
Dave sangat bersemangat sekali untuk bertemu dengan Daniela, pria itu sudah memutuskan ingin melamar Daniela untuk menjadi istrinya.
Lebih baik menikah dengan wanita seperti Daniela, pikir Dave. Walaupun dia sudah hamil duluan, tetapi dia merasa pernah tidur dengan Daniela.
Dia sangat yakin jika janin yang ada di dalam kandungan wanita itu adalah miliknya, lebih baik dia bertanggung jawab atas kehamilan Daniela. Dia tidak mau menikah dengan wanita seperti Darra, wanita yang berprofesi sebagai wanita malam.
Rasanya dia akan sangat malu mempunyai istri yang bekerja sebagai wanita penghibur, wanita bayaran yang setiap harinya akan tidur bersama dengan pria pria tua yang memiliki banyak uang.
"Aku harus ke toko emas dulu untuk membeli cincin, aku juga harus pergi ke toko bunga untuk membelikan Daniela sebuket bunga. Dia pasti akan senang," ucap Dave seraya tersenyum sumringah.
Sesuai dengan apa yang dia katakan, Dave menepikan mobilnya tepat di sebuah ATM. Dia menarik separo uang tabungannya untuk membeli cincin lamaran, tidak lupa dia juga membeli sebuket bunga yang akan dia berikan kepada kekasihnya itu.
Setelah selesai dia langsung pergi ke rumah di mana Daniela tinggal, selama 2 jam melakukan perjalanan Dave berusaha untuk merangkai kata-kata indah dari bibirnya. Tentu saja hal itu dia lakukan agar Daniela mau menikah dengannya,
Walaupun dia sudah mengabaikan Daniela selama 2 bulan, dia berharap jika Daniela mau menerimanya dengan baik dan mau menerima niat baiknya untuk menikahi wanita itu.
Lagi pula Dave berpikir jika Daniela pasti tidak akan punya pilihan, dia sudah hamil dan tentunya pasti akan mau diajak menikah oleh Dave. Karena memang dialah yang merasa pernah meniduri dan memerawani wanita itu.
"Seharusnya dulu gue nggak usah ikut mabuk, biar gue bisa ngerasain enaknya perawannya Daniela," ucap Dave dengan raut wajah penuh penyesalan.
Tangannya memang sibuk menyetir, tetapi pikirannya malang melintang jauh entah ke mana. Semua bayangan terlintas di dalam otaknya, baik mengenai Darra atau pun mengenai Daniela.
"Akhirnya sampai juga," ucap Dave seraya memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Daniela.
Saat turun dari mobil, Dave nampak keheranan, karena di sana ada mobil mewah yang terparkir tepat di depan rumah Daniela. Namun, tidak lama kemudian Dave berusaha berpikir positif.
Mungkin saja, itu adalah mobil milik bosnya Daniela yang sedang berkunjung karena dia tidak masuk kerja. Namun, jika memang hanya berkunjung, kenapa sudah sesore ini bosnya tidak kunjung pulang, pikir Dave.
"Oh, ayolah, Dave. Jangan berpikiran buruk, mari kita temui Daniela. Aku yakin Daniela adalah wanita baik-baik, aku yakin pasti ini hanyalah bosnya saja yang sedang menemui Daniela. Menjenguk lebih tepatnya," ucap Dave berusaha meyakinkan dirinya.
Daniela tidak akan pernah mengecewakan dirinya, Daniela adalah wanita yang begitu baik. Daniela adalah wanita yang selalu bersikap baik dan juga ramah, dia tidak mungkin seperti Darra.
__ADS_1
Saat tiba di depan pintu rumah, Dave nampak ragu untuk mengetuk pintu tersebut. Dia menghela napas beberapa kali, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Ayolah, Dave. Jangan ragu untuk mengetuk pintu," ucap Dave lirih dengan jantung yang berdebar dengan kencang.
Saat tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu, dia mendengar suara tawa Daniela yang begitu lepas. Sudah sangat lama dia tidak mendengar tawa wanita itu, tawa yang selalu terdengar indah.
Namun, setelah dirinya ketahuan selingkuh dengan Darra, Daniela tidak pernah tertawa lagi. Untuk membalas pesannya saja wanita itu begitu enggan, Dave paham akan hal itu.
"Sedang apa dia? Kenapa terdengar begitu riang?" tanya Dave lirih.
Karena merasa penasaran, Dave dengan tidak sopannya membuka pintu tersebut dengan perlahan. Dia sudah seperti seorang pencuri, dia berjalan dengan mengendap-ngendap karena tidak ingin Daniela mengetahui dirinya sedang berada di sana.
Dave nampak terdiam di balik tembok penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga, dia menyembulkan sedikit kepalanya agar bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Daniela.
