
"Memangnya kamu tidak bisa menebak kenapa aku mengajak kamu ke sini?" tanya Danish.
"Tidak!" jawab Daniela dengan polos.
Danish langsung tertawa mendengar jawaban dari Daniela, entah kenapa dia merasa begitu senang karena memiliki istri yang begitu polos seperti Daniela.
"Karena aku ingin--"
Danish tidak melanjutkan ucapannya, tetapi Danish langsung membuka resleting gaun pengantin yang Daniela pakai. Hal itu membuat Daniela kebingungan.
"Kamu mau ngapain, Mas? Aku ngga mau mandi ah, ac-nya dingin banget." Daniela menahan gaun pengantin yang hendak jatuh dari tubuhnya.
Daniela tidak terbiasa tidur di sebuah ruangan yang begitu dingin, rasanya kamar hotel itu terasa begitu dingin untuk dirinya.
"Kamu beneran nggak mau mandi?" tanya Danish.
Daniela langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Danish, kalau perlu dia hanya ingin mengganti baju saja lalu tidur dengan selimut tebal yang terlihat begitu menggoda di atas tempat tidur.
Lagi pula hari masih siang, kenapa juga Danish malah mengajak dirinya untuk menginap di sebuah kamar hotel, pikirnya. Karena malam masih lama.
"Kamu kedinginan?" tanya Danish lagi.
Karena Daniela nampak pucat setelah masuk ke dalam kamar hotel, saat Danish memegang lengan Daniela, terasa begitu dingin. Mungkin karena memang pengaruh dari suhu udara yang ada di kamar hotel tersebut.
"He'em, dingin banget," jawab Daniela.
Danish langsung menyeringai mendengar apa yang dikatakan oleh Daniela, jangan seperti itu dia bisa memperdaya Istrinya. Dia bisa beralasan agar hari ini dia bisa melakukan percintaan panas kembali dengan Daniela.
"Kalau begitu biar aku yang menghangatkan, tapi bajunya dibuka dulu," rayu Danish.
Danish merasa takut Daniela tidak akan memberikan haknya jika dia meminta secara langsung, karena bagaimanapun juga mereka menikah dadakan.
"Loh, kok buka baju? Kalau buka baju nanti aku tambah kedinginan dong?" tanya Daniela dengan bingung.
Daniela bahkan sampai mengerutkan dahinya dengan dalam, karena apa yang dikatakan oleh suaminya dirasa tidak masuk akal.
Danish tersenyum lalu mengusap-usap lengan Daniela dengan begitu lembut, saat ini dia sedang begitu menginginkan istrinya. Oleh karena itu, dia harus bisa membujuk istrinya secara baik-baik.
__ADS_1
Jangan sampai dia tidak bisa mendapatkan haknya di hari pertama menjadi seorang suami, rasanya sangat malu jika tidak bisa merayu istrinya tersebut.
"Ngga dong, nanti aku angetin." Danish langsung meloloskan gaun pengantin yang dipakai oleh Daniela.
Setelah gaun pengantin itu lolos dari tubuh Daniela, Danish menatap tubuh istrinya dengan tatapan lapar. Tentu saja hal itu membuat Daniela merasa malu, karena dia hanya memakai bra dan juga kain pengaman yang melindungi area intinya.
Karena merasa malu saat Danish menatap tubuhnya, Daniela menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
"Jangan ditutupin, aku mau ini." Danish menurunkan selimut yang Daniela pakai, lalu dia mengusap dada istrinya.
Dada yang terasa begitu padat dan bulat, sangat menggoda dan seakan melambai-lambai untuk minta dia remat. Danish sangat suka.
Belum lagi tubuh Daniela yang kini kian berisi, padahal pertama kali dia bertemu dengan Daniela, gadis itu terlihat mungil dan juga kurus. Karena sepertinya Daniela memang terlalu capek dalam bekerja.
Makan pun dia sering telat, lebih tepatnya dia selalu menghemat karena ingin tabungannya cepat banyak. Dia ingin membeli rumah impian setelah dia menikah dengan Dave, sayang ya kini semua terasa sia-sia.
