela masih sangat ingat dengan wajah tampan pria itu.
"Nona, kenapa malah terdiam. Eh? Tunggu sebentar deh, sepertinya anda adalah wanita yang--"
"Bukan-bukan, saya tidak mengenal anda. Kalau mau duduk, silakan saja. Aku mau pulang," ucap Daniela.
Daniela dengan cepat bangun dan menghindari pria itu, dia langsung menghampiri pelayan tadi dan meminta pelayan itu untuk mengantarkan pesanannya ke dalam kamar penginapan.
"Ya Tuhan! Jangan-jangan pria itu mau meminta bayaran, aku tidak punya uang banyak. Aduh! Bagaimana ini?" keluh Daniela seraya berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
"Nona! Tunggu sebentar, aku ingin bicara!" teriak pria tadi.
Daniela semakin panik, dia langsung berlari agar pria itu tidak bisa berbicara dengan dirinya. Dia benar-benar panik karena takut jika pria itu akan meminta uang bayaran.
__ADS_1
"Nona! Tunggu, jika anda memang bukan wanita di malam itu. Aku mohon--"