Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Merajuk


__ADS_3

Dave langsung keluar dari dalam Resto tersebut, tentunya setelah dia membayar makanan yang sudah dia santap dengan Dea. Saat melihat raut kekecewaan di wajah Dea, Dave merasa takut.


Dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan, setelah melihat mobil miliknya, Dave langsung masuk dan duduk di balik kemudi.


Dave menolehkan wajahnya ke arah Dea, lalu dia mengusap lengan Dea. Bahkan, Dave menautkan tangannya dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan begitu lembut.


"Kamu marah?" tanya Dave.


"Hem!" jawab Dea tanpa menolehkan wajahnya ke arah Dave.


"Maaf, aku bukanlah pria baik. Dulu saat aku berpacaran dengan Daniela, aku berselingkuh dengan Darra. Kami sering menghabiskan waktu untuk bercinta, aku tertarik kepada Darra karena wanita itu memberikan aku kenikmatan yang belum pernah aku rasakan."


Dea hanya terdiam mendengar ucapan dari Dave, Dave merasa putus asa. Dia menghela napas berat lalu kembali berkata.


"Aku adalah pria pendosa, tapi aku janji kalau kamu mau menikah denganku, aku akan berusaha menjadi lelaki yang sempurna untuk kamu. Aku juga berharap kamu mau menyempurnakan hidup aku, tapi kalau kamu mau mundur, aku tidak keberatan. Mundurlah sebelum akad berlangsung," ucap Dave putus asa.


Bagaimana dia merasa tidak putus asa jika melihat Dea yang hanya diam saja, padahal pria itu sudah berharap banyak kepada Dea. Dia berharap jika setelah menikahi Dea hidupnya akan lebih sempurna. Dia berharap jika menikah dengan Dea, hidupnya akan lebih baik lagi.


"Kamunya diem aja, itu artinya kamu ngga mau ni--"


Dea menolehkan wajahnya ke arah Dave, lalu dia naik ke atas pangkuan Dave dan mengecup bibir pria itu beberapa kali.


''Kamu tuh berisik, aku juga bukan wanita yang sempurna. Mari kita menikah dan berusaha untuk saling menyempurnakan," ucap Dea.


Dave langsung menyunggingkan senyuman manisnya, Dave benar-benar begitu bahagia dengan apa yang dia dengar.


"Kamu serius mau nikah sama aku? Janji ngga bakalan ungkit masa lalu?" tanya Dave.


Dea juga sadar jika dirinya bukan wanita yang sempurna, bahkan karena kecewa dengan Danish, Dea sampai kehilangan keperawanannya. Dea tidak mampu menjaga dirinya sebagai wanita.


"Hem!" jawab Dea seraya menunduk lalu menyatukan bibir mereka.


Ciuman yang begitu panas di antara keduanya pun terjadi begitu saja, Dave bahkan mengusap punggung Dea dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya turun dan meremat bokong wanita itu.


Begitupun dengan Dea, wanita itu sangat agresif. Dea bahkan menekan pundak Dave dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap rahang tegas pria itu.


Sesekali terdengar lenguhan dan erangan kenikmatan dari bibir keduanya, mereka seakan lupa jika mereka kini masih berada di parkiran. Bahkan, pintu mobilnya pun belum Dave tutup.


Darra yang merasa kesal tidak jadi makan siang di sana, pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke tempat salah satu partner ranjangnya. Miliknya sudah terasa gatal ingin digaruk, tentu saja hal itu terjadi karena dia bertemu dengan Dave.


Bayangan percintaan panas yang sering mereka lakukan langsung terlintas di pikirannya, dia menjadi menginginkan pria itu menghentak inti tubuhnya. Dia ingin bermain-main dengan pria yang dulu terkesan begitu memujanya itu.


"Sial! Ternyata dia benar-benar sudah melupakan aku, awas saja kamu Dave. Kalau suatu saat kamu membutuhkan bantuan aku, aku tidak akan menolehkan wajahku ke arah kamu!" umpat Darra ketika melihat Dave dan juga Dea sedang berciuman dengan panas.

