Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Kedok


__ADS_3

Dave menuntun Dea untuk masuk ke dalam ruangannya, dia tidak menyangka jika masalah yang dihadapi oleh wanita itu begitu pelik. Dia langsung mengajak Dea untuk duduk di atas sofa, lalu Dave keluar dari ruangan Dea untuk mencari es batu.


Bukan tanpa sebab dia mencari es batu, bekas tamparan di pipi Dea begitu terlihat dengan jelas. Cap lima jari pria itu terlihat seperti hena yang belum lama dipasang, pipi putih mulus itu begitu merah dan memar.


Awalnya Dave juga sempat berpikir jika Dea adalah wanita nakal, karena setelah semalaman tidur bersama dengan dirinya, lebih tepatnya menghabiskan waktu untuk bercinta dengan dirinya, wanita itu tidak meminta dirinya untuk bertanggung jawab.


Dea hanya meminta Dave untuk mengantarkan dirinya pulang, bahkan Dea terkesan cuek saat itu. Sehingga dia sempat berpikir jika Dea sama halnya dengan Darra, wanita yang berprofesi sebagai wanita malam.


Namun, setelah tahu jika Dea kehilangan keperawanannya karena sebuah kecelakaan, Dave merasa iba. Terlebih lagi setelah melihat Dea dihina dan dicaci maki oleh pria yang katanya anak jenderal itu.


''Maaf, biar aku kompres terlebih dahulu."


"Pelan-pelan, ini sangat sakit." Dea memundurkan wajahnya.


"Iya, aku akan hati-hati dalam mengompresnya."


Dave mulai mengompres pipi Dea, wanita itu sampai meringis kesakitan. Dia bahkan sampai mencengkram ujung kemeja yang Dave pakai.


Dave tahu jika itu pasti sangat sakit, dia mengompres bekas tamparan pria itu dengan begitu perlahan. Hatinya terasa mendidih melihat Dea diperlakukan seperti itu, tetapi dia tidak bisa meluapkan emosinya.


Lagi pula mereka tidak memiliki hubungan apa pun, rasanya akan begitu lucu jika Dave tiba-tiba saja marah tanpa sebab.


"Sudah lebih baik, sekarang kamu harus kembali ke kantor. Takutnya nanti kak Danish membutuhkan bantuan kamu," ucap Dea.


Dea merasa tidak enak hati karena Dave malah mengurusi dirinya, padahal mereka tidak saling mengenal. Walaupun mereka memang pernah menghabiskan malam panas bersama, tetapi tetap saja Dea tidak mengingat akan hal itu.


Berbeda dengan Dave, pria itu nampak tidak canggung sama sekali. Justru dia benar-benar bersimpati terhadap Dea, bahkan kalau diizinkan ingin sekali dia merawat wanita itu.


Wanita yang pernah membuat dirinya begitu puas karena percintaan panas mereka malam itu, Dea begitu agresif dan Dave sangat suka.


"Hem, aku akan kembali ke kantor. Kamu harus berhati-hati, sepertinya dia pria yang sangat berbahaya. Tapi pengaduan," ucap Dave seraya terkekeh.

__ADS_1


Ya, Dea sangat tahu akan hal itu. Karena sudah tiga kali Dea bertemu dengan pria itu, pria itu selalu saja nampak emosi. Dia juga selalu saja mengancam dengan membawa nama bapaknya.


"Hem! Aku akan berhati-hati," jawab Dea.


Dave seakan enggan untuk pergi, hatinya mengatakan jika dia ingin menemani Dea di sana. Akan tetapi, pekerjaan tidak bisa menunggu untuk diselesaikan.


"Oiya, kita belum bertukar nomor telepon. Takut-takut kamu nanti membutuhkan bantuan aku," ucap Dave.


"Ah! Iya, ini nomer ponselku," ucap Dea seraya menyerahkan ponselnya agar Dave menyalin nomor ponselnya.


"Oke, udah aku save. Aku pergi," ucap Dave.


Setelah berpamitan kepada Dea, akhirnya Dave memutuskan untuk kembali ke perusahaan Wijayana. Karena di sana masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Dea merasa sangat bersyukur karena ada Dave saat pria tidak diharapkan itu datang, jika tidak ada Dave, Dea tidak tahu apa yang akan terjadi.


