
"Permisi, saya Daniela. Apakah saya boleh masuk?"
Cukup lama Daniela terdiam di depan pintu, dia menunggu yang katanya pak bos membukakan pintu. Padahal dia datang untuk bekerja, tetapi dia merasa jika detak jantungnya berdetak dengan begitu cepat.
Dia juga merasa tidak melakukan kesalahan apa pun di hari pertamanya datang ke sana, tetapi hatinya merasa takut entah karena apa.
Akan tetapi, walaupun detak jantungnya terasa tidak karuan. Dia tetap berusaha untuk tersenyum dengan hangat, karena ini adalah hari pertama dia bekerja.
Dia harus menampilkan sikap baiknya di depan atasannya, dia harus memberikan kesan baik di depan pak bos yang disebutkan oleh Desi.
Ceklek!
Pintu nampak terbuka dengan lebar, wajah Daniela yang tadinya sumringah untuk bekerja kini langsung berubah. Bahkan tubuhnya terlihat bergetar.
"Selamat pagi Nona Daniela, saya Danish. Anda jangan bengong saja, silakan masuk. Saya mau berbicara dengan anda di dalam," ucap Danish tanpa basa-basi.
Daniela bergeming, dia tiba-tiba saja merasakan ketakutan yang luar biasa, terlebih lagi saat Danish mendekati Daniela.
Jika awalnya dia merasa takut Danish akan meminta bayaran, kini dia takut jika Danish akan memenjarakan dirinya. Karena Danish adalah orang kaya, setahunya pemilik Resto miliknya juga memiliki perusahaan.
Sungguh Daniela takut jika dia akan dituntut dan dipenjarakan, dia masih muda dan masa depannya masih panjang. Dia tidak mau hidupnya sia-sia.
"Masuklah Nona Daniela, kita perlu bicara!" ucap Danish dengan tegas.
Jika tadi hanya tubuh Daniela yang dirasa gemetaran, kini kedua kaki dan tangannya juga terasa bergetar. Hal itu membuat dirinya susah untuk bernapas dan bergerak.
"A--aku, aku di sini saja. Kakiku keram, aku ti--"
Belum selesai Daniela berucap, Danish sudah terlebih dahulu mengangkat tubuh Daniela. Dia membawa wanita yang sudah tidak gadis lagi itu ke dalam ruangannya.
"Pak Bos, tolong turunkan saya." Daniela yang merasa tidak nyaman meminta untuk diturunkan.
Danish tersenyum mendapatkan permintaan seperti itu dari Daniela, dia menggendong Daniela bukan karena kurang ajar atau sok kenal. Namun, dia hanya merasa kasihan saat Daniela berkata jika kakinya mengalami kram.
"Oke," jawab Danish seraya melepaskan dekapannya.
"Arrgh!" teriak Daniela karena dia takut terjatuh ke atas lantai.
Namun, ternyata Danish menjatuhkan Daniela ke atas sofa. Hal itu membuat tubuh Daniela tidak merasakan kesakitan, bahkan tubuhnya terlihat membal ke atas karena terkena sofa yang begitu empuk itu.
"Pak Bos mau apa?" tanya Daniela yang melihat Danish duduk tepat di sampingnya.
Daniela dengan cepat bangun dan berusaha untuk kabur, tetapi tangan Daniela sudah terlebih dahulu dicekal oleh Danish. Daniela kembali duduk dengan kepala menunduk.
"Sekarang kamu harus jujur sama aku, kamu wanita yang malam itu tidur sama aku, kan?" tanya Danish to the poin.
Dia merasa jika dirinya harus berbicara serius dengan Daniela, jika benar Daniela adalah wanita yang dia tiduri, itu artinya Danish harus bertanggung jawab terhadap wanita itu.
__ADS_1
"No! Bukan saya, Pak Bos. Anda salah mengenal orang," jawab Daniela.
