
Setelah menunggu selama satu hari satu malam, akhirnya Dilla sadar juga. Dea dan juga Dave benar-benar merasa sangat senang, karena mereka bisa melihat mata Dilla yang terbuka.
Walaupun wajahnya terlihat begitu pucat, tetapi dia merasa senang karena senyum di bibir Dilla mengembang dengan sempurna. Dilla merasa sangat bahagia karena di saat dia sakit, anak dan juga menantunya dengan setia menunggui dirinya.
Rasanya Dilla tidak akan sedih ketika dia harus berpulang nanti, karena putrinya yang ceroboh dan manja itu kini sudah ada yang menjaga.
"Apa yang Mom rasakan saat ini?" tanya Dea dengan begitu lembut.
Dea begitu khawatir sekali saat melihat rupa ibunya yang sebenarnya, wajahnya yang pucat, rambutnya yang putih dan bahkan bibirnya terlihat pecah-pecah.
Rasanya dia ingin menjerit melihat keadaan dari ibunya, dia baru sadar jika keadaan ibunya benar-benar sangat parah.
"Pusing, mual dan lidah Mom terasa kebas. Lidah Mom seakan tidak bisa merasakan apa pun," jawab Dilla.
Baru kali ini Dilla bisa berkata jujur kepada putrinya, dia bahkan bisa berkeluh-kesah kepada putri kesayangannya tersebut.
Hati Dea sangat mencelos mendengarkan keluhan dari ibunya, jika saja bisa, rasanya dia ingin menggantikan rasa sakit yang diderita oleh ibunya tersebut.
"Ya Tuhan! Lalu, apa yang Mom inginkan saat ini?" tanya Dea.
Mata Dea sudah berkaca-kaca, rasanya dia ingin menangis sambil guling-guling di atas ubin melihat penderitaan ibunya. Namun, dia berusaha untuk tegar dan berusaha untuk kuat.
"Mom hanya ingin melihat kalian bahagia, apa kalian ingin berbulan madu?" tanya Dilla dengan suaranya yang semakin melemah.
Sontak Dave dan juga Dea langsung menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa mereka memikirkan bulan madu di saat keadaan Dilla seperti itu.
Dea hanya ingin menjaga ibunya, Dea hanya ingin melihat Dilla sehat kembali. Dia tidak mau meninggalkan Dilla walau sebentar saja, dia ingin menemani wanita itu dan mendoakan agar Dilla sehat kembali.
"Kenapa tidak mau bulan madu? Apa kalian tidak ingin menghabiskan waktu untuk berduaan saja, hem?" goda Dilla.
Jika mereka berdua pergi untuk berbulan madu, maka keduanya tidak akan mendapatkan gangguan ketika sedang bermesraan. Berbeda dengan saat ini, mereka pasti akan terus mendapatkan gangguan dari dirinya.
__ADS_1
Dilla bahkan sangat yakin jika keduanya belum melakukan hubungan suami istri setelah menikah, karena mereka berdua pasti sibuk mengurusi dirinya.
"Aku sangat ingin menghabiskan waktu berdua bersama dengan Dave, karena walau bagaimanapun juga kami adalah pengantin baru. Tapi, untuk saat ini izinkan aku untuk menjaga Mom."
Air mata Dea tumpah juga pada akhirnya, padahal dia sudah menahannya dengan sekuat tenaga. Namun, air mata itu dengan tidak tahu dirinya turun membasahi kedua pipinya.
Dave langsung memeluk istrinya, dia berusaha untuk menenangkan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Dave bahkan tersenyum seraya menolehkan wajahnya ke arah Dilla.
"Mom harus sembuh, karena setelah Mom sembuh kita akan pergi berlibur. Kita akan pergi ke kampung halamanku, bukankah Mom sejak dulu ingin berlibur ke kampung?" tanya Dave.
Dilla langsung tertawa lemah mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, dari dulu dia selalu ingin merasakan yang namanya pulang kampung.
Sayangnya dia menikah dengan temannya sendiri, bahkan jarak rumah di antara keduanya juga tidak jauh. Kini jika memang benar dia bisa sehat kembali, dia ingin ikut pulang ke kampung halaman Dave.
