Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Perasaan Yang Sulit


__ADS_3

Daniela benar-benar merasa sangat bahagia karena Debora kini bersikap begitu manis kepada dirinya, bahkan wanita paruh baya itu kini sedang membuatkan bumbu kacang untuk rujak buah yang akan Daniela nikmati.


Daniela berkata jika dia tidak menyukai pedas, dia meminta Debora untuk membuatkan bumbu kacang dengan hanya menggunakan dua cabai saja. Dengan telaten Debora membuatkan bumbu kacang tersebut.


Pelayan yang melihat interaksi antara Debora dan Daniela merasa sangat bahagia, tetapi tetap saja dia juga merasa curiga dengan tingkah dari Debora.


Karena biasanya perempuan itu akan bersikap arogan, marah-marah tidak jelas dan bahkan akan memarahi siapa saja yang dia anggap menyebalkan.


Tanpa sepengetahuan Daniela, pelayan itu mangambil video kebersamaan keduanya, apa yang sedang terjadi di antara Daniela dan juga Debora dia abadikan.


Setelah itu,dia pun mengirimkan video tersebut kepada Danish. Dia tidak mau mengambil resiko, takut-takut Debora nantinya akan berulah kembali.


Tidak lama kemudian, Danish berkata jika pelayan itu harus waspada. Jangan pernah jauh jauh dari Daniela, karena dia belum percaya sepenuhnya kepada ibunya tersebut.


Tidak mungkin ada orang yang bisa baik begitu saja, semua hal membutuhkan proses. Termasuk sikap orang yang selalu berbuat jahat, pasti akan ada prosesnya menjadi manusia yang lebih baik.


"Emmm! Ini sangat enak, Mom!" puji Daniela ketika dia memakan rujak buah buatan dari mertuanya tersebut.


Debora tersenyum kecut mendengar penuturan dari menantunya tersebut, karena membuatkan bumbu kacang untuk rujak buah tersebut, tangannya kini terasa begitu pegal.


"Mom, ini rujaknya nggak pedes loh. Mom makan juga dong, masa aku makan sendirian aja?" ucap Daniela dengan raut wajah sedih.


Debora yang melihat wajah sendu menantunya merasa tidak enak hati, tentu saja dia takut kedoknya akan terbuka jika dia menolak ajakan dari menantunya tersebut.


"Ayolah, Mom. Ini sangat enak, rasanya begitu manis. Sama seperti wajah Mom," rayu Daniela.


Manis, kecut dan juga sedikit pedas. Menurut Daniela sangat cocok dengan sikap mertuanya yang terkadang berubah-ubah, di dalam diri wanita itu seperti bukan hanya ada satu orang.


"Kamu tuh bisa aja,'' ucap Debora.


Akhirnya Debora memakan rujak buah buatannya sendiri, Daniela merasa sangat senang dibuatnya. Dia merasa tidak kesepian lagi, karena ada mertuanya di sana.


Walaupun di dalam hatinya dia masih bertanya-tanya, apakah benar mertuanya itu sudah berubah atau tidak.


Di dalam ruangan Danish.


Pria itu nampak membuka laptopnya, dia sedang memeriksa rekaman CCTV yang ada di rumahnya. Dia terus saja memantau apa yang dilakukan oleh ibunya dan juga Daniela, karena dia takut akan terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istri dan juga calon buah hatinya.


"Kenapa mom tiba-tiba saja menjadi baik? Apa tujuan dia berbuat baik seperti itu?" tanya Danish lirih.

__ADS_1


Di saat sedang sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba saja Danish mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Dia menolehkan wajahnya ke arah pintu, lalu meminta orang tersebut untuk masuk.


"Masuklah!" ujar Danish karena dia yakin itu pasti Dave.


Sesuai dengan dugaannya, Dave masuk dengan wajah yang begitu gelisah. Danish menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang menyebabkan pria itu terlihat begitu kusut.


"Ada apa? Apa ada yang membuat kamu pusing?" tanya Danish to the point.


Dave tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Danish, karena ternyata atasannya itu bisa menebak raut wajahnya yang memang sedang begitu gelisah dan membuat pikirannya menjadi kusut.


''Anu, Tuan. Ini tentang nona Dea, dia--"


"Ada apa? Kamu tidak perlu ragu untuk bercerita, Dea sudah aku anggap sebagai adik sendiri."


Danish memangkas ucapan dari Dave, dia ingin segera tahu dengan apa yang akan diutarakan oleh pria itu. Pria yang pernah menyia-nyiakan Daniela, tetapi dia merasa bersyukur karena Dave sudah melakukan hal itu.


Jika tidak, tentu saja Danish tidak akan bisa menikah dengan Daniela. Wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya, wanita yang membawa kebahagiaan di dalam hidupnya.


