
Tidak lama kemudian, Daniela berusaha untuk duduk. Lalu, dia menatap wajah Danish dengan begitu lekat. Pria yang pernah tidur bersama dengan dirinya.
Walaupun dia tidak mengingat sama sekali bagaimana kejadiannya, bagaimana pula rasanya. Namun, dia masih ingat saat terbangun hanya wajah Danish yang dia lihat.
"Aku memang pernah tidur dengan anda, tapi aku juga pernah tidur dengan Dave. Bagaimana kalau ini adalah anak Dave? Apakah anda akan tetap menikahi saya?" tanya Daniela.
Danish tersenyum karena akhirnya Daniela mengakui jika wanita itu memang sudah tidur dengan dirinya, karena memang kalimat itulah yang ingin dia dengar dari mulut Daniela.
"Hanya pernah tidur bersama, Daniela. Lagi pula, apa kamu tidak dengar tadi kata dokter berapa minggu usia kandungan kamu? Itu artinya, janin yang ada di dalam kandungan Kamu adalah milikku!" jawab Danish tegas.
Ya, Daniela mengakui jika dirinya pernah tidur bersama dengan Dave dua bulan yang lalu. Sedangkan dokter berkata jika usia kandungannya adalah sebelas minggu, itu artinya janin yang berada di dalam kandungannya adalah milik Danish.
"Bagaimana kalau aku pernah tidur dengan pria lain? Apakah kamu akan tetap menikahiku juga?" tanya Daniela lagi.
Danish langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika Daniela akan mengatakan hal itu. Wanita itu seakan begitu enggan untuk menikah dengan dirinya.
Sepertinya saat pulang nanti dia harus berkaca untuk memastikan wajahnya sangat jelek atau tidak, mengapa Daniela seakan tidak mau menikah dengan dirinya.
"Sudahlah, Daniela. Aku tahu kamu sangat lelah, sekarang beristirahatlah. Jika ada yang kamu butuhkan, kamu bisa memintanya padaku."
Setelah mengatakan hal itu, Danish membantu Daniela untuk merebahkan tubuhnya. Lalu, dia menarik selimut dan menutupi tubuh Daniela sampai sebatas dada.
Daniela tidak berkata apa pun lagi, dia langsung memejamkan matanya seraya memunggungi Danish. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh pria itu, Daniela butuh waktu untuk beristirahat.
Danish tersenyum melihat Daniela yang tidak mengucapkan kata apa pun lagi, pria itu dengan setia menunggui Daniela seraya duduk di tepian tempat tidur. Dia ingin memastikan jika keadaan Daniela baik-baik saja.
Hari ini Danish benar-benar begitu perhatian kepada Daniela, saat waktunya makan siang tiba pria itu juga yang menyiapkan makan siang.
Begitupun saat makan malam tiba, Danish membuatkan makan malam untuk Daniela. Bahkan, Danish juga membelikan susu hamil dan memenuhi isi kulkas Daniela dengan buah-buahan serta camilan sehat untuk ibu hamil.
"Pak Bos, ini sudah sangat malam. Pulanglah, nanti takutnya kita digerebek warga," usir Daniela dengan halus.
Walaupun seharian ini dia mendapatkan perhatian yang begitu lebih dari Danish, tetapi tetap saja dia merasa tidak enak hati dengan perlakuan yang begitu baik dari pria itu.
"Bukannya itu adalah hal yang sangat bagus? Karena dengan seperti itu kita bisa langsung dinikahkan," jawab Danish.
"Aku belum siap," jawab Daniela.
"Baiklah, aku akan pulang. Besok kamu tidak usah bekerja, karena kamu tidak boleh kelelahan. Untuk sarapan, makan siang dan makan malam nanti aku akan meminta orang untuk mengantarkan."
Danish berpesan sudah seperti suami kepada istrinya, dia begitu perhatian. Hal itu membuat Daniela senang tapi tidak nyaman, entah karena apa.
__ADS_1
"Hem, terima kasih atas perhatiannya." Daniela mencoba untuk tersenyum ke arah pria itu.
''Sama-sama, aku pulang dulu." Danish mengusap puncak kepala Daniela, bahkan tanpa ragu dia juga mengusap perut Daniela yang kini terasa mengeras.
Daniela yang kaget malah mematung dengan apa yang dilakukan oleh Danish, hal itu membuat Danish tersenyum lalu segera pergi dari sana. Daniela begitu menggemaskan di matanya,dia takut jika dirinya tidak akan tahan.
Di lain tempat.
Dave kini sedang berada di apartemen Darra, pria itu sedang begitu asik memaju mundurkan pinggulnya. Tentu saja yang dia lakukan adalah mencari kenikmatan surgawi bersama dengan Darra, wanita yang selalu menjadi pemuas hasratnya.
"Terus, Sayang. Iya, kaya gitu. Enak banget," ucap Darra ketika Dave membalikkan tubuhnya dan menarik rambutnya sampai wajahnya mendongak ke atas.
Dalam setiap harinya jika mereka bertemu pasti akan berpeluh, seakan tidak ada hal lain lagi yang bisa mereka lakukan. Tantu saja hal itu membuat Dave senang dan merasa terpuaskan, terlebih lagi Darra memang begitu lihai dalam mengajaknya untuk terbang ke nirwana.
"Ouch, Sayang. Ini sangat nikmat!" lenguh Dave seraya memperdalam miliknya dan menyemburkan cairan cintanya.
Tidak lama kemudian, tubuh keduanya pun ambruk. Dave dan juga Darra saling berpelukan walaupun penuh membanjiri tubuh keduanya, tidak ada rasa jijik di antara keduanya.
