Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Hal Tidak Terduga


__ADS_3

Setelah meninggalkan David, Danish langsung masuk ke dalam kamar utama. Dia Ingin menyusul istrinya yang sudah terlebih dahulu masuk, dia ingin menjelaskan tentang beberapa barang yang memang sengaja dia belikan khusus untuk istrinya.


Barang-barang yang khusus dia belikan untuk Daniela berkegiatan selama dia bekerja, karena dia tahu jika istrinya tersebut pasti akan merasa kesepian saat sendirian di dalam rumah.


Dia sudah berkata kepada istrinya jika Daniela tidak boleh bekerja kembali, kecuali jika dia mau menemani dirinya untuk bekerja. Namun, jika Daniela ikut bekerja dia merasa tidak akan bisa berkonsentrasi dalam bekerja.


Karena pastinya dia akan tergoda oleh istri cantiknya itu, entah sejak kapan tetapi Danish merasa jika dia benar-benar sudah jatuh hati terhadap Daniela.


Saat dia tiba di dalam kamar, dia melihat istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Sepertinya istrinya itu begitu kelelahan, dia tahu jika penyebab akan hal itu adalah dirinya.


Danish tersenyum, kemudian dia duduk di tepian tempat tidur. Lalu, dia mengusap puncak kepala istrinya dengan begitu lembut.


Selama ini dia selalu merasa jika perempuan adalah makhluk yang paling menyebalkan, perempuan adalah makhluk yang ingin menang sendiri. Perempuan adalah makhluk yang bisanya hanya menyakiti lelaki.


Namun, semuanya berubah ketika dia mengenal Daniela. Daniela yang polos dan tidak banyak kemauannya membuat dia jatuh hati, terlebih lagi kebaikan dari wanita itu yang membuat dirinya jatuh cinta.


"Kamu tuh cantik banget, polos dan sedikit bodoh." Danish terkekeh, lalu dia menunduk dan mengecup perut istrinya.


Dia berharap jika Daniela mau memiliki banyak anak dengan dirinya, karena dia ingin rumahnya terasa ramai dengan kehadiran keturunan yang lahir dari rahim Istrinya.


"Sepertinya tidur akan lebih baik, besok aku bisa beraktivitas kembali dengan mengajak Daniela pergi jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan." Danish merebahkan tubuhnya di samping istrinya, lalu dia menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.


Keesokan harinya.


Sinar mentari sudah menerangi bumi, rasa hangat sudah mulai menerpa kulit. Banyak orang yang sudah terjaga dan sudah mulai bersiap untuk bekerja, begitupun dengan David.


Pagi-pagi sekali dia sudah tiba di kantor, karena pastinya hari ini akan benar-benar sibuk. Dia juga harus bertemu dengan klien penting, salah satu perusahaan besar yang ada di tanah air.


Selain itu, dia juga harus menunggu Dave dan harus menjelaskan apa yang harus Dave lakukan mulai hari ini.


Sebelum dia masuk ke dalam ruangannya, David berpesan kepada resepsionis agar menyuruh Dave untuk masuk ke dalam ruangannya jika sudah datang nanti.


Setelah itu, David langsung masuk ke dalam ruangannya dan memulai pekerjaannya. Pekerjaan yang sudah menanti untuk dikerjakan.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring, David yang sedang menunduk seraya menatap layar laptopnya langsung menghentikan aktivitasnya. Dia langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu.

__ADS_1


"Masuk!" seru David, karena dia yakin jika itu adalah Dave.


Saat pintu terbuka, David langsung tersenyum karena tebakannya sangatlah benar. Dave datang menghampiri dirinya dengan wajah pucatnya, sepertinya pria itu menyangka jika dia akan diberikan hukuman saat dia meminta dirinya untuk datang.


"Ada apa, Tuan?" tanya Dave dengan gugup.


Dave adalah mantan kekasih dari Daniela, sungguh dia takut dipecat karena sempat berusaha untuk menghasut Daniela agar mau kembali kepada dirinya.


"Masuk dan duduklah!" perintah David.


Dave menurut, dia langsung masuk dan duduk di atas sofa tunggu. David langsung bangun dan menghampiri Dave, dia tersenyum dan berkata.


"Mulai hari ini kamu akan menjadi asisten pribadiku, karena tuan Danish sedang fokus menjaga istrinya. Bisa, kan, Dave?" tanya David.


Mendengar pertanyaan dari David, Dave langsung terdiam. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang ditawarkan oleh orang kepercayaan dari Danish itu, lebih tepatnya bawahan dari suami mantan kekasihnya.


"Maksudnya bagaimana, Tuan?" tanya Dave bingung.


