Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Sepakat


__ADS_3

"Ehm! Memangnya seenak apa sih rasanya bercinta? Kenapa kamu sampai-sampai mengajak aku menikah karena kita pernah tidur satu ranjang? Apakah kenikmatan dalam bercinta itu sangat penting?" tanya Dea.


"Eh? Anu--"


Dave kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Dea, dia harus menjelaskan seperti apa pikirnya. Karena wanita yang berada di hadapannya bukanlah anak-anak yang bisa dia bodoh-bodohi.


"Kok kamu diam aja? Aku kan, nanya? Kenapa, apa kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku?" tanya Dea lagi.


Sebenarnya dia benar-benar merasa penasaran dengan bagaimana rasanya bercinta, karena setelah dua kali menghabiskan malam panjang, tetap saja dia tidak mengingat bagaimana rasanya percintaan panas itu.


"Eh? Bukannya seperti itu, tapi aku bingung harus menjelaskannya seperti apa." Dave menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa sangat gatal.


Dea menatap Dave dengan raut wajah kecewa, karena ternyata pria itu tidak bisa menjelaskan apa yang dia tanyakan dengan kata-kata.


Karena memang rasanya sangatlah nikmat, tetapi tidak bisa diukirkan dengan untaian kata. Sungguh sebuah kegiatan yang benar-benar bisa disebut sebagai surga dunia, karena rasanya benar-benar nikmat tiada tara.


"Oh, gitu, ya?" tanya Dea kecewa.


Padahal dia benar-benar ingin tahu rasanya seperti apa, karena pada kenyataannya dia sudah melakukannya. Bahkan, dengan dua pria yang berbeda. Namun, naasnya dia tidak tahu rasanya.


"Ck! ? Makanya jangan suka mabuk, jadinya kehilangan keperawanan saja kamu tidak tahu." Dave mencebikkan bibirnya.


Dea langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dia benar-benar merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pria tersebut.


Walaupun pada kenyataannya dia memang bodoh dan selalu saja bersikap ceroboh, tetapi dia tidak suka saat Dave mengatai dirinya seperti itu.


"Dave! Kalau kamu mau mengatai diriku, lebih baik kamu pergi dan jangan pernah menemuiku lagi. Aku mau menikah dengan Dirga saja," ucap Dea dengan asal.


Dave benar-benar takut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dea, dia tidak akan rela jika Dea menikah dengan Dirgantara. Dave akan merasa terhina sebagai lelaki, karena tidak bisa mencegah Dea menikah dengan pria arogan seperti Dirgantara.


"Eh? Mana boleh, aku minta maaf. Kalau memang kamu mau merasakan yang namanya nikmatnya bercinta, kita bisa melakukannya sekarang. Aku sih mau aja," jawab Dave keceplosan.


Dave sudah lama tidak merasakan percintaan panas di atas tempat tidur, jika Dea memang menginginkannya, tentu saja dengan senang hati Dave akan bercinta dengan wanita itu.


Walaupun dosanya sangat besar, tetapi rasanya sangat nikmat tiada tara. Mana mungkin Dave melewatkan kesempatan ini, begitu pikirnya.


(Ya Allah, Dave. Elu mah modus bae, Mak Othor jadi pen tawa. Asli Dave, kelakuanmu itu loh.)


"Dave!" pekik Dea seraya memukul dada pria itu dengan cukup kencang.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Dave meringis kesakitan, dia bahkan sampai membungkukkan badannya. Lalu, dia melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Ampun, Dea. Aku tidak bermaksud nakal, tadi kamu sendiri yang bertanya. Aku kesusahan untuk menjelaskannya, kalau kita melakukannya lagi, pasti kamu tau enaknya kaya apa," ucap Dave berkilah.


Dea menghentikan pukulannya pada Dave, dia terdiam karena apa yang dikatakan oleh pria itu adalah benar adanya. Dia melakukannya sebanyak dua malam dengan dua pria berbeda, tetapi dia tidak ingat sama sekali bagaimana dia menghabiskan malam itu dengan dua pria berbeda.


"Kamu benar, Dave. Tapi aku tidak mungkin melakukannya dengan kamu, masa iya aku mau ngelakuin dosa terus." Dea nampak memonyongkan bibirnya.


Dea menghela napas berat, dua kali dia menghabiskan malam panjang, dua kalo dia melakukan dosa besar. Yang membuat dia menyesal, dia melakukan dosa tanpa bisa merasakannya bagaimana enaknya dosa tersebut.


Dosa terbesar yang paling tidak disukai oleh Tuhannya, sayangnya dia tidak tahu bagaimana proses perbuatan dosa yang dia lakukan itu.


"Kalau begitu kita menikah saja, sesuai dengan yang aku katakan tadi. Kita menikah berawal dari atas ranjang, sama-sama enak, bukan? Kita juga bisa berpacaran setelah menikah, kalau kita berjodoh kita tidak akan bercerai." Dave tersenyum setelah mengucapkan idenya.


Sepertinya hari-harinya akan terasa lebih berwarna setelah menikah, karena dia tidak sendirian lagi. Walaupun belum ada cinta di antara mereka, tetapi Dave yakin jika rumah tangga mereka akan berjalan dengan lancar.