"Nona Dea dipaksa untuk menjadi mempelai pengganti di pesta pernikahannya Dirgantara, pria yang sudah mengambil keperawanan dari nona Dea. Dia--"


Dave akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Dea ketika Danish menolak perjodohannya dengan wanita itu, tentunya apa yang dia ceritakan sesuai dengan apa yang


Danish langsung menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dia menjadi iba dibuatnya. Karena walau bagaimanapun juga, dia adalah penyebab dari Dea kehilangan keperawanannya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Danish.


Dia sengaja bertanya seperti itu kepada Dave, karena jika untuk menikahi Dea itu adalah hal yang mustahil. Dia sudah memiliki istri dan tidak berniat untuk berpoligami.


"Tolong, nona Dea, Tuan. Dia tidak mau menikah dengan pria itu, apalagi pria itu adalah pria yang arogan. Nona Dea pasti akan tersiksa jika menikah dengan pria itu," pinta Dave.


Jika memang Dea ingin melepaskan diri dari Dirgantara, seharusnya wanita itu yang meminta pertolongan kepada dirinya. Bukan Dave yang mengiba seperti itu, kecuali jika memang Dave menyukai Dea.


"Ehm! Kamu meminta tolong seperti ini karena Dea tidak mau menikah dengan Dirgantara, atau karena kamu yang ingin menikahinya?" tanya Danish.


Dave nampak kaget saat mendengar pertanyaan dari Danish, dengan cepat Dave menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan, Dave mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan dadanya.


"Eh? Mana ada yang seperti itu, aku ini hanya orang biasa. Sedangkan nona Dea adalah orang ada, mana berani saya ingin menikahi nona Dea," jawab Dave.


Danish langsung mencebikkan bibirnya, dia bahkan menggedikkan kedua bahunya mendengar apa yang dikatakan oleh Dave.

__ADS_1


"Begitu ya, gampang. Jangankan saya, kamu saja pasti bisa mengatasinya," jelas Danish.


"Benarkah? Bukannya bapaknya Dirgantara itu adalah seorang jenderal?" tanya Dave.


"Hanya pensiunan Jendral, sekarang pria tua itu tidak lagi memegang senjata. Dia sudah pindah ke luar kota, dia sekarang menjadi petani sayur-sayuran di kota B. Kamu tinggal berbicara saja dengan ayahnya Dirgantara," ujar Danish.


"Eh? Iya, kah? Tapi, Saat ini saya sedang banyak pekerjaan. Sepertinya jika anda yang bicara secara langsung atau mungkin meminta orang kepercayaan anda, pasti masalahnya akan cepat beres." Dave nyengir kuda.


"Ya ampun, kamu yang menyukai Dea kenapa saya yang harus repot?" tanya Danish.


"Ngga kok, Tuan. Saya tidak menyukai nona Dea, serius?" ucap Dave.


Dia hanya merasa tidak rela jika Dea menikah dengan Dirgantara, dia juga merasa tidak rela jika membayangkan Dea berada di bawah kungkungan dari Dirgantara.


Pernah bercinta semalam suntuk dengan wanita itu, membuat Dave sering membayangkan malam panas itu. Percintaan panasnya dengan Dea sangat berkesan, tidak seperti saat dia bercinta dengan Darra.


Ada rasa yang berbeda ketika Dave bercinta dengan Dea, rasa yang sulit untuk diungkapkan. Tidak hanya sekedar menyalurkan napsu belaka seperti saat dia bercinta dengan Darra.


"Terserah, besok kamu libur saja. Pergilah ke kediaman Atmaja, bicaralah baik-baik dengan pria tua itu," ujar Danish.


"Tua?" tanya Dave.


"Hem! Dia sudah berusia enam puluh lima tahun, sedang ada di kediaman utama untuk menikahkan putranya. Bicaralah secara langsung jika Dea tidak akan menjadi pengantin pengganti untuk Dirgantara!"


"Tapi, Tuan. Apakah dia suka membawa senjata?" tanya Dave.


Dalam pikiran Dave, ayah dari Dirgantara itu pasti suka membawa senjata, dia takut sebelum bicara sudah mati terlebih dahulu. Mati dengan sia-sia.


"Entah, jika punya nyali maka datangilah dia," ucap Danish.


"Tuan! Tidak bisakah anda saja yang datang ke sana?" tanya Dave takut-takut.


''Tidak bisa!" tolak Danish.


Wajah Dave langsung lesu, dia memang belum mengenal Dea. Akan tetapi, hatinya merasa iba setelah Dave melihat bagaimana Dea diperlakukan dengan begitu kasar oleh Dirgantara.


Dia merasa tidak boleh membiarkan Dea menikah dengan pria yang mengaku sudah mengambil keperawanan dari wanita itu, entah kenapa dia merasa begitu peduli.


"Ck! Jangan lesu seperti itu? Malu punya tubuh kekar bak atlet tapi nyali ciut gitu, huuuuh!" goda Danish.

__ADS_1


Dave hanya bisa berdesak mendengar godaan dari Danish, karena kini dia sedang berpikir dengan begitu keras.


__ADS_2