
"Ya ampun, ternyata hubungan kalian sudah sangat jauh. Kalau begitu, kapan kamu akan menikahi putriku?" tanya Dilla.
''What?!" pekik Dea dan juga Dave.
Dave dan juga Dea begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Dilla, mereka tidak menyangka jika Dilla berkata hubungan mereka sudah jauh.
Walaupun pada kenyataan yang terjadi lebih parah dari itu, karena sebelum mereka saling mengenal, justru mereka sudah menghabiskan malam panjang bersama.
"Ck! Kalian kompak sekali, tidak usah kaget seperti itu. Karena aku akan menyetujui pernikahan kalian, walaupun kalian akan melaksanakan pernikahan itu esok hari." Dilla tersenyum penuh arti.
Dea dan Dave saling pandang, mereka seolah saling bertanya dengan apa yang dimaksud oleh Dilla. Mereka seolah saling bertanya dengan apa yang harus mereka lakukan untuk menanggapi ucapan dari Dilla.
Karena pada kenyataannya, mereka berdua belum siap menikah. Dea masih kecewa dengan Danish, sedangkan Dave masih menata hatinya setelah kehilangan Daniela.
Tidak lama kemudian Dea menghela napas berat, lalu dia mengusap lengan ibunya dengan penuh perhatian. Dea tersenyum seraya menatap wajah ibunya dengan lekat, lalu wanita itu berkata.
"Mom, kami tidak bisa menikah begitu saja. Kami belum lama saling mengenal, lagi pula masih banyak waktu untuk mengurusi yang namanya pernikahan. Karena pernikahan tidak bisa dilaksanakan secara cepat-cepat seperti itu," ucap Dea beralasan.
Dea sangat berterimakasih kepada Dave, karena pria itu sudah menyelamatkan dirinya dari pernikahan yang tidak dia inginkan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya, jika dia benar-benar menjadi pengantin pengganti untuk kekasih Dirgantara yang berselingkuh.
"Sayang, mungkin kalian baru saja saling mengenal. Mungkin saja kalian baru saja jadian, tetapi yang namanya saling mengenal dan saling memahami bisa berjalan setelah kalian menikah."
Dilla mengusap lengan Dave dan juga Dea, lalu Dilla menatap wajah Dave dan juga Dea secara bergantian. Tatapan mata wanita itu seolah memancarkan harapan yang begitu besar kepada keduanya.
Dea dan Dave merasa serba salah dibuatnya, sepertinya mereka harus membicarakan masalah ini dengan begitu serius. Dave yang sedari tadi diam saja langsung tersenyum dan berkata.
"Ehm! Tante, bagaimana kalau aku meminta izin untuk pergi bersama dengan Dea. Karena aku perlu berbicara dengan serius untuk membahas masalah ini," pinta Dave.
Dilla melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, tetapi dia merasa keberatan jika Dave membawa putrinya untuk pergi dari sana.
''Janga pergi jauh, kalian bisa berbicara berdua di rumah. Kalau kalian takut aku mengganggu, kalian boleh berbicara di dalam kamar Dea." Dilla tersenyum dengan hangat.
Dea langsung membulatkan matanya dengan sempurna, karena bisa-bisanya ibunya itu berkata seperti itu. Padahal mereka bukan pasangan yang halal, tetapi Dilla malah mengizinkan dia dan juga Dave masuk di dalam kamar yang sama.
"Eh? Kami belum menikah, mana boleh mengobrol di dalam kamar?" tolak Dea.
Dilla langsung berdecak mendengar apa yang dikatakan oleh Dea, karena Dilla lebih baik segera menikahkan Dea dengan Dave yang ketahuan anak buah dari Danish.
Karena dia takut jika Dea akan kembali melakukan kekonyolan yang sama, wanita itu akan mabuk di kala kecewa dan berakhir di ranjang seorang pria.
__ADS_1
"Ck! Sebentar lagi kalian akan menikah, bukan? Mom tidak keberatan," ucap Dilla.
Entah karena apa, tetapi Dilla merasa sangat bahagia sekali, terlebih lagi melihat Dave dan juga Dea yang begitu salah tingkah dan kebingungan ketika berdekatan.
Dave menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Dilla, padahal dia ingin membicarakan hal itu dengan Dea saja. Di luar rumah agar lebih privasi, bukan di dalam kamar wanita itu.
Bukankah mereka bukan mahram, tentu saja mereka belum boleh berduaan di dalam kamar yang sama. Karena dia takut jika nantinya akan ada bisikan yang meminta mereka untuk berbuat enak.
"Tapi, Tante. Sebelum kami resmi menikah, aku---"
Dave tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Dilla sudah menarik tangan Dave dengan cukup kencang. Lalu, Dilla membawa Dave menuju kamar putrinya.
Dea hanya bisa mengerjapkan matanya dengan tidak percaya melihat tingkah dari ibunya, dia tidak percaya jika ibunya tersebut malah langsung membawa Dave menuju kamarnya.
"Masuklah, calon menantuku. Aku tidak keberatan jika kamu ingin berbicara dengan Dea," ucap Dilla seraya membuka lebar pintu kamar putrinya.
