Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Positif


__ADS_3

Danish begitu menghawatirkan keadaan Daniela, karena wajah wanita itu begitu pucat. Tubuhnya lebih kurus dan satu hal yang Danish sadari saat dia mengusap perut Daniela. Perut wanita itu terasa sangat kencang.


Danish benar-benar khawatir jika Daniela tengah mengandung, maka dari itu, dengan cepat dia meminta asisten kepercayaannya untuk memanggil dokter. Hal itu dia lakukan agar pemeriksaan bisa dilakukan secara tertutup.


Danish meminta David, asisten pribadinya yang dia tugaskan untuk mengurus perusahaannya memanggil dokter kandungan.


Dia takut jika Daniela akan malu dan juga syok jika memang benar wanita itu tengah mengandung, dia tidak mau Daniela akan sakit karena tengah mengandung generasi penerusnya.


"Kamu harus kuat Daniela, karena jika kamu memang sedang mengandung, aku takut dia akan kenapa-kenapa." Danish mengusapkan minyak hangat pada telapak tangan dan telapak kaki Daniela.


Tidak lupa Danish juga memijat-mijat telapak kaki dan juga telapak tangan Daniela, dengan seperti itu dia berharap jika Daniela akan segera sadar.


"Engh!"


Terdengar lenguhan dari bibir Daniela, dengan cepat Danish meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia mengusap-usap puncak kepala Daniela.


"Kamu sudah sadar?" tanya Danish setelah melihat Daniela mulai membuka matanya.


"Sadar? Memangnya aku kenapa?" tanya Daniela seraya menatap Danish dengan raut wajah bingung.


Dia berusaha untuk duduk, dengan sigap Danish membantu wanita itu agar bisa duduk dengan nyaman. Lalu, Danish duduk di samping wanita itu.


"Tadi kamu pingsan, sekarang sarapan dulu. Sekalian tunggu dokter," jawab Danish.


"Pingsan? Dokter?" tanya Daniela.


"Hem, kamu pingsan. Kamu sarapan dulu, ya?" tawar Danish seraya mengambil makanan kesukaan Daniela.


Daniela menurut, walaupun dia merasa risih karena Danish hari ini begitu perhatian. Terlebih lagi, pria itu kini dengan telaten menyuapi dirinya.


'Tadi pagi minum saja aku merasa mual, kenapa dekat pak bos ngga mual sama sekali. Bahkan, aroma tubuhnya sangat wangi dan menenangkan.' Daniela membatin seraya memandang wajah Danish.


"Jangan memandangku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta," seloroh Danish.


"Mana ada yang seperti itu," ucap Daniela seraya mendekati Danish dan menghirup aroma tubuh dari pria itu.


Mulut wanita itu boleh saja berkata ketus, tetapi perlakuan yang seolah tidak ingin berjauhan dari Danish. Itu benar-benar hal yang sangat aneh, pikir Danish.


Danish terdiam, tetapi melihat gelagat dari Daniela, dia yakin jika wanita itu pasti sedang mengandung dan tidak ingin jauh dari dirinya.


"Selamat pagi, Tuan. Saya sudah mengajak Dokter Diva untuk memeriksa Nona Daniela," ucap David setelah membuka pintu ruangan dari atasannya tersebut.


"Masuklah!" perintah Danish.


David dan juga dokter Diva masuk sesuai perintah dari Danish, dokter Diva dengan cepat duduk tidak jauh dari Daniela. Sedangkan David langsung masuk dan berdiri tepat di belakang sang atasan.


"Kita mulai saja pemeriksaannya ya, Nona. Maaf," ucap Dokter Diva saat dia mulai memeriksa denyut nadi Daniela.


"Iya, Dok," jawab Daniela.

__ADS_1


Daniela hanya terdiam ketika dokter Diva memeriksa kondisi kesehatan dari dirinya, sesekali dia akan menolehkan wajahnya ke arah Danish.


"Keadaan anda sangat lemah, tensi darahnya juga sangat rendah. Sekarang kita akan ke kamar mandi untuk melakukan pemeriksaan yang terakhir," jelas Dokter.


