Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Pagi hari telah menjelang, tetapi matahari belum menampakan sinarnya. Karena memang waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi, setelah melaksanakan shalat subuh Danish langsung membawa berkas yang dibutuhkan.


Kemudian, pria itu pergi ke apartemen milik David dengan tidak sabarnya. Dia tidak peduli jika waktu masih sangat gelap dan banyak orang yang masih belum membuka matanya, karena memang mereka belum siap beraktivitas.


Saat tiba di apartemen milik David, Danish berdiri di depan pintu apartemen lalu memencet bel dengan tidak sabar.


David yang memang masih terlelap dalam tidurnya tiba-tiba saja merasa terganggu, karena bunyi bel yang ditekan secara berulang-ulang.


Hal itu membuat David merasa kesal, dia bahkan bangun seraya menggerutu. Dia melangkahkan kakinya dengan malas, lalu membuka pintu apartemennya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang.


"Siapa sih pagi-pagi buta udah dateng aja? Gangguin orang tidur aja, kalau untuk tagihan uang sampah, aku sudah menitipkan uangnya sama pak security!" kedal David dengan mata yang belum terbuka dengan sempurna.


Danish langsung tertawa melihat penampilan dari asisten pribadinya itu, wajah bantal David nampak lucu di matanya. Pria itu mengenakan piyama tidur dengan rambut yang masih terlihat acak-acakan.


"Ini aku, Dav. Apakah aku mengganggumu?" tanya Danish dengan nada serius.


Mendengar pertanyaan dari bosnya, David langsung mengusap matanya berkali-kali. Karena dia takut salah dalam mendengar, Danish kembali tertawa.


"Pak, Bos! Ada apa pagi-pagi buta sudah datang ke mari?" tanya David dengan tidak enak hati.


Sungguh dia tidak menyangka jika Danish akan datang sepagi ini, karena biasanya Danish tidak pernah sampai menemui dirinya di apartemen.


"Ehm! Maaf mengganggu, aku mau meminta tolong." Danish tersenyum dengan manis.


Jika Danish sudah menampilkan senyum manisnya, itu artinya pria itu sedang ada maunya dan David harus melakukan tugasnya dengan cepat. David menghela napas berat, lalu dia mentap Danish dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya David pada akhirnya.


Danish melebarkan senyumnya, karena David mengerti dengan keinginannya. Pria itu masuk ke dalam apartemen milik David tanpa permisi, dia bahkan langsung menuntun David untuk duduk di atas sofa.


David kembali menghela napas berat, karena kelakuan bosnya sudah seperti dialah yang punya rumah. Sayangnya, David tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tolong urus pernikahanku dengan Daniela, aku mau nikah. Tapi, dia maunya hanya nikah di KUA," ucap Danish dengan sedih.


Dia adalah orang kaya, hartanya banyak dan melimpah. Untuk menyewa sebuah gedung yang paling mahal sekali pun dia bisa, sayangnya saat dia bertanya Daniela tidak ingin pernikahannya dirayakan.


Cukup diresmikan saja agar jabang bayi yang ada di dalam perutnya diperhatikan oleh ayah kandungnya sendiri, dia tidak muluk-muluk dan tidak menginginkan hal yang lebih.


David yang paham. langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia kembali bertanya kepada bosnya tersebut.


"Lalu, apa lagi yang saya harus urus?" tanya David.

__ADS_1


"Belikan gaun pengantin yang bagus untuk Daniela, berikan juga mas kawin untuknya."


"Oke, akan saya kerjakan dengan secepatnya. Lalu apalagi harus saya lakukan? Maksudnya, mas kawin apa yang harus saya siapkan untuk nona Daniel?" tanya David.


"Untuk mas kawinnya, aku akan tanyakan terlebih dahulu. Jangan lupa siapkan juga rumah yang mewah untuknya, mobil dan juga barang mewah lainnya."


Hal itu dia lakukan karena takut jika Daniela tidak meu tinggal di kediaman Wijayana, dia takut jika Daniela ingin memulai rumah tangga mereka dari rumah mereka sendiri. Bukan kediaman peninggalan orang tua.


"Oke!" jawab David.


"Aku mau semuanya selesai jam sepuluh pagi apakah kamu bisa melakukannya dengan baik?" tanya Danish.


"Tentu, anda tinggal menunggu saja di rumah dengan nona Daniela. Pukul 9 pagi saya akan menjemput anda untuk pergi ke KUA," jawab David.


"Hem, aku percayakan semuanya padamu," ucap Danish.


"Hem! Tapi, sepertinya anda harus segera pulang. Kalau anda di sini terus, saya tidak akan bisa mengerjakan tugas dari anda."


"Ck! Kamu mengusirku?" tanya Danish.


