
Daniela sudah bersiap untuk pergi menuju kediaman Dilla, wanita hamil itu memakai gaun panjang berwarna putih yang terlihat begitu longgar di tubuhnya. Namun, Daniela terlihat begitu cantik saat memakai baju itu.
Danish juga sudah terlihat begitu tampan, dia memakai kemeja berwarna putih dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam. Biar serasi, itulah yang dia katakan kepada istrinya.
Saat Daniela memerhatikan wajah suaminya, dia benar-benar menyadari jika Danish itu sangat tampan dan juga memesona. Rasanya dia tidak ingin membawa Danish untuk pergi ke kediaman Dilla, takutnya ada wanita yang akan tergoda oleh pria setampan suaminya itu.
Pada awal dia menikah dengan Danish, dia hanya berpikir yang penting ada yang menikahinya dan ada yang bertanggung jawab kepada janin yang ada di dalam kandungannya.
Tidak ada cinta sama sekali di dalam hatinya, terlebih lagi kalau itu dia belum mengenal Danish sama sekali. Tidak seperti Danish yang sudah mencari tahu tentang keseharian Daniela.
"Ck! Kamu pergi ke pernikahan Dea-nya pakai topeng aja," ucap Daniela.
Daniela benar-benar terlihat sewot ketika mengatakan hal itu, dia seakan tidak senang kala melihat suaminya yang tampil luar biasa di matanya.
Danish yang sedang mematut dirinya di depan cermin langsung menolehkan wajahnya ke arah istrinya, dia merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut.
"Loh, kok? Masa aku pakai topeng sih? Kita mau hadir ke acara pernikahan dave loh, bukannya mau pergi ke acara pesta topeng." Danish melayangkan protesnya seraya membenarkan kemeja yang dia pakai.
Daniela langsung mencebikkan bibirnya, lalu dia melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu terlihat begitu kesal lalu berkata.
"Habisnya kamu tuh ganteng banget, Mas. Nanti ada cewek yang tergoda sama kamu pan bahaya!" ucap Daniela dengan begitu ketus.
Danish langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia tahu jika istrinya tersebut pasti sedang cemburu. Dia juga tahu jika itu pasti pengaruh dari kehamilannya.
Danish langsung memeluk Daniela, lalu dia mengusap-usap lengan istrinya tersebut dengan begitu lembut dan penuh kasih.
"Dengarkan aku, Sayang. Walaupun banyak wanita yang datang dan menggoda, aku tidak akan pernah berpaling dari kamu. Karana hanya kamu wanita yang aku cintai, hanya kamu wanita yang saat ini begitu aku puja. Terlebih lagi di sini ada calon buah hati kita," ucap Danish.
Danish mengusap perut buncit Daniela, wanita itu langsung tersenyum begitu bangga dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh suaminya tersebut.
"Beneran ya, hanya aku yang ada di hati kamu?" tanya Daniela memastikan.
__ADS_1
"Ya, untuk saat ini hanya kamu," jawab Danish.
Mendengar jawaban dari Danish, Daniela langsung melerai pelukannya dengan pria itu. Dia terlihat begitu marah sekali terhadap suaminya tersebut.
"Maksud kamu bagaimana? Kamu mau nambah istri gitu? Jadinya bukan hanya aku yang ada dalam hati kamu gitu?!" ucap Daniela dengan kesal.
Danish langsung menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut, karena pada kenyataannya saat ini hanya ada Daniela yang ada di dalam hatinya.
Namun, dia tidak bisa menjamin hatinya hanya untuk Daniela ketika Daniela melahirkan anak anaknya nanti. Karena hatinya pasti terisi dengan cinta dari anak-anak yang Daniela lahirkan untuk dirinya.
"Dengarkan aku, Sayang. Di sini ada calon buah hati kita, setelah dia lahir nanti, pasti aku akan sangat mencintainya. Tidak hanya mencintai kamu seorang saja, jadi maaf. Karena setelah nanti kamu melahirkan anak anakku, aku pasti akan membagi hatiku."
Daniela langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, karena ternyata dugaannya salah. Namun, tidak lama kemudian Daniela kembali memeluk Danish dan berkata.
"Tunggu sebentar deh, kamu bilang tadi anak-anak kita. Aku hanya mengandung 1 bayi, Mas. Kenapa kamu bilangnya anak-anak kita?" tanya Daniela dengan raut wajah yang begitu penasaran.
