
Dia bahkan hanya terdiam seraya menatap orang tersebut, dia tidak bisa mengatakan apa pun. Orang tersebut tersenyum sinis melihat reaksi dari Danish, lalu dia berkata.
"Kenapa bengong? Apakah kedatangan Mom sangat tidak diinginkan?" tanya wanita itu.
Daniela menolehkan wajahnya ke arah Danish dan wanita itu secara bergantian, lalu dia mengusap lengan Danish dan bertanya kepada suaminya tersebut.
"Mom? Jadi, dia adalah ibumu? Kenapa kamu malah diam? Ajaklah ibumu untuk masuk," ujar Daniela.
Danish menghela napas berat, rasa tidak suka terlihat dengan jelas dari raut wajahnya. Daniela sampai bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah ada masalah yang serius antara Danis dan juga Ibunya, pikirnya.
Namun, dia tidak ingin bertanya sebelum suaminya menceritakan. Karena rasanya sangat tidak sopan jika dia banyak bertanya kepada suaminya itu.
Karena melihat Danish yang hanya diam saja seraya menatap wanita itu, Daniela menghampiri wanita itu dan menyapanya.
"Selamat siang, Mom. Apa kabar?" tanya Daniela seraya mencium punggung tangan wanita itu.
Daniela berusaha untuk bersikap sesopan mungkin terhadap ibu dari suaminya tersebut, walaupun memang dia sama sekali tidak mengenal wanita itu.
''Keadaanku tadinya baik-baik saja, setelah mendengar kabar pernikahan kalian, aku merasa tidak baik dan langsung memutuskan untuk pulang." Wanita itu berkata dengan ketus.
Daniela langsung menolehkan wajahnya ke arah suaminya, karena terus terang dia merasa tersinggung dengan ucapan wanita itu. Danish yang melihat perubahan dari raut wajah istrinya langsung menghampiri keduanya.
"Jika Mom datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahanku, aku akan mempersilahkan Mom untuk masuk. Tapi, jika Mom datang untuk mencela pernikahanku, silakan pulang ke rumah suami anda," ucap Danish tidak kalah ketus.
Melihat ketegangan di wajah keduanya, Daniela mencoba untuk menenangkan suaminya. Walau bagaimanapun juga, dia tidak mau melihat adanya pertengkaran antara Danish dan ibunya karena dirinya.
Daniela langsung memeluk lengan Danish, lalu dia mengusap dada suaminya agar pria itu bisa lebih tenang.
"Sayang, ngga boleh ngomong kayak gitu terhadap orang tua," ucap Daniela mengingatkan.
Walaupun wanita itu membicarakan hal yang membuat hati Daniela tidak enak, tetapi rasanya tidak baik jika Danish berbicara seperti itu kepada ibunya.
"Hem!" jawab Danish. Setelah mengatakan hal itu, Danish menolehkan wajahnya ke arah ibunya. "Silakan masuk, dan tolong jaga sikap anda di depan istriku," imbuhnya.
__ADS_1
Wajah Wanita itu nampak ditekuk mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, putranya yang tidak lagi menghargai dirinya setelah dia ketahuan memiliki pria idaman lain selain ayahnya.
Ketiga orang tersebut nampak masuk ke dalam kediaman Danish, lalu mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Melihat Debora yang duduk seraya mengibas-ngibaskan tangannya, membuat Daniela berkata.
"Aku akan ke dapur dulu buat bikin minum, Mom mau minum apa?" tanya Daniela.
Mendengar Daniela yang memanggil dirinya dengan sebutan mom, membuat kuping Debora terasa panas. Dia merasa tidak sudi jika harus dipanggil mom oleh menantu yang tidak dia inginkan.
"Panggil aku Nyonya Dea, karena aku tidak akan menanggap kamu sebagai menantu." Debora berucap dengan ketus.
Danish benar-benar sangat kesal mendengar ucapan dari ibunya tersebut, dia bahkan sampai berdiri seraya menunjuk wajah ibunya.
"Ya ampun, Mom! Pergilah dari sini, sudah aku katakan jika aku tidak akan menerimamu, kalau kamu hanya ingin menghina istriku!" tegas Danish.
Debora memutar bola matanya dengan malas, karena ternyata putranya lebih memilih untuk membela istrinya daripada dirinya.
