
Jika Dave sedang mengobrol dengan Dea tentang masa depan mereka, berbeda dengan Danish. Pria itu begitu sibuk dengan pekerjaannya, terlebih lagi asisten barunya sedang libur kerja untuk melakukan misi menyelamatkan Dea dari Dirgantara.
Tentu saja hal itu membuat Danish sibuk dalam bekerja, karena David sudah dia pindahkan ke kantor cabang. Alhasil dia harus ekstra dalam bekerja.
Pria itu nampak serius menatap layar laptopnya, tangannya dengan lincah bergerak untuk mengetikkan sesuatu di sana. Sudah dari pagi dia bekerja, dia bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya.
Sesekali tangannya akan meraih botol minum yang berada tidak jauh dari dirinya, hal itu pun terjadi hanya jika dia sedang haus saja.
Danish bahkan sampai lupa untuk melaksanakan makan siang, dia berpikir nanti saja dia akan melaksanakan shalat Dzuhur setelah pukul satu tiba. Karena rasa laparnya sudah hilang saat melihat pekerjaan yang menumpuk.
"Assalamualaikum!"
Daniela terlihat membuka pintu ruang kerja suaminya tersebut, Danish yang sedang fokus dalam bekerja langsung menolehkan wajahnya ke arah sang istri. Danish tersenyum dan langsung menghampiri istrinya tersebut.
"Waalaikumsalam, Sayang. Kok tumben kamu ke sini?" tanya Danish seraya menuntun Daniela untuk duduk di atas sofa.
Daniela tersenyum mendapatkan perhatian dari suaminya, padahal suaminya itu sedang sibuk tapi langsung bangun dan menghampiri dirinya.
"Kata mom, kalau kamu sedang sibuk dalam bekerja pasti lupa makan. Jadi, mom meminta aku untuk datang dan membawakan kamu makan siang," ujar Danish.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Danish langsung mengernyitkan dahinya. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia merasa jika telinganya salah mendengar.
Selama ini dia merasa sudah seperti tidak mempunyai ibu, karena wanita yang bernama Debora itu sudah sangat lama tidak memberikan perhatian kepada dirinya.
Bahkan, wanita itu lebih mementingkan pria yang saat ini menjadi suaminya. Pria yang ternyata sudah tinggal bersama dengan sekretarisnya selama ibunya tinggal di tanah air.
Walaupun Danish merasa begitu kesal kepada ibunya, tetapi tetap saja dia merasa kasihan setelah mengetahui apa yang terjadi selama ini terhadap ibunya.
Debora memang selalu diberikan kemewahan oleh pria itu, Debora selalu diberikan uang yang banyak, fasilitas yang bagus dan juga wanita itu tidak pernah hidup kekurangan.
Namun, Debora jarang sekali mendapatkan perhatian dari suami keduanya tersebut. Pria itu lebih sering tinggal di luar kota dengan wanita-wanita selingkuhannya.
Terkadang pria itu akan pulang hanya untuk memberikan nafkah batin kepada Debora, itu pun jika dia memang benar-benar sedang menginginkan Debora atau karena para selingkuhannya sedang tidak bisa menemani dirinya.
"Benarkah?" tanya Danish.
Daniela langsung menganggukkan kepalanya, karena itu memang benar adanya. Wanita itu yang meminta dia untuk menemui Danish, dia berkata malu untuk menemui putranya sendiri.
"Hem!" jawab Daniela seraya menata makanan yang dia bawa di atas meja.
Saat Daniela menyiapkan makanan untuk dia makan siang, Danish merasa terharu karena ibunya tersebut membekali Daniela makanan kesukaannya.
Sudah sangat lama dia tidak merasakan masakan ibunya, entah kapan terakhir Debora membuatkan makanan kesukaannya.
"Apakah mom masak sendiri?" tanya Danish.
__ADS_1
"Yes, suamiku. Dia masak sendiri, aku hanya jadi mandor." Daniela terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Karena pada kenyataannya Debora tidak ingin diganggu, wanita itu terlihat begitu serius saat memasak untuk putra tercintanya. Putra yang selama ini dia telantarkan, putra yang selama ini dia tinggalkan karena begitu terobsesi untuk mendapatkan kekayaan yang berlebih.
"Seperti itu? Kamu melihat sendiri mom memasak?" tanya Danish.
Daniela sempat menolehkan wajahnya ke arah suaminya, tidak lama kemudian dia tersenyum lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Yes, Honey. Dia memasak dengan penuh cinta," jawab Daniela lagi.
''Oh ya ampun! Apakah dia tidak memasukkan racun ke dalam makanannya?" tanya Danish lagi yang sebenarnya tidak ingin menanyakan hal itu. Karena rasanya tidak mungkin Debora melakukan hal itu.
Daniela menghela napas panjang, kemudian dia menatap wajah suaminya dengan lekat. Dia usap pipi suaminya dengan begitu lembut dan berkata.
"Dengar, Sayang. Aku juga perempuan, kamu jangan suudzon. Aku bisa merasakan jika ibu kamu sangat tulus ingin memberikan kasih sayang kepada kita," ucap Daniela.
Danish menghembuskan napas lega mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia tahu itu. Namun, tetap saja dia ingin mengatakan hal tidak penting itu.
"Ya, Sayang. Maaf, aku mengatakan hal itu karena dia sudah lama berubah," ucap Danish seraya menangkap tangan Istrinya dan mengecup punggung tangan istrinya.
