Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Berusaha Untuk Mendekatkan


__ADS_3

Danish merasa sangat lucu ketika melihat tingkah Dea dan juga Dave, keduanya seperti sudah saling mengenal dan ada sesuatu hal yang terjadi di antara keduanya. Entah apa itu, tetapi Danish tidak tahu.


Namun, ketika melihat kedekatan mereka berdua rasanya Danish menjadi ingin mendekatkan keduanya. Tidak ada salahnya bukan, toh Dea adalah wanita lajang. Begitupun dengan Dave, pria itu sudah putus dengan Daniela.


"Oke, Dea. Berkasnya sudah aku tandatangani, aku menyetujui project kerjasama kita kali ini. Untuk ke depannya, aku memercayakan project ini kepada Dave. Jika ada apa-apa kalian bisa membicarakannya berdua, jangan lupa untuk bertukar nomor ponsel."


Danish merasa inilah saatnya untuk mendekatkan mereka berdua, jika mereka sering bertemu, maka akan ada rasa yang tumbuh di antara keduanya, itulah pikir Danish.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Danish, Dave dan juga Dea terlihat begitu kaget. Ini adalah project besar, Dave merasa tidak percaya jika Danish memercayakan project sebesar ini kepada dirinya.


"Tapi, Tuan. Ini sangat berlebihan, rasanya saya tidak pantas untuk memegang kendali atas project besar ini." Dave benar-benar merasa tidak percaya diri.


Terlebih lagi dia pernah melakukan kesalahan yang besar terhadap Daniela, rasanya Danish begitu baik terhadap dirinya. Dia benar-benar merasa malu dihadapkan dengan orang seperti Danish.


Padahal, tadinya Dave sempat berpikir jika Danish mempekerjakan dirinya karena ingin membalas dendam kepada dirinya. Akan tetapi, dia sangat salah.


Danish bukan orang yang pendendam, dia selalu memaafkan siapa pun yang melakukan kesalahan terhadap dirinya dengan caranya. Siapa pun yang terlihat ingin berubah menjadi lebih baik, Danish pasti akan mendukungnya.


Seperti halnya dengan Debora, jika saja wanita itu mau berubah dan mendekatkan diri kepada dirinya. Sudah dapat dipastikan jika Danish akan memberikan kehidupan yang layak untuk ibunya tersebut.


Karena seberapa besar dirinya terlihat membenci Debora, tetap saja Danish sangat menyayangi wanita itu. Karena walau bagaimanapun juga, wanita itu adalah ibunya. Dia terlahir dari rahim wanita yang bernama Debora itu.


"Aku yakin kamu adalah pria yang ingin berubah menjadi pria yang lebih baik, aku memercayakan project besar ini kepadamu dan aku harap kamu menjaga kepercayaanku."


Danish berbicara dengan sungguh-sungguh, hal itu membuat dia benar-benar mengagumi pria yang bernama Danish tersebut. Dia merasa jika Daniela memang benar-benar pantas hidup berdampingan dengan pria seperti Danish.


"Baiklah, Tuan. Aku akan menerima project ini, aku akan melakukan semuanya dengan baik. Terima kasih,'' ucap Dave dengan tulus.


Dave berjanji di dalam hatinya jika dia akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, terlebih saat ini dia memiliki tanggung jawab yang begitu besar.


"Sama-sama, sekarang cepat antarkan Dea menuju perusahaanya. Karena dia datang tadi hanya menggunakan taksi saja," perintah Danish.

__ADS_1


Mendengar apa yang Danish katakan, Dea langsung menolehkan wajahnya ke arah pria itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku akan naik taksi lagi saja, tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan aku," ucap Dea tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, pergilah. Aku tinggal, karena aku ada meeting penting. Kalau nanti Dave nakal, jangan segan untuk menelpon Kakak." Danish berbicara seraya terkekeh.


Dea langsung tertawa dibuatnya, dia merasa senang karena bisa dekat kembali dengan Danish. Walaupun hanya sebatas adik dan kakak, dia benar-benar merasa sangat bahagia.


Sebelum Danish keluar dari ruangannya, dia menghampiri Dave dan menepuk pundak pria itu dengan perlahan. Lalu, Danish berkata.


