Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Penjelasan


__ADS_3

"Mau membela diri? Kalau begitu siap-siap untuk merasakan peluru yang akan bersarang di kepala kamu!" ujar pria tua itu seraya menodongkan pistol yang dia ambil dari saku celananya.


"Bapak!" teriak Dave ketakutan, tetapi dia tidak bisa melangkahkan kakinya untuk berlari dari sana. Kakinya bergetar dengan begitu hebat, bahkan lututnya terasa kopong dan membuat tubuhnya seakan jatuh.


Dave benar-benar merasa ketakutan, terlebih lagi ketika pria tua itu menghampiri Dave dan menodongkan pistolnya tepat di kepala pria muda itu.


Dave benar-benar ingin pingsan saat itu juga, tubuhnya benar-benar gemetaran. Dia merasa tidak ada tulang di dalam tubuhnya, tetapi herannya dia tidak pingsan sama sekali.


Bahkan, dia tidak bisa berlari sama sekali. Pria tua itu terlihat tertawa dengan terbahak-bahak seraya menatap wajah Dave, dia merasa lucu karena pria muda yang memiliki badan kekar itu malah berkelakuan seperti bencong.


Tidak lama kemudian, dia menurunkan senjatanya. Lalu, dia memakai kacamatanya. Dia mengernyitkan dahinya lalu berkata.


"Tunggu sebentar deh, kayaknya kamu bukan pria yang sudah berselingkuh dengan calon menantuku. Terus, kamu siapa? Kenapa kamu datang ke sini?" tanya pria tua itu.


Dave langsung memelototkan matanya dengan bibir yang menganga lebar, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria tua itu.


Bisa-bisanya pria tua di hadapannya itu menuduh dirinya sudah berselingkuh dengan calon menantunya, tetapi kini dengan mudahnya pria itu berkata jika dirinya bukan pria yang sudah berselingkuh dengan calon menantunya.


Bahkan, pria itu dengan mudahnya bertanya siapa dirinya. Jika saja bisa, ingin rasanya Dave berguling-guling di depan pria tua itu. Atau bahkan dia ingin sekali meluapkan kekesalannya dengan membanting meja yang ada di sana.


"Oh ya Tuhan! Begini ya, Kakek. Eh? Maksud saya, Tuan. Saya ingin itu, anu---"


Dave kebingungan harus seperti apa menjawab pertanyaan dari pria tua itu, dia bingung harus menjelaskan sebagai siapa dia datang ke sana.


Karena pada kenyataannya Dave bukanlah saudara atau kekasih dari Dea, tetapi dia juga tidak bisa mengatakan dirinya bukan siapa-siapa dari Dea. Karena tidak mungkin dia datang sebagai orang lain yang membela Dea, akan dikatakan seperti apa dirinya oleh pri tua yang ada di hadapannya itu, pikirnya.


Melihat Dave yang hanya diam saja, Damian menatap Dave dengan lekat. Lalu, pria tua itu kembali bersuara.


"Kenapa malah terdiam seperti itu? Bicara saja secepatnya, aku tidak akan menodongkan senjata aku lagi. Karena ternyata kamu bukanlah pria yang berselingkuh dengan calon menantukku, ayo duduk."

__ADS_1


Pria tua itu menuntun tubuh kaku Dave untuk duduk di atas sofa, setelah itu pria tua itu juga melakukan hal yang sama. Dia duduk tidak jauh dari Dave, lalu dia berkata.


"Coba jelaskan apa tujuan kamu datang ke sini?" ucap Damian.


Awalnya Dave terlihat kebingungan, dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian. Dia benar-benar terlihat begitu gugup,tetapi tidak lama kemudian dia berkata.


"Anu, Tuan. Anak anda ingin menjadikan kekasih saya sebagai pengantin pengganti di hari pernikahannya. Saya datang ke sini mau meminta tolong kepada anda, tolong bilang kepada putra anda untuk tidak mengambil kekasih saya," ujar Dave.


Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung menghela napas dengan panjang. Karena akhirnya dia bisa mengutarakan isi hatinya, dia bisa menyampaikan keinginannya.


