
Awalnya Dave juga beranggapan seperti itu, tetapi ketika dia melihat Daniela menangis, perasaan Dave menjadi berubah.
Entah kenapa dia merasa jika kekasihnya bukan menangis karena bahagia, sorot matanya bahkan menyiratkan luka yang mendalam.
Dave menjadi takut jika kekasihnya sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Darra, terlebih lagi satu minggu ini Dave begitu sibuk pergi dengan wanita itu.
Setiap kali Dave akan menemui Daniela, selalu saja Darra beralasan yang membuat dirinya tidak bisa meninggalkan wanita itu.
Dave bahkan sampai lupa untuk mengirimkan pesan untuk kekasih hatinya, dia terlalu senang berada di dekat Darra.
Jika saja teman-teman kostnya tidak mengingatkan dirinya, Dave benar-benar lupa jika malam ini adalah malam ulang tahun kekasihnya.
Maka dari itu dia membawa teman-temannya, sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengingatkan dirinya.
"Sayang kamu kenapa, hem?" tanya Dave dengan perasaan campur aduk.
Daniela menatap wajah pria di hadapannya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan, Hal itu benar-benar membuat Dave ketakutan.
"Dave, aku ingin bicara berdua dengan kamu. Di dalam, hanya berdua," ucap Daniela.
Teman-teman Dave langsung berdehem, ada juga yang naik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda. Mereka menyangka jika Daniela terharu, maka dari itu Daniela ingin memberikan ciuman mesra untuk Dave.
"Kuenya aja belum diicip, belum ditiup juga nih lilin." Teman Dave menunjuk lilin yang masih menyala dengan ekor matanya. Lalu dia mengambil kue ulang tahun tersebut dari tangan Dave.
Daniela tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, saat ini dia sedang tidak ingin melakukan apa pun lagi.
Dia hanya ingin berbicara berdua saja bersama dengan kekasihnya itu, pria yang sudah menyakiti dirinya dan membuat dirinya kehilangan keperawanannya karena terlalu kecewa dan meratapi kesedihannya.
"Kalian makan saja kue sama makanan yang kalian bawa, aku bukan anak kecil lagi yang harus tiup lilin. Aku hanya ingin berbicara berdua dengan Dave," ucap Daniela.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela langsung menarik lengan kekasihnya untuk masuk ke dalam kamar kostnya. Dia sudah tidak sabar untuk berbicara empat mata dengan kekasihnya.
Teman-teman Dave terdengar menyoraki apa yang sudah dilakukan oleh Daniela yang terkesan tidak sabar, mereka berpikir jika Daniela dan juga Dave akan melakukan sesuatu yang menyenangkan di dalam sana.
Saat tiba di dalam kamar, Daniela langsung menatap Dave dengan tatapan penuh kekecewaan. Setelah satu minggu tidak pernah menemuinya, bahkan tidak pernah memberikan kabar, kini dia datang seolah-olah menjadi seorang kekasih yang begitu pengertian.
"Dave, aku mau kita putus," ucap Daniela dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
Dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengatakan kata itu, dia benar-benar ingin mengakhiri hubungannya dengan Dave.
"Putus?" tanya Dave dengan bingung.
Dia tidak menyangka jika Daniela akan mengatakan hal itu, padahal dia pikir kekasihnya itu terharu dan akan memberikan kecupan manis untuk dirinya.
"Ya, kamu sepertinya lebih terlihat bahagia bersama dengan Darra. Kamu bisa tertawa lepas dengannya, bahkan kamu bisa tidur bersama dengan wanita itu. Tidak seperti berpacaran denganku, kamu tidak bisa sebebas itu."
Lega?
__ADS_1
Ya, akhirnya Daniela merasa lega karena bisa mengungkapkan hal tersebut. Hal yang dia rasa begitu sulit untuk dikatakan semenjak melihat Dave berselingkuh dengan Darra.
Berbeda dengan Dave, dia terlihat begitu kaget. Dave meluruhkan tubuhnya ke atas lantai lalu memeluk kaki kekasihnya.
"Kamu tahu aku selingkuh?" tanya Dave seraya mengeratkan pelukannya.