Dave hanya terdiam tanpa menjawab, karena dia bingung harus menjawab ucapan Dilla seperti apa. Berbeda dengan Dilla, setelah mengatakan hal itu dia langsung keluar dari dalam rumahnya.
Lalu, dia menarik lembut lengan putrinya agar segera masuk ke dalam kamarnya. Karena putrinya tersebut malah terbengong di depan halaman rumah mereka.
"Masuklah dan berbicaralah kalian berdua, Mom tidak akan menguping." Dilla tersenyum dengan hangat, lalu dia menutup pintu kamar putrinya.
"Tante!"
Dave dan juga Dea berteriak dengan begitu kencang, mereka berdua benar-benar tidak percaya dengan apa yang Dila lakukan saat ini.
Mendengar teriakan dari Dave dan juga Dea, Dilla malah tertawa. Kemudian, dia segera pergi dari sana seraya tersenyum dengan begitu senang.
"Akhirnya Dea akan segera menikah, aku sangat senang. Setidaknya akan ada yang mengurus putriku, menemaninya dan--"
Dilla tidak meneruskan ucapannya, dia malah tersenyum getir lalu mengusap air mata di kedua pipinya. Lalu, wanita itu segera bersiap untuk pergi ke kantor.
Wanita itu sudah telat untuk datang ke kantor karena keributan yang terjadi pagi ini, padahal setengah jam lagi akan ada meeting penting dengan klien.
Setelah selesai bersiap, Dilla segera pergi ke kantor. Berbeda dengan Dea dan juga Dave, kini kedua insan rupawan itu sedang duduk di atas sofa, mereka hanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Tidak ada yang berbicara sama sekali di antara mereka, hingga tidak lama kemudian Dea yang merasa bosan dan juga jenuh dengan keadaan seperti ini langsung menolehkan wajahnya ke arah Dave.
Cukup lama dia memperhatikan wajah pria itu, hingga tidak lama kemudian wanita itu pun berkata dengan gugup.
__ADS_1
"Ehm! Dave, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Dea.
"Entah!" jawab Dave tanpa berani menolehkan wajahnya ke arah Dea.
"Hah!"
Dea langsung menghela napas berat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, karena pada kenyataannya dia juga tidak tahu harus melakukan apa.
Di satu sisi dia juga ingin menikah dan berumah tangga layaknya wanita lainnya, tetapi di sisi lainnya dia juga merasa tidak seperti ini caranya dalam mendapatkan jodoh.
Walaupun pada kenyataannya mereka memang pernah tidur bersama, bahkan mereka pernah bercinta selama semalam suntuk. Namun, tetap saja rasanya untuk menikah dengan Dave merupakan hal yang mustahil.
"Dave, sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak mau mom salah paham lagi, padahal aku tahu jika kamu pasti tidak akan mau menikah dengan wanita seperti aku." Dea mengatakan hal itu dengan berat hati, kedua tangannya saling bertaut dengan cukup kencang.
Dave yang mendengar ucapan dari wanita di sebelahnya langsung menolehkan wajahnya, lalu dia menggenggam tangan Dea dengan erat.
"Memangnya kamu tidak mau menikah dengan aku?" tanya Dave.
"Eh? Maksudnya bagaimana, Dave?" tanya Dea.
"Maksudnya, itu. Anu, dulu kita tidak saling mengenal dan pernah tidur bersama. Kita sama-sama menikmatinya, bahkan kamu sangat agresif. Memangnya kamu ngga mau coba dulu gitu untuk nikah sama aku?" tanya Dave yang terdengar konyol di telinga Dea.
"Ck! Kamu ngajakin aku nikah hanya karena kita pernah tidur bersama gitu? Memangnya pernikahan cuma soal seksualitas doang?" tanya Dea.
Tentu saja pernikahan itu bukan hanya masalah seksualitas doang, justru yang menjadi masalah adalah Dave yang hanya orang biasa. Berbeda dengan Dea yang merupakan anak dari orang kaya.
Dave merasa malu untuk bersanding dengan Dea, tetapi saat melihat sorot mata dari Dilla, rasanya dia tidak ingin mengecewakan wanita itu.
"Ya, ngga juga. Siapa tau aja ye, kan, dari hubungan di atas ranjang yang begitu bergairah bisa menjadikan pernikahan kita sangat berwarna," ucap Dave yang semakin terdengar konyol.
Dea yang sudah dua kali mabuk dan berakhir dengan bercinta langsung mengernyitkan dahinya, karena nyatanya dia tidak ingat rasanya bercinta itu seperti apa. Satu hal yang dia rasakan, sakitnya begitu lama dan membuat dia kesulitan untuk berjalan.
"Aku mau bertanya kepada kamu, boleh?" tanya Dea.
"Tentu saja boleh," jawab Dave.
"Ehm! Memangnya seenak apa sih rasanya bercinta? Kenapa kamu sampai-sampai mengajak aku menikah karena kita pernah tidur satu ranjang? Apakah kenikmatan dalam bercinta itu sangat penting?" tanya Dea.
"Eh? Anu--"
__ADS_1