Walaupun pada kenyataannya dia bukan kekasih dari Dea, tetapi dia merasa lega bisa berbicara dengan lancar di depan pria yang memegang senjata itu.


Damian nampak menatap Dave dengan lekat, pagi ini memang Dirgantara berkata akan menemui wanita yang bisa dia jadikan sebagai pengantin pengganti.


Akan tetapi dia tidak menyangka jika putranya akan mengajak wanita yang sudah memiliki kekasih untuk menikah dengan putranya tersebut, ini sangat memalukan, pikirnya.


"Tapi anak muda. Putraku sedang tidak ada, dia sedang menemui wanita yang katanya bisa menjadi pengantin wanita di hari pernikahannya nanti," jawab Damian.


Dave dengan tidak sabar mengajak pria tua itu untuk pergi ke rumah Dea, beruntung Dave pernah mengantarkan Dea ke kediamannya. Jadi, dia tahu di mana rumah wanita itu.


"Aku tidak mau pergi ke mana pun, aku mau di rumah saja. Urus saja urusan kamu sendiri sana!" ketus pria itu.


"Ya Tuhan! Aku tidak bisa mengurusnya sendiri, Tuan. Karena anak anda selalu saja mengancam siapa pun dengan jabatanmu yang katanya jenderal itu," ucap Dave.


Damian langsung menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, karena memang dari dulu Dirgantara selalu saja memakai jabatannya agar dia mendapatkan apa pun yang dia mau.


"Baiklah, aku akan ikut bersama denganmu," ucap Damian.


Pada akhirnya Dave bisa merasa lebih tenang, karena Damian mau ikut pergi bersama dengan dirinya. Dia segera pergi dari kediaman Damian menuju kediaman Dea, dia benar-benar merasa tidak tenang.

__ADS_1


Terlebih lagi setelah mendengar Damian yang berkata jika Dirgantara kini sedang pergi ke kediaman Dea, dia takut Dirgantara akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Dea.


"Jangan ngebut-ngebut, nanti aku bisa mati karena jantungan!" keluh Damian ketika Dave melajukan mobilnya dengan begitu kencang.


Karena begitu khawatir terhadap Dea, Dave sampai melajukan mobilnya menuju kediaman Dea dengan begitu kencang.


"Ah, iya. Maaf, Tuan. Aku hanya takut putra anda akan nekat," ucap Dave.


"Ck! Semua pria sama saja, selalu nekat. Termasuk kamu," ucap Damian kesal.


Dave hanya bisa menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua itu, tidak lama kemudian dia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


Tidak ada ucapan apa pun yang terdengar dari mulut Damian Datau Dave, keduanya begitu larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga tidak lama kemudian mobil yang Dave kendarai tiba di depan rumah Dea.


Dengan cepat Dave turun dari dalam mobilnya, karena dia melihat Dirgantara yang sedang mendorong tubuh Dea agar segera masuk ke dalam mobilnya.


"Jangan pernah bawa Dea, dia bukan boneka yang bisa elu atur semau jidat elu!" seru Dave seraya mendorong tubuh Dirgantara dengan begitu kencang.


Sontak saja hal itu membuat Dirgantara jatuh tersungkur ke atas tanah, Dirgantara yang merasa kesal langsung bangun seraya meringis. Dia menghampiri Dave dan menarik kerah kemeja yang Dave pakai.


"Elu udah berani dorong gue! Gue pastiin elu bakalan masuk penjara karena--"


"Dirga!" teriak Damian yang baru saja turun dari mobil Dave dengan begitu perlahan.


Mendengar ada orang yang meneriaki namanya, sontak saja Dirgantara langsung menolehkan wajahnya ke arah pria tua itu. Dia terlihat begitu kaget, bahkan dengan cepat dia menjauhkan diri dari Dave.


"Ayah! Ayah ngapain ke sini?" tanya Dirgantara dengan gugup.


"Berani kamu memaksa seorang wanita untuk menikah dengan kamu, hem? Kamu mau mempermalukan Ayah, hah?" tanya Damian.

__ADS_1


"Ampun, Ayah. Aku---"


__ADS_2