"Hem! Kamu benar, setidaknya kalau nanti kita mulai semuanya dari ranjang, aku bisa saja hamil. Terus, kamu pasti ngga bakal ninggalin aku. Kan, ada anak yang tidak memperbolehkan kamu untuk menceraikan aku," ucap Dea dengan polosnya.


Ya Tuhan, rasanya Mak Othor mau pingsan mendengar obrolan absurd antara Dave dan juga Dea, sebenernye mereka itu udah pada dewasa apa belum ye?


Kok, rasa-rasanya obrolan mereka seperti anak kecil, ya. Anak bau kencur yang belum tahu apa artinya rumah tangga. Mereka seperti pasangan abege labil yang sedang mengobrol dengan tidak tentu arah.


Dave berpikir jika menikah dengan Dea juga tidak akan rugi, justru dia akan bisa melakukan olah raga ranjangnya dengan rutin tanpa memikirkan dosa. Walaupun tanpa cinta, tapi dia rasa cinta itu bisa hadir seiring berjalannya waktu.


"Hem! Secepatnya," jawab Dea.


Dave sangat senang saat Dea mengatakan hal itu, karena itu artinya dia akan melepaskan masa lajangnya. Walaupun memang dia sudah tidak perjaka lagi.


"Okeh! Nanti malam aku akan datang untuk melamar kamu, kamu mau dibawakan apa untuk acara lamaran nanti malam?" tanya Dave.


"Kalau acara lamaran bukannya hanya memerlukan cincin?" tanya Dea.


Mendengar pertanyaan dari Dea dia sangat senang, karena ternyata walaupun Dea anak orang kaya pemikirannya begitu sederhana.


Padahal, Dea memang sangat kurang hapal akan hal-hal seperti itu. Dia adalah anak yang jarang keluar rumah dari kecil, sekalinya kecewa langsung bertingkah seperti anak yang liar.


"Ya ampun, seharusnya bukan hanya cincin. Tapi, kalau memang kamu hanya meminta cincin, aku sangat berterima kasih. Karena aku hanya orang biasa dengan penghasilan yang biasa-biasa saja," jawab Dave.


"Oh! Jadi perempuan itu boleh meminta sesuatu kepada calon pengantin prianya?" tanya Dea.

__ADS_1


"Boleh, boleh banget. Tapi, kalau kamu mintanya sesuatu hal yang mahal, tentu saja aku tidak bisa mengabulkannya." Dave nyengir kuda.


Dea langsung mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, padahal dia sudah berencana akan meminta sesuatu kepada Dave. Namun, sepertinya dia harus mengurungkan niatnya.


"Kalau begitu aku tidak akan meminta apa pun kepada kamu, berikanlah apa pun yang kamu punya kepadaku. Tapi, aku punya satu syarat!" ucap Dea seraya memandang wajah pria di hadapannya dengan begitu intens.


"Apa yang ingin kamu minta?" tanya Dave dengan raut wajah penasaran.


"Aku minta, setelah kita menikah nanti, kamu ataupun aku tidak boleh memiliki hubungan dengan lawan jenis. Kita harus fokus dalam membangun rumah tangga kita," ujar Dea.


"Okeh, aku akan menyanggupinya. Tapi, aku juga punya syarat untuk kamu," ucap Dave dengan senyum smirk di bibirnya.


"Minta apa? Kamu mau minta uang tabungan aku?" tanya Dea.


Dave langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Dea, walaupun dia orang yang terlahir dari keluarga sederhana. Namun, pantang baginya untuk meminta-minta kepada orang lain.


Terlebih lagi harus meminta uang kepada calon istrinya sendiri, untuk masalah uang biasa dia cari. Untuk masalah materi dia akan berusaha untuk mencukupi, tentunya sesuai dengan kemampuannya.


"Bukan itu," jawab Dave.


Dave langsung mencondongkan wajahnya, lalu dia berbisik tepat di telinga wanita yang kini ada di sampingnya.


"Kalau kita sudah menikah nanti, aku mau jatah ranjangku setiap harinya terpenuhi." Dave langsung menggigit cuping telinga calon istrinya.


"Ehm!" Dea berdehem karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa meremang.


Dave langsung tersenyum melihat reaksi dari Dea, karena wanita itu memang begitu mudah terangsang. Apalagi ketika Dave bermain dengan dadanya dan juga punggungnya.


"Mau tidak? Aku jamin akan memberikan kamu banyak kenikmatan," ucap Dave.


Mendengar kata nikmat, Dea semakin merasa tertarik. Karana dia memang ingin merasakan kenikmatan surgawi yang belum pernah dia rasakan, walaupun dia sudah melakukan hal itu dengan dua pria yang berbeda.


"Oke! Tapi, jangan sampai sakit kaya kemaren," ujar Dea.


"Eh? Sakitkah?" tanya Dave yang memang melakukannya sampai semalam suntuk.


"Sakit banget, dua hari aku tidak bisa berjalan dengan normal." Dea mencebikkan bibirnya, lalu dia memukul paha Dave dengan cukup kencang.


"Eh? Jangan kaya gitu, nanti aku khilaf." Dave merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, padahal Dea tidak berniat untuk merangsang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2