
Namun, jika mengingat dia belum mengenal Ibu dari Danish, tetap saja ada keraguan di dalam hatinya. Wanita yang sedang mengandung benih dari Danish itu kembali bertanya.
"Bagaimana kalau setelah kita menikah Ibu kamu datang dan meminta kamu untuk menceraikan aku?" tanya Daniela.
Daniela bisa merasakan jika Danish begitu tulus mengajak dirinya untuk menikah, walaupun dia sangat paham jika rasa cinta untuk dirinya mungkin belum ada.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dia sangat yakin jika cinta di antara keduanya akan tumbuh. Karena dia merasa sangat nyaman saat berada di dekat Danish.
"Kamu tuh pikirannya negatif terus, tapi kalau itu terjadi, aku tidak akan menceraikan kamu. Karena walau bagaimanapun juga ada dia di antara kita," jawab Danish dengan yakin.
Daniela bisa menghela napas dengan lega, setidaknya jika Danish ingin mempertahankan pernikahannya mereka, itu artinya ada. kesempatan untuk kelanggengan rumah tangga mereka.
"Baiklah, aku percaya. Ini sudah sore, sebaiknya kamu pulang saja." Daniela mengusir Danish secara halus.
Danish tertawa mendengar ucapan dari Daniela, setelah seharian menemani wanita itu, kini dia malah diusir. Padahal dia masih ingin berdekatan dengan wanita itu, terasa sangat nyaman.
"Ya ampun, setelah aku menemani kamu seharian kamu malah mengusirku," ucap Danish dengan bibir mengerucut.
Kini gantian Daniela yang tertawa, dia turun dari atas pangkuan Danish. Lalu, dia mengusap lengan Danish dengan lembut dan berkata.
"Aku sudah menjadi penghambat untuk kamu selama seharian ini, jadi... sudah saatnya untuk kamu pulang dan mengerjakan tugas kamu yang sudah tertunda. Terima kasih untuk hari ini," ucap Daniela dengan tulus.
"Sama-sama, sebelum aku pergi, bisakah kita melakukannya terlebih dahulu?" tanya Danish seraya menempelkan tubuhnya pada Daniela.
Tangan kekar Danish bahkan sudah mulai mengusap paha Daniela dengan lembut, tetapi dengan cepat Daniela menepis tangan itu.
"Jangan macam-macam! Kemarin kita melakukan itu karena aku dalam keadaan tidak sadar," kilah Daniela. Padahal tubuhnya sejak tadi sudah panas dingin, ingin rasanya dia merasakan yang namanya bercinta.
Karena sudah dua kali dia bercinta dengan Danish, sayangnya dia tidak ingat sama sekali bagaimana rasa nikmatnya dalam memadu kasih.
Padahal, banyak orang berkata jika bercinta itu adalah hal yang sangat nikmat. Daniela sangat penasaran dengan rasanya, nikmat dalam bercinta belum pernah dia rasakan. Namun, dia sudah merasakan hasilnya.
__ADS_1
"Hem, dua malam kita habiskan bersama. Sayangnya kamu tidak ingat, kamu tidak mau melakukannya dalam keadaan sadar?" tanya Danish.
"Ya ampun, mau. Tapi nanti setelah kamu menikahiku," jawab Daniela malu-malu.
"Oh ya ampun, kalau begitu besok kita menikah. Aku suka saat kita bercinta, kamu sangat agresif. Aku jadi penasaran, kalau kamu dalam keadaan sadar, apakah kamu akan seagresif kemaren?" tanya Danish seraya menautkan kedua alisnya.
Danish yang sudah tidak sabar ingin kembali merasakan nikmatnya bercinta langsung mengambil keputusan, dia sudah tidak sabar ingin kembali menghabiskan malam dengan Daniela.
Maka dari itu dia memutuskan untuk segera menikahi Daniela, karena dengan seperti itu dia akan bebas untuk menggauli Daniela kapan pun juga.
"Jangan besok juga, memangnya segampang itu apa mengurus surat-surat untuk nikahan," protes Daniela. "Lagian aku tidak percaya sama kamu, mana mungkin aku yang pendiam ini bisa begitu agresif di atas ranjang," ucap Daniela tidak percaya.
"Hem, kamu memang sangat agresif. Kamu sangat suka bermain dengan jamur beracun milikku," jelas Danish.