"Ya, bahkan aku melihat kamu bercinta di dalam kamar kost kamu bersama dengan Darra. Kamu tahu, Dave? Hati aku sangat sakit, tetapi aku berusaha untuk bersikap baik-baik saja."
Air mata Daniela mengalir dengan begitu deras, dia mengusap kedua pipinya yang basah dengan air mata. Lalu, Daniela kembali berkata.
"Awalnya aku akan tetap memperjuangkan hubungan yang sudah bertahan selama 2 tahun ini, tetapi setelah melihat kejadian seminggu yang lalu hatiku kembali sakit. Aku tidak bisa jika harus seperti ini terus, aku mau kita putus."
Dave terdiam, pantas saja sikap Daniela menjadi berubah kepada dirinya. Ternyata wanita itu sudah tahu perselingkuhannya dengan Darra.
Namun, dia benar-benar tidak ingin putus dengan Daniela. Karena wanita itu benar-benar sangat pengertian dan juga perhatian, Darra memang selalu nikmat di atas ranjang. Namun, Darra bukan wanita manis dan juga penurut seperti Daniela.
"Tidak, aku tidak mau putus. Pokoknya aku mau kamu tetap jadi kekasih aku," ucap Dave penuh penolakan.
Daniela tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, bisa-bisanya pria itu mengatakan hal seperti itu. Tidak tahukah pria itu jika hatinya benar-benar sangat sakit karena ulahnya, pikirnya.
"Terserah apa kata kamu Dave, yang pasti aku maunya putus sama kamu. Aku bukan wanita tidak berperasaan yang selalu mau diduakan, aku wanita yang gampang sakit hati. Pergilah bersama dengan Darra, aku ikhlas.
Dua tahun memang bukan waktu yang sebentar, tetapi dia tidak mau terus merasakan sakit hati. Menurutnya putus adalah jalan yang terbaik bagi Daniela.
"Tidak, aku tidak mau putus dengan kamu. Aku akan memutuskan Darra, kamu adalah kekasihku satu-satunya," ucap Dave bersungguh-sungguh.
Baginya Daniela adalah wanita yang harus berdampingan dengan dirinya di masa depan, Darra hanya wanita yang akan menjadi pemuas di atas ranjangnya saja.
"Berikan aku satu kesempatan lagi, aku akan memperbaiki hubungan kita. Aku akan memutuskan Darra, kami akan putus," ucap Dave yang terdengar bersungguh-sungguh di telinga Daniela.
Sayangnya, rasa kecewanya terhadap Dave sudah menggunung. Sulit bagi Daniela untuk memaafkan kesalahan pria itu, terlalu menyakitkan.
"Tidak perlu, kamu pasti sudah sering tidur dengannya. Kamu nikahi dia saja, aku takut dia akan hamil anak kamu."
Dave menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia memang sering berhubungan di atas ranjang dengan Darra. Akan tetapi, dia melakukannya karena Darra berkata jika wanita itu tidak akan pernah hamil. Darra berkata jika dia sengaja memakai KB, agar bisa bebas berhubungan dengan Dave.
"Tidak mungkin, karena dia bilang dia sudah KB," ucap Dave percaya diri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Daniela tertawa getir. Ternyata hubungan Dave dan Darra benar-benar sudah sangat jauh, sampai-sampai kekasihnya itu tahu jika Darra sudah melakukan KB.
Sepertinya jika Daniela berkata seperti apa pun, Dave akan terus membantah dirinya. Padahal Daniela sudah begitu lelah, dia ingin tidur.
"Pulanglah, Dave. Aku mau tidur, terima kasih untuk kejutan ulang tahunnya."
Dave melerai pelukannya dengan Daniela, dia menatap kekasihnya dengan penuh rasa bersalah. Dia lupa jika Daniela adalah wanita yang begitu perasa.
"Dengarkan aku, Sayang. Aku akan memutuskan Darra, kamu jangan pernah mau berpisah dengan aku. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu," ucap Dave yang terdengar seperti omong kosong di telinga Daniela.
