Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Salah Sangka


__ADS_3

Cukup lama Dilla berbicara dengan Dave, karena wanita paruh baya itu ingin menitipkan putrinya kepada calon suami dari putrinya tersebut.


Setelah Dilla yakin jika Dave akan menjaga putrinya dengan baik, akhirnya mereka pun menyudahi pembicaraan mereka malam ini. Lagi pula hari sudah mulai larut, tidak baik jika mereka masih mengobrol saja. Karena Dilla butuh waktu untuk beristirahat.


Dia tidak boleh begadang karena memang dia mempunyai penyakit yang sudah sangat parah, beruntung wanita itu sampai saat ini masih bisa bertahan.


Dilla bahkan sangat pandai menyembunyikan penyakitnya, Dea sampai tidak menyadari penyakit yang diderita oleh ibunya tersebut.


"Terima kasih karena sudah mau berjanji untuk menjaga putri Mom, terima kasih juga karena sudah mau menikahi putri Mom. Mom tahu jika sebenarnya kalian tidak punya hubungan apa pun sebelumnya," ucap Dilla.


Dave merasa kaget mendengar apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut, padahal dirinya dan juga Dea menyembunyikan hal itu dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


Akan tetapi, ternyata wanita itu sudah tahu semuanya. Dave seakan lupa jika orang tua pasti akan berusaha untuk memantau kegiatan putrinya. Walaupun terkadang Dilla terlalu sibuk dalam mencari rupiah untuk menghidupi dirinya dan juga Dea.


"Maaf kalau sudah membohongi, Mom. Tapi--"


Dave menghentikan ucapannya, dia kebingungan harus menjelaskan seperti apa kejadian yang sebenarnya. Dia kebingungan harus berbicara dari mana tentang pertemuan dirinya dengan Dea saat wanita itu mabuk.


"Tidak perlu menjelaskan apa pun, karena Mom sudah tahu jika kamu yang menghabiskan malam itu bersama dengan Dea, bukan?" tanya Dilla.


Ya, setelah Dea pulang Dilla langsung menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan putrinya. Karena dia tidak mau hal serupa terulang kembali kepada putrinya.


Setelah mengetahui jika lelaki yang tidur dengan Dea adalah Dave, Dilla meminta bantuan kepada Danish untuk menyatukan mereka.


"Yes, Mom." Dave menunduk malu mendengar apa yang ditanyakan oleh Dilla.


"Tidak apa, yang terpenting ke depannya kamu menjaga putriku dan berusaha untuk saling mencintai." Dilla mengusap lengan Dave, bukan karena genit tapi karena begitu berharap kepada pria itu.


Dia berharap jika pria itu mau membahagiakan putrinya, agar dia merasa tenang sebelum Tuhan memanggilnya.


"Yes, Mom," ucap Dave lagi.


Setelah terjadi obrolan yang lumayan panjang di antara keduanya, akhirnya Dilla memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Tentunya, sebelum dia meninggalkan Dave, Dilla memberikan pilihan kepada pria itu.


Jika pria itu merasa lelah, maka Dave boleh menginap di kamar tamu. Akan tetapi, jika dia memang ingin pulang, Dilla tidak bisa melarangnya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku pulang saja," ucap Dave lirih.


Setelah mengatakan hal itu, Dave langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah besar tersebut. Namun, baru saja dia hendak membuka pintu utama, Dea menghampiri pria itu dan menegurnya.


"Kamu mau pulang?"


Dave yang mendapatkan teguran dari wanita itu langsung membalikkan tubuhnya, dia tersenyum hangat ke arah Dea. Lalu, dia pun menjawab pertanyaan dari calon istrinya tersebut.


"Iya, ini sudah sangat malam. Kamu cepatlah tidur, bukannya tadi kamu sudah masuk ke dalam kamar? Kenapa malah keluar lagi?" tanya Dave.


Dea terlihat tidak suka mendengar pertanyaan dari Dave, dia bahkan langsung memukul dada pria yang akan menjadi suaminya itu.


"Kamu itu jahat! Katanya tadi cuma mau ngobrol doang sama mom, tapi tadi aku lihat kamu malah peluk-pelukan sama mom!" kesal Dea.


Dave langsung mengusap dadanya yang terasa sakit akibat ulah dari Dea, karena ternyata wanita itu memukul dadanya dengan cukup kencang. satu hal yang membuat Dave tidak mengerti, Kenapa dia mengatakan hal itu, pikirnya.


Tanpa Dave dan Dilla tahu, Dea memang mengintip Dave dan juga Dilla saat berbicara di dalam ruang kerja ibunya dari balik jendela.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh ibu dan juga calon suaminya, dia sangat kepo tingkat kebupaten.


Bahkan, dia sempat melihat ibunya menangis di dalam pelukan calon suaminya itu. Dea mengira jika ibunya dan juga Dave memiliki hubungan yang spesial, dia merasa tidak terima jika mereka berdua benar-benar memiliki hubungan yang spesial.


