
Danish dan juga Daniela benar-benar menikmati kebersamaan mereka di puncak, tadi malam saja keduanya malah berkemah di depan Villa. Padahal ada kamar yang empuk di sana, tetapi Daniela malah mengajak suaminya untuk berkemah layaknya anak TK.
Selama semalam suntuk pelayan ditugaskan untuk membuat api unggun di depan tenda tempat di mana Daniela dan juga Danish tidur, karena Danish takut jika istrinya itu akan kedinginan.
Saat terbangun dari tidurnya, Daniela meminta Danish untuk pergi menuju kebun teh. Tentunya setelah mereka melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, barulah Danish mengajak Daniela untuk pergi ke kebun teh.
Tidak lupa Danish memakaikan jaket yang tebal pada tubuh istrinya, hal itu dia lakukan agar istrinya tidak kedinginan. Dia sangat sadar jika istrinya sedang mengandung benihnya, jangan sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap calon buah hati mereka.
"Udaranya sangat segar, aku sangat suka. Sayang sekali di ibu kota tidak ada udara yang segar seperti ini," ujar Daniela seraya menghirup udara segar dengan rakus.
"Hem! Kalau saja udara di sini bisa aku karungin, akan aku bawakan untuk kamu, Sayang." Danish terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Daniela langsung tertawa lalu memeluk suaminya tersebut, dia begitu bahagia bisa menikmati kebersamaannya dengan Danish.
Padahal, awalnya dia merasa akan tertekan setelah menikah dengan pria yang tidak dia kenal. Akan tetapi, ternyata dia salah. Karena dia bisa langsung saling memahami dengan suaminya tersebut.
Bahkan, yang membuat Daniela semakin menyukai suaminya itu. Di saat ibu dari Danish memaki dan menghina dirinya, pria yang sudah menjadi suaminya itu tidak segan-segan untuk membela dirinya.
Satu hal lagi yang Daniela rasakan, Danish sengaja mengajak dirinya pergi ke puncak untuk menyegarkan pikirannya.
"Kamu tuh aneh-aneh aja, mana bisa udara segar dikarungin." Daniela mengurai pelukannya, lalu dia menatap Danish dengan penuh kekaguman.
Dia benar-benar merasa kagum terhadap suaminya tersebut, pria itu mau bertanggung jawab dan meyakinkan dirinya untuk menikah dengan pria itu.
Padahal, menurutnya Danish adalah orang kaya. Walaupun memang benar Danish adalah ayah dari janin yang sedang dia kandung, tetapi biasanya orang kaya akan mengelak akan hal itu.
Bahkan, tidak jarang orang kaya akan menyepelekan anak yang dikandung oleh wanita yang pernah mereka tiduri. Mereka akan berkata gugurkan atau memberikan cek sebagai biaya kompensasi.
"Ngga aneh, Sayang. Apa pun akan aku lakukan agar bisa membuat kamu bahagia, membuat dia bahagia juga." Danish meluruhkan tubuhnya ke atas rerumputan, lalu dia berdiri di atas kedua lututnya.
__ADS_1
Dia mengelus lembut perut Daniela yang kini mulai menonjol, lalu dia menyingkap kaos yang Daniela pakai dan mengecupi perut istrinya itu.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, Daniela langsung menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Dia takut akan ada orang yang melihat apa yang sedang Danish lakukan kepada dirinya.
"Mas! Jangan kayak gitu ih, malu. Takutnya nanti ada orang yang lihat," ucap Daniela.
"Ya ampun, kamu itu adalah istriku. Kenapa harus malu? Kamu tuh aneh-aneh aja," ucap Danish seraya bangun dan merapikan kaos yang sudah Danish singkap.
"Malu aja, ini kan, di luar." Daniela langsung memeluk Danish dengan posesif dan mengajak pria itu untuk berkeliling kebun teh.
Danish tersenyum lalu mengelus lembut puncak kepala istrinya, dia terlihat begitu senang ketika Daniela bersikap manja seperti itu terhadap dirinya.
"Oh ya, Sayang. Untuk sarapan pagi ini kamu mau sarapan apa? Mau sarapan di Villa atau mau sarapan di luar?" tanya Danish.
"Sarapan di Villa aja ah, aku males kemana-mana. Lagi pula, bukannya Resto di daerah sini lumayan jauh ya? Aku males pergi jauh-jauh," rengek Daniela.
