Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Memulainya


__ADS_3

Setelah meninggalkan Debora sendirian di Villa, Dilla langsung mengajak putrinya Dea untuk pulang ke ibu kota. Walaupun dia merasa begitu lelah, tetapi dia lebih memilih untuk segera pulang agar bisa menghindar dari wanita yang selalu mengancam keluarga mereka itu.


Sepanjang perjalanan menuju ibu kota, Dea terus saja memeluk ibunya. Dia benar-benar merasa begitu tenang karena kini dia berada di dalam dekapan hangat ibunya, wanita yang selalu memarahi dirinya karena kenakalannya.


"Maafkan Mom, Sayang. Selama ini Mom terlalu memaksakan kehendak, sekarang Mom sadar, mulai sekarang tidak akan mengorbankan kamu lagi. Tidak apa kita hidup miskin, yang penting kita merasakan kebahagiaan dan juga ketenangan." Dilla membalas pelukan dari putrinya.


Lega?


Tentu saja Dea merasakan kelegaan yang luar biasa saat ini, karena pada akhirnya ibunya tidak memaksa dirinya untuk menerima perjodohan yang pada kenyataannya tidak mungkin terjadi.


Dea memang sangat mencintai Danish sejak dia duduk di bangku SMP, pria itu benar-benar memikat hatinya. Di saat Debora mengatakan akan menjodohkan dirinya dengan Danish, dia benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Namun, dia merasa kecewa saat Danish menolak untuk dijodohkan dengan dirinya. Malam itu dia bahkan pergi ke Klub malam untuk meluapkan kesedihannya, di saat itu pula dia kehilangan keperawanannya.


Karena terlalu kecewa ditolak oleh pria yang begitu dia sukai, dia meminum minuman beralkohol dalam jumlah yang banyak. Dea tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, yang dia ingat, saat dia bangun dia sudah berada di dalam kamar hotel bersama dengan seorang pria.


Dea sampai demam selama satu minggu karena area intinya bengkak, tentunya Dilla memarahi Dea habis-habisan karena merasa kecewa dengan putrinya tersebut.


Sialnya, saat Dilla meminta pertanggungjawaban kepada pria muda itu, pria muda itu malah mengancam Dilla karena dia adalah anak seorang jendral dan tidak mungkin menikahi Dea.


Terlebih lagi pria muda itu sudah memiliki kekasih, dia malah berkata jika Dea yang kala itu menggoda dirinya. Dilla tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa pasrah.


Beruntung Dea kala itu tidak hamil, setidaknya Dilla bisa bernapas dengan lega. Dia hanya berharap, semoga jika dia memiliki pasangan nanti, tidak ada yang akan mempermasalahkan hal itu.


"Tidak apa-apa, Mom. Dea janji, kalau misalkan tante Debora mengambil dana yang sudah diberikan kepada Mom, aku akan mencari pekerjaan." Dea berucap dengan penuh semangat.


"Anak pandai, oiya, Sayang. Besok kamu harus datang ke perusahaan Danish, kita butuh tanda tangan dia untuk project baru kita yang bekerja sama dengan dia," ucap Dilla sedikit was-was.


Terus terang saja dia takut jika Danish tidak akan meneruskan kerjasamanya lagi dengan perusahaannya, lebih tepatnya dia takut jika Debora yang meminta Danish untuk memutuskan hubungan kerjasama dengan dirinya.


Selama ini perusahaan milik Dilla bisa berdiri karena sokongan dana dari Danish, hal itu masih Danish lakukan karena itu merupakan pesan dari almarhum ayahnya.


Dulu di kala ayahnya sedang mengalami kesusahan, ayahnya Dea yang kala itu membantu perusahaan Wijayana dengan segala idenya. Bahkan kala itu ayahnya Dea begitu bersemangat untuk mencari investor.


Pada akhirnya perusahaan Wijayana kembali berkembang, sebagai ucapan terima kasih dari almarhum ayahnya Danish, dia memberikan saham yang bisa dikembangkan oleh ayahnya Dea kala itu.


"Aku akan ke sana, tapi kalau mereka tidak mau bekerja sama lagi dengan perusahaan kita, bagaimana, Mom?" tanya Dea.


"Tidak apa-apa, Mom sudah mulai membuka usaha kecil-kecilan. Nanti kita akan mengembangkan usaha itu," ucap Dilla meyakinkan putrinya.


"Oke, Mom," jawab Dea.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Danish yang memang sudah lama tidak menginjakkan kakinya di perusahaan Wijayana, telah bersiap untuk pergi ke sana. Karena hari ini banyak sekali berkas penting yang harus ditandatangani tanpa bisa diwakilkan.


Daniela yang mengetahui suaminya akan bekerja sudah menyiapkan sarapan spesial untuk suaminya, Danish begitu senang dengan perlakuan manis dari istrinya tersebut.


"Sarapan dulu, terus kalau sudah sampai di kantor jangan lupa memberikan kabar," ucap Daniela seraya mengusap wajah suaminya dengan lembut.


"Iya, Sayang. Tadinya aku pengen sarapan yang lain, tapi takut lama," ucap Danish.


"Eh? Kalau memang kamu mau sarapan yang lain, harusnya kamu bilang. Biar aku bangun lebih pagi lagi," ucap Daniela tidak enak hati.


Danish tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, karena yang dimaksud dengan Danish bukan sarapan makanan yang lain. Akan tetapi, sarapan pagi yang menghasilkan kenikmatan dengan berpeluh.


"Maksudnya sarapan yang ini," ucap Danish seraya menurunkan resleting dress yang Daniela pakai.


