Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Terulang Kembali


__ADS_3

Kedua insan rupawan berbeda jenis kelamin itu kini sudah duliputi oleh kabut gairah, tangan Dea bahkan sudah turun untuk menyentuh dan mengusap milik Dave.


"Dea! Aku mau kamu," ucap Dave dengan tatapan mata penuh puja.


Dea mengerjapkan matanya dengan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dave, wanita itu bahkan sampai mengusap-usap kupingnya, takut-takut dia salah dalam mendengar apa yang dikatakan oleh Dave.


Dave langsung terkekeh melihat tingkah dari Dea, wajah wanita itu terlihat begitu menggemaskan di matanya. Dave bahkan langsung menjawil dagu Dea lalu bertanya.


"Aku mau kamu, kita lakukan itu sekarang aja yuk? Katanya kamu mau tau bagaimana rasanya, ayo kita lakukan. Rasanya sangat enak," rayu Dave.


Dea terdiam, wanita itu memang benar-benar ingin merasakan nikmatnya bercinta. Namun, mereka belum menikah. Haruskah mereka melakukannya saat ini juga, pikirnya.


Namun, jika dia menolak ajakan dari Dave. Dia takut akan menyesal nantinya, kami sungguh dia benar-benar penasaran dengan rasanya bercinta itu seperti apa.


"Oh, Dea! Ayolah, Sayang. Aku benar-benar menginginkan kamu, tidak bisakah kita melakukannya sekarang?" tanya Dave.


Dea kembali menimang-nimang permintaan dari calon suaminya tersebut, Dea terlihat gamang. Takut tapi mau, itulah yang wanita itu rasakan saat ini.


"Tapi, Dave. Kita belum menikah," ucap Dea.


Walaupun Dea memang benar-benar ingin melakukannya, tetapi dia begitu sadar jika mereka belum meresmikan hubungan keduanya.


Dia sudah melakukan dosa di saat dirinya tidak sadarkan diri, haruskah dia melakukan dosa kembali bahkan di saat dirinya benar-benar sedang sadar, pikirnya.


"Tidak apa-apa, toh kita akan menikah. Kalau kamu hamil juga pastinya itu adalah anak aku," ucap Dave membujuk.


Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Dave, jika dia hamil pun, dia tidak usah khawatir. Karena Dave akan menikahi dirinya, dia tidak usah taku. Lagi pula Dea sangat yakin jika Dave tidak akan meninggalkan dirinya, Dave akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya.


"Baiklah, tapi kamu harus janji buat nikahin aku." Dea menarik tangan kanan Dave dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Dave.


Dave terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dea, karena Dea benar-benar memiliki sifat seperti anak kecil yang lucu dan juga menggemaskan. Namun, terkadang membuat dirinya merasa begitu kesal.


"Hem! Aku sudah melamar kamu, tentu saja aku pasti menikahi kamu. Lalu, di mana kamar kamu?" tanya Dave.


Pria itu seakan sudah tidak sabar untuk segera bercinta dengan Dea, dia langsung saja to the point menanyakan tentang kamar wanita itu.


"Di sana!" jawab Dea seraya menunjuk kamarnya.


Dave tersenyum senang, tanpa ragu pria itu langsung menggendong tubuh Dea. Lalu, dia membawa tubuh wanita itu menuju kamarnya dan dengan cepat Dave merebahkan tubuh Dea di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Dave seraya mengusap pipi calon istrinya.


"Ngga tau,'' jawab Dea bingung.


Wanita itu benar-benar merasa kebingungan, haruskah dia melakukan hal itu saat ini juga, atau nanti saja setelah mereka resmi menikah, pikirnya.


Dave kembali terkekeh mendengar jawaban dari calon istrinya, wanita itu terlihat begitu kebingungan. Namun, dengan cepat Dave mencumbui Dea.


Awalnya Dea terlihat diam saja, tetapi lama kelamaan Dea mulai merasa keenakan. Terlebih lagi ketika Dave mulai membuka dress yang wanita itu pakai dan bermain dengan dada wanita itu.


Dea langsung menggeliatkan tubuhnya, rasa geli, sakit dan juga nikmat datang secara bersamaan. Dea sampai memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya.


"Emph! Dave, ini sangat enak." Dea menjambak rambut Dave kala pria itu mulai meloloskan bra yang Dea pakai, lalu tanpa ragu Dave bermain dengan ujung dada wanita itu.


Lidah Dave dengan lihai bermain dengan ujung dada wanita itu, Dave terkadang juga menyesap dan memilin ujung dada Dea secara bergantian. Hal itu benar-benar membuat Dea keenakan, matanya terpejam dengan bibir bawahnya yang dia gigit dengan kuat.


"Nikmati, Sayang. Ini belum seberapa," ucap Dave.


Setelah mengatakan hal itu, Dave mulai mengecupi setiap inci tubuh Dea. Tangannya tidak tinggal diam, dia membuka baju yang dia pakai dan melemparkannya secara sembarang.


Mata Dea langsung mengerjap tidak percaya ketika dia melihat tubuh polos Dave, sangat seksi seperti foto tubu pria tampan yang pernah dia lihat di salah satu majalah dewasa milik ibunya.