Pasti rasanya akan sangat menyenangkan bisa pulang kampung, walaupun pergi ke kampung halaman menantunya.
"Hem! Kamu benar, Mom akan sembuh. Mom akan ikut pulang kampung bersama dengan kalian," ujar Dilla.
Dea menggenggam tangan ibunya, lalu dia mengecup punggung tangan ibunya dengan penuh kasih.
Dilla langsung tersenyum seraya mengusap puncak kepala putrinya, sungguh dia merasa bahagia dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut.
"Ya, Sayang," jawab Dilla.
Di lain tempat.
Jika di tanah air waktu menunjukkan pukul 9 pagi, di negara A waktu menunjukkan pukul 9 malam. Debora yang baru saja sampai di rumah suaminya langsung masuk ke dalam rumah megah itu.
"Bi, Darius ada?" tanya Debora.
"Ehm! Anu, Nya. Selama Nyonya pulang ke tanah air, tuan tidak pernah ada di rumah." Bibi menunduk lesu setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
Semua pelayan di sana sudah sangat hapal jika tuannya kerap kali berselingkuh dari Debora, hanya saja mereka tidak berani mengatakan apa pun.
"Oh, oke! Terima kasih, Bi." Debora langsung masuk ke dalam kamar utama.
Dia berusaha untuk menenangkan hatinya, dia harus menyiapkan semuanya dengan matang. Dia harus bisa bercerai dari Darius, tapi dia tidak boleh menjadi pihak yang dirugikan.
Saat tiba di dalam kamar utama, Debora langsung membuka lemari pakaiannya. Dia mengambil semua perhiasan dan juga berlian yang dibelikan oleh Darius, setelah itu dia juga mengambil kartu sakti yang diberikan oleh Darius.
Dia juga mengambil sertifikat rumah yang saat ini Debora tempati, karena Darius memberikan rumah itu untuk dirinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
Tidak lupa dia mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan Darius bersama dengan sekretarisnya, video yang dikirimkan oleh sekretaris Darius juga sudah dia simpan dan akan dijadikan bukti untuk melakukan gugatan cerai.
Ya, Debora ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Lalu, dia akan menggugat cerai suaminya dan pergi meninggalkan hidupnya yang terlihat indah tetapi terasa menyakitkan.
Dia ingin menikmati masa tuanya bersama dengan anak dan menantunya, dia ingin menghabiskan masa tuanya untuk bermain dengan cucu-cucu yang akan dilahirkan oleh Daniela.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Debora.
Setelah mengatakan hal itu, Debora langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia ingin menenangkan otaknya yang terasa begitu panas.
Berbeda dengan Darius, pria itu kini sedang asik berpeluh dengan wanita muda yang bekerja sebagai sekretarisnya sekaligus sebagai wanita pemuasnya.
Wanita muda itu sedang asyik bergoyang di atas tubuh Darius, kedua tangannya sedang meremat dan memilin ujung dadanya sendiri. Darius merasa begitu terangsang, pria itu bahkan terus saja menampar bokong bulat wanita muda itu.
"Dailily! Jangan lambat seperti itu, aku kurang suka." Darius melayangkan protesnya, Dailily hanya tersenyum seraya menunduk.
Lalu, wanita itu membungkam bibir mesin penghasil uangnya dengan bibirnya. Lalu, dia menaik turunkan bokongnya dengan penuh gairah.
"Engh!" hanya terdengar lenguhan dari bibir pria paruh baya itu, karena kenikmatan yang datang sangatlah luar biasa.
Darius menekan dengkul Dailily dengan kuat, sedangkan wanita itu begitu asik menelan dan mengeluarkan batang kenikmatan milik pria yang ada di bawah tubuhnya.
__ADS_1
"Nikmatilah, Sayang. Jangan lupa besok kamu harus membelikan aku mobil baru," pinta Dailily setelah pagutan bibir mereka terlepas.
"Ouch! Santai saja, Sayang. Hanya mobil," ucap Darius dengan napas terengah-engah.