Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Berusaha Untuk Mengerti


__ADS_3

Danish berpikir jika Daniela hanya akan turun dari pangkuannya dan duduk di atas sofa, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Daniela pergi dari dalam ruangannya tanpa menolehkan wajahnya ke arah dirinya, Danish menjadi panik dibuatnya.


"Eh? Sayang! Kamu mau ke mana?" tanya Danish dengan panik.


Daniela tidak menyahuti apa yang diucapkan oleh suaminya, dia tetap saja melangkahkan kakinya dengan kedua telapak tangannya yang menutupi telinganya.


Walaupun Danish berkali-kali memanggil dirinya, wanita hamil itu seakan tuli. Dia seakan tidak mau mendengar apa pun yang akan dikatakan oleh suaminya, dia marah.


Egois?


Mungkin lebih tepatnya bukan egois, hanya saja wanita hamil itu memang selalu ingin dimengerti. Wanita hamil itu diberikan Indra perasa dua kali lipat dari wanita biasanya, rasa kekecewaan pun akan dirasa lebih besar.


"Sayang, jangan marah. Mas lagi banyak kerjaan, belum bisa itu dulu sama kamu. Nanti malem Mas kasih banyak," ucap Danish seraya memeluk Daniela dari belakang.


Daniela menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh suami tersebut, karena Daniela merasa jika ucapan suaminya itu tidak bisa membuat hatinya tenang begitu saja.


"Iya, aku tahu. Tapi itunya tolong dikondisikan kalau memang Mas ngga mau ngasih sekarang, jangan sampai aku perkosa!" keluh Daniela kala merasakan milik suaminya yang begitu keras.


Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Danish dengan cepat melerai pelukannya. Dia membalikkan tubuh istrinya dan menatap wajah Daniela dengan senyum kecut di bibirnya.


"Maaf, Sayang. Kamu pulang dulu, temani mom di rumah. Aku kerja dulu," ucap Danish.


Setelah mengatakan hal itu, Danish mengecup kening istrinya dengan begitu lembut. Lalu, dia tersenyum seraya mengusap pipi istrinya yang semakin bulat.


Berat tubuh Daniela sudah semakin bertambah, wanita yang tadinya mempunya berat badan empat puluh lima kilo itu kini sudah bertambah menjadi lima puluh lima kilo.


Dadanya semakin besar, perutnya sudah mulai menonjol dan beberapa bagian tubuh Daniela terlihat berisi dan membuat Danish semakin betah dalam berlama-lama memeluk istrinya tersebut.


"Kamu tuh cantik banget, Mas jadi makin cinta. Maaf karena Mas lagi sibuk banget," ucap Danish dengan tangannya yang mulai turun dan mengusap perut istrinya yang sudah mulai membuncit.


Ada rasa bangga di dalam hatinya karena sebentar lagi dia akan memiliki keturunan, walaupun pada awalnya dia melakukan hal itu dengan Daniela karena sebuah ketidaksengajaan.


"Hem! Udah jangan pegang-pegang, nanti aku jadi tambah pengen." Daniela menjauhkan tangan Danish yang seperti mengandung aliran listrik itu.


Karena setiap kali Danish menyentuhnya, dia merasakan tubuhnya meremang dan ingin sekali dia mendorong tubuh Danish dan langsung naik ke atas tubuh suaminya.


Lalu, dia juga ingin bergoyang seperti penyanyi dangdut yang sedang asik mendapatkan saweran uang banyak dari para pejabat daerah.


"Eh? Kenapa istriku jadi genit banget?" tanya Danish dengan begitu pelan, bahkan suaranya terdengar seperti bisikkan.


Daniela sempat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, tetapi ucapan dari suaminya tersebut terdengar tidak jelas. Daniela yang merasa penasaran akhirnya bertanya kepada suami tersebut.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa, Mas?" tanya Daniela.


Danish terlihat salah tingkah, dia bahkan langsung mengusap-usap dengan istrinya dalam begitu lembut. Tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.


"Engga kok, Yang. Itu, anu. Bentar lagi Mas mau meeting, ayo Mas anterin kamu sampai lobi," tawar Danish.


"Ngga usah, aku jalan sendiri saja. Kamu masuk aja, aku ngga mau ininya dilihat banyak orang." Daniela mengusap milik Danish yang masih saja berdiri tegak.


Padahal tadi miliknya sudah mulai layu, tapi mendapatkan sentuhan dari istrinya malah kembali menggeliat bangun dan mengeras.


"Aduh! Kamu tuh nakal banget, kenapa dipegang lagi? Dia jadi tegang banget," ucap Danish kesal karena dia tidak bisa menuntaskan hasratnya.


Daniela ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, tetapi sebisa mungkin dia menahan tawanya agar tidak pecah. Dia merasa tidak tega jika harus menertawakan suaminya, karena pada kenyataannya dia pun merasakan hal yang sama.


Dia begitu menginginkan suaminya, tetapi dia tidak bisa menuntaskan hasratnya. Dia hanya bisa segera menjauh dari suaminya itu, agar dia tidak khilaf untuk mengajak suaminya bercinta.


"Bodo amat," keluh Daniela seraya meremat milik suaminya. Lalu, dia berlalu begitu saja dari hadapan Danish.


"Ya ampun! Dia benar-benar sangat nakal!" ucap Danish yang langsung masuk ke dalam ruangannya.