"Kamu tuh aneh, Danish. Mom sudah menjodohkan kamu dengan wanita yang lebih baik dari wanita itu, bahkan dia sederajat dengan kita. Kenapa kamu malah memilih wanita itu, hah?" teriak Debora seraya menunjuk Daniela.
Terlebih lagi saat ini istrinya sedang mengandung, perasaan wanita itu pasti berkali-kali lipat lebih sedih mendengarkan ocehan dari ibunya.
"Sudahlah, Mom. Tidak perlu membahas apa pun lagi," ucap Danish seraya menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.
Dia mencoba menenangkan hati Daniela, bahkan tanpa ragu Danish langsung menunduk dan mengecup kening wanita itu.
Debora yang tidak suka terlihat seperti orang meluah, dia bahkan mencebikkan bibirnya saat melihat kemesraan putranya dan juga menantu yang tidak dia inginkan itu.
"Cih! Wanita miskin seperti itu saja dibela, pasti dia sengaja menjebak kamu biar dia hamil duluan. Terus minta tanggung jawab dan minta dinikahi, kan? Dasar wanita licik!" seru Debora.
Kali ini Danish benar-benar merasa sangat marah, dia sudah tidak akan memberikan maaf kepada ibunya jika terus saja berusaha untuk menghina istrinya.
"Stop, Mom! Daniela bukan wanita licik seperti kamu, dia adalah wanita baik-baik. Bukan wanita yang rela meninggalkan anak beserta suaminya hanya untuk pria yang sudah beristri," jawab Danish yang membuat wajah Debora memerah.
Wanita berusia empat puluh tujuh tahun itu terlihat begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh putranya, dulu dia memang sengaja menjebak pria yang kini menjadi suaminya.
__ADS_1
Pria kaya yang sudah beristri, hal itu dia lakukan karena dulu dia mendengar jika perusahaan suaminya sedang pailit. Dia tidak mau jatuh miskin.
"Oh! Setelah menikah dengan wanita pellacur itu, ternyata bisa membuat kamu berani mengatakan hal seperti itu kepada Mom!" teriak Debora.
Danish berusaha untuk menjaga kewarasannya, karena jika dia terus berada di sana, dia pasti akan terus berdebat dengan ibunya.
"Kuping aku panas, Yang. Kita keluar yuk?" ajak Danish.
Danish langsung mengajak Daniela untuk keluar dari dalam rumah sederhana mereka, dia tidak mau berlama-lama di sana. Selain tidak mau mendengar ucapan dari Debora, dia juga takut mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap ibunya tersebut.
"Tapi, Mas. Ngga sopan loh ninggalin Mom kamu sendiri di rumah," ucap Daniela dengan tidak enak hati.
Tentu sajak wanita hamil itu merasa tidak enak hati, karena Debora dan juga Danish bertengkar karena dirinya. Mertuanya ingin membuat dirinya jelek, sedangkan suaminya ingin membela dirinya.
"Tidak usah memikirkan wanita itu, kita ke salon aja yuk. Kamu perlu perawatan kayaknya, biar kamu makin syeger dan aku makin betah dekat sama kamu," ucap Danish seraya mengecup bibir istrinya.
Setelah mengatakan hal itu, pria itu langsung menggendong Daniela agar bisa dengan cepat keluar dari rumah itu. Debora yang merasa tidak suka langsung berteriak dengan begitu kencang.
"Danish! Jangan tinggalkan, Mom. Mom masih mau bicara, Danish!" teriak Debora.
Sayangnya Danish tidak menggubris ucapan ibunya, dia langsung melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa menghindari ibunya tersebut.
Debora yang kesal langsung keluar dari rumah sederhana itu, untuk meluapkan kekesalannya dia langsung membanting pintu rumah tersebut dengan begitu kencang.
Brak!
"Eh? Kontet! Kontet!" teriak Bibi yang sedang menatap kepergian Danish setelah membukakan gerbang.
"Apa kamu teriak-teriak kayak gitu, hah?" tanya Debora kepada Bibi dengan suara yang melengking.
"Itu ada Kunti, Nya. Kunti terbang, eh?" ucap Bibi seraya menutup mulutnya.
"Dasar Babuu sialan!" seru Debora seraya masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1