
Danish baru saja merasakan kebahagiaan setelah menikah bersama dengan Daniela, wanita yang saat ini tengah mengandung benihnya. Dia baru saja menikmati kebersamaannya bersama dengan istri tercintanya.
Wanita yang sudah membuat dirinya jatuh hati sejak pertemuannya yang pertama, terlebih lagi ketika dia tidur dengan Daniela dan menghabiskan malam panjang itu.
Danish merasa bangga mendapatkan mahkota dari Daniela, karena walaupun pada awalnya dia mengira Daniela adalah wanita nakal, tetapi dia begitu bahagia kala mendapatkan kenyataan bahwa dirinyalah yang pertama menyentuh wanita itu.
Maka dari itu Danish bertekad untuk bertanggung jawab dan memperistri wanita yang sudah dia tiduri, tidak peduli wanita itu miskin atau kaya.
Satu hal yang diyakini oleh Danish, Daniela hanyalah wanita korban perselingkuhan dari kekasihnya, maka dari itu Daniela nekat untuk mabuk-mabukan di klub malam.
Namun, dia sepantasnya bersyukur dan berterima kasih kepada Dave. Karena berkat kebodohan Dave, dia bisa mendapatkan Daniela. Dia bisa memperistri wanita yang terkadang bertingkah bodoh itu.
Akan tetapi, kini Danish benar-benar merasa sangat kesal. Karena tiba-tiba saja Ibunya datang dan menjelek-jelekkan Istrinya, rasanya dia tidak bisa terima.
Pada akhirnya, Danish malah mengajak Daniela untuk pergi ke Villa yang ada di puncak. Walaupun dokter berkata jika kandungan Daniela lemah, tetapi Danish lebih memilih untuk membawa Daniela pergi ke puncak.
Karena jika Daniela terus saja bertemu dengan ibunya, dia takut jika istrinya tersebut akan stres mendengarkan kata-kata makian dari ibunya tersebut.
"Kita mau ke mana? Kenapa kita masuk ke jalan tol yang mau keluar kota?" tanya Daniela setelah menyadari jika Danish membawa dirinya menuju luar kota.
Danish tidak mungkin berkata dengan jujur, tidak mungkin dia mengatakan kepada istrinya jika dirinya saat ini sedang mengajak Daniela untuk menghindari ibu kandungnya sendiri.
Walau bagaimanapun juga Daniela adalah seorang perempuan, dia takut jika Daniela akan merasa tersinggung. Akhirnya Danish memutarkan otaknya, dia mencari alasan yang tepat untuk dilontarkan kepada istrinya.
Walaupun dia tidak menyukai ibunya, tetapi Daniela pasti menyuruh dirinya untuk menghormati ibunya yang sangat egois itu.
"Kita akan pergi untuk berbulan madu," jawab Danish.
Wajah Daniela langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, karena tiba-tiba saja otaknya ber-travelling kemana-mana ketika Danish mengatakan hal seperti itu.
Bayangan percintaan panas langsung bertebaran di otaknya, suguhan suguhan kenikmatan yang diberikan oleh Danish membuat tubuhnya meremang seketika.
__ADS_1
Bulu kuduknya seakan berdiri semua, bukan karena adanya makhluk halus yang kini berada di samping Daniela. Akan tetapi, kini seakan ada sengatan listrik yang mengalir di tubuhnya.
"Jangan macam-macam, Mas. Apa kamu tidak mendengar apa kata dokter, keadaan calon buah hati kita sangat lemah." Daniela mengingatkan suaminya dengan wajah yang ditekuk.
Namun, walaupun dia mengatakan kalimat protes kepada suaminya dengan wajah yang ditekuk, tetapi hatinya merasa berdesir.
Bayang-bayang percintaan panas tergambar jelas di dalam otaknya, karena menurutnya pergi berbulan madu itu pastinya untuk bercinta sampai puas dan sampai lemas.
Danish yang mendengar ucapan dari istrinya langsung menoyor kepala istrinya tersebut, dia tidak menyangka jika istrinya akan berpikiran sampai sejauh itu.
