
Dave malah terdiam saya memperhatikan wanita itu, begitupun dengan wanita itu. Dia terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, Ia seolah tidak berani untuk bersitatap mata dengan Dave.
"Dave, kenapa malah diam saja?" tanya David.
Dave yang sedang fokus memperhatikan wajah wanita itu, langsung menolehkan wajahnya ke arah David. Dia tersenyum lalu berkata.
"Eh? Aku---"
Awalnya Dave ingin mengatakan jika dia mengenal wanita yang ada di hadapannya, tetapi niatnya langsung dia urungkan karena takut akan dinilai jelek di mata David.
Ini adalah hari pertama dia menjadi asisten pribadi dari David, dia tidak boleh meninggalkan kesan yang jelek di depan mata orang kepercayaan dari Danish itu, pikirnya.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Dave.
David hanya menganggukan kepalanya, pria itu berpikir jika Dave gugup di hari pertamanya melakukan meeting di luar. Karena biasanya Dave memang tidak pernah pergi ke mana-mana, pria itu hanya akan bekerja di dalam kantor saja.
Di dalam divisi tempat dia bekerja dengan rekan satu timnya, dia hanya akan keluar kantor di saat siang tiba. Itu pun jika dia tidak makan di kantin perusahaan.
"Oh, oke," jawab David.
David lalu menolehkan wajahnya ke arah wanita paruh baya itu dan juga wanita muda itu secara bergantian, dia tersenyum lalu menyapa keduanya.
"Bagaimana kabar anda Nyonya Della? Bagaimana kabar anda Nona Dea?" tanya David dengan sangat sopan sekali.
Della nampak mendelik sebal mendapatkan pertanyaan seperti itu dari David, katarak sekali jika wanita itu tidak suka saat ditanyakan kabar oleh pria itu.
"Baik, kenapa Danish tidak datang? Takut kalau harus bertemu dengan Dea?" tanya Della ketus.
David terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia kebingungan untuk mencari jawaban. Karena Della malah mencampur adukan masalah pekerjaan dan masalah pribadi.
"Eh? Bukan seperti itu, Nyonya. Tuan Danish sedang ada keperluan, akhir-akhir ini dia sedang begitu repot. Jadi, untuk urusan kantor akan saya yang melaksanakan bersama dengan teman saya Dave," ujar David.
Della menatap David dan juga Dave secara bergantian, tidak lama kemudian wanita itu nampak berdecih.
"Cih! Dasar anak gak tau sopan santun," keluh Della seraya membuka berkas yang sudah dia bawa.
Wanita itu nampak kesal sekali, dia bahkan sampai lupa untuk mengajak David dan juga Dave untuk duduk dan segera memulai meeting yang akan dilaksanakan.
Walaupun tidak dipersilakan untuk duduk, David akhirnya mengajak Dave untuk duduk dan memulai meeting antara dua perusahaan besar tersebut.
Selama meeting berlangsung, Dave sering mencuri pandang ke arah Dea. Sedangkan wanita itu tetap saja pura-pura tidak mengenal Dave, bahkan saat dia mempresentasikan bahan meeting kali ini, Dea tidak melihat ke arah Dave sama sekali.
__ADS_1
Dave sampai memuji wanita itu di dalam hatinya, karena wanita itu begitu pandai dalam berakting. Padahal, dirinya saja merasa gatal mulutnya ingin bertanya kepada wanita itu. Sayangnya, wanita itu begitu cuek.
Setelah satu jam kemudian meeting pun sudah selesai dilaksanakan, kedua belah pihak merasa puas dengan hasil meeting kali ini. Namun, tetap saja wajahnya Della begitu ketus kepada David.
"Terima kasih, Nyonya. Untuk project selanjutnya akan dikerjakan oleh kami berdua, karena tuan Danish seperti biasanya akan sibuk mengurus Resto," ucap David.
"Ck! Sibuk ngurus Resto, atau sibuk mengurus wanita hamil itu?" ketus Della lagi.
David hanya bisa menghela napas berat, karena setiap kali dia menyebut nama Danish, wanita paruh baya itu pasti akan berkata dengan ketus. Dea yang sedari tadi diam saja akhirnya ikut mengeluarkan suaranya.
"Maaf atas ketidak nyamanannya dalam menghadapi ibu saya, kalau begitu kami permisi." Dea langsung mengajak ibunya pergi setelah berpamitan kepada David dan juga Dave.
Namun, wanita itu hanya membungkukkan badannya tanpa berani bersalaman dengan David ataupun Dave. Terlihat sekali ada kecanggungan dari dirinya. Akan tetapi, baik Dea ataupun Dave sama-sama berusaha untuk menutupi perasaan satu sama lainnya.
Setelah kepergian keduanya, Dave yang sejak tadi merasa kepo langsung bertanya kepada David. Dia merasa jika dirinya akan mati penasaran jika tidak mengetahui siapa wanita tadi.