Daniela langsung mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, untuk apa melakukan pemeriksaan di kamar mandi, pikirnya.


"Ke kamar mandi? Untuk apa? Saya sudah mandi, Dok." Daniela bertanya seperti orang linglung.


Dokter Diva, Danish dan juga David terlihat saling pandang. Tidak lama kemudian, mereka tersenyum mendengar apa yang ditanyakan oleh Daniela.


"Kita akan melakukan tes urin," jawab Dokter.


"Tapi Dok, saya tidak mengkonsumsi narkoba. Kenapa harus tes urine segala?" tanya Daniela dengan polosnya.


Danish menghela napas berat setiap mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Daniela, Wanita itu benar-benar sangat polos menurut Danish. Namun, wanita itu juga selalu saja asal berspekulasi tanpa berpikir dengan jernih


"Ikutlah dengan dokter, kamu diam dan turuti saja." Danish mengusap pundak Daniela dengan sangat lembut.


Walaupun dia begitu bingung karena diajak melakukan pemeriksaan ke dalam kamar mandi, tetapi Daniela dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Oke," jawab Daniela yang takut jika Danish akan marah.


Akhirnya Daniela mengikuti dokter Diva untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia mengikuti arahan yang disebutkan oleh dokter Diva untuk melakukan tes urine.


Tidak lama kemudian, dokter Diva tersenyum dan mengajak Daniela untuk kembali menemui Danish. Daniela langsung duduk di samping Danish dengan wajah bingungnya. Berbeda dengan dokter Diva yang terlihat tersenyum sumringah.


Deg!


Jantung Daniela terasa berpacu dengan cepat, karena Daniela sudah hampir 3 bulan tidak datang bulan. Wajahnya yang tadi sudah pucat, kini terlihat lebih pucat lagi.


Danish yang melihat akan hal itu langsung mengelus lembut kedua lengan wanita itu, Danish sudah paham, jika Daniela pasti kini sedang mengandung benihnya.


"Nyonya Daniela, sudah berapa lama anda tidak datang bulan?" tanya Dokter Diva lagi.


"Tidak tahu," jawab Daniela lirih.


"Jika pemeriksaan saya tidak salah, anda sudah mengandung selama 11 minggu. Untuk lebih jelasnya lagi, anda bisa langsung datang ke Rumah Sakit. Saya tunggu kedatangan anda," ucap Dokter Diva.


Daniela hanya terdiam, dia benar-benar syok mengetahui bahwa dia tengah hamil. Melihat akan hal itu, Danish tersenyum lalu berkata.


"Dia masih belum percaya jika dia sedang mengandung, Dok. Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan?" tanya Danish.


"Tidak ada, saya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya Daniela. Oh iya, Nyonya. Apakah anda mengalami mual dan muntah?" tanya Dokter Diva


"Pagi-pagi aku merasa mual, bahkan sampai muntah-muntah. Tapi, pas deket sama Pak Bos jadi ngga mual." Bibir Daniela terlihat berucap, tetapi pikirannya berkelana entah ke mana.


Danish dan dokter Diva tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Daniela, Danish benar-benar sangat yakin jika janin yang berada di dalam kandungan Daniela adalah miliknya.


Lagi pula Daniela tidak pernah tidur dengan pria mana pun selain dirinya, sudah dapat dipastikan jika janin itu adalah miliknya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya juga akan meresepkan obat mualnya. Jika tidak mual jangan diminum, jika mual anda boleh meminumnya." Dokter Diva langsung menuliskan resep obat yang harus ditebus oleh Daniela.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan juga meresepkan obat, David langsung mengajak dokter Diva untuk segera pergi keluar dari ruangan Danish.


David sangat paham jika saat ini Daniela membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, tentunya dia juga sangat paham jika Danish bisa menenangkan hati dari Daniela.


Setelah kepergian David dan dokter Diva, Danish langsung menarik lembut Daniela ke dalam pelukannya. Dia ingin berusaha menenangkan hati dari wanita yang pastinya sedang mengandung benihnya itu.