"Tidak! Hanya saja kalau anda tetap di sini, saya tidak bisa segera pergi untuk mengurus semuanya."


"Hem! Aku akan pergi, maksudnya aku akan menunggu di rumah Daniela." Danish tersenyum hangat lalu pergi dari sana.


"Dasar bos tidak ada akhlak, tidak tahukah dia jika semalam saja aku lembur sampai jam dua belas malam!" keluh David.


Setelah mengatakan hal itu, David langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus segera mandi dan bersiap untuk melaksanakan tugasnya.


Jika David kini sedang menekok wajahnya, berbeda dengan Danish. Pria itu terlihat begitu bahagia, bahkan karena tidak sabarnya untuk menikahi Daniela, dia langsung kembali ke rumah tempat di mana Daniela tinggal.


Tentunya, sebelum dia sampai di tempat Daniela, Danish membeli sarapan terlebih dahulu untuk Daniela dan dirinya. Dia membeli dua porsi bubur ayam untuk dia santap dan juga Daniela. Karena hanya ada makanan itu saja yang tersedia saat dia melewati jalanan.


Setelah sampai di depan rumah Daniela, dia dengan tidak sabar langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian, nampaklah Daniela yang membuka pintu.


Daniela hanya menggunakan piyama tidur tanpa lengan dipadupadankan dengan celana pendek setengah paha, dia terlihat begitu seksi sekali di mata Danish.


Wajhanya terlihat lebih cerah, leher jenjangnya nampak begitu menggoda seakan minta untuk dikecup. Rambutnya yang disanggul dengan asal membuat Daniela terlihat sangat menggoda.


"Kamu ngapin pagi-pagi ke sini?" tanya Daniela.


"Mau cium kamu, eh? Maksudnya mau ngajakin kamu sarapan," ucap Danish seraya mengangkat bungkusan bubur ayam.

__ADS_1


"Waah! Bubur ayam, kamu tahu aja aku lagi pengen bubur ayam," ucap Daniela dengan binar bahagianya.


Danish ikut tersenyum senang, padahal dia membeli bubur ayam bukan berniat untuk membelikan Daniela secara khusus. Hanya saja memang makanan itu yang ada di jalanan, yang dia lihat saat pergi ke tempat Daniela.


Daniela yang begitu senang langsung menarik tangan Danish untuk segera masuk ke dalam rumah, dia bahkan dengan tidak sabar mengajak Danish ke dapur untuk menuangkan bubur ayam yang Danish beli ke atas mangkok.


"Ah! Panas!" pekik Daniela.


"Sabar dong, Yang. Sini aku suapin," ucap Danish seraya mengambil alih sendok dari tangan Daniela.


"Aku makan sendiri saja," ucap Daniela.


"Biar aku yang menyuapimu, bukankah tadi kamu bilang dia lagi mau bubur ayam?" tanya Danish seraya mengusap lembut perut Daniela.


"Hem! Dia mau bubur ayam, mau disuapin sama ayahnya." Daniela tersenyum malu-malu.


"Ya ampun, sepertinya aku tidak salah memutuskan untuk segera menikahi kamu. Karena calon buah hati kita begitu menginginkan aku berada di dekatnya," ucap Danish.


Daniela menunduk malu, kehamilannya. membuat dirinya terus saja ingin bersama dengan pria yang sudah menghamilinya itu.


"Hem, buruan suapin. Aku sudah sangat lapar," ucap Daniela.


Tanpa ragu Daniela mendekatkan tubuhnya pada Danish, lalu dia memeluk lengan pria itu dan mencium aroma tubuh pria itu.


"Kamu ngapain?" tanya Danish seraya menyuapi Daniela.


"Nyium bau tubuh kamu, baunya enak. Akunya jadi ngga mual, padahal tadi sebelum kamu datang aku abis muntah-muntah," jawab Daniela jujur.


Danish tersenyum lalu mengecup kening Daniela, dia merasa senang karena Daniela kini mulai menerima dirinya. Bahkan, Daniela lebih terbuka kepada dirinya.


"Sebentar lagi kita akan nikah, kamu bebas peluk dan cium tubuh aku. Sebentar lagi aku akan menjadi milik kamu," ucap Danish.


Daniela tersipu mendengar ucapan dari Danish, dia sangat nyaman dekat dengan pria itu. Dia juga bahagia dengan apa yang dikatakan oleh Danish.


"Iya, aku--"


"Daniela!"


Daniela yang sedang memeluk Danish langsung melepaskan pelukannya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah suara yang memanggil namanya.


"Dave! Untuk apalagi kamu ke sini?" tanya Daniela dengan bingung. Karena pria itu datang dengan membawa sebuket bunga di tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya dia memegang kotak kecil berwarna merah hati.

__ADS_1


"Aku--"


__ADS_2