Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Rumah Baru


__ADS_3

Dave dengan cepat melajukan mobilnya menuju tempat dia bekerja, walaupun hari sudah siang dia merasa tidak peduli. Karena kemarin dia sudah tidak masuk bekerja, setidaknya hari ini dia menampakan muka.


Saat tiba di perusahaan tempat dia bekerja, Dave langsung masuk ke dalam ruangan David. Walaupun dia tahu jika perusahaan tempat dia bekerja adalah milik Danish, tetapi dia tidak bisa berhenti begitu saja.


Dave butuh pekerjaan untuk menunjang hidupnya, dia tidak mungkin berhenti tanpa alasan. Justru saat ini yang ingin Dave lakukan adalah bekerja dengan sebaik-baiknya.


Saat tiba di ruangan David, Dave dipersilakan untuk duduk. Pria yang sedang patah hati itu menurut, dia langsung duduk tepat berhadapan dengan David.


Sebenarnya David merasa miris saat melihat Dave, pria itu pasti patah hati karena sudah ditinggalkan menikah oleh wanita yang masih ingin dia kejar dan ingin dia miliki.


Makanya selama dua hari ini dia tidak bisa berkonsentrasi untuk memikirkan bekerja, David bisa memahami akan hal itu.


"Kenapa kamu ingin bertemu dengan saya? Apakah kamu ingin mengundurkan diri atau masih mau bekerja? Kenapa selama dua hari ini kamu seperti orang yang tidak ingin bekerja?" tanya David beruntun.


"Maaf, saya memanglah orang bodoh yang mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Tapi, saya mohon beri saya kesempatan. Saya harap anda tidak memecat saya," ucap Dave jujur.


Danish dan David memang pernah membahas masalah ini, Danish pernah berkata untuk tidak mencampuradukkan masalah pekerjaan dan masalah pribadi.


Jika Dave melakukan sebuah kesalahan dalam bekerja, Danish berharap semoga David mau memaafkan. Dia berharap David mau memberikan kesempatan kepada Dave.


Karena walaupun Dave adalah pria yang menurutnya sangat brengsek, tetapi dia juga merasa bersyukur pria itu sudah melakukan hal yang gila. Karena dengan seperti itu Danish bisa memiliki Daniela.


Menurutnya, Dave yang bertingkah seperti itu sudah memuluskan jalan Danish untuk bisa bersatu dengan Daniela.


Karena tidak bisa Danish pungkiri, pria itu sudah langsung jatuh hati kepada Daniela di saat mereka bercinta di atas ranjang.


Ya, Danish sempat bercerita kepada Dave jika pria itu tidak sepenuhnya mabuk. Danish masih sadar saat menggauli Daniela, pria itu bahkan masih mengingat dengan jelas semua keluh kesah Daniela saat mereka bercinta.


"Tentu saja saya akan memberikan kamu kesempatan, sekarang pergilah untuk bekerja. Jangan pernah melakukan kesalahan lagi," ucap David.


Dave yang sedang menunduk memberanikan diri untuk menatap wajah atasannya, dia merasa tidak percaya jika dirinya kini diberikan kesempatan kedua.


"Beneran, Tuan?" tanya Dave tidak percaya.


Setahunya jika ada yang melakukan kesalahan sekecil apa pun, mereka pasti akan diberikan hukuman bahkan sampai dipecat dari perusahaan.


Lalu, mukjizat apa yang dia dapatkan? Kenapa bisa dengan mudahnya David memaafkan dirinya? Dave jadi merasa jika ini semua ada campur tangannya Danish.


"Benar, silakan anda bekerja kembali. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama," ingat David.


"Tidak akan!" jawab Dave cepat.


Dave yang merasa bahagia langsung berjongkok dan menggenggam kedua tangan David, dia mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang kepada pria itu.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Dave.


"Hem, bangunlah! Jangan bersikap seolah kamu sedang melamar seorang perempuan, karena aku adalah lelaki normal. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini," ucap David.


"Eh? Maaf, Tuan." Dave langsung bangun dan membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda minta maaf.


David hanya tertawa, lalu dia meminta Dave untuk keluar dari dalam ruangannya karena dia harus mulai bekerja. Dia terkadang merasa kesal terhadap Danish, pria itu yang memiliki perusahaan.


Akan tetapi, selalu saja dirinya yang direpotkan. Danish malah sibuk mengurusi beberapa restoran miliknya, terutama restoran yang ditempati oleh Daniela.


Di lain tempat.


Danish membawa Daniela ke rumah sakit, karena dia ingin memastikan kondisi kesehatan dari janin yang Daniela kandung. Kedua insan rupawan itu tadi malam menghabiskan waktu untuk bercinta.


Sungguh mereka merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap janin yang Daniela kandung, terlebih lagi tadi malam Daniela dengan semangatnya menaiki tubuh Danish dan bergoyang dengan erotis.


"Bagaimana kondisi dari calon buah hati kami, Dok?" tanya Danish seraya menatap layar monitor di depannya.


Danish menatap layar monitor tersebut dengan begitu gelisah, tangannya bahkan tiada hentinya mengelus lembut lengan Daniela.


"Kondisi janin yang dikandung oleh istri anda sangatlah sehat, hanya saja sepertinya ibunya kurang istirahat. Banyak-banyak istirahat ya, Nyonya. Jaga kesehatan anda," ucap Dokter.


