Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Minta Lagi


__ADS_3

Walaupun penyatuan kali ini dilakukan dengan begitu lembut, tetapi Daniela dan juga Danish bisa puas dalam mencapai puncaknya. Durasi bercinta yang biasanya hanya satu jam, kini mencapai 2 jam lamanya.


"Kamu tuh bikin aku candu, aku jadi pengen lagi. Dia masih bangun, tapi aku takut kalian kenapa-kenapa." Danish menarik lembut Daniela ke dalam pelukannya.


Daniela tertawa mendengar ucapan dari suaminya, karena Danish memang selalu mau 2 kali dalam melakukan penyatuan dengan dirinya. Terkadang lebih dari dua kali.


Milik suaminya itu seakan tidak mau tidur jika belum kembali masuk ke dalam liang kelembutan miliknya, sangat nakal memang.


"Bilangin sama dia, jangan nakal. Jangan bangun mulu, karena kondisi Dedeknya belum stabil. Nanti kalau Dedeknya udah kuat, dia boleh masuk 2 kali," jelas Daniela.


Sebenarnya Danish sengaja mengatakan hal itu, karena tadi ketika mereka bercinta Daniela tidak mengeluhkan apa pun. Itu artinya kondisi calon buah hati mereka sudah mulai kuat.


Namun, jika Daniela berkata seperti itu, Danish tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Hem!" jawab Danish.


Bibirnya memang seolah mengatakan iya, tetapi tangannya malah terulur untuk menarik tangan Daniela agar mau menyentuh kejantanannya.


"Elusin, Yang. Urut dulu, biar dia cepat pules," pinta Danish.


Danish berharap jika dirinya bisa mencapai puncak nirwana untuk yang kedua kalinya, walaupun hanya dengan bantuan dari tangan mungil istrinya.


Daniela menuruti keinginan dari suaminya, dia melakukan hal sesuai dengan arahan dari suaminya. Semakin lama milik Danish malah semakin kencang dan terasa hangat.


"Modus!" cibir Daniela ketika sadar dengan keinginan dari suaminya itu.


Walaupun bibirnya mengatakan hal tersebut, tetapi dia terus saja mengikuti ucapan dari suaminya. Dengan perlahan dia menaik turunkan tangannya pada keperkasaan suaminya.


Bahkan, sesekali tangan mungil itu iseng bermain dengan lato-lato milik Danish dan mengusap batang kenikmatan itu sampai ujungnya.

__ADS_1


Danish sampai merem melek keenakan dibuatnya, dia tidak menyangka jika hanya dengan usapan tangan mungil istrinya saja bisa membuat dirinya merasakan kenikmatan kembali.


"Emph! Kamu tuh pinter banget, belajarnya juga cepet. Aku jadi ngga tahan," rintih Danish.


Rintihan kenikmatan keluar dengan begitu kencang dari bibir Danish, dia tidak peduli dengan suaranya yang akan di dengar oleh orang lain. Karena dia sadar jika kamar tersebut tidak kedap suara.


Daniela tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, tangannya terus bergerak naik turun untuk membantu suaminya dalam mencari kenikmatan.


Sesekali Daniela menengadahkan wajahnya, lalu dia mengecup bibir Danish dengan begitu lembut. Danish yang merasa tidak tahan langsung memagut bibir istrinya dengan penuh hasrat.


"Ouch, Sayang. Aku sudah tidak tahan," ucap Danish. "Masuk lagi boleh ya?" Danish meminta izin dengan wajah mengiba.


Daniela benar-benar merasa kasihan dengan suaminya itu, dia yang merasa jika kondisi tubuhnya baik-baik saja langsung menganggukkan kepalanya.


"Masukin aja, aku juga pengen." Daniela berbicara dengan jujur, karena saat dia merangsang suaminya. Tubuhnya juga ikut terbakar gairah.


Kembali mereka berpeluh dalam gelombang kenikmatan yang tiada terkira, mereka bergumul dengan penuh gairah walaupun dengan batasan.


