
Setelah percintaan panas yang terjadi antara Danish dan juga Daniela, akhirnya keduanya memutuskan untuk mandi bersama. Setelah itu, mereka langsung tidur terlelap. Karena tenaga mereka berdua seakan terkuras dengan kegiatan panas mereka.
Pukul 5 sore barulah Danish dan juga Daniela terbangun dari tidurnya, mereka bahkan sampai melewatkan shalat ashar karena terlalu pulas.
Danish langsung keluar dari dalam kamar untuk mengambil makanan dan juga ingin membuatkan susu hamil untuk istrinya, karena dia yakin jika istrinya pasti sudah kelaparan.
Saat Danish hendak masuk ke dapur, tanpa sengaja dia melihat ibunya bersama dengan Dea sedang berbicara dengan serius. Danish yang merasa curiga menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tembok.
Tentu saja hal itu dia lakukan karena Danish ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh ibunya dan juga Dea, karena mereka terlihat mencurigakan.
"Pokoknya nanti malam kamu harus bisa tidur bareng dengan Danish!" perintah Debora.
"Iya, Tante."
Dea hanya bisa menganggukan kepalanya dengan patuh, wajahnya terlihat cemberut dengan tangan yang terus saja bekerja untuk memotong sayuran.
Danish bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Dea tidak seburuk yang dia sangka, karena Dea terlihat terpaksa saat disuruh oleh ibunya untuk mendekati dirinya.
"Ingat! Aku sudah siapkan obat tidur untuk putraku, kamu yang harus melakukan sisanya." Debora berkata dengan tangan yang terus saja mengaduk sup yang dia buat.
"Iya, Tante. Tapi aku mohon, jangan buat usaha ibuku bangkrut." Dea berbicara dengan mengiba.
"Asal kamu selalu patuh kepadaku," jawab Debora.
Danish langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, dia benar-benar tidak menyangka jika ibunya akan melakukan hal sekeji itu. Wanita yang sudah melahirkannya itu dengan teganya meminta Dea untuk menjebak dirinya.
Niatnya untuk ke dapur dia urungkan, dia malah mengambil ponselnya dan memesan makanan dan juga minuman secara online. Dia takut jika meminta bibi untuk menyiapkan makanan, akan ada campur tangan ibunya.
Tidak lupa Danish juga meminta pelayan lainnya untuk merapikan barang bawaannya dan juga Daniela, karena dia memutuskan akan segera pergi dari sana. Selain karena Daniela begitu Ingin pulang, dia juga menjadi tidak betah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya.
Setelah itu, Danis memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Dia ingin segera menemui istrinya, dia ingin membicarakan tentang kepulangan mereka ke ibu kota.
"Kok lama? Terus susunya mana? Terus, itu kenapa ada bibi yang ikut masuk?" tanya Daniela ketika Danish masuk ke dalam kamar bersama dengan bibi.
"Bibi mau rapiin baju kita, Sayang. Untuk makanannya sabar ya, Sayang. Udah laper banget ya?" tanya Danish.
__ADS_1
Danish langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk anteng di atas sofa, dia memeluk Daniela lalu mengusap perut istrinya dengan penuh kasih.
Bibi tersenyum lalu mulai merapikan barang-barang milik Daniela dan juga milik Danish, bibi terlihat begitu bahagia saat Daniela dan juga Danis terlihat begitu romantis di matanya.
"Dia pasti laper banget, Ayah sudah memesan makanan yang enak buat kamu." Danish terus saja mengusap perut Daniela dengan penuh kasih.
Daniela tersenyum lalu mengecup bibir Danish, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Daniela, Danish langsung tertawa.
"Lihatlah, Baby. Bunda kamu tuh sekarang jadi genit, hobinya cium-cium bibir Ayah," ucap Danish mengadu.
"Apaan sih, Mas. Aku tuh cuma ngucapin makasih aja sama kamu," ucap Daniela dengan bibir yang mengerucut.
"Iya, Sayang." Danish membalas kecupan istrinya.