Dengan cepat dia menggigit ujung dada istrinya yang masih terbungkus rapi dengan pelindungnya, Daniela yang tidak mau melihat suaminya kesiangan langsung mendorong wajah suaminya.


"Eh? Jangan, nanti kamu telat." Wajah Daniela nampak memerah, tetapi dengan cepat dia membenahi baju yang mulai berantakan karena ulah suaminya.


"Baiklah, aku akan sarapan pagi. Tapi... nanti malam aku mau dua kali," ucap Danish dengan wajah imutnya.


Pria dewasa itu selalu saja bisa membuat Daniela tersentuh, dengan cepat Daniela mengecup bibir suaminya dan berkata.


"Hem! Nanti malam dua kali, sekarang sarapan dan segera berangkat bekerja. Jangan sampai anak dan istri kamu kelaparan karena kamu tidak juga berangkat bekerja," ucap Daniela.


"Iya, Sayang,'' jawab Danish.


Setelah melakukan ritual sarapan paginya, akhirnya Danis pergi ke kantor karena pagi ini dia sudah ditunggu oleh Dea. Ya, klien pertamanya adalah Dea, wanita yang dia tolak untuk dijodohkan dengan dirinya.


Dari kecil Danish sering bertemu dengan Dea, baginya Dea sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Tidak ada rasa sama sekali untuk wanita itu, wanita yang usianya lebih muda 4 tahun dari dirinya.


"Selamat pagi!" ucap Danish ketika dia masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Pagi, Tuan." Dave dan Danish langsung membungkuk hormat.


"Ada agenda apa saja hari ini?" tanya Danish.


"Hari ini saya akan ke luar kota untuk bertemu dengan tuan Takayuki, jadi selama saya di luar kota anda akan ditemani oleh Dave. Akan ada beberapa pertemuan penting dengan klien hari ini, Dave sudah menyiapkan berkasnya."


"Hem! Apa Dea sudah datang?" tanya Danish.


"Sudah, dia baru saja sampai." David menunjukkan rekaman CCTV di mana Dea baru saja turun dari taksi yang berhenti tepat di lobi perusahaan.


Setelah melihat rekaman CCTV yang ditunjukkan oleh David, Danish menolehkan wajahnya ke arah Dave. Lalu, pria itu pun berkata.

__ADS_1


"Oke! Kamu diam di sini agar kita bisa cepat dalam membahas pekerjaan, karena David akan berangkat ke luar kota."


"Ya, Tuan," jawab Dave.


Walaupun masih terlihat canggung tetapi dia tetap saja berusaha untuk bersikap profesional, terlebih lagi Danish bersikap biasa saja kepada dirinya.


Setelah selesai dengan tugasnya di sana, David langsung berpamitan untuk pergi ke luar kota. Sedangkan Danish meminta Dave untuk duduk di atas sofa bersama dengan dirinya, mereka sedang menunggu kedatangan Dea.


"Selamat pagi Tuan Danish, selamat pagi Tuan Dave," ucap Dea seraya tersenyum canggung karena di sana ada Dave.


"Duduklah, Dea. Tidak usah canggung seperti itu, panggil aku seperti biasanya. Jangan se-formal itu," ucap Danish.


"Iya, Kak," jawab Dea yang langsung masuk dan duduk di dekat Dave.


Dave dan juga Dea terlihat begitu canggung, melihat akan hal itu, Danish jadi berpikir untuk mendekatkan keduanya. Kedua orang yang ada di hadapannya sedang kecewa karena cinta, tidak ada salahnya untuk berusaha menyatukan keduanya, pikirnya.


"Ehm! Untuk project baru kita dengan Dea, kalian boleh membicarakannya tanpa aku. Apa pun hasilnya, aku pasti akan menandatangani berkas yang kamu bawa," ucap Danish kepada Dave dan Dea.


"Beneran, Kak? Kakak ngga bakalan mutusin kerja sama di antara kita?" tanya Dea.


"Dea, kamu itu sudah aku anggap sebagai adikku. Mana mungkin aku memutuskan hubungan dengan adikku sendiri," ucap Danish.


''Oh ya ampun, Kakak sangat baik. Terima kasih," ucap Dea dengan tulus.


"Sama-sama, aku pergi dulu. Ada yang harus aku lakukan," ucap Danish.


Setelah mengatakan hal itu, Danish langsung keluar dari dalam ruangannya. Dia ingin memberikan waktu kepada Dave dan juga Dea untuk berbicara.


Selepas kepergian Danish, keduanya terlihat begitu canggung. Baik Dea ataupun Dave malah saling diam tanpa bersuara, keduanya terlihat salah tingkah.


Namun, keduanya malah saling mendekat dan dan mereka duduk tanpa jarak. Hingga tidak lama kemudian, Dave mulai bersuara.


"Ehm! Dea, aku minta maaf untuk malam itu. Aku tidak berniat untuk memanfaatkan kamu," ucap Dave pada akhirnya.


"Tidak apa-apa, aku juga salah. Karena malam itu aku mabuk," ucap Dea.


"Syukurlah kalau kamu tidak marah, aku sudah sangat takut kalau kamu akan mengira jika aku pria--"


"Sudahlah, Dave. Lupakan saja, aku juga salah."


"Sepertinya kalian berbicara dengan begitu serius, sampai-sampai kalian menempel seperti prangko," ujar Danish yang ternyata sudah kembali ke dalam ruangannya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, baik Dave ataupun Dea langsung menjauhkan diri. Melihat akan hal itu, Danish langsung tertawa dengan terbahak.

__ADS_1


__ADS_2