"Woow! Kamu sangat seksi," ucap Dea ketika melihat dada bidang calon suaminya.


"Perutnya juga sangat seksi," ucap Dea seraya mengusap perut Dave yang seperti roti sobek itu.


Dave menahan napasnya setiap kali Dea mengucap-usap area sensitifnya, dia merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Hal itu membuat Dave ingin segera bercinta dengan wanita itu.


"Ya ampun, Dave. Ini apa? Kok gede banget?" tanya Dea seraya mengusap milik Dave yang sudah mengembang dengan sempurna.


Tidak tahukah wanita itu jika Dave benar-benar tersiksa ketika wanita itu memegang inti tubuhnya, tidak tahukah wanita itu jika hal itu membuat Dave seakan ingin memakan Dea saat ini juga.


"Ouch, Dea! Kamu itu benar-benar nakal," ucap Dave yang merasa tidak tahan.


Dave menepis tangan Dea dengan lembut, lalu dia menyatukan bibir mereka hingga melebur menjadi satu. Tangannya juga tidak bisa tinggal diam, tangan itu mengarahkan miliknya untuk masuk ke dalam liang kelembutan milik Dea.


"Mph!" jerit Dea kala benda kebanggaan Dave mulai menerobos masuk ke dalam inti tubuh wanita itu.


Kali ini dengan sadar sesadar-sadarnya Dea melakukan hal itu bersama dengan Dave, rasanya memang benar-benar enak walaupun ada rasa kaget dan juga sakit di awalnya.

__ADS_1


"Enak ngga, Yang?" tanya Dave ketika Dea menutup matanya seraya menggigit bibir bawahnya.


"Enak," jawab Dea ketika Dave mulai menggerakkan pinggulnya dengan begitu perlahan.


"Nikmatilah suguhan kenikmatan yang akan aku berikan, karena rasanya akan sangat enak." Dave mulai mempercepat gerakan pinggulnya, Dea sampai mencengkram kuat lengan pria itu.


Tidak lama kemudian, tidak ada obrolan lagi antara Dea dan juga Dave. Hanya ada erangan kenikmatan yang bersahutan dari bibir keduanya.


Dea yang bisa merasakan kenikmatan surgawi itu tanpa malu meminta Dave untuk terus memompa inti tubuhnya, Dea bahkan tanpa ragu menawarkan diri untuk bergoyang di atas calon suaminya itu.


"Lakukan, Sayang. Lakukan apa pun yang kamu mau, aku sangat mendambakannya." Dave meremat kedua dada calon Istrinya, sedangkan Dea bergoyang di atas tubuh Dave dengan bibir yang menganga lebar.


"Ouch! Ini sangat enak, aku mau lakuinnya yang lama," ujar Dea dengan napas tersengal-sengal.


Keesokan harinya.


Malam yang gelap sudah berubah menjadi terang, sinar matahari bahkan sudah mulai menampakan diri untuk menyinari bumi. Dilla yang sudah siap untuk bekerja rasa heran karena putrinya tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


Dilla juga merasa heran karena saat melihat ke halaman rumah, di sana masih ada mobil calon menantunya. Dilla langsung melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, karena wanita itu berpikir jika calon menantunya berada di sana.


"Berarti tadi malam Dave tidak pulang," ucap Dilla lirih.


Saat tiba di depan kamar tamu, Dilla mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali. Sayangnya tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar tersebut.


Karena merasa penasaran, akhirnya Dilla membuka pintu kamar tamu tersebut. Dahinya nampak mengerut dengan dalam ketika melihat kamar tamu tersebut dalam keadaan kosong.


"Di mana dia? Apa mungkin sedang berbicara dengan Dea?" tanya Dilla bermonolog.


Karena merasa penasaran, akhirnya Dilla langsung melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya. Dia berpikir jika sepasang kekasih itu pasti sedang bercengkrama di dalam kamar putrinya.


Dengan perlahan dia membuka pintu kamar tersebut, Dilla tersenyum ketika mendapati pintu kamar tersebut tidak dikunci. Itu artinya sepasang kekasih itu memang berada di dalam kamar putrinya.


Saat pintu kamar tersebut terbuka dengan sempurna, Dilla langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Bibir Dilla bahkan terlihat menganga dengan lebar, dia begitu kaget dengan pemandangan yang dia lihat saat ini.


Baju Dea dan juga Dave berserakan di atas lantai, saat Dilla melihat ke arah tempat tidur, jantungnya seakan berhenti berdetak karena Dilla melihat Dave dan juga Dea sedang saling memeluk.


Selimut yang mereka pakai hanya menutupi sampai sebatas pinggang keduanya, tentu saja hal itu membuat Dilla bisa melihat dengan jelas jika keduanya sedang ada dalam keadaan polos.


''Oh Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dilla seraya memegangi dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Dilla menatap tidak percaya pada kedua insan yang sedang saling memeluk dengan posesif itu, Dea bahkan terlihat memeluk Dave dengan begitu posesif.


"Dea! Dave! Apa yang sudah terjadi di antara kalian berdua!" jerit Dilla.


__ADS_2