Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Siapa?


__ADS_3

"Ya, Tante paham. Sekarang kita pulang, mom Dilla pasti tidak akan senang jika melihat kamu bersedih seperti ini." Debora melerai pelukannya lalu menuntun Dea untuk pergi dari sana.


Dea menurut. Dave, Danish dan juga Daniela mengekori langkah Debora. Namun, saat tiba di parkiran dengan cepat Dave membuka pintu mobil untuk Dea agar wanita itu dudu di samping kemudi.


Danish membukakan pintu mobil untuk Debora dan juga Daniela, mereka bertiga duduk di bangku penumpang. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Dilla terlebih dahulu, karena Dea pasti masih membutuhkan support dari mereka semua.


Dave langsung duduk di balik kemudi dan melajukan mobil miliknya ke kediaman Dilla, sedangkan Dea langsung memeluk Dave dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Di saat seperti ini dia merasa sangat beruntung, karena di saat dia kehilangan, ada Dave yang benar-benar berusaha menguatkan dirinya.


Berbeda dengan Danish, dia langsung memeluk Debora. Dia merasa senang karena ibunya masih sehat dan bisa menemani dirinya, tidak lama kemudian dia tersenyum dan berbisik tepat di telinga ibunya tersebut.


"Mom kapan pulang? Danish rindu," ucap Danish seraya menitikan air matanya.


Melihat kematian Dilla membuat Danish sadar jika sosok ibu sangatlah berharga, Danish bahkan langsung berjanji di dalam hatinya, jika dia akan berusaha untuk membahagiakan ibunya tersebut selama Debora masih bernapas.


Walaupun memang wanita itu sempat menelantarkan dirinya dan membuat hidupnya terasa di neraka, tetapi kini Danish kini sudah mampu memaafkan kesalahan ibunya tersebut.


"Mom baru tiba dan langsung ke sini, Mom juga rindu." Debora membalas pelukan putranya, tidak lama kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Daniela dan memeluk wanita itu.


Daniela merasa begitu senang mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari mertuanya, kini dia merasa jika dirinya sudah diterima dengan baik oleh Debora.


"Mom sangat senang karena bisa bersama dengan kalian lagi, bolehkah jika Mom tinggal satu atap dengan kalian?" tanya Debora.


Mendengar pertanyaan dari Debora, Danish dan juga Daniela merasa benar-benar sangat senang. Karena itu artinya mereka akan tinggal bersama dan bisa mengobrol bersama-sama.

__ADS_1


"Boleh, Mom. Sangat boleh," jawab Danish dan Daniela bersamaan.


"Alhamdulillah, maaf karena selama ini Mom sudah salah dan menelantarkan kamu di saat kamu butuh Mom," ujar Debora tulus.


"Tidak usah mempermasalahkan hal itu, Mom. Kita akan memulai semuanya dari awal," ujar Danish.


Debora merasa begitu tenang mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, dia langsung mengangguk seraya tersenyum. Lalu, dia kembali memeluk Danish.


Tidak lama kemudian, mobil yang Dave kendarai sudah sampai di kediaman Dilla. Semuanya nampak turun dengan wajah sedih, lalu mereka masuk ke dalam rumah Dilla dan berkumpul di dalam ruang keluarga.


"Wajah Dea sangat pucat, apa belum makan?" tanya Debora.


"Dia tidak mau makan," jawab Dave dengan sedih.


"Ya ampun, kamu harus tetap makan, Sayang." Debora dengan cepat melangkahkan kakinya menuju dapur, dia meminta bibi untuk menggendokkan nasi lengkap dengan lauknya.


Setelah itu, dia kembali ke ruang keluarga dan duduk tepat di samping Dea. Dia membujuk Dea agar mau makan, karena Debora yakin jika Dilla pasti akan sedih melihat keterpurukan putrinya.


"Makanlah dengan benar, Sayang. Dilla pasti akan sangat sedih jika kamu tidak mau makan," bujuk Debora.


Berkali-kali Debora membujuk Dea, pada akhirnya Dea mau makan disuapi oleh Debora. Makanan memang masuk ke dalam mulutnya, tetapi air matanya terus saja mengalir di kedua pipinya.


Dave yang merasa tidak tega langsung menarik lembut Dea ke dalam pelukannya, lalu dia mengusap-usap punggung Istrinya dengan lembut. Sesekali Dave akan menunduk untuk mengecup kening Dea.


"Dia tertidur, padahal baru makan 3 suap,'' ujar Debora ketika melihat mata Dea yang terpejam.

__ADS_1


Dave menunduk dan memperhatikan wajah istrinya, ternyata wanita itu sudah tertidur dengan pulas. Dave merasa senang karena akhirnya istrinya itu bisa tidur, pasti itu karena Dea begitu kelelahan karena terus saja menangis.


"Tidak apa, Tante. Yang penting ada nasi yang masuk, terima kasih," ucap Dave dengan tulus.


"Sama-sama, sekarang rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Biar dia merasa nyaman," ujar Debora.


"Ya, Tante. Tante, Daniela dan juga Tuan Danish bisa pulang. Kalian juga pasti lelah," ujar Dave.


"Ya, aku akan pulang. Tolong jaga adikku," pinta Danish.


Karena baginya Dea tetaplah adiknya yang manis dan juga manja, terlebih lagi kini Dilla sudah tiada. Rasanya dia patut menjaga Dea dan mengawasi wanita itu walaupun dari jauh.


''Pasti," ujar Dave.


Pada akhirnya Dave memutuskan untuk menidurkan istrinya di dalam kamar, sedangkan Danish mengajak ibu dan juga istrinya untuk pulang ke kediamannya.


Dia dan juga Daniela sangat lelah, terlebih lagi ibunya yang baru sampai dari luar negeri, pastinya ibunya itu benar-benar merasa kelelahan.


Saat tiba di kediamannya, baik Danish dan juga kedua wanita yang ada di dekatnya langsung mengernyit heran. Pasalnya saat mereka turun dari mobil, bibi langsung menghampiri mereka dan berkata.


"Ehm! Anu, Tuan. Di dalam ada tamu, katanya mau ketemu sama Nyonya besar," ucap Bibi pada Danish. Namun, tatapan pelayan itu tertuju kepada Debora.


"Siapa?" tanya Debora dengan raut wajah penasaran.


"Anu, Nya. Tuan--"

__ADS_1


__ADS_2