Bahkan, Darra yang seakan tidak ada puasnya langsung naik ke atas tubuh Dave. Dia memainkan inti tubuh prianya, agar kembali berdiri dengan sempurna.
Sesuai dengan keinginannya, batang berotot itu bangun kembali dan terlihat siap tempur. Tanpa ragu Darra langsung menelan milik Dave dengan miliknya.
Dave mengulurkan tangannya untuk meremat kedua dada Darra, bibirnya menganga lebar dengan otot perutnya yang semakin mengencang.
"Nanti, Sayang. Nanti. kita bicarakan lagi," jawab Dave seraya memejamkan matanya.
"Jangan terlalu lama, aku sudah bosan menunggu." Darra mempercepat goyangannya.
"Hem!" jawab Dave.
Malam ini benar-benar mereka habiskan untuk bercinta, keduanya bahkan langsung tertidur dengan begitu pulas setelah pertempuran mereka entah yang ke berapa kalinya berakhir.
Pagi telah menjelang, Dave yang sudah 2 bulan tidak bertemu dengan Daniela memutuskan untuk menemui wanita itu. Entah kenapa dia merasa begitu rindu dengan Daniela.
Dia berkata kepada Darra jika dia ada tugas ke luar kota, hal itu dia lakukan agar wanita itu tidak curiga jika dirinya sedang menemui Daniela. Dia berencana akan menginap di tempat Daniela.
"Hati-hati kerjanya, Sayang." Darra mencium bibir Dave dengan mesra sebelum pria itu pergi.
''Hem!" jawab Dave.
Pukul 6 pagi Dave sudah melajukan mobilnya menuju tempat di mana Daniela tinggal, hal itu dia lakukan agar bisa bertemu dengan Daniela terlebih dahulu sebelum wanita itu berangkat bekerja.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju tempat Daniela, Dave terus saja mengembangkan senyumnya. Dia sudah begitu rindu dengan wanita itu, walaupun memang Daniela selalu tidak mau mengangkat panggilan telepon darinya.
Dave bahkan sudah membawa obat yang dulu pernah dia berikan kepada Daniela, tentu saja tujuannya dia ingin menikmati malam ini dengan wanita itu. Dia masih merasa penasaran, karena dulu dia tidak mengingat apa yang terjadi di malam itu.
Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, Dave tersenyum senang Karena dia sudah sampai di tempat Daniela. Pria itu sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat Daniela, hal itu dia lakukan agar Daniela tidak tahu jika dirinya kini telah datang.
Dave turun dari mobil dengan 2 kantong besar di tangannya, dia sengaja membelikan makanan kesukaan Daniela. Dia yakin Daniela pasti akan suka, pikirnya.
Saat tiba di depan rumah, Dave sudah bersiap untuk mengetuk pintu. Namun, niatnya dia urungkan karena Dave mendengar Daniela yang sedang muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya.
Dave yang merasa kaget langsung menjatuhkan barang bawaannya, kemudian dia duduk di atas bangku yang berada di depan rumah tersebut.
"Jangan-jangan Daniela hamil lagi, saat aku melakukannya aku tidak menggunakan pengaman. Sialnya aku tidak ingat saat memerawaninya," ucap Dave dengan kesal.
Pria itu berpikir dengan keras, kini dia begitu gamang. Haruskah dia menemui Daniela dan menanyakan tentang kehamilannya? Atau segera pergi dari sana.
"Ya ampun, gue belum siap jadi bapak. Lagi pula apa kata teman-teman kantor gue, kalau mereka tahu Daniela sudah hamil duluan!"
Dave malah ketakutan, bukannya berniat untuk bertanggung jawab. Pria itu malah pergi dari sana, jika dia tetap tinggal, dia takut jika Daniela akan meminta pertanggungjawaban kepada dirinya.
"Gue harus pergi, gue harus menenangkan diri. Gue ngga mungkin pulang atau pergi ke tempat Darra, gue mesti pergi ke suatu tempat." Dave bermonolog seperti orang gila.
Pria yang tadinya begitu bersemangat ingin bertemu dengan Daniela, kini tiba-tiba saja ketakutan. Dia takut jika Daniela akan meminta pertanggungjawaban, dengan tergesa dia langsung pergi untuk menenangkan diri.
Di dalam rumah.
Daniela yang sejak bangun tidur mengalami mual dan muntah terlihat begitu kelelahan, wajahnya bahkan sangat pucat.
"Ya Tuhan, ini sangat sakit." Daniela mengusap dadanya yang terasa begitu sesak. "Sepertinya keluar rumah bisa membuat aku lebih tenang," imbuhnya.
Daniela berpikir jika dengan keluar rumah maka dia akan mendapatkan udara yang lebih segar, atau mungkin dia bisa membeli makanan yang bisa membuatnya tidak mual dan juga muntah, pikirnya.
Tadi pagi dia memang bisa memakan sarapannya, tentunya dengan makanan yang dikirimkan oleh Danish. Namun, setelah itu dia mengalami mual dan juga muntah yang begitu hebat.
"Eh? Apa ini?" tanya Daniela ketika membuka pintu rumahnya.
Daniela yang merasa penasaran langsung membuka dua kantong besar yang ada di depan pintu, Daniela tersenyum kalah melihat banyaknya makanan kesukaannya.
"Siapa yang mengirimkannya untukku? Apa iya pak bos? Tapi, dulu biasanya Dave yang selalu membawakannya untukku," ucap Daniela dengan sedih karena memikirkan hubungannya dengan Dave yang dirasa sangat rumit.
"Dave! Kenapa hubungan kita bisa serumit ini?" tanya Daniela dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1