
Daniela masuk ke dalam kamar utama, kemudian dia mengedarkan pandangannya. Sebuah senyuman tersungging dengan sangat manis di bibirnya, karena dia begitu menyukai dekorasi ruangan tersebut.
Sepertinya Danish benar-benar mencari tahu tentang dirinya, karena ruangan tersebut terlihat serba putih dan itu adalah warna kesukaannya.
Di dalam kamar tersebut juga terdapat satu lemari penuh boneka beruang, mulai dari ukuran terkecil sampai berukuran terbesar.
"Ini terlihat sangat manis," ucap Daniela seraya menatap boneka paforitnya.
Kamar tersebut terlihat tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman dan sangat banyak barang yang dia butuhkan tertata dengan begitu rapi.
"Oh ya ampun, walaupun aku tidak bekerja dan hanya berdiam diri saja di rumah, sepertinya aku akan sangat betah."
Setelah mengatakan hal itu, Daniela langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan begitu perlahan. Tidak lama kemudian dia menguap dan tertidur.
Terlalu lama bercinta merupakan kegiatan yang begitu melelahkan bagi dirinya, walaupun terasa nikmat tetapi tubuhnya juga terasa remuk redam. Dia butuh istirahat.
Pada akhirnya, Daniela memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpinya. Dia terlihat begitu nyaman tidur di atas kasur barunya yang terasa begitu empuk dan berukuran begitu besar.
Berbeda dengan Danish, pria itu cukup lama duduk di atas sofa. Setelah merasa bosan dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar utama.
Namun, baru saja dia hendak melangkahkan kakinya menuju kamar utama, dia mengurungkan niatnya karena mendengar bunyi bel yang berbunyi dengan begitu kencang.
"Siapa sih? Ganggu aja," kesal Danish.
Dia sudah berpesan kepada David jika dirinya tidak ingin diganggu, selama satu minggu ini dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Daniela.
Awalnya dia ingin mengajak Daniela untuk berbulan madu, tetapi karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap janin yang dikandung oleh Daniela, akhirnya dia memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan istrinya walaupun hanya di rumah saja
Dia ingin mengetahui apapun tentang Daniela, lebih tepatnya dia ingin mendekatkan diri kepada istrinya tersebut. Dia ingin lebih mengenal Daniela, karena pertemuan mereka yang memang dirasa sangat singkat.
__ADS_1
Walaupun Danish sudah mencari tahu tentang Daniela, tetapi tetap saja dia merasa belum mengenal istrinya. Secara mereka memang belum lama bertemu.
"Kenapa kamu datang mengganggu?" tanya Danish setelah membuka pintu utama.
Dia merasa kesal karena ternyata David yang datang, pria itu tidak banyak bicara. Dia malah langsung masuk dan duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
Mau tidak mau Danis langsung mengikuti langkah David, lalu dia duduk tepat di hadapan asisten pribadinya tersebut.
"Ada apa? Bicaralah!" titah Danish.
"Akhir-akhir ini pekerjaan sedang begitu banyak, sedangkan anda meminta libur selama satu minggu. Bisakah anda menambahkan satu orang pekerja lagi untuk membantu saya?" tanya David tanpa basa-basi.
David merasa tertindas jika harus bekerja sendirian, banyak waktu yang dia habiskan untuk bekerja. Padahal, pria itu juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Terlebih lagi dia tidak mempunyai istri, atau lebih tepatnya belum memiliki istri. Hal itu membuat dirinya tidak ada yang mengurusi dirinya, terkadang saat dia pulang bekerja dia malah ketiduran tanpa makan terlebih dahulu karena begitu lelahnya.
Selama ini Danish memang lebih banyak menghabiskan waktu di Restoran, tetapi pria itu masih selalu memantau perusahaannya walaupun lewat online.
Pekerjaannya sudah sangat banyak, jika ditambah lagi dengan pekerjaan yang lainnya, bahkan dengan tanggung jawab Danish untuk mengelola perusahaannya, David benar-benar kewalahan.
"Kamu carilah orang yang bisa dipercaya untuk menjadi asisten kamu, aku menyerahkan sepenuhnya kepadamu."
David menghela napas dengan berat mendengar apa yang dikatakan oleh bosnya itu, selama ini Danish selalu selektif dalam memilih orang yang akan dia pekerjakan.
Semua orang yang akan bekerja di perusahaan harus melalui seleksi dari dirinya secara langsung, tetapi kali ini pria itu mempercayakan semuanya kepada dirinya. Sungguh dia takut jika Danish akan kecewa dengan pilihannya nanti.
"Bisakah anda menyeleksi pekerja yang akan masuk seperti biasanya? Aku takut salah memilih," jujur David.
Danish terdiam, dia seperti sedang berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan. Tidak lama kemudian dia pun berkata.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Dave saja yang menjadi partner kerja kamu mulai besok, bukankah dia saat ini sedang begitu membutuhkan pekerjaan?" ucap Danish.
Setelah Danish menyelidiki Dave, dia baru saja pindah ke rumah barunya. Rumah yang dia sewa dengan harga yang lebih mahal dari kostan sebelum.
Pria itu kini yang menyewa sebuah rumah untuk tempati, dia tinggal agar terasa lebih nyaman. Jika dia mempekerjakan dia sebagai orang kepercayaan dari David, otomatis gaji DVe juga akan bertambah.
David terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, karena walau bagaimanapun juga Dave adalah mantan kekasih dari wanita yang sekarang menjadi istri dari atasannya tersebut.
Apakah bosnya itu tidak takut jika Daniela nantinya akan direbut kembali oleh Dave? Secara pria itu diberikan gaji yang tinggi jika menjadi asisten pribadinya.
"Tapi, Tuan. Apakah saya tidak salah dengar? Apakah anda tidak akan menyesal sudah mempekerjakan Dave dan menaikkan jabatannya
"Untuk sesaat Danish terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum ke arah asisten pribadi itu. Kembali Danis berucap.
Tidak masalah karena aku yakin jika Daniela tidak akan kembali lagi kepada pria itu lagi pula aku menaikkan jabatannya sebagai ucapan terima kasihku kepadanya tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Daniela dan menikah dengan Daniela jika Dev tidak menghianati istriku
dikhianati oleh def mungkin adalah sebuah kesialan bagi Daniela, tetapi bagi Danis Itu adalah sebuah keberuntungan
bisa bertemu dengan wanita baik dan polos seperti Daniela, adalah sebuah hal yang membahagiakan baginya.
Dari dulu dia tidak pernah mau berpacaran, bahkan dijodohkan dengan wanita mana pun dia tidak pernah mau dia diramaikan. Dia tidak pernah tertarik dan tidak pernah ada wanita yang membuat hatinya bergetar.
Namun, ketika dia berdekatan dengan Daniela dan melihat kepolosan dari wanita itu, dia benar-benar suka dia benar-benar bersyukur dan bahagia bisa bertemu dengan Daniela.
"Yakin jika anda akan membiarkan Dave bekerja untuk membantu saya?" tanya David lagi.
Dia berusaha meyakinkan bosnya agar bosnya tersebut memikirkan kembali dengan keputusan yang sudah dia buat, takut-takut nanti akan menyesal di kemudian hari.
"Yakin," jawab Danish.
__ADS_1
"Yakin, jika Daniela tidak akan kembali lagi kepada Dave?" tanya David lagi.
"Berisik!" keluh Danish. "Pergi sana, kamu tuh gangguin aja." Danish langsung berlalu dari hadapan David, David pergi dari kediaman pengantin baru tersebut.