"Tapi beneran kok, aku tadi cuman ngobrol doang sama mom. Tidak ada hal lain lagi yang kami bicarakan selain itu, kami juga tidak melakukan apa pun."


Dave berusaha untuk membela dirinya, karena pada kenyataannya dia memang tidak melakukan apa pun dengan Dilla. Dia hanya berbicara mengenai kesehatan Dilla dan juga pernikahan yang akan dia laksanakan dengan Dea nantinya.


"Kamu bohong? Tadi aku lihat kamu peluk-pelukan sama mom!" seru Dea.


Dea kembali memukul dada Dave, kali ini dia bahkan sampai menangis. Wanita itu sudah mulai menyukai pria yang berada di hadapannya, rasanya dia tidak ikhlas jika pria itu direbut oleh ibunya sendiri.


Sungguh pemikiran yang konyol memang, karena ternyata memang itu yang terlintas di dalam pikiran Dea. Ibunya dan calon suaminya memiliki hubungan terlarang.


"Ya ampun, kami hanya ngobrol. Aku memeluk mom karena dia adalah calon mertuaku," jawab Dave asal.


Karena Dave tidak mungkin mengatakan kepada Dea jika dia memeluk calon mertuanya karena merasa iba dengan penyakit yang diderita oleh wanita itu, bukan karena hubungan spesial.

__ADS_1


Jika hal itu terjadi, maka Dea akan mengetahui kalau ibunya memiliki penyakit yang berbahaya. Sedangkan Dilla tidak ingin Dea mengetahui apa pun tentang penderitaannya.


Dia hanya berharap jika putrinya itu akan berbahagia dengan calon suaminya, Dilla hanya berharap jika putrinya tidak salah dalam memutuskan pernikahannya bersama dengan Dave.


"Aku nggak percaya kalau kamu bilang nggak punya hubungan sama mom, karena kalian terlihat begitu dekat." Dea kekeh pada pendiriannya, bibirnya bahkan sampai mengerucut karena sedih.


Dave mengusap pipi calon istrinya yang basah dengan air mata, entah dengan cara apa dia harus meyakinkan wanita itu, dia pun tidak paham.


Karena ternyata Dea dan juga Daniela merupakan wanita yang hampir sama, mereka selalu berpikiran konyol, ceroboh dan gampang kasihan terhadap orang lain.


Tanpa banyak bicara Dave langsung memeluk Dea, walaupun pada awalnya Dea berusaha untuk melepaskan diri dari Dave, tetapi Dave malah mengeratkan pelukannya.


"Dengarkan aku, Dea. Aku itu sudah mulai menyukai kamu, wanita muda, cantik dan juga pernah menghabiskan malam panjang penuh nikmat denganku. Jadi, aku tidak mungkin mempunyai hubungan yang spesial dengan mom kamu." Dave menunduk lalu mengecup kening Daniela.


Ada senyum yang mengembang di bibirnya kala Dave memperlakukan dirinya seperti itu, tetapi tetap saja dia masih merasa kesal terhadap pria itu.


"Kamu nggak bohong, kan? Kamu mengatakan hal itu bukan hanya karena ingin merayuku, kan? Aku tidak mau dibohongi lagi," ucap Dea seraya mencubit perut Dave.


Tentu saja perbuatan Dea membuat Dave mengaduh kesakitan, karena wanita itu mencubit Dave dengan sangat kencang.


"Aduh! Sakit, Sayang. Mana berani aku bohong, aku sudah mulai menyukai kamu dan ingin berumah tangga dengan benar bersama kami. Bagaimana dengan kamu?" tanya Dave.


Dea mendongakkan kepalanya, wanita itu juga sudah mulai menyukai Dave. Namun, dia merasa malu untuk mengatakannya. Rasanya seorang wanita tidak pantas untuk mengungkapkan perasaannya.


"Kok diem, kamu--"


Dave tidak bisa meneruskan ucapannya, karena Dea malah membungkam bibir Dave dengan ciuman yang begitu lembut. Dave awalnya merasa kaget, terapi ketika Dea mulai memagut bibir itu, Dave langsung memejamkan matanya dan membalas ciuman Dea.


"Emph!"


Dea mengerang tertahan kala Dave mulai mengusap punggung Dea, tangan besarnya bahkan mulai merambat turun dan meremat bokong Dea.


"Ouch!" erang Dea kala Dave mulai mengecupi leher jenjang calon istrinya.


Kedua insan rupawan berbeda jenis kelamin itu kini sudah duliputi oleh kabut gairah, tangan Dea bahkan sudah turun untuk menyentuh dan mengusap milik Dave.

__ADS_1


"Dea! Aku mau kamu," ucap Dave dengan tatapan mata penuh puja.


__ADS_2