"Tuan, maaf kalau saya lancang. Wanita tadi Kenapa sepertinya begitu kesal terhadap tuan Danish?" tanya Dave.
David menolehkan wajahnya ke arah Dave, dia tersenyum lalu berkata.
"Masalah pribadi yang belum terselesaikan, ayo kita balik ke kantor. Jangan kepo lagi, tidak baik." David merapikan berkasnya dan memberikannya kepada Dave.
Dave menerima berkas dari David seraya nyengir kuda, seharusnya dia memang tidak boleh lancang untuk menanyakan hal itu. Namun, tetap saja dia merasa kepo dengan sosok Dea. Karena mereka pernah menghabiskan waktu semalam suntuk untuk bercinta.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, tidak ada yang berani berbicara di antara keduanya. Mereka hanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, terlebih lagi dengan Dave.
Pria itu masih merasa penasaran dengan sosok Dea, karena wanita itu malah terlihat baik-baik saja. Padahal, seharusnya wanita itu meminta pertanggungjawaban kepada dirinya.
Tiba di kantor, keduanya kembali bekerja dalam mengerjakan tugas masing-masing. Mereka berdua sampai melupakan acara makan siangnya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Oh ya ampun, ternyata sudah jam 1. Ayo kita makan dan shalat dulu, Dave,'' ajak David.
"Ah! Iya, Tuan." Dave segera merapikan berkas-berkas yang ada di hadapannya, lalu dia pergi menuju mushola kantor.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban terhadap Sang Khalik, keduanya nampak pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
Di lain tempat.
Dari selepas bangun tidur, Danish mengurusi semua keperluan dari istrinya. Dia tidak membiarkan sama sekali Daniela untuk beraktivitas yang berat, karena dia takut akan membuat wanita itu kelelahan.
Dia juga tidak ingin membahayakan janin yang berada di dalam kandungan Daniela, karena walau bagaimanapun juga janin yang ada di dalam rahim Daniela adalah keturunan dari dirinya.
__ADS_1
Lagi pula Danish merasa khawatir terhadap istrinya, karena biasanya Daniela akan makan banyak jika dia suapi. Akan tetapi, hari ini Daniela seakan kehilangan napsu makannya.
Bahkan, waktu makan siang sudah lewat. Akan tetapi, Daniela masih terlihat begitu enggan untuk melaksanakan makan siangnya.
"Ini sudah mau pukul 2, untuk makan siang mau dimasakin apa?" tanya Danish.
Daniela nampak bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Danish, karena memang biasanya dia memakan apa pun yang ingin dia makan.
Makanan yang hanya dibeli di pinggir jalan pun akan dia makan jika dia suka, tidak peduli makanan itu sudah terkena debu jalanan.
Namun, kali ini terasa berbeda. Danish sangatlah memperhatikan apa pun yang dia makan dan apa pun yang dia lakukan, hal itu membuat Daniela berpikir dengan begitu keras ketika Danish bertanya tentang makanan.
Akan tetapi selera makannya sedang tidak ada, dia merasa enggan untuk makan apa pun. Akhirnya wanita hamil itu pun berkata.
"Makanan apa aja, yang penting sehat untuk bayi kita," jawab Daniela.
Danish langsung mengembangkan senyumnya, karena akhirnya istrinya mau makan juga. Walaupun Daniela terlihat begitu galau harus memakan apa.
"Oke, kalau begitu aku akan meminta bibi untuk memasakkan makanan yang sehat untuk ibu hamil," putus Danish pada akhirnya.
Daniela hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, Danish tersenyum palu dia pergi ke dapur untuk meminta di masakan makanan sehat.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, karena setengah jam kemudian makanan yang dipesan oleh Danish sudah tersaji di atas meja makan.
"Kita makan yuk, Sayang." Danish mengajak istrinya untuk makan siang yang sudah telat itu.
"Iya, Mas. Aku---"
Belum sempat Daniela menyelesaikan ucapannya, bel berbunyi dengan begitu kencang. Daniela dan Danish saling tatap, kemudian Danish berkata.
"Kamu tunggulah di ruang makan, biar aku melihat siapa tamu yang datang," ucap Danish.
"Aku mau ikut, ngga mau ditinggal," ucap Daniela manja.
Ya, setelah menikah dia merasa tidak ada kecanggungan di antara dirinya dan juga Danish. Dia merasa nyaman dan ingin selalu berada di dekat pria itu.
"Ayo," ajak Danish seraya merangkul pundak istrinya.
Danish dan juga Daniela melangkahkan kaki mereka menuju pintu utama, saat pintu utama terbuka dengan lebar. Mata Danish langsung membulat dengan sempurna ketika melihat siapa yang datang.
Dia bahkan hanya terdiam seraya menatap orang tersebut, dia tidak bisa mengatakan apa pun. Orang tersebut tersenyum sinis melihat reaksi dari Danish, lalu dia berkata.
__ADS_1
"Kenapa bengong? Apakah---"