
Saat Danish, Daniela dan juga Debora masuk ke dalam rumah, ternyata sudah ada Darius yang menunggu. Pria itu sengaja menyusul ke tanah air karena ingin bertemu dengan Debora, dia merasa tidak ikhlas jika wanita itu menceraikan dirinya.
Jika perlu, Darius akan berlutut di kaki Debora agar wanita itu mau mencabut gugatan cerainya. Padahal, keduanya sudah resmi bercerai. Hanya saja Darius belum menerima akta cerai dari pengacara Debora.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Debora seraya duduk tidak jauh dari tempat Darius duduk.
Darius tidak menjawab pertanyaan dari Debora, dia malah meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia bersujud di kaki Debora.
Danish yang melihat akan hal itu langsung mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar, karena menurutnya Debora bisa menyelesaikan masalahnya bersama dengan Darius.
Debora yang melihat suaminya berlutut seperti itu merasa kaget, karena Darius adalah pria yang sombong dan tidak pernah merendahkan diri di hadapan orang lain.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tahu kalau aku sangat bersalah, aku mohon jangan menceraikan aku," pinta Darius.
"Maaf, tapi kita sudah resmi berpisah. Sebelum aku pulang, pengacara sudah memberikan akte cerai kepadaku. Apakah kamu belum menerima akte cerai milikmu?" tanya Debora.
Mendengar pertanyaan dari Debora, Darius langsung mendongakkan wajahnya. Lalu, dia menatap Debora dengan penuh kesedihan.
"Kamu bener-bener menceraikan aku?" tanya Darius dengan sedih.
''Ya, aku sudah memutuskan akan menghabiskan masa tuaku bersama dengan anak, menantu dan cucuku kelak. Terima kasih atas waktu 7 tahun yang begitu berharga," ucap Debora dengan tulus.
Darius menggenggam kedua tangan Debora dengan erat, bahkan dia mengecupi punggung tangan wanita itu dengan penuh cinta.
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku? Tidak bisakah kamu memberikan kesempatan kedua untukku? Aku berjanji akan membahagiakan kamu," janji Darius.
''Maaf, Sayang. Tapi, semuanya sudah terlambat. Hatiku sudah terlanjur sakit karena selalu kamu selingkuhi, terlebih lagi Dailily selalu mengirimkan video ketika kalian bercinta. Aku hanya wanita rapuh sama seperti yang lainnya," ucap Debora.
"Tapi, Sayang. Aku mohon, kembalilah kepadaku." Darius sampai menitikan air matanya, sayangnya keputusan Debora sudah bulat.
"Maaf, pulanglah dan berbahagialah dengan kehidupan kamu yang baru. Aku juga akan memulai kehidupanku yang baru dengan putraku," ucap Debora seraya tersenyum hangat ke arah pria yang sudah menyakitinya itu.
"Kamu yakin tidak akan kembali kepadaku?" tanya Darius.
"Maaf," jawab Debora.
"Tapi, kamu memaafkan semua kesalahan aku bukan?" tanya Darius.
"Tentu saja aku sudah memaafkan kamu, aku anggap semua ini adalah teguran dari Tuhan. Ini adalah balasan untuk aku yang menghianati suamiku," ucap Debora seraya tersenyum getir.
"Maaf," ucap Darius. "Aku akan menerima keputusan kamu, tapi ... bisakah aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Darius.
__ADS_1
Debora tersenyum, lalu dia menganggukan kepalanya. Darius terlihat begitu senang, dia langsung memeluk wanita yang kini sudah menjadi mantan istrinya itu.
Akhirnya Debora dan juga Darius mengakhiri pernikahan mereka dengan damai, Darius bahkan memberikan uang dengan nominal yang cukup besar kepada Debora.
Awalnya Debora tidak menerima uang tersebut, tetapi Darius berkata jika itu adalah uang untuk biaya Debora di masa tua, akhirnya Debora menerimanya karena tidak ingin ada perdebatan di antara dirinya dan juga Darius.
Beberapa bulan kemudian.
"Mas! Ini sangat sakit?" keluh Daniela seraya mencengkeram sprei dengan kuat.
"Astagfirullah! Dia belum masuk, kenapa kamu kelihatan kesakitan seperti itu?" tanya Danish.
Danish dan juga Daniela kini sedang ada dalam keadaan polos, tentu saja hal itu terjadi karena Danish meminta haknya sebagai seorang suami.
Namun, baru saja Danish melebarkan kedua kaki Istrinya, Daniela merasakan kontraksi yang begitu hebat. Perutnya terasa mulas dan pinggangnya terasa sangat panas.
"Anak kamu udah nggak sabar pengen keluar, bukan karena pala burung kamu yang mau masuk!" kesal Daniela.
"Waduh! Kamu mau melahirkan, Yang?" tanya Danish dengan panik.
