Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Membeli Gaun Pengantin


__ADS_3

Selepas membicarakan acara pernikahannya dengan Dea dan juga Dilla, Dave langsung pulang ke kediamannya. Tentu saja tujuannya untuk mempersiapkan berkas yang diperlukan, dia juga akan mempersiapkan keperluan untuk pernikahannya dengan Dea.


Semuanya harus dipersiapkan dengan matang, karena dia tidak mau ada yang kurang saat dia menikah nanti. Walaupun pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana, tetapi dia ingin jika pernikahannya dirasa sangat berkesan.


Bahkan, Dave juga akan mengajak Dea untuk membeli gaun pengantin. Walaupun gaun pengantin itu hanya akan dipakai di saat mereka melakukan ijab kabul saja, tetapi Dave ingin melihat Dea memakai gaun pengantin.


"Ini sudah siap semuanya, saatnya kembali ke rumah Dea." Dave merapikan berkas yang diperlukan dan memasukannya ke dalam map.


Baru saja dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam rumah kontrakannya, tetapi kembali dia masuk dan segera mengganti baju yang dia pakai.


Dia tidak mau membuat Dilla kembali bersedih karena dia memakai pakaian milik almarhum suaminya, lagi pula dia juga memakainya karena terpaksa. Jika saja dia membawa baju ganti, tentunya dia tidak akan memakai baju milik almarhum ayah Dea tersebut.


"Sudah siap, sudah ganteng juga." Dave mematut dirinya di depan cermin.


Kali ini pria itu hanya memakai kaos panjang berwarna hitam dipadupadankan dengan celana jeans dengan warna yang sama, dia tidak memakai kemeja karena tidak mau terlalu formal.


Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung pergi menuju kediaman Dea. Tentunya setelah memberikan berkas yang diperlukan kepada Dilla, Dave mengajak Dea untuk pergi ke butik.


"Hati-hati, jangan mampir ke hotel dulu. Kalau sudah beli gaun pengantinnya, kalian harus langsung pulang. Inget, Dave. Kamu harus mempersiapkan acara pernikahan kalian nanti malam," ingat Dilla.


Dave tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Dilla, dia paham jika wanita itu sedang mengomel karena ulah dari dirinya juga. Dilla seakan belum percaya sepenuhnya kepada dirinya, karena apa yang sudah terjadi tadi malam.


"Yes, Mom," jawab Dave.


Setelah berpamitan kepada Dilla, Dave langsung mengajak Dea untuk pergi ke butik. Karena Dave ingin membiarkan wanitanya memilih gaun pengantinnya sendiri.


Awalnya, Dave akan membawa Dea ke butik mahal yang ada di pusat kota. Namun, Dea berkata jika uangnya lebih baik dipakai untuk biaya hidup setelah mereka menikah saja.


Baju pengantin memang penting untuk acara pernikahan mereka, tetapi lebih penting mengurusi biaya kehidupan mereka setelah menikah nanti.


Dave merasa begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh calon istrinya tersebut, karena ternyata walaupun dia terkesan lemot tetapi sangat mementingkan rumah tangga yang akan mereka jalani nanti.


"Gaun yang ini sangat cantik Dave," tunjuk Dea pada gaun pengantin yang terlihat sangat sederhana tetapi elegan.


Dave memperhatikan gaun tersebut, terlihat begitu cantik dan sepertinya akan pas jika dipakai oleh Dea. Namun, satu hal yang membuat Dave keheranan. Di sana masih ada gaun pengantin yang mahal-mahal, tetapi Dea malah memilih gaun yang terkesan murah.


Dea berasal dari keluarga kaya, tetapi dia benar-benar memilih gaun pengantin yang murah tapi tidak terlihat murahan. Dave menjadi penasaran dibuatnya.


Apakah Dea memilih gaun pengantin itu karena suka, atau dia memilih gaun pengantin itu karena takut dia tidak memiliki uang?


"Ini sangat bagus, tapi yang di sana lebih bagus." Dave menunjuk gaun pengantin dengan harga termahal di butik tersebut.