Daniela masih bersikukuh mengatakan jika dirinya bukan wanita yang sudah ditiduri oleh Danish, sungguh dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Benarkah?"
"Iya, Pak Bos. Saya bukan orangnya, saya tidak nyaman. Sepertinya saya akan kembali bekerja di Resto lama saja," ucap Daniela yang tidak nyaman saat padangan mata mereka bertemu.
Melihat Daniela yang tidak juga mau jujur, Danish berpikir jika dia harus menakut-nakuti wanita itu. Sungguh niat dari Danish hanya ingin bertanggung jawab, karena dia takut jika Daniela akan hamil karena ulahnya.
"Oh! Seperti itu, kalau kamu tidak bekerja di sini, itu artinya kamu tidak akan bisa bekerja di tempat mana pun. Jika hari ini kamu merasa lelah dan belum siapa untuk bekerja, aku tidak masalah. Beristirahatlah terlebih dahulu," ucap Danish.
"Namun, jika kamu berusaha untuk melarikan diri dariku. Maka, kamu harus membayar uang kompensasi sepuluh kali lipat, karena sudah mengundurkan diri sebelum bekerja," Imbuh Danish.
Daniela ketakutan, nada bicara Danish terdengar pelan. Namun, terdengar seperti ancaman yang begitu menakutkan.
"Saya izin istirahat saja kalau gitu, besok saya bekerja lagi." Daniela menyerah, dia ingin tetap bekerja di sana. Namun, dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Semuanya terasa rumit, terlebih lagi saat dia bertemu dengan Danish. Hatinya mendadak terasa tidak karuan, otaknya seakan mendadak buntu.
"Kalau begitu aku antar kamu pulang," putus Danish.
Dia merasa khawatir karena kini wajah Daniela berubah pias, dia takut jika Daniela akan pingsan di tengah jalan. Sayangnya, Daniela tetap saja keras kepala.
"Jangan! Saya pulang sendiri saja," ucap Daniela dengan wajah yang memucat.
Karena merasa tidak tega, akhirnya Danish menganggukkan kepalanya. Lalu dia memberikan baju seragam pelayan untuk Daniela, dia juga memberikan beberapa lembar uang untuk Daniela.
Dia hanya mengambil seragam untuk dia bekerja, sedangkan uang pemberian Danish tidak diambil sama sekali. Daniela takut jika dia mengambil uangnya, maka dia harus melayani pria itu.
Entah kenapa, selalu saja pikiran jelek yang bermunculan saat melihat wajah Danish. Padahal, pria itu belum tentu akan melakukan hal yang tidak baik terhadap dirinya.
"Ya Tuhan! Sebenarnya dia itu wanita macam apa? Seharusnya dia bahagia saat mengetahui jika yang meniduri dirinya, kenapa dia malah terlihat ketakutan?" tanya Danish dengan bingung.
Di lain tempat.
Daniela yang merasa tidak tenang langsung pulang dan dan duduk di atas tempat tidur, dia merenungkan apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya.
Tidak lama kemudian, dia mengambil ponselnya. Matanya langsung membulat dengan sempurna ketika melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Dave, bahkan ada pesan chat yang begitu banyak dari Dave.
"Sayang, kenapa kamu pergi tanpa berpamitan dulu kepadaku?"
"Sayang, kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?"
"Sayang, kenapa kamu tega pergi tanpa mau menunggu aku?"
Itulah beberapa pesan yang Dave kirimkan untuk Daniela, pesan yang begitu banyak dan panggilan tidak terjawab yang sangat banyak.
__ADS_1
Karena merasa khawatir, akhirnya Daniela memutuskan untuk menemui Dave terlebih dahulu. Nanti malam baru dia kembali ke pusat kota, beristirahat karena mulai besok dia harus bekerja.
Jika biasanya bekerja akan menjadi sebuah kesenangan untuk Daniela, tetapi tidak untuk kali ini. Dia merasa resah karena harus bekerja di tempat pria yang sudah meniduri dirinya.