Bibi yang sejak tadi merapikan barang milik keduanya terlihat mesam-mesem tidak jelas, bahkan wajahnya terlihat memerah.
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan makanan yang sudah dipesan oleh Danish. Kebetulan dengan datangnya pelayanan tersebut, bibi yang ditugaskan untuk merapikan barang-barang milik keduanya juga sudah selesai.
Bibi langsung keluar membawa barang milik Danish dan juga Daniela, tentu saja tujuannya untuk disimpan di dalam mobil pria itu. Jika mereka pulang nanti, semua barang sudah disimpan di dalam mobil.
"Enak?" tanya Danish ketika dia melihat mulut istrinya penuh dengan makanan.
"Enak, Mas. Makasih ya?" ucap Daniela.
''Ya, Sayang. Yang banyak makannya, abis maghrib kita pulang."
Mata Daniela langsung berbinar mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, dia sudah benar-benar tidak betah di sana. Dia sudah merindukan rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya bersama dengan Danish.
"Beneran, Mas?" tanya Daniela.
"Iya, Sayang," jawab Danish.
Daniela langsung memeluk Danish dan memberikan ciuman yang begitu mesra kepada suaminya tersebut, Danish langsung tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya.
Dia merasa sangat senang karena Daniela merupakan wanita yang gampang mengekspresikan isi hatinya, jadi dia tidak perlu menebak-nebak apa yang diinginkan oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai makan, keduanya langsung mandi karena adzan maghrib telah berkumandang. Setelah itu, keduanya dengan khusuk melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
Di ruang makan.
Debora sudah mempersiapkan makan malam yang spesial untuk malam ini, tentunya semuanya sudah dia siapkan karena ingin dengan cepat bisa menjebak putranya.
Kejam?
Ya, dia memang merupakan ibu yang begitu kejam. Dia rela merencanakan penjebakan untuk putranya sendiri, semuanya dia lakukan untuk kepentingannya.
Dia ingin bisa hidup enak tapi dengan cara yang licik, dia tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Danish setelah mengetahui hal itu.
"Semuanya sudah siap, kamu juga sudah dandan cantik. Sekarang aku akan ke kamar Danish," ucap Debora pada Dea.
Setelah mengatakan hal itu, Debora dengan begitu semangat melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Dia ingin mengajak putranya dan juga menantunya untuk makan malam bersama.
Dia sudah mempersiapkan momen spesial untuk Danish dan juga Daniela, spesial penjebakan untuk putra dan juga menantunya.
Tok! Tok! Tok!
Tangan Debora dengan lincah mengetuk pintu kamar tersebut, tidak lama kemudian Danish nampak membuka pintu kamar itu dan tersenyum ketika melihat ibunya yang berada tepat di hadapannya.
"Ada apa, Mom?" tanya Danish.
''Mom sudah menyiapkan makan malam yang spesial untuk kalian, ayo kita makan bersama," ajak Debora dengan senyum penuh kepalsuan di bibirnya.
"Oh! Tidak perlu repot-repot, Mom. Karena aku dan juga Daniela akan pulang ke ibu kota malam ini juga, maaf karena kami tidak bisa makan malam bersama dengan Mom dan juga Dea." Danish tersenyum hangat lalu mengajak istrinya untuk keluar dari dalam kamar tersebut.
Debora terlihat kaget dengan apa yang dikatakan oleh putranya, padahal dia sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Namun, kini rencananya harus gagal. Debora bahkan hanya diam mematung karena begitu kaget dengan apa yang diucapkan oleh putranya.
"Kami pulang ya, Mom," pamit Daniela.
"Eh? Jangan!" teriak Debora, sayangnya Danish dan Daniela tidak menggubrisnya.
Mereka terus saja melangkahkan kaki mereka keluar dari Villa tersebut, Danish yang sudah mengetahui rencana ibunya, lebih baik meninggalkan wanita itu daripada menegurnya.
__ADS_1
"Danish!" teriak Debora ketika mobil milik Danish melaju meninggalkan Debora dalam kekesalan.