Dea langsung menggelengkan kepalanya saat melihat gaun pengantin yang ditunjuk oleh Dave, wanita itu tidak menyukai gaun tersebut.


"Aku itu pendek, Dave. Gaun itu sangat panjang buntutnya, mutiaranya juga terlalu banyak. Pasti akan berat saat aku memakainya, aku lebih suka memakai gaun yang sederhana," jawab Dea.


"Bukan karena takut aku tidak bisa bayar?" tanya Dave.

__ADS_1


"Ngga dong, mana ada aku nyangka kaya gitu. Aku yakin kamu pasti sudah mempersiapkan semuanya," kekeh Dea.


"Maksudnya?" tanya Dave.


Dave benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Dea, pernikahan dirinya bersama dengan Dea dilakukan dengan cara dadakan. Tentu saja tidak ada persiapan sama sekali, lalu... kenapa Dea malah berkata jika dirinya pasti sudah melakukan persiapan.


"Dulu kamu pernah berencana untuk menikah dengan Daniela, bukan?" tanya Dea.


"Ya," jawab Dave seraya menganggukkan kepalanya.


"Pasti kamu sudah mempersiapkannya saat itu, walaupun kita menikah secara dadakan, aku yakin nanti kamu akan menggunakan semua uang yang kamu simpan untuk menikahi Daniela, bukan?" tanya Dea lagi.


Dave kembali menganggukkan kepalanya, karena pada kenyataannya memang seperti itu. Dia akan menikahi Dea dengan uang yang sudah dia kumpulkan untuk menikahi Daniela.


"Ehm! Cincin kawinnya juga merupakan cincin yang aku beli saat aku hendak melamar Daniela dan menikahinya, apakah kamu akan merasa keberatan?" tanya Dave memastikan.


"Tidak akan, aku tidak masalah jika diberikan cincin tersebut. Lagi pula, kalau kamu beli cincin lagi itu namanya pemborosan. Mengeluarkan biaya yang berlebihan, itu tidak boleh. Kita harus hemat, Dave."


Dave benar-benar mengagumi sosok calon istrinya, karena ternyata Dea sudah memikirkan semuanya dengan matang. Walaupun wanita itu terlihat ceroboh, tetapi cara berpikirnya dirasa sangat luar biasa, menurut Dave.


"Aku jadi cinta sama kamu," ucap Dave seraya memeluk Dea.


"Aku juga, mari kita memulai semuanya dengan hal yang baik. Walaupun mom kaya, tapi aku tidak mau memanfaatkan kekayaannya. Nanti kita harus hidup mandiri, Dave. Walaupun kita diminta untuk tinggal di rumah mom," pinta Dea.


"Ya, Sayang. Aku setuju," ucap Dave.


Dave merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan Dea, karena wanita itu benar-benar bisa memahami dan mengerti dirinya.


"Kalau begitu aku bayar gaunnya dulu," ucap Dave.


"Ya,'' jawab Dea.


"Tapi, kamu belum mencoba gaunnya. Nanti kalau tidak cukup bagaimana?" tanya Dave.


"Ngga usah dicoba, aku yakin muat. Buruan bayar, aku sudah lapar." Dea mengelus lembut perutnya, karena dia merasa sangat lapar.


Saat Dave melirik jam tangan yang dia pakai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Pantas saja calon istrinya tersebut sudah merasa kelaparan, karena sekarang memang sudah saatnya untuk makan siang.


"Oke! Kamu tunggu di sini, kalau aku udah bayar bajunya kita akan langsung pergi makan siang." Dave mengusap puncak kepala calon istrinya.


Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung menghampiri pelayan butik yang ada di sana. Dia meminta pelayan tersebut untuk merapikan baju yang diinginkan oleh Dea.


"Terima kasih," ucap Dave setelah membayar gaun pengantin itu.


"Sama-sama, Tuan," jawab pelayan butik tersebut.


Setelah membayar gaun pengantin yang diinginkan oleh Dea, Dave langsung mengajak Dea pergi ke Resto tempat di mana dulu dia sering makan siang dengan Daniela.

