Semalam Denganmu

Semalam Denganmu
Paniknya Darius


__ADS_3

Darius melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena dia ingin segera pulang dan menemui istrinya. Entah kenapa dia merasa tidak enak hati setelah mendengar kedatangan Debora ke perusahaan miliknya.


Jika wanita itu datang dan menitipkan makanan untuk dirinya, itu artinya istrinya tersebut sempat masuk ke dalam ruangannya. Karena memang dia tidak pernah mengunci pintu ruangannya itu.


Di perusahaannya tersebut, tidak pernah ada yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa seizinnya. Jika ada yang ingin berbicara dengan dirinya, tentunya harus melalui Devan terlebih dahulu.


Walaupun dia sering berselingkuh dengan wanita lain, tetapi perasaan cintanya begitu besar kepada Debora. Wanita itu tidak pernah banyak bicara walaupun dia sering pergi dengan wanita lain.


Bahkan, Debora selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik saat dia di rumah. Walaupun dia jarang pulang, tetapi sekalinya pulang dia akan disambut dengan sangat baik oleh wanita itu.


"Apakah kamu melihatnya?" tanya Darius lirih.


Saat tiba di kediamannya, Darius langsung masuk dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak mendengarkan sapaan dari para pelayan yang berpapasan dengan dirinya, karena tujuan utamanya adalah masuk ke dalam kamar utama.


"Sayang! Kamu di mana?" tanya Darius saat dia masuk ke dalam kamar utama.


Hening, tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan, dia melihat alat make up milik istrinya pun tidak ada di atas meja rias. Dahinya langsung mengernyit dalam, jika istrinya sudah pulang, seharusnya alat make up-nya juga ada di atas meja rias.


"Kamu di mana, Yang?" tanya Darius lagi.


Karena tidak segera mendapatkan jawaban, Darius langsung lari dan membuka pintu kamar mandi. Sayangnya di sana tetap saja tidak ada Debora, hatinya semakin was-was dibuatnya.


"Apa mungkin dia pergi?"


Darius dengan cepat membuka lemari pakaian milik Debora, pakaian wanita itu tidak ada yang hilang. Akan tetapi, kotak perhiasan milik istrinya nampak terbuka dan kosong.


"Apakah kamu benar-benar pergi?" tanya Darius dengan tubuh yang mulai terasa lemas.


Darius yang merasa buntu dan membutuhkan jawaban langsung berlari keluar dari dalam kamar utama, dia bahkan berteriak-teriak memanggil pelayan layaknya orang gila.


"Bi! Di mana istriku?!" teriak Darius.


Para pelayan yang ada di rumah megah tersebut langsung berlari untuk menghampiri Darius, mereka membungkuk seraya menunduk tanpa berani menatap wajah Darius.

__ADS_1


"Kenapa kalian diam? Di mana istriku?" tanya Darius lagi.


"Anu, Tuan. Nyonya mau pergi berlibur, dia membawa dua koper sebelum pergi dari rumah," jawab salah satu pelayan di sana.


"Pergi berlibur? Kapan? Dengan siapa?" tanya Darius dengan tidak sabar.


"Tadi pagi selepas sarapan, Tuan."


"Pagi?" tanya Darius lirih kepada dirinya sendiri.


Dia benar-benar pusing mendengar jawaban dari para pelayan yang ada di sana, kalau dari pagi Debora sudah pergi dari rumah tersebut, ke mana wanita itu pergi seharian, pikirnya.


"Apa mungkin dia punya pria lain? Makanya dia pergi ke tanah air dalam waktu yang cukup lama," praduga Darius.


Rasa cemburu langsung menghantui hatinya, padahal dirinya adalah pria yang selalu berselingkuh. Akan tetapi, dia merasa tidak rela jika istrinya benar-benar selingkuh dari dirinya.


"Aku harus pergi untuk mencari istriku," ucap Darius.


Darius langsung menghubungi Devan, dia meminta asisten pribadinya itu untuk melacak keberadaan istrinya melalui ponsel milik istrinya tersebut.