Jika Danish sudah masuk ke dalam ruangannya, berbeda dengan Daniela yang kini sedang berjalan di lobi perusahaan.


Wanita itu berjalan dengan perlahan, karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap kandungannya. Terlebih lagi saat ini dia memakai high heels, dia takut jatuh.


"Daniela!"


Daniela langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap pria itu dengan lekat. Tidak ada kebencian dari sorot matanya, walaupun pria itu dulu sudah begitu menyakiti dirinya.


Mungkin dia malah harus bersyukur dengan apa yang sudah terjadi kepada dirinya, karena kini dia memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.


Justru saat ini dia merasa begitu dicintai oleh suaminya, dia merasa disayang dan juga diperhatikan oleh suaminya tersebut.


Bahkan, saat ini dia merasa begitu senang karena Debora juga sudah bersikap dengan begitu manis terhadap dirinya. Walaupun memang dia masih menjaga jarak aman dengan wanita itu, bahkan dia meminta pelayan untuk mengawasi gerak-gerik wanita itu.


Ya, Daniela masih meragukan Debora. Dia yang sedang mengandung takut terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak terhadap janinnya, karena pada awal mereka bertemu, Debora bersikap tidak baik terhadap dirinya.


Walaupun seperti itu, Daniela berusaha untuk bersikap baik di hadapan mertuanya tersebut. Dia juga berusaha untuk mendamaikan Danish dan Debora, karena walau bagaimanapun juga mereka adalah anak dan ibu.


"Dave! Sedang apa kamu di sini?" tanya Daniela.


Ya, pria yang menghampiri Daniela dan menyapa wanita itu adalah Dave. Setelah pulang dari kediaman Dea, dia langsung membeli cincin dan juga perlengkapan untuk acara lamaran.

__ADS_1


Namun, dia tidak bisa pulang ke rumah kontrakannya. Dia malah teringat akan Danish yang pasti sibuk dalam bekerja, dia juga ingin memberitahukan kepada pria itu jika dirinya akan melamar Dea.


"Eh? Aku bekerja dengan suami kamu, apa suami kamu tidak memberitahukannya?" tanya Dave.


"Tidak!" jawab Daniela cepat.


Daniela seolah tidak ingin berbicara lama-lama dengan Dave, dia seolah menghindari pria itu. Bahkan Daniela seolah menghindari tatapan mata Dave.


"Oh! Aku kira dia mempekerjakan aku karena permintaan dari kamu," ucap Dave.


"Cih! Mana ada kaya gitu, aku tuh udah ngga mikirin kamu lagi." Daniela langsung berlalu dari hadapan Dave, Dave sampai melongo dibuatnya.


Biasanya Daniela akan berlaku dengan sangat baik dan manis, tetapi kali ini terlihat begitu lain. Daniela seolah tidak ingin mengenal dirinya, Daniela seolah ingin menghindari dirinya.


"Dia nampak berbeda, hal itu terjadi ulah kamu, Dave. Kalau kamu dulu tidak menyakitinya, dia pasti tidak akan berubah seperti itu." Dave tersenyum kecut, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangan Danish.


"Selamat siang, Tuan. Maaf membuat anda bekerja sendirian," ucap Dave seraya menghampiri Danish.


"Eh? Kok kamu datang?" tanya Danish.


"Aku sudah selesai, urusan dengan Dirgantara sudah selesai juga." Dave langsung duduk di hadapan Danish, karena pria itu memberi isyarat agar Dave duduk tepat di hadapannya.


"Wah! Jadi, bagaimana dengan Dea?" tanya Danish.


"Ehm! Anu, Tuan. Kami akan menikah, nanti malam aku akan melamar Dea. Aku tidak punya keluarga, aku tidak mungkin datang melamar sendirian saja. Bisakah anda mengantarkan aku?" tanya Dave.


"Bisa! Nanti malam aku akan mengantarmu, selepas bekerja kamu ikutlah bersama denganku. Kita akan bersiap dari rumahku," ujar Danish.


"Yes!" pekik Dave karena senang. Dia bahkan langsung memejamkan matanya seraya tersenyum-senyum.


Danish langsung tertawa dibuatnya, dia tidak menyangka jika Dave akan bertingkah seperti itu. Dave bertingkah seperti anak kecil, padahal dulu pria itu dengan mudahnya menyakiti istrinya.


"Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, sekarang cepatlah bekerja. Biar kita bisa cepat pulang dan bersiap untuk pergi ke rumah Dea," ujar Danish.


"Iya, Tuan." Dave dengan cepat bangun dan keluar dari dalam ruangan Danish, lalu dia masuk ke dalam ruangannya.


Dave tersenyum seraya duduk di kursi kebesarannya, lalu dia mulai menyalakan laptopnya dan mengerjakan tugasnya.


"Sepertinya aku harus mengirimkan pesan chat kepada Dea, kalau aku akan ke sana nanti malam dengan tuan Danish."


Dave mengambil ponselnya, dia hendak mengirimkan pesan kepada Dea. Namun, dia langsung menepuk jidatnya ketika menyadari kalau dirinya belum memiliki nomor ponsel dari calon istrinya tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun! Kenapa aku lupa meminta no ponsel Dea?" tanya Dave seraya menatap sedih layar ponselnya.


__ADS_2