__ADS_1


Berbeda dengan Dea dan Dave, ciuman panas yang mereka lakukan membuat keduanya hilang kewarasan. Mereka terus saja berciuman dengan begitu mesra, bahkan kedua tangan mereka juga tidak tinggal diam untuk saling meraba dan meremat apa pun yang mereka gapai.


Di lain tempat.


"Sayang, kok kamu ke sini?" tanya Danish saat melihat Daniela yang datang ke kantor.


Ibu hamil itu datang dengan hanya memakai daster batik selutut, tetapi dia terlihat begitu cantik. Walaupun rambutnya hanya disanggul asal dan juga hanya memoles wajahnya dengan make up tipis dan memoles bibirnya dengan gincu berwarna nude.


"Bawain makan siang sama sekalian mau minta dibeliin baju," jawab Daniela.


Daniela menyimpan kotak bekal di atas meja, lalu dia menghampiri Danish dan duduk di atas pangkuannya. Dia kecup bibir Danish lalu dia jawil dagu suaminya.


Setelah menikah dengan Danish, Daniela merasa begitu suka bermanja-manjaan dengan suaminya. Tidak ada kata canggung atau malu, Daniela pasti akan mengatakan apa pun yang dia inginkan.


"Baju? Baju apa? Terus, kanapa kamu jadi manja kaya gini?" tanya Danish.


Daniela nyengir kuda, kemudian dia kembali mengecupi bibir suaminya. Bahkan, dia juga menggigit gemas bibir bawah suaminya.


"Ouch!" erang Danish ketika Daniela menyatukan bibir mereka dan memagutnya dengan mesra.


Beberapa hari ini Daniela memang sangat agresif, dia begitu suka mengajak Danish untuk bermesraan dan bercinta dengan penuh gairah.


Melihat wajah suaminya yang seakan menginginkan hal yang lebih, Daniela langsung melepaskan pagutannya.


"Selepas maghrib Dave dan Dea mau menikah, aku mau dibeliin baju baru buat hadir di acara pernikahan mereka." Daniela menunduk lalu mengecup rahang tegas suaminya, sedangkan tangan kanannya mengusap bibir Danish yang basah karena ulahnya.


Daniela langsung tertawa mendengar apa yang ditanyakan oleh suaminya, karena dia bisa merasakan jika milik suaminya itu langsung berdiri dengan tegak dan terasa sangat mengganjal.


"Mau minta dibeliin baju, Sayang. Tadi aku udah lihat-lihat di butik deket rumah, tapi takut kamunya ngga bolehin beli. Jadi, aku mau minta izin dulu sama kamu."


Daniela mengambil ponsel miliknya, lalu dia menunjukkan foto-foto baju yang sempat dia lihat di butik tersebut. Ada satu baju yang sangat dia suka, tentu saja foto baju itu yang langsung dia tunjukkan kepada Danish.


"Baju apa ini?" tanya Danish seraya membulatkan matanya dengan sempurna.


Daniela menunjukkan gaun malam berwarna merah cabai tanpa lengan, panjang gaun malam tersebut hanya setengah paha saja. Bahkan belahan dadanya sangat rendah.


"Baju cantik untuk menghadiri acara pernikahan Dave dan juga Dea," jawab Daniela enteng.


"Kamu ngga boleh pake baju ini, jelek. Baju yang lain aja, nanti aku pilihkan," ucap Danish.


Jika Daniela memakai gaun malam itu, sudah dapat dipastikan jika tubuh istrinya akan terekspos ke mana-mana. Sungguh Danish tidak rela jika nantinya akan ada lelaki lain yang menatap tubuh istrinya, dia tidak akan suka.


"Tapi, Mas. Aku syuka, bajunya bagus banget." Daniela menatap Danish dengan tatapan mengiba, wanita itu bahkan menelusupkan tangannya ke dalam celana bahan yang Danish pakai.