"Jika sudah mengantarkan Dea nanti, kamu langsung kerjakan email yang sudah masuk dari pak Bagio. Karena sepertinya aku akan melakukan meeting selama 2 jam," pesan Danish.


"Siap, Tuan!" jawab Dave dengan semangat.


Selepas kepergian Danish, Dave langsung mengantarkan Dea. Sepanjang perjalanan menuju perusahaan milik Dilla, keduanya saling diam.


Mereka seakan begitu bingung harus memulai obrolan dari mana, Dea nampak gelisah. Begitupun dengan Dave, hanya saja pria itu bisa menyembunyikan rasa gelisahnya.


Mata Dave memang fokus menatap jalanan, tangannya juga terlihat fokus dalam mengendalikan kemudi. Namun, hatinya benar-benar tidak bisa tenang.


"Terima kasih," ucap Dea tulus.


"Sama-sama, apakah perlu aku antarkan ke dalam?" tanya Dave berbasa-basi.


"Tidak us--"


"Dea! Akhirnya elu datang juga, gue udah nunggu elu dari tadi." Seorang pria tampan datang dan menghampiri Dea.


Untuk sesaat Dea terdiam, dia begitu kaget ketika melihat wajah pria yang pernah mengambil keperawanannya ada di hadapannya.


"Kok diem? Gue mau ngomong sama elu, bisa?" tanya pria itu seraya menggenggam tangan Dea.

__ADS_1


Dea masih sangat ingat ketika pria itu mengatakan dirinya wanita penggoda yang dengan mudahnya memberikan keperawanannya kepadanya, padahal saat itu dia sedang mabuk.


Dia tidak mengingat apa pun, ketika dia bangun justru dia merasa kaget dan juga takut. Karena keperawanannya sudah hilang, hanya ada rasa sakit yang tertinggal di hatinya dan juga area intinya.


"Ngga ada yang perlu diomongin lagi di antara kita, bukankah dulu kamu yang bilang semuanya harus dilupakan?" tanya Dea dengan wajah sendunya.


"Gue rapat ucapan gue, cewek gue selingkuh. Gue ngga mungkin batalin acara pernikahan gue yang akan berlangsung 5 hari lagi, pokoknya elu harus mau menjadi pengantin penggantinya!" ucap pria itu memaksa.


"Sorry, gue ngga bisa." Dea hendak meninggalkan pria itu, tetapi dengan cepat pria itu mencekal pergelangan lengan Dea.


Dia mencekal pergelangan tangan Dea dengan begitu kencang, hal itu membuat Dea meringis kesakitan.


"Ngga bisa, pokoknya elu harus nikah sama gue. Elu pasti tahu kalau keluarga gue adalah orang yang sangat penting di negeri ini, gue nggak mau kalau keluarga gue sampai malu. Elu harus nikah sama gue!" seru pria itu.


"Tidak mau! Kamu sendiri yang mengatakan jika aku adalah wanita murahan, walaupun pada kenyataannya kamu yang mengambil keperawananku. Sekarang kamu datang memintaku untuk menikah denganmu? Di mana otak kamu, hem?" tanya Dea dengan penuh emosi.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Dea, Dea sampai meringis kesakitan. Melihat akan hal itu, Dave merasa begitu marah.


Dia memang pria brengsek yang mudah tergoda dengan wanita, iminnya selalu saja kurang kuat jika menghadapi godaan dari wanita seksi. Namun, dia tidak pernah bersikap kasar kepada perempuan.


Plak!


Dave membalas tamparan dari pria itu, pipi pria itu bahkan langsung memerah karena tamparan Dave begitu keras. Pria itu langsung menatap Dave dengan begitu sengit.


"Kau! Berani sekali kau menamparku! Apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya pria itu.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu!"


Setelah mengatakan hal itu, Dave mengusap pipi Dea dengan begitu lembut. Lalu, dia menuntun Dea untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut. Melihat akan hal itu, pria itu berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

__ADS_1


Bahkan, pria itu terdengar mengancam Dea dan juga Dave. Pria itu berkata akan memenjarakan kedua orang tersebut, karena dia merasa sakit hati.


"Lihat saja nanti, aku pasti akan mengadukan kelakuan kalian kepada ayahku!" teriak pria itu.


__ADS_2