__ADS_1
"Terserah, aku mau tidur." Setelah mengatakan hal itu Daniela langsung melepaskan diri dari Dave.
Dia merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas lehernya. Daniela memejamkan matanya seraya mengunjungi tubuh Dave.
"Aku tahu kalau kamu lagi marah, kamu butuh ketenangan. Besok siang aku akan menjemput kamu, pasti besok perasaan kamu sudah lebih baik." Dave mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri.
Dave lalu menunduk dan mengecup kening Daniela, setelah itu dia keluar dari dalam kamar kost wanita yang selalu dia anggap sebagai kekasihnya itu.
Terserah Daniela jika mau menganggap dirinya bukan sebagai kekasih, tetapi dia akan terus menganggap Daniela sebagai kekasihnya.
Selepas kepergian Dave, Daniela langsung menumpahkan air mata kesedihannya. Dia benar-benar tidak paham dengan pemikiran pria itu, Dave ternyata merupakan pria yang begitu egois, menurut Daniela.
Cukup lama Daniela menangis, hingga tanpa tersadar dia terlelap dalam tidurnya. Bahkan, air matanya masih menggenang di kedua pelupuk matanya.
Keesokan harinya.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dave, pria itu datang untuk menjemput Daniela. padahal Daniela masuk shift siang, tetapi pria itu malah datang untuk menjemput Daniela dan mengantarkannya.
Awalnya Daniela ingin menolak untuk diantarkan, tetapi karena masih tidak ingin berdebat, tanpa banyak berbicara akhirnya dia pun masuk ke dalam mobil sejuta umat yang Dave belum lama beli itu.
Dave tidak memusingkan wajah Daniela yang terlihat ditekuk, baginya Daniela mau ikut bersama dengan dirinya saja Dave sudah merasa bersyukur dan sangat bahagia.
Sepanjang perjalanan menuju Resto tempat di mana Daniela bekerja, mereka hanya saling diam. Akan tetapi, tangan kiri Dave terus saja mengelus lembut punggung tangan kekasihnya itu.
Jika dulu Daniela selalu merasa berbahagia dengan perlakuan yang manis seperti itu dari Dave, kini dia merasa sangat mual. Terlebih lagi ketika mengingat tangan itu dia gunakan untuk menyentuh tubuh Darra.
"Sudah sampai, Sayang. Ayo turun," ajak Dave seraya membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.
Daniela bahkan sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai, karena sepanjang perjalanan menuju Resto Daniela hanya melamun saja.
Tanpa banyak bicara Daniela keluar dari dalam mobil Dave, lalu melangkahkan kakinya menuju Resto. Dia bahkan tidak sadar jika Dave mengikuti dirinya dari belakang.
Saat dia sampai di ruang ganti dan hendak mengambil baju seragamnya di dalam loker, dia merasa kaget karena Dave ternyata ada di sana.
''Dev, kamu ngapain ikutin aku?" tanya Daniela dengan dahi yang mengerut dalam.
Dia berpikir jika Daniela mendiamkan Dave, maka pria itu akan mundur secara teratur. Dave akan meninggalkan dirinya karena tidak nyaman dengan sikapnya, tetapi Dave ternyata seperti pria yang benar-benar tidak tahu diri, menurut Daniela.
"Aku hanya mau bilang, kamu kerjanya hati-hati. Nanti malam aku jemput kamu, kamu nggak boleh kemana-mana sebelum aku jemput," ucap Dave penuh perhatian.
Daniela menghela napas dengan begitu berat, dia sudah bersiap untuk menimpali ucapan Dave. Akan tetapi, belum juga dia mengatakan apa pun sang manajer tempat dia bekerja sudah datang menghampiri Daniela dan berkata.
"Aku menunggumu sejak tadi, di Resto yang ada di pusat kota butuh tambahan orang. Besok kamu sudah mulai kerja di Resto pusat," ucap sang manajer tanpa basa-basi.
Untuk sesaat Daniela terdiam, otaknya seolah susah untuk bekerja karena dia terus saja menangisi kekecewaan. Tidak lama kemudian dia berkata.
"Maksudnya, aku--"
__ADS_1