Daniela yang merasakan mudah lemas memang lebih memilih untuk tinggal di Villa, tetapi hal itu membuat Danish tersiksa. Karena semakin lama dia berdekatan dengan istrinya, dia semakin berhasrat dan ingin menggauli istrinya tersebut.
"Baiklah, kita sarapan di Villa saja. Kamu mau dimasakin apa biar aku bilang sama bibi?" tanha Danish menyetujui.
Daniela terdiam, dia nampak berpikir keras dengan makanan apa yang ingin dia makan untuk sarapan pagi ini. Dia bahkan sampai memejamkan matanya seraya mengerutkan dahinya seolah-olah dia sedang membahayangkan makanan apa yang enak untuk disantap.
"Makan asinan sayur boleh?" tanya Daniela dengan lidah yang terasa berliur.
Danish langsung mengerutkan dahinya mendengar permintaan dari istrinya, rasa dari asinan sayur tersebut memanglah terasa enak.
Ada rasa asam, manis dan juga pedas. Mungkin jika dimakan setelah ada nasi yang masuk ke dalam perutnya tidak akan apa-apa, tetapi jika dimakan pagi-pagi seperti ini rasanya akan bahaya untuk perut Daniela.
Namun, jika dia berkata tidak boleh takutnya Daniela akan marah kepada dirinya. Karena dia sangat paham jika mood wanita hamil itu selalu saja naik turun.
__ADS_1
"Boleh, Sayang. Tapi, Mas mau sarapan bubur ayam dulu. Kamu mau?" tawar Danish.
Sengaja hal itu dan ditawarkan agar Daniela memakan makanan yang bisa mengenyangkan perutnya terlebih dahulu, barulah setelah itu boleh istrinya itu memakan asinan buah sesuai dengan yang dia inginkan.
''Mau banget, tapi ngga boleh pake daun bawang sama seledri. Terus, ngga boleh pake kacang sama kerupuk, buburnya aja sama suwiran ayam. Terus pake sambel yang banyak," pinta Daniela.
Danish langsung tepon jidat pemirsah, karena lagi-lagi sambel yang pedas yang Daniela inginkan. Tidak tahukah Daniela jika Danish sangat takut jika Daniela memakan banyak sambel?
Tidak tahukah Daniela jika dia takut anaknya akan terlahir botak karena ibunya terlalu banyak makan pedas?
"Ehm! Sambelnya hanya boleh sedikit saja, kasihan dedeknya takutnya nanti kepedesan." Danish tersenyum hangat.
Daniela nampak mengerutkan dahinya dengan dalam, dia sedang berpikir keras dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Memangnya kalau aku mau makan makanan pedas, calon buah hati kita juga akan merasakan kepedasan?" tanya Daniela dengan polosnya.
Inilah yang Danis tunggu-tunggu, istrinya itu memang selalu mengatakan apa pun yang dia inginkan. Namun, istrinya itu memang sedikit bodoh dan bisa dibohongi.
Namun, hal itulah yang membuat Danish merasa jatuh cinta kepada Daniela. Antara polos dan bodoh, itulah dua yang membuat Danish semakin mencintai wanita itu.
"Iya, Sayang. Kasihan kalau nanti calon buah hati kita kepedasan, jadi... boleh pakai sambel tapi dikit aja. Oke?" tawar Danish.
"Baiklah, aku akan menurut. Kalau perlu makan buburnya tidak usah pakai sambel saja, aku tidak boleh egois. Kasihan nanti Dedek aku," jawab Daniela.
''Okeh! Sekarang kita sarapan bubur ayam dulu, setelah itu kita membeli asinan sayur yang kamu inginkan." Danish merangkul pundak Daniela dan menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam mobil mereka.
Pada akhirnya Daniela dan juga Danish pergi untuk mencari tukang bubur ayam, karena mereka memang harus sarapan terlebih dahulu.
Setelah selesai sarapan, Danish membelikan asinan sayur sesuai yang diinginkan oleh Daniela. Tentunya tidak terlalu pedas agar perut istrinya itu tidak sakit, karena yang namanya asinan pasti memakai cuka. Setelah itu mereka pun langsung pergi ke Villa untuk beristirahat, karena hari sudah mulai siang.
__ADS_1
"Mas, mobil siapa itu?" tanya Daniela ketika mereka turun dari mobil.
"Mobil siapa, ya?" tanya Danish.