Dea adalah wanita yang gampang panik, dia susah berkata-kata jika sudah tertekan. Dia akan sulit bicara jika terus digertak, dia gampang lepas kontrol ketika sakit hati dan kecewa.


"Semoga saja pria yang bernama Dirgantara itu tidak akan pernah datang kembali di dalam kehidupanku, sudah cukup dia menginjak-injak harga diriku. Sudah cukup dulu dia mengatakan jika aku wanita yang sengaja menjajakan tubuhku agar bisa menikah dengan pria yang merupakan anak dari orang ternama di negeri ini."


Di lain tempat.


Debora baru saja tiba di ibu kota, dia memilih untuk pulang ke kediaman peninggalan suaminya. Rumah megah yang ditinggalkan oleh Danish demi membangun rumah tangga barunya bersama dengan Daniela.


Debora terlihat begitu kusut, dia seolah sedang memikirkan cara bagaimana Danish bisa dekat kembali dengan dirinya. Bagaimana cara agar Danish patuh kembali kepada dirinya.


"Apakah aku harus berpura-pura baik terhadap anak dan juga menantuku? Apakah aku harus datang dan meminta ampun?" tanya Debora.


Debora terus saja mondar-mandir tidak jelas, dia benar-benar merasa hidupnya tidak tenang. Terlebih lagi setelah melihat postingan sekretaris dari suaminya, wanita itu memosting kebersamaannya dengan seorang pria.


Walaupun pria itu tidak tampak jelas wajahnya, tetapi Debora bisa mengetahui jika itu adalah suaminya. Postur tubuh yang sangat dia kenal, pria yang selalu dia peluk saat mereka bersama.

__ADS_1


Setiap kali suaminya berselingkuh, dia tidak pernah mengatakan apa pun. Akan tetapi, kini dia merasa jengah. Dia merasa jika usianya semakin tua, dia ingin sekali bercerai tetapi tidak punya nyali.


Dia takut akan mengalami hidup susah jika berpisah dengan suaminya yang sekarang, dia takut ada kekurangan harta.


"Sepertinya aku harus menemui Daniela," ujar Debora.


Setelah mengatakan hal itu, Debora langsung mandi dan segera bersiap untuk menemui Daniela. Dia ingin berusaha untuk mengambil hati Daniela dengan kedoknya, dia harap cara itu akan ampuh.


Sebelum dia sampai di kediaman Danish yang baru, Debora menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan. Dia bahkan membeli mangga muda, belimbing dan juga kedondong.


Dia berpikir jika menantunya itu sedang hamil muda, pasti wanita yang sedang hamil muda ingin memakan rujak. Maka dari itu dia sengaja membeli buah-buahan yang masih muda.


"Semoga dia suka,'' ucap Debora.


Setelah mengatakan hal itu, Debora segera pergi. Senyum di bibirnya nampak mengembang, tetapi hatinya terasa berdebar dengan begitu kencang. Padahal, biasanya dia tidak pernah merasakan hal seperti itu.


"Daniela! Ini, Mom. Tolong buka pintunya," seru Debora ketika dia sampai.


Tidak lama kemudian, pintu nampak terbuka. Daniela pada awalnya terlihat begitu kaget ketika melihat wajah Debora, tetapi tidak lama kemudian wanita hamil itu berusaha untuk tersenyum.


"Ehm! Mom, ada apa? Kok tumben ke sini?" tanya Daniela dengan hati-hati.


"Mom hanya ingin berkunjung saja, Mom juga membawa buah-buahan. Apakah kamu mau Mom bikinkan rujak buah?" tanya Debora.


Daniela langsung mengerjapkan matanya dengan tidak percaya, Debora yang biasanya bersikap arogan ketika bertemu dengan dirinya kini bersikap begitu manis.


"Mom mau membuatkan aku rujak buah?" tanya Daniela dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Sungguh dia begitu terharu mendengar apa yang ditawarkan oleh mertuanya, dia sudah lama tidak merasakan kasih sayang orang tua. Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya.


'Daebak! Sepertinya dia masuk ke dalam perangkapku, semoga saja dia tidak curiga jika aku hanya berpura-pura.'

__ADS_1


"Hem! Kamu mau, kan?" tawar Debora.


"Aku---"


__ADS_2