
"Ayah! Ayah ngapain ke sini?" tanya Dirgantara dengan gugup.
"Berani kamu memaksa seorang wanita untuk menikah dengan kamu, hem? Kamu mau mempermalukan Ayah, hah?" tanya Damian.
"Ampun, Ayah. Aku---"
"Aku apa, kamu?!" kesal Damian seraya mengacungkan tongkat yang dia pakai.
Dia merasa begitu kesal karena putranya selalu saja menggunakan kekuasaannya untuk mengancam orang lain, hal yang sangat dia tidak sukai.
"Ampun, Yah. Dirga ngga bakal nakal lagi, Dirga--"
Dilla yang baru saja datang dari pasar langsung turun dari mobilnya, lalu dia menghampiri Dirgantara dan mendorong pria itu dengan cukup kencang.
Melihat wajah pria itu, Dilla merasa mual. Dia benar-benar kesal karena pria itu dulu begitu merendahkan putrinya, Dilla masih merasa dendam.
Lalu, saat ini dia melihat pria itu datang ke rumahnya dan terdengar begitu riuh. Hal itu benar-benar membuat dirinya kesal, Dirgantara yang didorong oleh Dilla langsung jatuh tersungkur ke atas lantai.
Lalu, Dilla yang memang sudah tersulut emosi langsung mengeluarkan semua unek-unek yang berada di dalam pikirannya.
"Untuk apalagi kamu ke sini? Belum puas kamu menghina putriku?" tanya Dilla dengan penuh amarah.
Pria itu sudah menghina putrinya, rasanya dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria yang bernama Dirgantara itu. Pria yang sudah merendahkan martabat putrinya.
"Ampun, Tante. Aku datang ke sini hanya ingin mengajak putri anda untuk menikah," jawab Dirgantara.
Dulu saja ketika Dea meminta pertanggungjawaban setelah ditiduri oleh pria itu, Dirgantara langsung menolak, rasanya ini adalah hal yang mustahil jika Dirgantara datang untuk menikahi putrinya.
Terlebih lagi dia adalah pria yang begitu arogan, walaupun dia berkata ingin menikahi putrinya, tetapi Dilla merasa jika dirinya harus waspada.
"Aku tidak percaya," tegas Dilla.
Wanita paruh baya itu lalu menolehkan wajahnya ke arah sang putri yang kini sedang berada di samping Dave, Dilla sempat mengernyitkan dahinya karena begitu bingung dengan situasi saat ini.
Terlebih lagi di sana ada sosok pria yang dia akan kenali, tetapi dia tidak tahu apa hubungan antara pria itu dengan putrinya.
"Dea, Sayang. Bisa jelaskan kepada Mom apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Dilla.
Walaupun Dea terlihat begitu gugup, tetapi dia berusaha untuk menjawab pertanyaan dari ibunya. Karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
Terlebih lagi dia sangat paham jika ibunya begitu membenci Dirgantara, pria yang seenak jidatnya sudah menghina dirinya.
"Anu, Mom. Dirga datang memaksaku untuk menjadi pengantin wanitanya, karena pacarnya kabur sebelum hari pernikahan. Aku tidak mau, tapi dia memaksa." Dea menjawab tanpa berani menatap wajah Dirgantara.
Darah Dilla langsung mendidih mendengar hal itu, dulu di saat dia meminta pertanggungjawaban dari pria itu, Dirgantara malah mencaci dan menghina putrinya. Sekarang, Dirgantara datang untuk menjadikan putrinya sebagai pengantin pengganti.
__ADS_1
No! No! No!
Tentu saja Dilla tidak akan pernah mengizinkannya, karena kini dia sudah menyadari jika dia adalah harta yang paling berharga bagi dirinya. Putri semata wayangnya.
Dia tidak akan pernah mengizinkan dia untuk menikah dengan lelaki mana pun, jika dia tidak melihat ketulusan dari lelaki tersebut. Terlebih lagi Dirgantara, Dilla tidak akan membiarkan Dea menikah dengan pria itu.
Dilla menghampiri Dirgantara, lalu dia menarik kerah kemeja yang Dirgantara pakai dengan begitu kencang. Pria itu sampai terbatuk-batuk karena ulah dari Dilla.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, jika kamu tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadap putriku, jangan pernah menginjakkan kaki di rumahku lagi. Jika kamu berani maka aku akan--"
Dilla tidak melanjutkan ucapannya, dia mengambil gunting dari dalam tasnya kemudian mengarahkan gunting tersebut pada milik Dirgantara. Wajah Dirgantara nampak pias, dia benar-benar ketakutan.
"Aku akan segera pergi!" ucap Dirgantara dengan cepat.
Dirgantara langsung berlari meninggalkan Dilla, dia terlihat begitu takut dengan ancaman dari wanita paruh baya itu. Dia bahkan sampai melupakan keberadaan Damian, dia pergi begitu saja tanpa mengajak ayahnya.
"Dasar anak durhaka, bisa-bisanya dia pergi tanpa aku."
Pria tua itu nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian dia menghampiri di dan segera meminta maaf kepada Ibu dari Dea tersebut.
"Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya dengan apa yang sudah dilakukan oleh putraku," ucap Damian dengan begitu sopan.
Dilla menganggukkan kepalanya dengan cepat, walaupun hatinya merasa tidak rela tetapi dia harus memaafkan orang tersebut. Karena yang penting bagi Dilla, orang itu benar-benar meminta maaf dengan baik.
Damian langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, hal itu dia lakukan sebagai tanda jika dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Dilla.
"Pasti! Aku akan membawa putraku untuk pindah ke kota B saja, sekali lagi aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh putraku."
Setelah mengatakan hal itu, Damian langsung pergi dari kediaman Dilla dengan menggunakan taksi. Pria tua itu seakan enggan untuk meminta diantarkan kepada Dave, padahal dia datang bersama dengan Dave ke kediaman Dilla.
"Ya ampun, mereka itu sangat merepotkan." Dilla mengeluh setelah kepergian Damian, lalu dia menghampiri putrinya dan berkata.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Dilla.
"Aku baik, Mom." Dea langsung memeluk ibunya yang kini dari rasa lebih perhatian dari biasanya.
Dilla merasa senang karena putrinya kini bisa bersikap lebih tenang, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah pria yang ada di samping putrinya.
"Bukankah kamu yang waktu itu meeting di Kafe x bersama David, ya?" tanya Dilla.
Dave langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia tersenyum hangat dan berkata.
"Iya, Nyonya. Saya asisten tuan Danish yang baru, karena tuan David sudah dipindahkan ke kantor cabang," jawab Dave.
"Oh! Terus kamu ngapain ke sini?" tanya Dilla.
__ADS_1
"Itu, Tante. Eh? Nyonya, anu--"
Dave kebingungan, dia tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya tidak mungkin jika dia berkata sudah berbohong terhadap Damian, dia mengaku sebagai kekasih dari Dea dan meminta pria itu untuk menyelamatkan Dea dari Dirgantara.
"Jangan bilang kamu datang ke sini untuk memanfaatkan putri saya?" tanya Dilla dengan tatapan menyelidik.
"Eh? Tentu saja bukan, aku---"
Dave menolehkan wajahnya ke arah Dea, dia seolah meminta pertolongan kepada wanita itu. Karena dia begitu susah berkata-kata saat berhadapan dengan Dilla.
"Mom, Dave adalah kekasihku. Kami belum lama jadian, iya, kan, Dave?" ungkap Dea pada akhirnya.
Dea tidak mungkin harus mengatakan jika Dave hanya orang asing yang berusaha untuk membantu dirinya, karena Dilla tidak akan percaya.
"What? Kalian berpacaran? Ya Tuhan, akhirnya ada juga pria yang mau dengan putriku,"ucap Dilla tanpa sadar.
Ya, setelah kejadian naas malam itu, tidak pernah ada lelaki yang mau mendekati Dea. Nama Dea sudah tercemar, Dea dianggap sebagai wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya.
Dea dianggap sebagai wanita yang kerjaannya hanya bergonta-ganti pasangan saat berada di tempat tidur, terlebih lagi setelah Dirgantara menjelek-jelekan Dea di depan umum.
Maka dari itu Dilla selalu memaksa Dea untuk mendekati Danish, karena selain ancaman dari Debora, jika Dea bisa menjadi istri Danish, maka kehidupan putrinya akan terjamin.
"Mom!" pekik Dea yang merasa begitu kesal dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Sorry, Sayang. Jadi, kamu pacar anak saya?" tanya Dilla meyakinkan dirinya kembali.
Dave kebingungan harus menjawab apa, tetapi dia juga tidak mungkin membantah karena dia sudah mengatakan jika dirinya adalah kekasih dari Dea.
"Iya, Nyonya," jawab Dave.
Dave berkata dengan begitu gugup, berbeda dengan Dilla yang menanggapinya dengan raut wajah bahagia.
"Sejak kapan?" tanya Dilla dengan begitu antusias.
Kembali Dave menatap wajah Dea, biasa akan meminta bantuan kepada wanita itu. Namun, Dea hanya menggedikkan kedua bahunya.
"Sejak beberapa minggu yang lalu, sebenarnya yang Dea pulang pagi hari itu, dia bermalam di tempat saya." Dave berkata dengan jujur, karena dia tidak ingin menutupi apa pun dari Dilla.
Sudah basah ya sudah mandi sekalian, itulah prinsip Dave saat ini. Lagi pula, jika memang Dave harus berpacaran dengan Dea, rasanya itu tidak terlalu buruk. Dea cantik dan juga imut.
Hanya saja, Dea gampang panik dan selalu bertindak ceroboh di saat dia sedang kecewa atau pun sakit hati. Dea memiliki banyak kemiripan dengan Daniela, bedanya Daniela selalu melakukan hal yang bodoh.
"Ya ampun, ternyata hubungan kalian sudah sangat jauh. Kalau begitu, kapan kamu akan menikahi putriku?" tanya Dilla.
''What?!" pekik Dea dan juga Dave.
__ADS_1