Danish kembali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut, dia mengecup bibir istrinya lalu berkata.
Daniela langsung menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, dia belum melahirkan satu anak pun. Akan tetapi Danish sudah berencana akan membuat dia hamil kembali.
"Kamu tuh ada-ada aja, Mas. Padahal, calon buah hati kita yang pertama saja belum aku lahirkan. Tetapi, kamu sudah memikirkan kehamilanku yang lainnya."
Daniela benar-benar tidak menyangka dengan jalan pikir dari suaminya tersebut, karena bisa-bisanya Danish berpikir jika setelah dia melahirkan, Danis akan kembali menggauli dirinya dan membuat Daniela hamil agar mereka memiliki banyak keturunan.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kan, namanya juga rencana. Biar kita memiliki anak yang banyak loh, biar nanti di rumah akan terasa sangat ramai. Aku anak tunggal dan kamu pun sendirian, setelah kita memiliki anak yang banyak pasti rumah akan terasa sangat ramai."
Daniela mengangguk setuju karena dia memang ingin memiliki banyak teman, kalau dia memiliki anak yang banyak, sudah pasti nanti kehidupannya akan terasa lebih berwarna dan lebih ramai lagi.
Setelah jadi perdebatan di antara Daniela dan juga Danish, akhirnya sepasang suami istri itu segera berangkat ke kediaman Dilla. Karena Dilla sudah menelpon Danish dan mengatakan jika akad nikah akan segera dilaksanakan.
"Woow! Dea cantik banget, Mas. Tapi gaun pengantinnya terlalu memeluk tubuhnya," komentar Daniela saat dia melihat Dave dan juga Dea sudah duduk bersama di depan penghulu.
__ADS_1
Daniela bahkan merasa napasnya terasa sesak saat melihat dada Dea yang terlihat menyembul dari tempatnya, baju yang dipakai oleh calon pengantin itu terlihat kesempitan.
"Hem! Kamu benar, cepat duduk dan diam. Acara ijab kabulnya akan segera dilaksanakan," ucap Danish seraya menuntun Daniela untuk segera duduk di salah satu bangku yang sudah disediakan.
Walaupun Dave dan juga Daniela hanya menikah di rumah saja, ternyata banyak kerabat dan juga rekan bisnis dari Dilla yang datang.
"Bismillahirohmanirohim, Ananda Dave. Apakah Ananda sudah siap untuk menikahi Adinda Dea?" tanya penghulu seraya menepuk pundak pria itu.
"Siap!" jawab Dave seraya mengusap dahinya yang berkeringat.
"Jangan tegang, masih sore soalnya. Masih banyak tamu, belum nanti sesi foto. Tegangnya nanti malem aja, sekarang lemesin aja." Pak penghulu sengaja menggoda Dave, karena pria itu terlihat begitu tegang sekali.
"Eh? Saya tidak tegang," ucap Dave seraya menutup inti tubuhnya.
Sedari tadi Dave berkeringat dingin, hal itu terjadi bukan tegang karena mau mengucapkan ijab Kabul. Namun, dia benar-benar tegang saat melihat tubuh Dea yang begitu menggoda di matanya.
Terlebih lagi saat dia melihat dada calon istrinya yang menyembul, tentu saja hasratnya tiba-tiba saja timbul. Maka dari itu dia tidak berani menolehkan wajahnya ke arah Dea, dia hanya menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
"Oh! Bagus kalau belum tegang, sekarang silakan jabat tangan saya."
Pak penghulu mengulurkan tangannya, Dave dengan cepat menerima uluran tangan dari pak penghulu tersebut.
Tangan Dave terasa begitu dingin dan juga basah oleh keringat, hal itu membuat pak penghulu kembali menggoda pria itu.
"Ehm! Udah basah aja, dingin lagi. Sepertinya saya harus mempercepat acara ijab kabulnya, karena sepertinya Nak Dave butuh untuk segera dihangatkan."
Para kamu undangan yang hadir langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh pak penghulu, sedangkan Dave dan juga dia langsung menunduk dengan malu.
Daniela yang melihat tingkah dari mantan kekasihnya itu langsung menghampiri Dave, lalu dia menunduk dan berbisik tepat di telinga Dave.
"Jangan malu-malu seperti itu, nanti malah malu-maluin!" ucap Daniela dengan bibir mencebik.
__ADS_1
Dave hanya mengerjapkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Daniela, dia tidak berani untuk menimpali ucapan dari mantan kekasihnya itu.