"Emph! Jangan," pinta Daniela ketika Danish mulai membuka kain yang melindungi dada Daniela.
Danish tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Daniela, dia bahkan langsung membuka pengait bra-nya dan melempar bra tersebut secara asal.
Danish sudah menghalalkan Daniela, dia sudah tidak mau menunggu waktu lagi. Dia ingin istrinya, dia menginginkan penyatuan dengan tubuh istrinya.
"Aduh! Geli," protes Daniela ketika Danish mulai menggigit dan menyesap ujung dada Daniela.
Tubuh Daniela menggelinjang akibat perbuatan dari Danish, pria itu dengan lihainya bermain dengan dadanya.
"Kamu tuh berisik, aku ngga bisa konsentrasi kalau kamu berisik terus!"
Kini giliran Danish yang melayangkan protesnya, dia merasa kesal karena Daniela terus saja mengatakan hal yang seolah melarang dirinya untuk menjamah istrinya tersebut.
"Tapi, itu. Akh!" jerit Daniela kala Danish membuka segitiga pengaman yang dipakai oleh Daniela dan mulai mengecupi area inti wanita itu.
Danish melahap inti tubuh Daniela seperti menikmati kudapan yang begitu lezat, lidahnya bahkan terulur untuk mencari di mana lubang surgamu milik istrinya tersebut.
Ini adalah pertama kalinya Daniela merasakan hal itu dalam keadaan sadar, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa dan begitu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Jangan kaya gitu!"
__ADS_1
Daniela kembali melarang Danish untuk melakukan sesuatu hal, karena dia merasakan hal yang luar biasa ketika bibir Danish bermain dengan benda terkecil yang ada di area intinya. Sedangkan dua jari tangan Danish sudah masuk dan bergerak dengan sangat lambat.
"Aduh, aku---"
Daniela tidak meneruskan ucapannya, napas wanita itu terdengar terengah-engah. Karena dia sudah mencapai puncaknya, apa yang dilakukan oleh Danis benar-benar membuat dirinya tidak tahan.
"Enak?" tanya Danish.
Daniela tidak menjawab pertanyaan dari pria itu, dia malah memukul pundak Danish dengan cukup kencang.
"Aduh! Kok dipukul? Padahal tadi udah aku kasih enak, kamunya malah kaya gitu!" keluh Danish.
Daniela tidak mengatakan apa pun, dia malah menarik selimut lalu menutupi wajahnya. Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Eh? Jangan ditutup kaya gitu, aku mau kamu. Kita naik-naik ke puncak gunung, yuk?" ajak Danish.
Wajah Daniela benar-benar memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, dia paham dengan apa yang diminta oleh Danish. Tidak seperti sebelumnya.
"Ngga mau ah, aku bau. Kan, aku ngga mandi," jawab Daniela.
"Bodo amat kamu mau ngomong apa, aku udah ngga tahan." Danish langsung melucuti kain yang menempel di tubuhnya, dia bahkan melemparkannya secara sembarang.
Tanpa banyak bicara Danish langsung memasuki Daniela dari belakang, hal itu membuat Daniela memekik kaget, bukan karena sakit.
Inti tubuhnya yang sudah basah, milik Danish masuk dengan mudah. Walaupun saat masuk langsung mendapatkan jepitan luar biasa dari sangkarnya itu.
Selanjutnya hanya erangan kenikmatan yang terdengar begitu menggema di dalam kamar hotel tersebut, baik Daniela ataupun Danish begitu menikmati pergumulan panas di antara keduanya.
"Kenapa hanya mengerang? Kamu ngga mau naik?" tanya Danish dengan napas terengah karena pinggulnya terus saja maju mundur agar bisa mendapatkan kenikmatan.
"Memangnya boleh?" tanya Daniela tergagap karena mendapatkan serangan kenikmatan dari suaminya.
Mendengar pertanyaan dari Daniela, Danish langsung menghentikan goyangannya. Kemudian, dia menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Kamu serius mau naek?" tanya Danish memastikan.
"Aku---"
__ADS_1