"Jangan menangis, ada aku yang akan menikahimu," ucap Danish yang merasakan kemejanya basah.


Dia sudah membulatkan tekadnya untuk menikahi wanita itu, karena dia begitu yakin jika janin yang berada di dalam kandungan Daniela adalah miliknya.


"Tidak perlu, aku... maksudnya anda tidak perlu menikahi aku." Daniela masih saja menolak pertanggungjawaban dari Danish.


Danish sangat kecewa mendengar jawaban dari Daniela, karena wanita itu selalu saja menolak tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.


"Oh ayolah Daniela, aku tahu jika anak itu pasti anakku. Kita pernah tidur bersama, Jangan pernah mengelak lagi." Danis mempererat pelukannya, karena ini dia merasakan tubuh Daniela yang bergetar.


Daniela terdiam, tidak sedikit pun keluar kata-kata dari bibirnya. Hanya isak tangis aja yang terdengar di telinga Danish dari bibir mungil Daniela.


Dia sadar betul jika Daniela memang sempat tidur dengan Danish, tetapi dia juga sangat sadar jika dirinya pernah tidur dengan Dave. Bisa saja bayi yang dia kandung bukanlah milik Danish, melainkan milik Dave.


"Aku tahu kalau kamu perlu menenangkan diri, tapi aku mohon. Jangan pernah berniat untuk menggugurkan kandungan," pinta Danish.


Tetap saja tidak ada ada ucapan yang keluar dari bibir Daniela, hal itu membuat Danish khawatir. Dia merasa jika dirinya harus benar-benar menjaga Daniela, takut takut wanita itu akan memutuskan untuk bunuh diri.


"Hari ini kamu tidak usah bekerja saja, aku akan mengantarkan kamu pulang." Danish melerai pelukannya, lalu mengambil tisu basah dan membersihkan lelehan air mata di wajah Daniela.


Setelah itu, Danish mengajak Daniela untuk pulang.ke rumah yang sengaja dia siapkan untuk wanita itu. Tentu saja sebelum dia mengantarkan Daniela, Danish pergi ke apotek terlebih dahulu untuk menebus obat yang di resepkan untuk Daniela.


"Kamu tiduran saja, aku akan menjaga kamu." Ucap Danish setelah melihat Daniela merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Walaupun pekerjaan sangat banyak, tetapi dia tidak bisa meninggalkan Daniela begitu saja. Dia merasa tidak tega untuk pergi dari sisi wanita itu, terlebih lagi saat dia mengingat perkataan dari Daniela.


Wanita itu merasakan kenyamanan saat dekat dengan dirinya, Daniela akan mengalami mual dan muntah ketika berjauhan dengannya.


"Hem, aku tidak akan melakukan apa pun. Aku sangat lelah," ucap Daniela seraya menutup matanya.


Danish menghela napas panjang, dia tahu jika saat ini Daniela sedang gamang. Maka dari itu dia akan menunggu wanita itu, takut-takut Daniela membutuhkan sesuatu.


Danish terdiam seraya menatap tubuh Daniela yang terbalut oleh selimut, dia duduk anteng di tepian tempat tidur. Sesekali dia mengusap punggung Daniela dengan lembut, dengan seperti itu dia berharap jika Daniela akan beristirahat dengan nyaman.


Cukup lama mereka saling diam, karena walaupun Daniela memejamkan matanya. Namun, wanita itu tidak bisa tertidur seperti yang dia inginkan.


Tidak lama kemudian, Daniela berusaha untuk duduk. Lalu, dia menatap wajah Danish dengan begitu lekat. Pria yang pernah tidur bersama dengan dirinya.


Walaupun dia tidak mengingat sama sekali bagaimana kejadiannya, bagaimana pula rasanya. Namun, dia masih ingat saat terbangun hanya wajah Danish yang dia lihat.


"Aku memang pernah tidur dengan anda, tapi aku juga pernah tidur dengan Dave. Bagaimana kalau ini adalah anak Dave? Apakah anda akan tetap menikahi saya?" tanya Daniela.

__ADS_1


__ADS_2