Dokter berkata seperti itu karena dia melihat garis hitam di bawah mata Daniela, wanita itu terlihat begitu kelelahan. Bahkan, tensi darahnya juga rendah.


Daniela sempat tidak percaya dengan apa yang ditanyakan oleh suaminya, karena dia itu dengan mudahnya menanyakan urusan ranjang.


"Untuk melakukan hubungan suami istri tentu saja boleh, tetapi jangan terlalu sering. Khawatir dengan keadaan ibunya, karena janinnya sangatlah kuat,'' jawab Dokter.


"Gitu ya, Dok! Hem, sepertinya aku harus menahan diri." Danish menghela napas berat.


"Mas!" pekik Daniela seraya memukul lengan pria itu.


Dia merasa jika suaminya terlalu vulgar dalam berkata-kata, padahal sejak tadi dia merasa sangat malu dengan apa yang ditanyakan oleh Danish kepada dokter.


Karena pria itu tidak menyaring sama sekali ucapan yang dia lontarkan, seperti tidak ada malunya sama sekali jika membahas masalah pribadi.


''Apa sih, Yang? Aku hanya bertanya," ucap Danish enteng.


"Kamu tuh ngga usah nanya, pertanyaan kamu itu aneh-aneh." Daniela berbicara dengan bibir yang sudah mengerucut.


Melihat perdebatan antara Danish dan juga Daniela, dokter nampak tertawa. Mereka terlihat begitu manis saat membicarakan bayi yang Daniela kandung, bahkan Danish begitu manis dalam bersikap.


Tidak seperti saat mereka pertama memeriksakan kondisi kehamilan Daniela, keduanya nampak kebingungan.

__ADS_1


"Intinya begini, Tuan, Nyonya. Kondisi kesehatan bayi anda sangat sehat, ibunya hanya sedikit kelelahan karena kurang tidur. Banyakin makanan yang bergizi, banyakin makanan buah dan juga sayuran," jelas Dokter.


"Ah, iya, Dok. Akan saya laksanakan," jawab Danish bersemangat.


Setelah ayahnya meninggal, dia benar-benar merasa kesepian karena ibunya lebih memilih pria lain dan membangun rumah tangga dengan pria tersebut bersama dengan anak dari pria itu.


Setelah menikah, Danish selalu bercita-cita untuk memiliki banyak anak. Hal itu dia inginkan agar tidak kesepian, tidak seperti dirinya yang hanya sendirian.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Danish mengajak Daniela untuk pergi menuju rumah baru mereka. Rumah yang tidak terlalu besar untuk mereka tinggali, karena Danish ingin memulai rumah tangganya sendiri di rumahnya sendiri.


Bukan di kediaman tempat dia dibesarkan, karena di sana terlalu banyak kenangan pahit yang ingin dia lupakan. Jika dulu dia bertahan di sana, itu semata hanya untuk mengenang ayahnya.


"Selamat datang di rumah kita," ucap Danish ketika mereka tiba di rumah yang sudah Danish siapkan.


"Wah! Rumahnya sangat bagus dan nyaman," ucap Daniela.


Rumah itu terdiri dari satu kamar utama, dua kamar tamu dan dua kamar pelayan. Danish bahkan sudah menyewa dua orang pelayan agar Daniela tidak kecapean.


Walaupun rumah itu terkesan sederhana, tetapi Danish tidak akan membiarkan Daniela untuk mengurusi rumah itu sendirian.


"Kamu suka?" tanya Danish ketika Daniela melangkahkan kakinya untuk berkeliling di dalam rumah baru mereka.


"Sangat, Mas. Sangat suka, kamar utamanya gimana?" tanya Daniela.


Daniela ingin kamar utamanya nyaman untuk dia tempati, terlebih lagi Danish mengatakan jika dirinya tidak boleh lagi bekerja. Dia sudah pasti akan banyak menghabiskan waktu dalam kamarnya.


"Ya ampun, baru sampai sudah menanyakan kamar utama. Apakah kamu sudah tidak sabar untuk mencoba kasur baru kita?" tanya Danish seraya menaik turunkan alisnya.


Daniela langsung melototkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, tentu saja dia sadar betul dengan apa yang ditanyakan oleh Danish.


Pastinya, pria itu ingin mengajak dirinya untuk bercinta di atas kasur baru mereka. Padahal, dokter berkata jika mereka tidak boleh sering melakukannya. Apakah Danish sudah lupa akan hal itu, pikirnya.


"Mana boleh, kamu nggak denger tadi kata dokter?" tanya Daniela.


Danish langsung menundukkan wajahnya, dia ingat betul dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Danish tidak boleh sering melakukan hubungan suami istri dengan Daniela.


"Kalau gitu kita nggak usah lihat kamar utama, aku takut khilaf," jawab Danish lesu.


Bercinta dengan Daniela merupakan hal menyenangkan yang sulit untuk dia abaikan, tetapi kini dia harus bisa menahan diri.


"Mana ada yang seperti itu, aku mau ke kamar utama. Mau tidur," ucap Daniela seraya melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


Danish hanya bisa menatap kepergian istrinya seraya menghela napas panjang, jujur saja dia tidak berani mengikuti istrinya untuk pergi ke dalam kamar. Karena dia takut tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


"Sabar Danish! Jangan terburu-buru, kasian baby kamu!" ucapnya lirih.


__ADS_2