__ADS_1


Resto itu tidak terlalu besar, tetapi makanan yang ada di sana sangat enak dan pas dengan selera Dave. Dia sengaja membawa Dea ke sana karena ingin memberitahukan kepada wanita itu, jika Dave suka makan di sana. Bukan mau mengenang kebersamaan dirinya dengan Daniela.


"Kamu suka makan di sini, Dave?" tanya Dea.


Dea memperhatikan Resto tersebut, sederhana dan terasa begitu nyaman. Pantas saja jika Dave memang suka makan di sana, karena Dea juga merasa betah. Padahal, ini adalah kali pertamanya dia masuk ke Resto tersebut.


"Ya, di sini makanannya sangat enak-enak. Tapi harganya murah," ucap Dave.


Tentu saja itu adalah hal yang paling penting, makanannya terasa sangat enak. Namun, harganya murah dan tidak menguras isi kantong.


"Wah! Kalau begitu cepat pesan," ujar Dea bersemangat.


Padahal, awalnya dia sempat merasa was-was saat Dave mengajak dirinya untuk makan di resto. Karena dia takut akan menghabiskan uang dari calon suaminya, tetapi setelah mendengar kata murah Dea menjadi bersemangat.


Dia sempat berniat untuk mengajak Dave makan siang di rumahnya saja, bukannya berniat menyepelekan calon suaminya tersebut. Namun, Dia sangat tahu perjuangan seorang pekerja itu seperti apa.


Terlebih lagi Dave adalah seorang perantau yang tidak mempunyai orang tua, pria itu pasti akan bekerja keras untuk mengatur keuangannyapria itu pasti akan bekerja keras untuk mengatur keuangannya.


"Oke aku akan memesan makanan untuk aku dan kamu, kamu sukanya makan apa?" tanya Dave.


Dia tidak mungkin memesankan makanan begitu saja untuk Dea, karena dia takut jika calon istrinya tersebut tidak suka dengan makanan yang dia pesankan.


"Apa pun, kalau pedas pasti aku akan makan." Dea mengatakan hal itu dengan wajah yang berbinar.


Dave sedikit kaget mendengarnya, karena itu adalah ucapan yang pernah terlontar dari bibir Daniela. Mantan kekasihnya yang sampai saat ini sedang berusaha untuk dia lupakan.


"Oh, gitu! Aku juga suka makan pedas, kalau gitu aku mau pesan ini. Apa kamu mau?" tanya Dave seraya menunjuk satu menu pedas yang dia suka.


Untuk sesaat Dea terdiam, dia salah sedang memperhatikan menu makanan yang ditunjuk oleh Dave. Tidak lama kemudian dia tersenyum lalu berkata.


"Mau dong, pesan 3. Aku sangat lapar," ucap Dea.


Dea mengelus-elus perut ratanya, dia benar-benar merasa lapar. Karena tadi pagi dia juga hanya sarapan roti isi saja, dia terlalu memikirkan acara pernikahan dadakannya.


Dave sampai kaget mendengar apa yang dikatakan olah calon istrinya tersebut, wanita yang terlihat langsing dengan dadanya yang besar itu ternyata doyan makan.


Dia jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa tubuh wanita itu terlihat begitu langsing, padahal makannya sangat banyak. Karena merasa penasaran, akhirnya dia bertanya kepada wanita itu.


"2 porsi? Apa lamu sanggup menghasilkannya?" tanya Dave ragu.


Karena dia takut jika Dea akan marah saat dia menanyakan hal tersebut, tetapi jika tidak bertanya dia benar-benar merasa penasaran.


Dea terkekeh mendapatkan pertanyaan seperti itu dari calon suaminya, dia mencondongkan tubuhnya. Lalu, dia berbisik tepat di telinga calon suaminya.


"Tadi malam aku habis olah raga, sangat cape dan juga lelah. Sepertinya aku butuh makan banyak, agar tenagaku cepat pulih. Lagi pula, nanti malam kita akan menikah. Memangnya kamu tidak mau itu lagi?" tanya Dea seraya menaik turunkan alisnya.


"Ya ampun!" ucap Dave seraya mengelus dadanya, dia tidak menyangka jika Dea akan mengatakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2