"Aku akan pulang ke kostan Dave, aku akan menunggunya untuk makan siang bersama," ucap Daniela.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Dave. Tentunya dia ingin memberitahukan jika dia akan ke kostan pria itu.
"Dave, aku ingin bicara. Aku mau ke kostan kamu sekarang, bisakah kamu pulang saat makan siang?"
Dave yang sedang bekerja begitu senang mendapatkan pesan chat dari Daniela, tanpa menunggu lama lagi dia langsung membalas pesan dari wanita yang selalu dia anggap sebagai kekasihnya itu.
"Bisa, Sayang. Datanglah dan ambil kuncinya di bawah pot bunga, kita akan makan siang bersama."
"Hem, aku akan menunggumu. Kamu sudah putus, kan, dari Darra?" tanya Daniela.
Cukup lama Daniela menunggu pesan balasan dari Dave, hingga tidak lama kemudian dia pun mendapatkan pesan balasan dari pria yang sudah dia putuskan itu.
"Sudah, Sayang. Jangan risau, kita akan menikmati hari ini hanya berdua."
Daniela tersenyum membaca pesan balasan dari Dave, lalu dia pergi ke halte bis agar bisa segera pergi dari sana. Menurutnya dia lebih baik pergi ke kostan Dave dengan menggunakan bis, karena jika menggunakan taksi pasti akan sangat mahal.
Dengan menggunakan bis dia hanya membayar sepuluh ribu saja, jika naik taksi melakukan perjalanan selama 2 jam pasti akan sangat mahal. Dia lebih memilih menaiki bis walaupun harus transit satu kali.
Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam akhirnya Daniela pun sampai di kostan Dave, dengan langkah tergesa dia segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar kostan Dave.
"Di bawah pot bunga," gumam Daniela seraya mengangkat pot bunga yang ada di depan kostan Dave.
Daniela berpikir jika sebaiknya dia segera masuk ke dalam kostan Dave dan beristirahat, lumayan sebelum kedatangan Dave, pikirnya. Karena waktu istirahat masih satu jam lagi.
"Sebaiknya aku tidur terlebih dahulu, agar pikiranku lebih tenang," ucap Daniela seraya mencari kunci karena tidak ada di bawah pot bunga.
Sayangnya tidak ada kunci di sana, tetapi saat dia melihat pintu kamar kost Dave, dia melihat jika pintu kamar kost itu tidak tertutup dengan sempurna. Karena penasaran, akhirnya Daniela mencoba untuk mendorong pintu kamar kost tersebut.
Sungguh dia berpikir jika Dave sudah datang terlebih dahulu, karena ingin menyambut kedatangan dirinya. Dave ingin memperbaiki hubungannya bersama dengan dirinya.
"Dave, apakah kamu sudah pulang?" tanya Daniela seraya mendorong pintu kamar kost tersebut.
Saat pintu terbuka dengan lebar, Daniela merasa kaget karena ternyata di sana bukan ada Dave. Akan tetapi, ada Darra yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya. Tidak ada Dave di sana, hanya ada Darra saja sendirian.
Hatinya mendadak menjadi sesak, dia tidak menyangka jika Dave akan membohongi dirinya. Padahal, pria itu berkata sudah memutuskan hubungannya bersama dengan Darra.
Namun, pada kenyataannya perempuan itu berada di dalam kostan milik Dave. Dia terlihat seperti sang pemilik kostan, tingkahnya sangat luar biasa.
"Darra, sedang apa kamu di dalam kamar kost Dave?" tanya Daniela dengan hatinya yang terasa begitu sakit.
"Elu nanya gue lagi apa?" tanya Darra
__ADS_1
Daniela langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari Darra, tentu saja dia bertanya kepada wanita itu. Karena di sana hanya ada mereka berdua.
"Oh, elu mau tahu gue lagi ngapain. Gue lagi nunggu--"