
Danish merasa lebih tenang setelah melihat Dave yang berusaha untuk menenangkan Dea, dia berpikir untuk segera pulang saja. Takut-takut Daniela akan bangun dan kebingungan mencari dirinya.
Namun, sebelum Danish pulang, tentu saja dia menemui dokter terlebih dahulu. Karena dia ingin mengetahui dengan pasti kondisi dari Dilla, setelah mendengar sendiri dari dokter jika kondisi Dilla sudah stabil Danish memutuskan untuk pulang.
Tentu saja dia juga meminta dokter untuk lebih memperhatikan kondisi dari Dilla, dia juga meminta dokter untuk memberitahukan kepada dirinya perkembangan tentang kesehatan dari wanita itu.
"Akhirnya pulang juga," ucap Danish dengan wajah yang begitu lelah.
Setelah tiba di kediamannya, Danish langsung turun dari mobil. Kemudian, dia melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju kamar utama. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya.
"Semoga saja dia tidak bangun," doa Danish.
Saat dia hendak masuk ke dalam kamarnya, dia melihat pelayan yang sedang duduk di atas sofa dekat pintu kamarnya seraya bermain ponsel.
"Eh? Tuan, sudah pulang. Maaf, saya bermain ponsel. Soalnya takut ngantuk," ucap pelayan tersebut.
"Tidak apa-apa, saya paham. Bagaimana? Apakah nyonya bangun?" tanya Danish.
"Iya, Tuan. Tadi nyonya bangun dan mencari Tuan, tapi masuk kembali ke dalam kamar setelah saya menjawab pertanyaan dari nyonya."
"Kamu jawabnya bagaimana?" tanya Danish penasaran.
Takutnya bibi salah jawab, pada akhirnya istrinya akan salah paham dengan dirinya. Bisa panjang buntutnya nanti, karena berurusan dengan ibu hamil lumayan sulit, menurut Danish.
"Saya jawab kalau Tuan pergi sebentar, terus nyonya nanya lagi ke mana tuan pergi. Saya bilang nggak tahu," jawab pelayan tersebut.
Ohohoho! Danish yakin jika Daniela pasti akan salah paham jika bibi berbicara seperti itu, karena semejak hamil Daniela jadi lebih sensitif.
"Ya ampun!" keluh Danish seraya masuk ke dalam kamar utama dan menutupnya dengan cepat.
Saat dia masuk ke dalam kamar utama, dia melihat Daniela yang sedang menatap tajam ke arah dirinya. Wajah wanita itu terlihat begitu kesal sekali, dia seperti Singa lapar yang siap menerkam mangsanya.
Danish berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis, lalu dia menghampiri istrinya dan memeluk istrinya tersebut. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Daniela tidak merasa senang. Justru, dia malah memberontak karena benar-benar kesal.
Danish tahu jika istrinya itu sedang kesal terhadap dirinya, tetapi dia berusaha untuk tetap memeluk istrinya tersebut.
__ADS_1
"Jangan marah, Sayang. Aku hanya pergi ke rumah sakit untuk menemui tante Dilla, sekarang kondisinya sedang kritis."
Daniela berhenti memberontak, dia benar-benar kaget dengan apa yang dia dengar. Lalu, dia mendongakkan wajahnya ke arah suaminya lalu bertanya.
"Tante Dilla beneran masuk rumah sakit? Bagaimana kondisinya? Terus bagaimana dengan Dea? Apakah wanita itu baik-baik saja?" tanya Daniela dengan pertanyaan yang begitu banyak.
Danish tersenyum ketika melihat istrinya begitu mengkhawatirkan keadaan Dilla, karena itu artinya istrinya sudah paham dengan kepergiannya yang tanpa berbicara dulu kepada istrinya tersebut.
"Tante Dilla menderita penyakit kanker otak stadium akhir, penyakitnya kambuh dan sekarang sedang mendapatkan perawatan intensif."
Daniela langsung menutup mulutnya, dia merasa benar-benar tidak menyangka akan hal itu. Belum kama mereka bertemu dan wanita itu nampak baik-baik saja, dia tetapi nyatanya wanita itu menderita penyakit berbahaya.
"Ya ampun! Kasihan sekali dia, pantas saja dia menikahkan anaknya dengan tergesa-gesa. Ternyata ada sesuatu di balik semua ini," ungkap Daniela.