"Iya, Sayang. Bantu aku pake baju, terus anter aku ke rumah sakit!" jerit Daniela yang merasakan kontraksinya semakin lama semakin cepat datang.
"Tunggu bentar, Yang!" ujar Danish panik.
"Kok aku ngga dipakein--"
Daniela tidak meneruskan ucapannya, dia malah menunduk seraya memperhatikan area bawahnya yang tidak dipakaikan segitiga pengaman oleh suaminya tersebut.
"Ngga usah pake, Yang. Nanti juga dibuka, kan kamu mau melahirkan," jawab Danish enteng.
"Astagfirullah! Mana bisa kayak gitu, pakein!" pinta Daniela.
"Ngga usah, nanti juga dibuka," jawab Danish seraya menggendong tubuh istrinya dan dengan cepat membawa Daniela ke rumah sakit.
Debora yang melihat akan hal itu tentu saja langsung mengikuti Danish untuk pergi ke rumah sakit, karena dia yakin jika menantunya itu akan melahirkan.
Saat tiba di rumah sakit, dengan cepat Danish membawa istrinya ke dalam ruang observasi. Namun, ketika dokter hendak memeriksa inti tubuh Daniela, ternyata kepala bayi sudah terlihat dengan jelas.
"Kita langsung ke ruang bersalin," ujar Dokter seraya meminta suster untuk memindahkan Daniela.
"Kenapa memangnya, Dok?" tanya Danish.
__ADS_1
"Istri anda akan melahirkan sekarang, kepala babynya sudah terlihat," jelas Dokter.
"Hah!"
Danish terlihat begitu kaget, tetapi dia tetap mengikuti dokter yang terlihat memindahkan istrinya ke ruang bersalin. Selama Daniela mengejan untuk mengeluarkan baby mereka, Danish hanya melongo seraya memperhatikan milik istrinya yang semakin lama semakin membesar dan bisa menjadi jalan lahir bagi baby mereka.
"Selamat, Pak. Seorang putra yang sangat tampan sudah terlahir dengan selamat," ucap Dokter.
"Putra?" tanya Danish masih dengan mode syok, dia masih belum percaya jika Tuhan itu memang maha kuasa.
Dari liang yang begitu sempit bisa melahirkan bayi yang besar, bahkan dokter berkata jika berat badan bayi yang dilahirkan oleh Daniela seberat 3,4 kilogram.
"Aduh! Sabar, Sayang. Jangan buru-buru," ucap Daniela ketika bayi yang belum lama dia lahirkan menyesap ujung dadanya.
Danish yang sejak tadi melamun langsung menolehkan wajahnya ke arah Daniela, dia merasa heran karena kini putranya sudah ditengkurapkan di atas dada Daniela dan sedang menyusu dengan begitu lahap.
"Kenapa bengong terus? Ngga senang baby kita sudah lahir?" tanya Daniela.
"Eh? Bukan seperti itu, justru aku terlalu senang." Danish langsung mengusap punggung putranya dengan begitu lembut.
"Alhamdulillah, aku kira kamu ngga senang. Terus siapa nama baby kita?" tanya Daniela.
"Daffa," jawab Danish seraya memerhatikan wajah tampan putranya.
"Nama yang bagus," ujar Daniela seraya menatap wajah putranya yang begitu tampan.
Beberapa saat kemudian.
Daniela sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dia terlihat menselonjorkan kakinya. Sedangkan Danish duduk di samping istrinya Soraya menyuapi wanita tersebut, Daniela berkata jika dia sangat lapar setelah melahirkan putranya.
Berbeda dengan Debora, wanita paruh baya itu kini sedang menggendong cucu pertamanya. Dia terlihat begitu bahagia, bahkan dia tidak hentinya membacakan shalawat untuk cucunya tersebut.
'Terima kasih, Tuhan. Karena Engkau masih memberikan kesempatan untuk aku, bisa menikmati masa tuaku bersama dengan keluargaku,' ucap Debora dalam hati.
Daniela dan Danish saling pandang, mereka benar-benar merasa bahagia karena Tuhan memberikan mereka seorang putra.
"Terima kasih, Sayang," ucap Danish tulus.
"Sama-sama, aku juga mengucapkan terima kasih. Karena kamu sudah menjadi suami yang baik, semoga kamu juga bisa menjadi ayah yang baik," timpal Daniela.
Hidup itu tidak selalu berwarna merah atau hitam, hidup itu penuh dengan warna. Ada kalanya kita akan merasakan kebahagiaan, ada kalanya kita akan merasakan kesedihan.
__ADS_1
Ada kalanya kita akan melakukan kesalahan sebelum kita pandai melakukan hal yang benar, begitupun dengan jodoh. Terkadang kita dipertemukan dengan orang yang salah sebelum dipertemukan dengan jodoh yang sebenarnya.
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca karya receh Mak Othor, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki. Love sekebon kembang 💖.