"Aku masih waras, Sayang. Walaupun aku menginginkannya, tapi aku tidak akan mungkin menyakiti calon buah hatiku," ucap Danish seraya terkekeh.
Daniela mengernyitkan dahinya dengan dalam, jika memang Danish tidak ingin melakukan apa pun dengan dirinya selama berbulan madu, kenapa pria itu mengajak dirinya untuk berbulan madu, pikirnya.
"Lalu? Untuk apa kita pergi berbulan madu jika kamu tidak ingin melakukan apa pun denganku?'' tanya Daniela.
Danish langsung tertawa mendengar pertanyaan dari istrinya, karena ternyata istrinya itu mulai messum. Yang ada di pikiran istrinya hanyalah tentang urusan ranjang.
Daniela langsung menundukkan wajahnya, dia merasa malu karena sudah menuduh Danish yang tidak tidak. Karena teman-temannya yang sudah menikah selalu berkata, jika mereka rela begadang hanya untuk melakukan percintaan panas tanpa merasa lelah.
Karena upahnya mereka bisa mendapatkan kenikmatan yang luar biasa, nikmat surgawi yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Oh! Maaf, pikiranku terlalu jauh." Daniela tersenyum malu-malu.
"Tidak apa, aku suka." Danish langsung mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.
Pada akhirnya tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, Danish begitu fokus dalam mengendarai mobilnya. Akan tetapi, tangan kirinya tidak berhenti untuk mengelus lembut pundak istrinya.
Karena Daniela terus aja memeluk Danish seraya menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya, wanita itu seakan tidak ingin berjauhan dari suaminya.
Setelah 2 jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di puncak. Danish langsung menepikan mobilnya di sebuah Villa milik keluarganya.
__ADS_1
Villa peninggalan mendiang ayahnya, dulu dia sangat suka pergi ke Villa itu jika sedang berlibur sekolah. Dia akan datang bersama dengan sahabat-sahabatnya, karena ayahnya begitu sibuk dalam bekerja.
Ibunya Debora kalau itu juga begitu sibuk, Danish selalu mengira jika ibunya itu sibuk dalam membantu usaha ayahnya. Namun, ternyata ibunya sibuk berselingkuh dengan pria lain.
Sungguh itu adalah hal yang paling memalukan bagi Danish, karena dia selalu saja membanggakan ibu dan ayahnya di depan teman-temannya.
"Mau langsung istirahat di kamar atau mau jalan-jalan dulu?" tawar Danish.
"Udaranya sangat segar, Mas. Berbeda saat kita berada di ibu kota, aku mau bermain di taman belakang dulu boleh?" tanya Daniela kalau melihat hamparan taman bunga yang berada di belakang Villa.
"Boleh, Sayang. Sangat boleh," jawab Danish.
Di lain tempat.
Semenjak pertemuannya dengan Dea, Dave merasa tidak tenang. Walaupun wanita itu pura-pura tidak mengenal dirinya, tetapi tetap saja dia merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya.
Selama bekerja dia sering melamun, untungnya David selalu mengingatkan untuk mengerjakan pekerjaan dengan lancar tanpa hambatan.
'Wanita itu sangat aneh, bisa-bisanya dia bersikap tenang seperti itu saat berhadapan denganku?' ungkap Dave dalam hati.
"Dave!" panggil David.
"Ya!" jawab Dave.
"Sedari tadi aku perhatikan kamu melamun terus, Apakah ada hal yang membuat kamu merasa tidak enak hati? Atau mungkin pekerjaan yang aku berikan terlalu berat?" tanya David.
"Tidak, Tuan. Maaf kalau saya sedikit melamun," ucap Dave penuh sesal.
David hanya menggedikkan kedua bahunya mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dia berpikir jika pria itu sedang kecewa karena mantan kekasihnya telah menikah dengan atasan mereka.
Maka dari itu Dave terlihat banyak melamun, David tidak ingin banyak bicara. Dia kembali bekerja, tanpa memedulikan Dave yang kini sedang menatap dirinya dengan raut wajah kebingungan.
__ADS_1
"Dia itu kenapa sih? Nanya tapi pas dijawab kayak orang cuek gitu," gumam Dave yang tentunya tidak didengar oleh David.