
Daniela tersenyum dengan sangat manis sekali, dia merasa sangat senang karena Danish begitu perhatian kepada dirinya. Dia mulai mengambil sendok dan bersiap untuk memakan asinan sayur yang sudah sangat dia inginkan itu.
Saat asinan sayur itu sudah siap meluncur masuk ke dalam mulut Daniela, Debora yang merasa kesal dengan Daniela langsung berjalan dengan begitu cepat dan menyenggol lengan Daniela.
Tangan kanan Daniela sedang memegang sendok dan tangan kirinya sedang memegang mangkok, hal itu membuat mangkok yang sedang Daniela pegang ikut jatuh dengan mudah ke atas pangkuannya.
Setelah melakukan hal itu, Debora pura-pura tersandung pada kaki meja. Hal itu dia lakukan agar Daniela dan juga Danish tidak curiga dengan apa yang sudah dia lakukan.
Sontak asinan sayur yang seharusnya masuk ke dalam mulut Daniela, malah terjatuh ke atas pangkuannya. Bahkan, wajah Daniela terkena cipratan dari kuah asinan tersebut.
"Ah! Pedes, Mas!" jerit Daniela seraya memejamkan matanya.
Danish begitu kaget dengan apa yang terjadi kepada istrinya, terlebih lagi saat dia melihat siapa yang sudah membuat istrinya menjerit kepedasan, Danish terlihat begitu marah.
"Maafkan Mom, Sayang. Mom tidak sengaja. Mom hendak terjatuh dan tanpa sengaja menyenggol lengan Daniela," ucap Debora membela diri.
Danish tidak menjawab ucapan dari ibunya, sedangkan Daniela tidak bisa berkata apa-apa karena dia sedang berusaha menahan rasa perih pada bagian-bagian tertentu di tubuhnya.
Dengan cepat Danish mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi, bibir Danish memang terkatup dengan rapat, tetapi matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh kebencian.
Danish yakin jika ibunya itu melakukannya dengan sengaja, ibunya ingin membuat Daniela merasa tidak nyaman.
Saat tiba di dalam kamar mandi, Danish langsung membuka kain yang melekat di tubuh istrinya. Lalu, dia menyalakan shower untuk mengguyur tubuh istrinya tersebut.
Setahunya jika terkena air panas atau tersiram air cabe, harus segera dicuci bersih menggunakan air mengalir. Dicucinya juga harus menggunakan sabun pencuci piring.
Namun, untuk wajah Daniela yang terkena cipratan air cabai, tentu saja Danish tidak menggunakan sabun pencuci piring. Dia terus saja mengguyur wajah istrinya dengan air dingin agar wajah Daniela tidak terkena iritasi.
"Masih perih?" tanya Danish.
Daniela langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, rasanya dia sudah tidak tahan diguyur terus dengan air dingin.
"Udah mendingan, boleh udahan ngga diguyur airnya? Aku kedinginan," ucap Daniela dengan bibir yang mulai bergetar.
Danish benar-benar merasa kasihan melihat keadaan istrinya yang sekarang ini, dia tidak menyangka jika ibunya akan melakukan hal seperti itu.
"Boleh, Sayang. Nanti badan kamu biar aku borehin obat aja," ucap Danish.
__ADS_1
Danish dengan cepat mematikan air shower-nya, lalu dia mengambil kimono mandi dan memakaikannya kepada Daniela. Tidak lupa dia juga mengeringkan rambut istrinya agar tidak kedinginan.
"Kita ke kamar," ajak Danish seraya membopong tubuh istrinya ke dalam kamar utama.
Debora yang melihat akan hal itu berusaha untuk mengimbangi langkah Danish, dia ingin berusaha menjelaskan kepada putra dan menantunya jika dia tidak sengaja melakukan hal itu.
Awalnya dia merasa masa bodoh, tetapi saat melihat tatapan mata Danish, dia merasa ketakutan. Dia takut jika putranya akan mengusir dirinya saat itu juga.
"Sayang, Mom minta maaf. Jangan marah oke, Mom udah bawakan obat untuk Daniela. Biar Mom borehkan," ucap Debora.
"Biar aku saja," ucap Danish seraya mengambil obat dari tangan Debora.
Setelah itu, Danish langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar tersebut. Dia tidak mau jika Debora sampai masuk ke dalam kamarnya.
"Baring, Sayang!" ucap Danish seraya merebahkan tubuh Daniela dengan penuh kehati-hatian.
Danish benar-benar merasa kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Debora, terlebih lagi ketika dia membuka kimono mandi yang dipakai oleh istrinya.
Perut dan paha istrinya nampak memerah, bahkan di dekat area inti tubuh istrinya terlihat melepuh, padahal asinan sayur yang dia pesan tidak terlalu pedas.