"Aku bisa mati terbakar amarah jika terus berada di sini, ck! Bisa-bisanya Danish bercinta dengan wanita itu di siang bolong seperti ini!" kesal Debora.


Setelah itu Debora meninggalkan kamar utama untuk pergi ke kamar Dea, dia berjalan seraya menghentakkan-hentakkan kakinya. Sungguh dia benar-benar merasa kesal dan juga panas saat ini.


Saat dia tiba di depan kamar wanita yang dia ingin jodohkan dengan Danish itu, tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu Debora langsung masuk ke dalam kamar tersebut.


"Eh? Tante, Tante mau apa?" tanya Dea yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Selepas shalat subuh Debora mengajak dia untuk pergi ke puncak, rasanya dia benar-benar lelah karena baru saja matanya terbuka tetapi dia harus segera pergi ke luar kota.


Awalnya dia berniat ingin tidur untuk sementara waktu, tetapi ketika melihat kedatangan Debora dengan raut wajahnya yang tidak menyenangkan, Dea jadi berpikir jika dirinya tidak akan bisa beristirahat.

__ADS_1


"Pakai nanya lagi, aku ke sini mau meminta kamu untuk menghancurkan hubungan Danish dengan Daniela. Aku tidak mau hubungan mereka berjalan dengan begitu lancar," perintah Debora.


Dea menghela napas berat, karena Debora tidak juga paham jika menyatukan dua hati yang tidak memiliki satu rasa itu begitu sangat sulit.


"Tapi, Tante. Apa yang harus aku lakukan? Toh kak Danish memang tidak menyukaiku, dia mencintai istrinya. Dia menghargai istrinya, dia menghargai wanita yang kini sedang mengandung benihnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," jelas Dea.


Dea mengutarakan isi hatinya karena pada kenyataannya itulah yang dia lihat dari sosok Danish, pria itu terlihat begitu menyayangi istrinya dan rasanya akan sulit untuk dirinya masuk ke dalam kehidupan mereka berdua.


Lagi pula, Dea tidak mau merasakan kekecewaan kembali. Mungkin dia bisa menjebak Danish untuk menikahi dirinya, tetapi dia yakin jika Danish tidak akan bertanggung jawab untuk menikahi dirinya.


Dia pasti akan lebih memilih Daniela, tapi tidak akan mengabaikan dirinya jika hanya untuk sekedar bertanggung jawab.


"Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? Kenapa hidup kamu begitu pasrah? Padahal kamu tahu sendiri jika Danish adalah pria kaya, jika kamu menikah dengan anakku maka kamu tidak akan sengsara!"


Debora menunjuk-nunjuk wajah Dea, dia terlihat sangat kesal saat berucap. Dia seakan tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Dea.


Dea menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena apa yang dikatakan oleh Debora menurutnya adalah hal yang salah.


"Tante salah, jika aku menikah dengan kak Danish, maka aku akan menjadi manusia paling sengsara di dunia ini. Karena mungkin aku bisa meminta pertanggungjawaban kepada kak Danish. Tetapi aku yakin hatinya hanya untuk istrinya," jawab Dea.


Ingin sekali Debora menyumpal mulut Dea dengan cabe, karena gadis itu terus saja membantah dirinya. Dia benar-benar merasa sangat kesal sekali.


"Dasar gadis bodoh! Cepat lakukan apa yang aku katakan, aku tidak mau tau. Pokoknya malam ini kamu harus berusaha untuk menjebak putraku, kalau tidak... aku pastikan usaha ibumu besok akan gulung tikar."


Inilah yang Dea takutkan, setiap kali berdebat dengan sahabat dari ibunya itu pasti ujung-ujungnya dia yang akan tertekan dengan ancaman dari wanita itu.


"Memangnya apa yang harus aku lakukan, Tante? Aku akan melakukannya," jawab Dea dengan pasrah.


Debora tersenyum dengan penuh kemenangan mendengar pertanyaan dari Dea, itu artinya sebentar lagi apa yang dia inginkan akan terlaksana jika Dea mau mengikuti apa keinginannya.

__ADS_1


"Bagus! Malam ini kamu harus---"


__ADS_2