Tidak lama kemydian, mata Dave langsung membulat dengan sempurna ketika dia melihat Daniela sedang berduaan dengan Danish. Daniela sedang tertawa seraya menonton serial drama, sedangkan Danish terlihat duduk tidak jauh dari Daniela.
Pria itu sesekali menyuapi Daniela dengan potongan buah yang sudah dia siapkan di atas piring, sungguh ini adalah pemandangan yang membuat Matanya terasa sangat sakit.
Tidak lama kemudian, Dave menatap Danish dengan lekat. Dahinya mengernyit dengan dalam karena dia merasa sangat kenal dengan pria yang berada di samping Daniela.
"Ya Tuhan! Bukannya itu pak Danish, ya? Dia pemilik perusahaan di mana tempat aku bekerja, kenapa bisa berada di sini bersama dengan Daniela?" tanya Deva yang merasa kebingungan.
Dave hanya diam mematung melihat interaksi antara Daniela dan juga Danish, keduanya terlihat begitu akrab dan juga dekat.
Daniela memang hanya terdiam seraya menonton serial drama, tetapi berbeda dengan Danish, pria itu nampak perhatian sekali kepada Daniela.
Sesekali dia akan menyeka ujung bibir Daniela, padahal tidak ada kotoran sedikit pun di bibir wanita itu. Danish bahkan akan mengambilkan air hangat dan membantu Daniela untuk minum. Sungguh ini adalah hal yang di luar nalar bagi Dave.
"Sebenarnya apa hubungan di antara mereka? Apa yang aku tidak tahu selama 2 bulan ini?" tanya Dave dengan bingung.
Tidak lama kemudian Dave melihat Danish tiba-tiba saja membungkuk, lalu pria itu mengelus perut Daniela dengan begitu lembut. Hal itu benar-benar membuat Dave merasa syok luar biasa, karena ada pria lain yang berani menyentuh perut wanita itu.
__ADS_1
"Kamu udah nggak mual lagi, kan?" tanya Danish dengan penuh perhatian.
Daniela menolehkan wajahnya ke arah Danish, dia tersenyum dengan sangat manis. Lalu, Daniela menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Danish ikut tersenyum melihat senyum di bibir wanita itu.
"Sepertinya dia sangat bahagia ada aku di sini, makanya kamu nggak ngerasa mual lagi." Danish membelai surai indah milik Daniela.
"Sepertinya memang begitu, tapi ini sudah sangat sore. Kamu harus pulang," ucap Daniela seraya tersenyum hangat.
"Tapi aku masih betah berlama-lama dengan kamu dan dia, bagaimana dong? Aku maunya nginep aja, boleh?" tanya Danish dengan wajah memelas.
"Aih! Kita itu belum menikah, tidak boleh tinggal satu atap. Ngerti?" ucap Daniela dengan tegas.
Sudah cukup dia melakukan dosa, pernah tidur dengan Danish dan juga Dave, pikirnya. Dia tidak mau menambah dosa lagi dengan tinggal bersama dengan pria yang belum menikah dengan dirinya.
"Kita nikah sekarang saja, aku sudah tidak sabar untuk tinggal satu atap dengan kalian. Aku mohon," pinta Danish.
Lutut Dave terasa bergetar dengan hebat, rasanya tubuhnya mau ambruk seketika mendengar Danish merengek agar bisa menikahi Daniela.
"Pak Bos yang gantengnya ngga ketulungan, aku sudah pernah bilang kepada anda. Aku itu masih gamang, karena aku pernah tidur dengan Dave." Daniela mengungkapkan kebingungannya.
"Dengarkan aku, Daniela, Sayang. Kamu hanya pernah tidur denganku, bukan dengan Dave atau lelaki mana pun itu, jadi... dia adalah milikku. Hanya milikku," ucap Danish dengan begitu yakin.
Tubuh Dave bergetar hebat, dia yang lemas langsung meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Dave masih sangat ingat ketika dia memberikan obat perangsang ke dalam minuman beralkohol yang sudah dia siapkan, baik dia atau pun Daniela sama-sama meminum minuman tersebut.
Hal itu sengaja Dave lakukan agar mereka bisa bercinta dengan penuh gairah, bukan hanya Dave yang menikmati tubuh Daniela.
"Tapi, dua bulan yang lalu aku dan Dave--"
"Tidak ada kamu dan Dave, tapi kamu melakukannya denganku." Danish memungkas ucapan wanita itu dan menatap wajah bingung Daniela.
"Benarkah?" tanya Daniela yang benar-benar bingung dengan apa yang Danish katakan.
__ADS_1
"Ya, dua bulan yang lalu kamu dan Dave--"