Danish mulai berpikir jika istrinya mungkin memiliki kulit yang sensitif, maka dari itu terkena kuah yang tidak begitu pedas pun langsung membuat kulitnya iritasi.
Daniela tersenyum mendengar permintaan maaf dari suaminya, menurut Daniela ini adalah kecelakaan bukan karena ulah dari suaminya yang tidak bisa menjaga dirinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi aku-nya juga pasti sembuh, kulitku memang sangat sensitif. Tapi, kalau sudah diborehin obat pasti akan sembuh," jelas Daniela.
Dalam hati Danish merasa bersyukur memiliki istri yang polos dan sedikit bodoh itu, padahal dia dengan jelas melihat ibunya yang mendorong lengannya saat kejadian ini berlangsung.
Namun, istrinya tersebut masih saja bisa berpikiran positif. Daniela memang merupakan manusia yang sangat langka, pikirnya. Namun, dia sangat bangga.
"Hem! Lalu, bagaimana dengan asinan sayurnya?" tanya Danish.
"Sudah tidak mau, aku maunya pulang saja." Daniela berkata dengan jujur, Ia benar-benar merasa tidak nyaman tinggal di Villa bersama dengan ibu dari suaminya tersebut.
Dia memang bisa berpikir positif, tetapi dia tidak bisa menjamin jika Ibu dari Danish itu tidak akan berusaha untuk mencelakakan bayinya dan juga dirinya.
Daniela mungkin memang selalu lemot dalam berpikir, tetapi dia bisa melihat sorot kebencian dari mata Debora terhadap dirinya.
__ADS_1
Daniela juga bisa merasakan, jika Debora sengaja menghadirkan Dea untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Danish.
Daniela akui jika rumah tangga mereka memang belum terbentuk dengan sempurna, karena di antara keduanya belum ada rasa cinta yang kuat.
Dia memang mengagumi sosok Danish, pria itu terlihat begitu tampan dengan sejuta pesonanya. Namun, dia tidak bisa begitu saja mencintai pria itu. Dia menerima lamaran dari pria itu karena bayi yang dikandung oleh dirinya adalah milik Danish.
"Kenapa mau pulang?" tanya Danish kecewa.
Danish masih ingin mengajak Daniela untuk pergi ke beberapa tempat, karena ternyata di sana banyak tempat-tempat romantis.
Dia ingin mengajak istrinya ke Taman Sakura, dia juga ingin mengajak istrinya ke Danau Quarry dan dia ingin mengajak istrinya ke Little Venice.
"Di sini hawanya sangat dingin, aku meriang. Nanti kalau aku demam kasian kamunya, kamu cuma akan cape rawat aku aja," ucap Daniela.
Mendengar kata 'dingin' dari bibir istrinya, tiba-tiba saja Danish tersenyum. Dia menatap tubuh istrinya dengan penuh damba, lalu berkata.
"Ya udah, kalau gitu aku angetin aja. Bisa ngga ya?" tanya Danish yang takut jika dia akan menyakiti Daniela dan juga baby mereka.
"Bisa dong, tapi pelan-pelan," ucap Daniela malu-malu.
Beberapa hari ini dia tidak mendapatkan sentuhan hangat dari suaminya, dia rindu sentuhan itu. Dia rindu kala Danish menggagahi dirinya, dia juga rindu dengan hentakan yang dilakukan oleh suaminya.
"Aku sangat menginginkannya, kalau aku terlalu bersemangat, tolong tegur aku," pinta Danish seraya menatap tubuh istrinya dengan tatapan lapar.
Namun, dia langsung meringis saat melihat beberapa bagian tubuh Daniela yang masih memerah karena terkena air cabe.
"Tapi, Yang. Kulit kamu masih memerah, aku takut kamu akan kesakitan," ucap Danish seraya menghela napas berat.
"Ehm! Kan, itunya ngga apa-apa." Daniela memalingkan wajahnya ke arah lain setelah mengatakan hal itu.
Danish langsung tertawa dibuatnya, karena ternyata bukan hanya dirinya yang menginginkan penyatuan tersebut. Namun, istrinya juga sangat menginginkannya.
"Baiklah, ayo kita main jungkat-jungkit. Aku akan melakukannya dengan lembut," ucap Danish yang mulai menunduk dan mengecupi leher jenjang istrinya.
"Akh! Jangan kaya gitu, emph!"
Sura Daniela tenggelam karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Danish, Debora yang baru saja datang dan hendak menguping pembicaraan antara Daniela dan juga Danish, langsung memundurkan langkahnya.
__ADS_1
Kupingnya terasa panas karena kini dia mendengar suara erangan yang bersahutan dari dalam kamar tersebut, suara yang membuat siapa pun merinding mendengarnya.
"Sial! Bisa-bisanya mereka malah bercinta!" rutuk Debora.