
Karena banyaknya pekerjaan, Danish yang seharusnya pulang pukul 4 sore malah pulang setelah waktu menunjukkan pukul 8 malam, karena memang banyaknya pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Sebenarnya dia ingin sekali cepat pulang, karena di rumahnya ada ibunya, Debora. Akan tetapi, setelah dia pantau lewat kamera cctv, ternyata Debora tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Wanita itu justru mengikuti apa pun yang diminta oleh Daniela, dia merasa senang sekali melihat akan hal itu. Walaupun memang sanksi jika melihat perubahan dari ibunya tersebut.
Akan tetapi, Danish mencoba untuk berpikir positif. Dia berharap semoga ibunya benar-benar berubah menjadi sosok ibu yang baik dan perhatian, tidak ada lagi Debora yang jahat dan egois.
"Aku pulang dulu, kamu pulanglah karena kamu pasti sudah sangat lelah. Besok tidak usah berangkat bekerja, pergilah ke kediaman Atmaja untuk membicarakan masalah Dea dan juga Dirgantara," ucap Danish sebelum pulang.
Dave menggangguk ragu, karena pada kenyataannya dia begitu enggan untuk pergi ke rumah pria sombong itu.
"Iya, Tuan," jawab Dave.
Setelah mengatakan hal itu, Danish langsung pulang ke kediamannya. Karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, dia juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh ibunya saat ini.
"Assalamualaikum!" seru Danish ketika dia membuka pintu utama.
"Waalaikumsalam!" jawab Debora.
Karena hanya mendengar sahutan dari ibunya saja, Danish dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Saat tiba di ruang keluarga, dia melihat ibunya yang sedang duduk seraya menengadahkan wajahnya.
"Mom! Sejak kapan Mom datang?" tanya Danish pura-pura tidak tahu.
Dia sengaja bertanya seperti itu, agar ibunya tidak curiga kalau dia memantau pergerakan ibunya selama dia berada di kantor.
"Sejak pagi," jawabnya disertai ringisan kesakitan.
Danish yang merasa khawatir langsung menghampiri Debora, lalu dia duduk tepat di samping ibunya tersebut.
"Mom kenapa? Apa Mom sakit?" tanya Danish.
"Hem! Kaki Mom sakit, ini semua gara-gara istri kamu. Mom disuruh makan rujak buah bumbu kacang, jadinya asam urat Mom kambuh," jelas Debora dengan matanya yang masih tertutup.
Danish langsung menghela napas berat mendengar ucapan dari ibunya, padahal Danish bisa melihat sendiri jika ibunya yang mengajak Daniela untuk membuat rujak. Ibunya sendiri yang memakan rujak tersebut tanpa paksaan, tetapi sekarang Ibunya malah menyalahkan istrinya.
"Mau berobat sekarang atau mau Danish antar pulang?" tanya Danish.
"Mom ngga mau pulang, kamu belikan obat saja ke apotek. Mom mau menginap di sini," jawab Debora.
__ADS_1
Kembali Danish menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, jujur saja dia merasa khawatir jika ibunya mau menginap di sana. Karena dia takut jika ibunya akan melakukan hal yang tidak tidak terhadap istrinya.
"Aku akan meminta sopir untuk membelikan obat," ujar Danish pada akhirnya.
Danish langsung meminta sopir untuk membelikan obat asam urat untuk ibunya, setelah itu dia kembali duduk di samping ibunya tersebut.
Di saat Danis dan juga ibunya sedang asyik mengobrol, Daniela datang dengan membawa baskom berisikan air hangat. Air rebusan daun sereh, salam dan juga daun jeruk.
"Kakinya direndam dulu, Mom." Daniela menyimpan baskom tersebut tepat di bawah kaki Debora, kemudian dia memasukkan kaki Debora ke dalam baskom berisikan air hangat tersebut.
"Kenapa airnya berwarna hijau? Kamu bukan mau meracuniku, kan?" tanya Debora curiga.
Daniela tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Debora, pada awal bertemu dengan Debora dia memang merasakan ketakutan yang luar biasa. Namun, setelah seharian berinteraksi dengan Debora, Daniela merasa jika Debora adalah wanita baik-baik.
Hanya saja Debora merasa hidupnya terlalu tertekan, maka dari itu melepaskan kekesalan dalam hidupnya kepada orang lain.
"Ini obat, Mom. Bukan racun," jawab Daniela.