__ADS_1


"Ampun, Sayang. Jangan siksa aku,'' pinta Danish ketika Daniela memilin ujung jamur miliknya.


Tangan kanan milik Daniela dengan lincahnya bermain dengan benda pusaka kebanggaan suaminya itu, benda pusaka yang selalu membuat dirinya menjerit keenakan.


"Makanya beliin bajunya!" Rajuk Daniela.


"Jangan, Yang. Bajunya terlalu terbuka, nanti ininya keliatan." Danish meremat kedua dada istrinya.


"Ouch! Jangan kaya gitu, nanti aku tutupin syal. Pokoknya mau baju itu," rajuk Daniela.


"Ngga boleh, Sayang. Aku ngga rela paha kamu keliatan ke mana-mana,'' keluh Danish.


"Ya udah, aku pergi ke rumah Dea-nya pake baju yang lain aja. Tapi baju itunya tetap dibeliin, aku mau pake di rumah." Daniela mengurut milik Danish, tidak lama kemudian tangan itu turun dan bermain dengan lato-lato milik suaminya.


Daniela bahkan menekan-nekan milik suaminya, tentu saja hal itu membuat Danish tersiksa. Antara sakit, ngilu dan ingin segera memasuki inti tubuh istrinya.


Sayangnya, hal itu tidak bisa dia lakukan karena pekerjaan memang sedang sangat banyak. Terlebih lagi Dave tidak membantu dirinya, karena pria itu begitu sibuk dalam mempersiapkan pernikahannya.


"Aduh! Ngilu, Yang. Jangan kaya gitu, iya aku beliin. Tapi bajunya pakai di rumah aja, kalau mau pergi harus pake baju tertutup aja." Danish menarik tangan istrinya, lalu dia membenarkan letak miliknya yang miring karena ulah istrinya.


(Untung bagus itu si Otong kaga sengklek, yes. Bahaya itu, bisa anu nanti.)


"Beneran ya? Awas aja kalau ngga, nanti aku perkosa beneran!" ancam Daniela.


Bodo amat dengan suaminya yang sedang sibuk bekerja, jika Danish tidak menuruti keinginannya, maka Daniela pastikan dia akan melucuti pakaian Danish dan menaiki tubuh pria itu.


"Ya ampun! Ancamannya selalu saja itu, kalau aja Mas ngga banyak kerjaan, pasti kamu sudah Mas kerjain." Danish mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas meja.


"Yes! Kalau begitu aku pergi sekarang, bagi duit." Daniela mengulurkan tangannya.


"Ya ampun, pake kartu yang aku kasih ke kamu, Yang. Aku ngga ada duit cash," ucap Danish.


Daniela nyengir kuda, karena pada kenyataannya Danish memberikan dirinya sebuah kartu, bukan uang cash. Jadi, biasa akan lupa jika dirinya memiliki uang yang begitu banyak di dalam kartu tersebut.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan pergi ke butik, kamu makan sendiri aja. Oiya, Sayang. Pulangnya jangan terlalu sore, mom akan pergi ke negara A pukul 5 sore." Daniela memeluk Danish, karena tiba-tiba saja pria itu terdiam.


Danish berpikir jika ibunya pasti sudah memikirkan semuanya, maka dari itu wanita itu memutuskan untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan suaminya yang tukang selingkuh itu.


"Aku akan usahakan untuk pulang cepat, oiya, Sayang. Apakah masakan kali ini mom yang buat?" tanya Danish


"Ya, makanlah yang banyak. Aku pergi dulu," ucap Daniela.


Setelah berpamitan kepada suaminya, Daniela langsung pergi dari ruangan kerja suaminya tersebut. Karena dia sudah tidak sabar ingin membeli baju yang dia inginkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Danish, pria itu nampak terdiam. Namun, tidak lama kemudian air matanya mengalir di kedua pipinya. Dia merasa miris dengan kehidupan ibunya di masa tuanya.


"Semoga akan ada kebahagiaan di masa tua kamu, mom." Danish berdoa dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2