Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Selimut Kesedihan


__ADS_3

Dea menatap wajah ibunya dengan sedih, kini wanita itu tergeletak lemah di atas ranjang pasien. Dia masih belum sadarkan diri, berbagai alat menempel di tubuhnya. Entah alat apa Dea tidak tahu.


Wanita yang baru saja menikah dengan Dave itu benar-benar syok saat mengetahui penyakit ibunya, selama ini dia merasa menjadi anak yang paling durhaka karena tidak perhatian kepada ibunya tersebut.


Selama ini Dea selalu saja pergi bersama dengan teman-temannya ketika pekerjaannya selesai, dia jarang sekali berkumpul dengan ibunya tersebut.


Setelah kejadian seperti ini, rasanya Dea benar-benar sangat menyesal. Jika saja bisa, dia ingin kembali memutar waktu. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan ibunya tersebut.


"Mom, maafkan Dea. Dea sangat cuek sama Mom, Dea memang nakal." Dea menangis sesenggukan setelah mengatakan hal itu.


Dave yang melihat Dea terus saja menangis dari tadi merasa iba, dia memeluk Dea dan mencoba untuk menenangkan hati dari istrinya itu.


"Tenanglah, Sayang. Dokter berkata keadaan Mom sudah mulai stabil, kita tinggal berdoa sambil menunggu Mom sadar."


Dave mengusap punggung Dea dengan begitu lembut, dia berharap jika apa yang dia katakan bisa menenangkan hati istrinya tersebut.


Sebenarnya Dave tidak menyangka jika mertuanya itu benar-benar mempunyai penyakit yang sangat parah seperti ini, karena saat mereka menikah saja wajah Dilla tidak pucat sama sekali.


Atau mungkin, memang Dave yang tidak peka karena terlalu gugup menghadapi pernikahannya. Atau mungkin riasan yang menutupi wajah Dilla terlalu sempurna, hingga Dave tidak menyadari perubahan raut wajah mertuanya, pikirnya.


"Aku tahu dan aku dengar dengan apa yang dikatakan oleh dokter, tapi aku merasa menjadi anak yang durhaka, Dave. Kenapa aku tidak tahu dari awal jika Mom sakit?" kesal Dea terhadap dirinya sendiri.


Selama ini pasti ibunya itu sangat menderita, selama ini pasti ibunya melakukan perawatan dan pengobatan sendirian. Pantas saja ibunya selalu bersikeras agar dirinya cepat menikah dan berkeluarga, karena ibunya itu ternyata memiliki penyakit yang sangat berbahaya.


Ibunya bahkan selalu berkata akan segera mengumumkan Dea sebagai pemilik perusahaan yang baru, karena Dilla selalu berkata jika dirinya ingin pensiun.

__ADS_1


Dilla sudah merasa sangat lelah berkecimpung di dunia bisnis, wanita itu ingin menikmati masa tuanya di rumah saja.


"Berdoa sama Tuhan, minta yang terbaik untuk kesembuhan Mom." Dave mengeratkan pelukannya, lalu dia menunduk dan mengecup kening istrinya.


"Hem!" jawab Dea hanya dengan deheman saja.


Satu hal yang Dea syukuri, di saat seperti ini ada Dave yang menemani dan menguatkan dirinya. Jika tidak ada, sudah dapat dipastikan jika dia akan kebingungan sendirian.


"Terima kasih sudah menemani,'' ucap Dea.


"Jangan berterima kasih, karena ini sudah kewajiban aku sebagai suami." Dave melerai pelukannya, lalu dia mengecup bibir istrinya.


Dea tersenyum lalu kembali memeluk suaminya, dia sandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Nyaman sekali rasanya ada yang menenangkan di saat dia sedih seperti ini.


Di lain tempat.


Dengan perlahan dia melerai pelukannya lalu turun dari tempat tidur, tentu saja hal itu dia lakukan agar Daniela tidak terganggu dalam tidurnya. Danish berjalan dan membuka pintu, lalu dia duduk di sofa malas yang ada di balkon dan menerima panggilan telepon tersebut.


"Ya, Jhon!"


"Anu, Tuan. Nyonya Dilla masuk rumah sakit," ucap Jhon.


"Rumah sakit mana?" tanya Danish.


"Rumah sakit X," jawab Jhon.

__ADS_1


"Aku akan segera sampai," ujar Danish menyanggupi.


Setelah mengatakan hal itu, Danish memutuskan sambungan teleponnya. Lalu, dengan cepat dia masuk ke dalam kamar dan berganti baju. Tidak mungkin rasanya jika Danish harus memakai piyama tidur ke rumah sakit.


Setelah bersiap, Danish langsung keluar dari dalam kamar utama. Lalu, pria itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar pelayan. Tentu saja dia ingin menitipkan Daniela kepada pelayan tersebut.


"Bi! Tolong jaga Daniela, aku pergi keluar sebentar." Danish berbicara seraya mengetuk pintu.


"Iya, Den!" jawab Bibi dari dalam kamar.


Tidak lama kemudian, bibi nampak membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum lalu membungkukkan badannya.


"Saya akan menjaga nyonya di depan kamar," jawab pelayan tersebut.


"Terima kasih," jawab Danish menyetujui. Karena di depan kamar Danish memang ada sofa.


Setelah menitipkan istrinya kepada salah satu pelayan yang ada di rumah tersebut, dengan cepat Danish pergi menuju rumah sakit.


Walau bagaimanapun juga dia mengkhawatirkan keadaan Dilla, terlebih lagi sebelum dia pergi Dilla menitipkan Dea kepadanya.


"Semoga saja tante Dilla tidak kenapa-kenapa," ujar Danish seraya mengendarai mobilnya.


Danish mengajukan mobilnya dengan cukup kencang, beruntung waktu sudah hampir tengah malam. Hal itu mempermudah Danish untuk segera datang ke rumah sakit, karena jalanan terlihat begitu lenggang.


Saat tiba di rumah sakit, Danish langsung berlari menuju ruangan di mana Dilla dirawat. Sungguh dia merasa khawatir dengan keadaan wanita itu.

__ADS_1


Danish langsung tersenyum senang ketika dia melihat Dave dan juga Dea yang sedang saling memeluk dan saling menenangkan, mereka berdua ternyata bisa menyikapi hal ini dengan tenang.


"Syukurlah Dave benar-benar berusaha untuk berubah, semoga mereka diberikan ketabahan. Semoga tante Dilla cepat baik," ujar Danish dengan lirih.


__ADS_2