Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Kematian Dilla


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih dua puluh dua jam, akhirnya Debora tiba di Bandara Soetta. Dia merasa lega sekali karena kini dia sudah kembali ke tanah air, terlebih lagi setelah dia mendapatkan kabar dari pengacaranya, rasanya dia benar-benar sangat lega.


"Alhamdulillah," ucap Debora ketika pengacaranya memberikan kabar jika proses perceraiannya sudah selesai.


Kini Debora sudah resmi menjadi seorang janda, kini dia tinggal mengabdikan hidupnya bersama dengan anak, menantu dan cucunya. Dia tidak sia-sia mendaftarkan perceraiannya secara express, karena prosesnya memang benar-benar cepat.


Uang yang dia keluarkan memang lumayan besar, tetapi dia sangat puas karena dia bisa bercerai dengan proses yang sangat cepat.


Debora tersenyum seraya mencegat taksi dan meminta diantarkan ke rumah putranya, karena dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Daniela dan juga Danish.


"Mom pulang!" teriak Debora.


Sayangnya tidak ada sahutan, Debora dengan cepat masuk ke dalam rumah dan mencari anak menantunya. Namun, hanya ada bibi yang sedang membersihkan rumah.


"Bi! Ke mana Danish dan juga Daniela? Kenapa mereka tidak ada di rumah?" tanya Debora.


Bibi langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Debora seraya tersenyum dan berkata.


"Anu, Nya. Nyonya Dilla meninggal, jadinya tuan Danish dan nyonya Daniela sedang ikut ke pemakaman," jawab Bibi.


"Dilla meninggal?" tanya Debora dengan raut wajah tidak percaya.

__ADS_1


Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan terlebih dahulu dipanggil oleh Sang Khalik, walaupun pada kenyataannya dia memang sudah mengetahui keadaan dari Dilla.


"Ya, Nyonya. Tadi pagi selepas shalat subuh dia meninggal dunia," jawab Bibi.


"Innalillahiwainnailaihirojiun," ujar Debora seraya mengusap dadanya. Sesak sekali rasanya mendengar sahabatnya sudah tiada.


Setelah mendengar kabar kematian dari Dilla, dengan cepat Debora langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mengganti pakaian yang terlebih dahulu, lalu dengan cepat dia memesan taxi dan meminta diantarkan ke pemakaman.


Walaupun tubuhnya terasa begitu lelah, tetapi dia ingin pergi ke pemakaman untuk mendoakan sahabatnya tersebut.


Saat tiba di pemakaman, ternyata acara pemakaman sudah selesai. Para pelayat juga sudah kembali ke rumah masing-masing, di sana sudah terlihat sepi.


Debora melihat Dea yang sedang menangis di dalam pelukan Dave. Daniela sedang berdiri di samping Dea dan menepuk-nepuk punggung wanita itu.


Debora dengan cepat menghampiri mereka berempat, dia menepuk lengan Dea dengan lembut dan berkata.


"Tante turut berduka cita," ucap Debora.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Debora, Dea melerai pelukannya bersama sang suami. Lalu, dia menghambur ke dalam pelukan Debora.


Walaupun wanita itu selalu bersikap kasar kepada dirinya, walaupun wanita itu selalu mengancam dirinya. Namun, Dea tetap menghormati wanita itu.

__ADS_1


"Mom sudah pergi, Dea minta maaf kalau mom ada salah sama Tante," ucap Dea.


"Ya, Tante maafkan. Tante belum sempat meminta maaf kepada Dilla, tapi dia sudah meninggalkan Tante terlebih dahulu." Tanpa terasa air mata di kedua pipi Debora langsung luruh begitu saja, dia mengusap air matanya dengan cepat.


Debora merasa jika dirinyalah yang lebih banyak salah kepada sahabatnya itu, dia selalu memanfaatkan sahabatnya itu. Dia selalu menekan sahabatnya agar mau berbesan dengan dirinya.


Tentunya hal itu dia lakukan agar dirinya tidak sengsara di saat tuanya, dia bisa menikmati harta putranya dengan cara yang licik.


Namun, ini dia sudah sangat sadar jika perbuatannya dulu sangatlah salah. Kini dia berjanji di dalam hatinya akan bertaubat dan akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.


"Mom pasti akan memaafkan semua kesalahan Tante," ujar Dea dengan tangis di bibirnya.


Kehilangan ibunya benar-benar membuat dirinya begitu sedih, terlebih lagi ketika mengetahui penyakit yang diderita ibunya di saat-saat terakhir wanita itu, rasanya dia menjadi anak yang tidak berguna.


"Jangan menangis, Sayang. Dilla pasti sudah senang di alam sana, Tuhan begitu baik sudah membawanya ke surga. Dia tidak akan pernah merasa sakit lagi," ujar Debora.


Dea menganggukan kepalanya, Dea seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh Debora. Namun, tetap saja dia merasa kehilangan dan sangat sakit.


"Tapi tetap saja aku sangat merasa sedih, Tante. Aku tidak menyangka jika mom akan pergi secepat ini," ujar Dea.


Debora merasakan hal yang sama, dia benar-benar tidak percaya jika sahabatnya itu bisa secepat ini meninggalkan dirinya. Sahabatnya itu terlalu pandai berakting, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak menyangka jika dia akan pergi secepat itu.

__ADS_1


"Ya, Tante paham. Sekarang kita pulang, mom Dilla pasti tidak akan senang jika melihat kamu bersedih seperti ini." Debora melerai pelukannya lalu menuntun Dea untuk pergi dari sana.


__ADS_2