Dia seperti orang linglung, karena dia masih belum paham dengan apa yang dimaksudkan oleh David.


"Saat ini pekerjaan sedang begitu banyak, aku membutuhkan teman dalam mengerjakan pekerjaan ini. Tuan Danish meminta kamu untuk menjadi asisten pribadiku, tapi kalau kamu tidak mau aku tidak memaksa." David berkata seolah dia tidak butuh.


Dave sangat kaget mendengar tawaran dari David, karena ternyata suami dari Daniela itu bukan mau memecat dirinya. Justru, pria itu malah berbaik hati untuk menaikkan jabatannya.


Sungguh dia merasa malu dan merasa tidak pantas menerima tawaran tersebut, terlebih lagi jika mengingat siapa yang memberikan jabatan tersebut rasanya dia benar-benar malu.


"Tapi, Tuan. Apa itu tidak berlebihan? Lagi pula saya merasa tidak pantas untuk menerima jabatan ini," ucap Dave tahu diri.


"Butuh uang banyak tidak?" tanya David.


"Butuh, Tuan," jawab Dave dengan cepat.


''Kalau begitu tidak usah banyak berpikir, terima saja pekerjaan ini. Toh gajinya juga lumayan besar, asal satu hal yang tidak boleh kamu lakukan. Merebut nyonya Daniela dari tuan Danish!" tegas David.


Dave langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan dadanya, Ia seolah berkata jika dirinya tidak berani melakukan hal tersebut.


''Mana mungkin saya berani, walaupun pada kenyataannya saya masih berharap dia mau menikah dengan saya." Dave berkata dengan jujur walaupun takut.

__ADS_1


David langsung memelototkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Rasanya Dave yang terlalu jujur dan membuat dirinya kesal.


"Awas saja kalau kamu berani macam-macam, apalagi berniat untuk melakukan hal yang tidak tidak. Saya akan pastikan kamu menderita," ancam David.


"Iya, Tuan. Saya tidak akan melakukan hal konyol yang bisa membuat reputasi saya hancur, cukup satu kali saya melakukan kesalahan terbesar dalam hidup saya,'' jawab Dave.


Sungguh Dave begitu menyesal sudah menghianati Daniela, jika saja waktu dapat diulang, dia tidak akan mau menggubris Darra yang datang menghampiri dirinya.


"Bagus, sekarang bersiaplah. Satu jam lagi kita akan meeting di luar, ini ada beberapa berkas yang harus kamu pelajari. pelajarilah dengan baik dan duduk di sana," ucap David seraya menunjuk meja kerja yang tidak jauh dari tempat meja kerja milik David.


"Iya, Tuan," jawab Dave.


Dave melakukan apa yang diperintahkan oleh David, pria itu langsung mengambil berkas yang diserahkan oleh David dan mempelajarinya di atas meja kerjanya sendiri.


Dia yang tidak ingin mengecewakan David langsung mempelajari berkas-berkas tersebut, dia ingin menjadi karyawan yang teladan.


Hidupnya sudah cukup hancur, ini saatnya dia memperbaiki diri. Dia tidak boleh sembarangan lagi mengenal wanita, karena nantinya takut akan dibohongi lagi.


**


''Aku sudah siap, kamu yang menyetir mobil." David melemparkan kunci mobil ke arah Dave.


"Oke, Tuan," jawab Dave seraya menangkap kunci mobil yang dilemparkan oleh David.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, karena mereka harus segera pergi ke Kafe N untuk janji temu dengan klien.


Dave juga sudah mempelajari berkas-berkas yang diberikan oleh David, dia bahkan sudah menguasai materinya. Dia sudah bertekad tidak akan mengecewakan David.


Saat tiba di parkiran, David dan juga Dave langsung masuk ke dalam mobil David. Lalu, dengan cepat Dave mengajukan mobilnya menuju Kafe N.


Saat tiba di dalam Kafe, David langsung mengajak Dave menuju meja klien berada. Mata Dave langsung membulat dengan sempurna ketika wanita yang ada di meja tersebut adalah wanita yang pernah tidur bersama dengan dirinya.


Dia juga merasa kaget saat melihat wanita paruh baya yang berada di samping wanita itu, wanita paruh baya yang sudah memarahi wanita yang sudah tidur dengan dirinya.


Dave malah terdiam seraya memperhatikan wanita itu, begitupun dengan wanita itu. Dia terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, Ia seolah tidak berani untuk bersitatap mata dengan Dave.


"Dave, kenapa malah diam saja?" tanya David.

__ADS_1


Dave yang sedang fokus memperhatikan wajah wanita itu, langsung menolehkan wajahnya ke arah David. Dia tersenyum lalu berkata.


"Eh? Aku---"


__ADS_2