Setelah mengatakan hal itu, Daniela bangun dan duduk di samping Danish. Ditinggalkan seharian oleh suaminya membuat dia begitu rindu, tanpa ragu Daniela langsung memeluk suaminya tersebut.
"Kamu wangi banget, Mas." Daniela mengendusi ketika suaminya.
Tanpa sadar Debora langsung menyunggingkan senyumnya, karena dulu di saat dirinya mengandung Danish, Debora selalu saja ingin memeluk suaminya dan mengendusi ketiak suaminya.
"Akunya mandi dulu, kamu temenin Mom dulu," ucap Danish yang merasa tidak nyaman dengan kelakuan dari istrinya.
"Kamu ngga boleh mandi, nanti baunya ilang." Daniela memberenggut kesal.
"Ya Tuhan, seharusnya sebelum pulang aku mandi terlebih dahulu. Kalau begini caranya, aku bisa terkena penyakit kulit." Danish menggerutu di dalam hatinya.
"Oiya, Mas. Kamu sudah makan atau belum?" tanya Daniela penuh perhatian.
"Sudah, Yang. Aku gerah, mau mandi terus tidur. Boleh ngga?" tanya Danish.
"No! Nanti aku nggak bisa bobo pules kalau kamu mandi," jawab Daniela.
Debora merasa kasihan kepada putranya, Danish sudah bekerja seharian. Pasti dia sangat gerah dan ingin segera melakukan ritual mandinya, pada akhirnya Debora pun berkata.
"Daniela, Sayang. Bagaimana kalau kamu tidur dengan Mom saja, kalau kaki Mom sakit, ada kamu yang nolongin Mom."
__ADS_1
Danish dan juga Daniela langsung menolehkan wajahnya ke arah Debora secara bersamaan, mereka menatap Debora dengan tatapan tidak percaya.
"Hey! Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apakah apa yang aku ucapkan itu salah?" tanya Debora.
Mendengar pertanyaan dari Debora, Danish dan juga Daniela langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mereka terlihat begitu kompak sekali.
"Tidak apa-apa, Mom. Hanya aneh saja, aku tidak apa-apa kalau tidak mandi. Biarkan Daniela tidur bersama denganku saja," ucap Danish.
Bukan tanpa alasan Danish berkata seperti itu, Debora memiliki sifat yang jahat. Dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya dan juga calon buah hati mereka.
Dia lebih baik mencari jalan aman, daripada nantinya dia harus menyesal. Padahal, pada kenyataannya Debora hanyalah merasa kasihan terhadap Danish.
Namun, itulah resiko menjadi orang jahat. Di saat mereka benar-benar berniat untuk baik, terkadang tidak ada orang yang percaya.
"Terserah!" ucap Debora.
Setelah mengatakan hal itu, Debora langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar tamu. Padahal, sang pemilik rumah belum mengizinkan Debora untuk menginap di sana. Namun, Debora langsung masuk ke dalam kamar tamu tanpa meminta izin kepada Danish dan Daniela.
"Mas! Mom kenapa?" tanya Daniela.
"Tidak tahu,'' jawab Danish.
"Apa mungkin dia marah?" tanya Daniela.
"Entah! Daripada mikirin Mom, lebih baik kita main kuda-kudaan," ajak Danish.
Sepertinya main kuda-kudaan adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan bersama dengan istrinya, setelah mereka puas bermain kuda-kudaan, Daniela pasti akan tertidur dengan lelap.
Di saat itulah Danish bisa segera melaksanakan ritual mandinya, itu adalah ide yang sempurna baginya. Karena rasanya dia tidak akan betah kalau tidur tanpa mandi terlebih dahulu.
"Males ah! Aku ngga mau main kuda-kudaan," ucap Daniela
"Tapi aku mau."
Danish langsung membopong tubuh istrinya dan membawa Daniela menuju kamar utama, Daniela sempat memberontak dan melayangkan protesnya, tetapi Danish malah membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang begitu mesra.
Debora yang belum menutup pintu kamar tamu langsung tersenyum melihat interaksi antara Danish dan juga Daniela, dalam hati yang terdalam dia merasa senang melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh putranya tersebut.
"Mereka terlihat begitu bahagia, apakah aku keterlaluan jika berniat untuk memisahkan mereka? Lagi pula, jika aku perhatikan Daniela adalah wanita yang baik. Hanya saja dia merupakan keturunan yang tidak jelas," ucap Debora seraya menghela napas berat.
__ADS_1