"Ya, aku cuma mau berpesan sama kamu. Kamu harus bisa bersikap lebih baik terhadap mom, kalau perlu kamu harus berbicara baik-baik terhadap mom. Mom butuh ketenangan di masa tuanya," ucap Daniela
Menurut wanita hamil itu Debora hanya perempuan yang kurang kasih sayang, wanita itu terlalu banyak ketakutan karena tidak adanya orang yang merangkulnya dan memberikan kasih sayang kepadanya.
"Hem! Suapin, aku lapar." Danish langsung menunjuk mulutnya, dia tidak mau lagi banyak bicara.
"Iya, Sayang." Daniela dengan cepat mengambil sendok dan mulai menyuapi suaminya.
Danish merasa sangat senang sekali, karena di saat dia sibuk dan bekerja sendirian ada istrinya yang datang dan membawakan makanan untuk dirinya.
Satu hal yang membuat dia bahagia, istrinya datang dengan penuh perhatian. Bahkan, Ibunya yang sudah lama tidak menghiraukan dirinya kini berubah menjadi lebih perhatian dan juga pengertian.
Dia begitu senang saat mengunyah makanan yang dikirimkan oleh ibunya untuk dirinya, rasanya masih sama seperti dulu sebelum Ibunya meninggalkan dirinya. Sangat enak, dia bahkan bisa merasakan cinta yang begitu besar dari ibunya ketika memakan makanan tersebut.
"Terima kasih," ucap Danish seraya menatap wajah istrinya.
"Terima kasihnya nanti saja sama mom," jawab Daniela.
Danish hanya terdiam tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Istrinya, dia bahkan langsung mengambil alih sendok dari tangan istrinya dan memakan makanan itu dengan begitu lahap.
Daniela hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, Danish kini bersikap seperti anak kecil yang makanannya takut dihabiskan.
Namun, dia merasa begitu senang ketika melihat suaminya makan dengan begitu lahap. Itu artinya ibunya memasak dengan tidak sia-sia, karena Danish begitu menyukainya.
"Ya ampun, Sayang. Apakah makanannya sangat enak?" tanya Daniela seraya menatap tidak percaya ke arah kotak bekal yang kini ada di tangan Danish.
__ADS_1
''Hem, makanannya sangat enak. Memangnya kenapa?" tanya Danish.
"Aku belum makan, Yang." Daniela menatap dengan sedih ke arah Danish, pria itu langsung salah tingkah dan dengan cepat menyimpan sendok yang sejak tadi dia pegang.
"Ya ampun, aku kira kamu sudah makan. Maaf," pinta Danish dengan penuh penyesalan.
Daniela langsung tertawa, dia merasa lucu saat ditatap oleh suaminya dengan tatapan penuh rasa bersalah seperti itu.
"Tidak apa-apa, nanti aku akan memesan makanan saja," ucap Daniela.
"Biar aku yang pesankan, mau makan apa?" tanya Danish.
Daniela langsung berdiri, lalu dia duduk tepat di atas pangkuan suaminya. Dia tatap wajah suaminya dengan lekat, lalu dia usap bibir suaminya dengan lembut.
"Makan es krim coklat aja, boleh?" tanya Daniela seraya menaik turunkan alisnya.
Dia memberikan kode kepada suaminya, sayangnya Danish tidak mengerti dengan kode apa yang diberikan oleh istrinya tersebut. Dia terlalu banyak memikirkan pekerjaan, pekerjaan yang menumpuk dan minta untuk dikerjakan.
"Boleh, aku akan memesankannya untuk kamu." Danish mengambil ponselnya, dia hendak meminta OB untuk membelikan es krim untuk Istrinya.
Karena dia tidak mungkin membelikan es krim coklat itu sendiri, karena pekerjaan yang benar-benar sangat banyak.
Melihat suaminya yang malah mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, Daniela langsung melayangkan protesnya.
"Mau apa?" tanya Daniela.
Danish langsung menolehkan wajahnya ke arah sang istri, pria itu tersenyum lalu berkata.
''Mau pesan es krim coklat," jawab Danish.
Daniela langsung menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, karena ternyata suaminya benar-benar tidak paham dengan apa yang dia inginkan.
"Ck! Kamu tuh ngga perhatian banget dan ngga peka, aku mau ini." Daniela tanpa ragu mengulurkan tangannya, lalu dia mengusap milik suaminya dan meremat benda panjang berurat yang entah sejak kapan menjadi kesukaannya.
Entah kenapa dia begitu menginginkan suaminya, dia merasa jika bercinta di atas sofa akan sangat menyenangkan siang ini. Akan ada sensasi baru yang bisa dia rasakan.
"Ouch, Sayang! Jangan, aku sedang sibuk." Danish menarik lembut tangan istrinya agar tidak bermain dengan inti tubuhnya, dia takut khilaf dan lupa waktu.
Daniela terlihat begitu kecewa mendapatkan penolakan dari suaminya, padahal biasanya Danish tidak pernah menolak keinginannya.
"Oh! Sibuk ya? Oke, maafkan aku." Daniela langsung turun dari atas pangkuan Danish, lalu dia pergi begitu saja dari ruang kerja suaminya.
Danish berpikir jika Daniel hanya akan turun dari pangkuannya dan duduk di atas sofa, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Daniela pergi dari dalam ruangannya tanpa menolehkan wajahnya ke arah dirinya, Danish menjadi panik dibuatnya.
"Eh? Sayang! Kamu mau ke mana?" tanya Danish dengan panik.
__ADS_1