Danish tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, karena itu memang benar adanya. Dila memang sengaja segera menikahkan Dave dengan Dea, selain karena takut hamil terlebih dahulu, dia juga takut jika umurnya tidak akan panjang lagi.
"Ya, makanya kita harus banyak bersyukur. Karena Tuhan memberikan kita kesehatan, ayo kita bobo. Kasihan Dedeknya," ajak Danish.
Daniela menganggukan kepalanya mendengar ajakan dari Danish, dia memang sangat mengantuk. Dia butuh istirahat, karena begadang tentunya tidak baik untuk kesehatan ibu hamil
Apalagi setelah Daniela mendengarkan keterangan dari Danish, rasanya kini dia bisa bernapas dengan lega.
"Ya, Sayang," jawab Danish seraya menuntun istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Setelah itu, Danish menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya sebatas dada. Sedangkan dirinya mengganti pakaian terlebih dahulu dengan piyama tidur, setelah selesai barulah dia ikut merebahkan tubuhnya bersama dengan istrinya.
'Semoga rumah tangga kami selalu dalam keadaan baik, semoga tante Dilla cepat sembuh.' Danish berucap dalam hati.
Di kantor.
David baru saja menyelesaikan pekerjaannya, pria itu langsung meregangkan otot-otot lelahnya. Namun, pekerjaan kali ini dirasa sangat menyenangkan karena ditemani oleh kekasih tercintanya.
Wanita bernama Diana yang sudah menjadi kekasihnya selama satu tahun itu menemani dirinya sampai tertidur dengan pulas di atas sofa, David tersenyum lalu menghampiri kekasih hatinya.
"Sayang, bangun. Ayo kita pulang," ajak David.
__ADS_1
"Engh!"
Diana membuka matanya dan tersenyum ketika melihat wajah tampan kekasihnya, dia berusaha untuk bangun dan duduk seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Sudah selesai?" tanya Diana.
"Hem! Kamu pasti lelah, terima kasih sudah menemani aku. Ayo kita pulang, biar aku antarkan." David mengusap pipi Diana dengan lembut.
Diana begitu senang mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari kekasihnya, sederhana tapi selalu membuat dia suka.
"Cium dulu, baru kita pulang." Diana memonyongkan bibirnya, David langsung menyentil jidat sang kekasih hatinya.
"Ngga mau ah, ada ilernya," goda David.
"Hah? Iya, kah?" tanya Diana seraya mengusap bibirnya.
David langsung tertawa, lalu dia mengusap puncak kepala kekasih hatinya. Dia begitu suka kala melihat wajah kaget Diana, berbeda dengan Diana yang merasa dikerjai.
"Aih! Kamu tuh nakal banget, besok-besok aku ngga bakal nemenin kamu kerja lagi." Diana merajuk, dia langsung bangun dan hendak pergi dari sana.
Namun, dengan cepat David mencekal pergelangan tangan kekasihnya. Tentu saja hal itu membuat Diana langsung jatuh ke atas pangkuannya, David memeluk pinggang kekasihnya dengan posesif.
Lalu, dia menyatukan bibirnya dengan bibir kekasihnya. Dia pagut bibir tipis kekasihnya dengan penuh cinta, Diana langsung memejamkan matanya dan membalas pagutan bibir dari kekasihnya itu.
"Terima kasih untuk malam ini, karena kamu sudah menjadi penyemangat bagi aku. Sekarang lebih baik kita pulang, aku takut malah khilaf." David melepaskan pelukannya, Diana langsung turun dari pangkuan David.
"Ehm! Kamu benar, ayo pulang." Diana bangun dan segera melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk keluar dari dalam ruangan Danish.
David tertawa melihat tingkah sang kekasih, lalu dia dengan cepat menyusul kekasihnya dan mensejajarkan langkahnya dengan Diana.
"Minggu depan kita pulang ke kampung kamu, yuk?" ajak David.
"Untuk apa?" tanya Diana.
Mereka harus mengejar waktu untuk bekerja,kenapa harus pulang kampung, pikirnya. Nanti malah akan cape karena setelah melakukan perjalanan jauh mereka harus kembali bekerja.
__ADS_1
"Aku mau ngelamar kamu, kita nikah, yuk?" ajak David.
"Hah?" tanya Diana dengan kaget.