"Udah ih! Jangan ngomongin itu terus, jadinya kita nikahnya kapan?" tanya Daniela memastikan.
"Besok, Sayang. Semuanya akan disiapkan dalam satu hari oleh David. Sekarang siapkan berkasnya, biar aku langsung meminta David untuk mengurus acara pernikahan kita," ujar Danish.
"Baiklah, aku percayakan semuanya sama kamu," putus Daniela yang tidak ingin beradu argumen lagi.
Tidak lama kemudian Daniela kembali dan memberikannya ke kepada Danish, Danish tersenyum karena itu artinya besok dia akan menikah dengan Daniela dan akan segera membawa wanita itu ke dalam rumah besarnya.
Rumah yang selalu dia tinggali, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya setelah ibunya tidak tinggal lagi di sana.
"Ini berkasnya," ucap Daniela seraya memberikan berkasnya kepada Danish.
"Hem, aku pulang dulu," pamit Danish.
Sebelum dia benar-benar pagi dari kediaman Daniela, dia menyempatkan diri untuk mencium bibir Daniel dengan begitu mesra.
Rasanya bibir Daniela sudah menjadi candu untuk dirinya, terlebih lagi ketika mengingat bagaimana agresifnya Daniela ketika berada di atas tubuhnya. Sungguh Danish ingin segera menghalalkan Daniela dan bergumul dengan wanita itu sampai puas.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, jaga diri baik-baik," ucap Danish setelah pagutan bibir mereka terlepas.
Daniela tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, terlebih lagi dengan apa yang sudah dilakukan pria itu kepada dirinya. Ciuman dari Danish benar-benar membuat dirinya mabuk kepayang.
"Ya, aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku juga akan menjaga dia dengan sangat baik," ucap Daniela seraya mengelus lembut perutnya.
Danish tersenyum mendengar jawaban dari Daniela, kemudian dia meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Dia berdiri di atas kedua luntutnya, lalu dia mengecupi perut Daniela yang terasa semakin mengeras.
"Ayah pulang dulu, besok kita ketemu lagi. Jangan nakal, nanti Bunda nangis," ucap Danish.
Daniela tersenyum mendengar ucapan dari Danish, hatinya terasa menghangat ketika Danish mengatakan kata ayah dan juga bunda.
Setelah mengatakan hal itu, Danish bangun kembali. Lalu, dia menarik lembut tubuh Daniela ke dalam pelukannya. Tidak lupa dia menunduk untuk mengecup bibir Daniela dengan lembut.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikahimu, aku sudah tidak sabar untuk bisa tinggal satu atap dengan kamu." Danish tersenyum lalu mengusap pipi Daniela dengan lembut.
"Hem, aku tahu. Kamu juga udah ngga tahan pengen itu lagi sama aku," ucap Daniela dengan wajah yang sudah memerah.
Bukan tanpa sebab dia mengatakan hal itu, tetapi tubuh mereka yang begitu menempel membuat Daniela bisa merasakan jika milik Danish sudah menggeliat dan terasa mengganjal.
"Kamu tuh sok tahu banget," ucap Danish dengan wajah yang tidak kalah memerah dari Daniela.
"Aku tidak sok tahu, hanya saja aku bisa merasakannya." Daniela meelerai pelukan mereka, lalu dia menunduk untuk melihat milik Danish yang sudah mengeras di balik celana panjangnya.
Danish yang menyadari akan hal itu langsung memundurkan langkahnya, dia merasa malu karena sudah ketahuan oleh Daniela jika dirinya begitu menginginkan wanita itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Danish dengan terburu-buru. Karena dia takut jika Daniela akan mengejek dirinya lagi.
Daniela hanya tersenyum seraya melambaikan tangannya melihat kepergian pria itu, karena dia merasa lucu dengan tingkah dari Danish.
Selama dirinya berpacaran dengan Dave, dia tidak pernah berciuman dengan begitu mesra dengan pria itu. Dave memang sering mencuri kecupan dari bibirnya, karena dia juga memang selalu membatasi diri dari Dave.
__ADS_1
Namun, ini dia dengan mudahnya melakukan ciuman mesra dengan Danish. Padahal, mereka belum mengenal satu sama lainnya. Namun, Daniela malah merasa yakin dengan pria itu.
"Dasar pria messum!" rutuk Daniela.