"Bagaimana?" tanya Darius yang langsung datang menghampiri Devan ke apartemen milik pria tersebut.


"Selepas kepergian nyonya Debora dari kantor, dia langsung pergi ke Resto untuk bertemu dengan tuan Dirgham." Devan menunduk setelah mengatakan hal itu.


"Untuk apa dia bertemu dengan tuan Dirgham? Bukankah dia pengusaha muda kaya dari kota L? Apa hubungan pria itu dengan Debora?" tanya Darius penasaran.


"Nyonya Debora menjual rumah yang anda hadiahkan untuk dirinya, setelah itu nyonya Debora langsung pergi ke Bandara untuk pulang ke tanah air."


"What?!" pekik Darius. "Menjual rumah? Pulang ke taha air? Bagaimana bisa?"


"Sebelum nyonya pergi ke Bandara, dia memberikan pesan singkat kepada saya. Ini, Tuan." Devan menunjukkan isi pesan yang dikirimkan oleh Debora.


"Tolong sampaikan kepada Darius kalau aku akan pulang ke tanah air, tolong sampaikan rasa terima kasihku kepadanya untuk semuanya. Tidak perlu menyusul, karena satu minggu lagi kita akan resmi berpisah. Tolong sampaikan juga kepada dirinya, jaga kesehatan dengan baik. Kalau perlu periksakan kondisi kesehatannya, takutnya dia malah akan terkena penyakit yang berbahaya."

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Debora berpesan seperti itu kepada Darius, dia sangat tahu jika Darius sering bergonta-ganti pasangan. Dia juga sangat tahu jika Darius tidak suka memakai pengaman, dia hanya takut jika Darius terkena HIV.


Bahkan, Debora sudah berpikir untuk melakukan pemeriksaan. Karena satu bulan yang lalu dia masih berhubungan badan dengan suaminya tersebut, dia takut akan tertular jika memang Darius terkena virus yang membahayakan tersebut.


"Devan! Apa saat Debora ke kantor dia membicarakan masalah perceraian?" tanya Darius dengan matanya yang sudah mengembun.


"Iya, Tuan. Katanya nyonya Debora sudah mengajukan gugatan cerai express, tentunya nyonya melakukan hal itu karena dia sudah sangat tahu jika anda sering berselingkuh."


"Benarkah dia berkata seperti itu?" tanya Darius.


"Ya, Tuan."


"Aku akan menyusul Debora ke Bandara," putus Darius.


"Percuma jika anda pergi, pesawat yang nyonya tumpangi sudah berangkat."


Darius tidak bisa mengatakan apa pun, dia hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu, tanpa banyak bicara dia pergi dari apartemen milik Devan, dia langsung melajukan mobilnya menuju rumah yang biasa dia tinggali selama ini bersama dengan Debora.


Saat dia tiba di kediaman tersebut, ternyata di sana sudah ada tuan Dirgham. Pria itu sedang berkeliling di dalam rumah mewah tersebut, tentunya dia berada di sana dengan beberapa pengawalnya.


Melihat akan hal itu, Darius jadi merasa yakin jika istrinya memang sudah benar-benar menjual rumah itu kepada pengusaha muda kaya itu.


Darius terdiam saat dia bertemu dengan pengusaha muda kaya itu, berbeda dengan Dirgham, pria itu langsung menghampiri Darius dan menyapanya.


"Ah! Maaf jika saya sudah lancang masuk ke dalam rumah tanpa menunggu anda, saya sudah tidak sabar untuk melihat rumah ini soalnya." Dirgham mengulurkan tangannya, dengan ragu Darius menerima uluran tangan dari pria muda itu.


"Tidak apa-apa, anda berhak atas rumah ini karena memang istri saya sudah menjualnya."


"Ya, saya sangat menyukai rumah ini. Sepertinya minggu depan saya sudah akan menempati rumah ini, jadi saya harap besok anda sudah mengeluarkan barang-barang anda dan juga milik istri anda."


Ucapan yang keluar dari bibir Dirgham memang terdengar kejam, tetapi itulah watak pria muda itu. Selalu to the point dengan apa yang dia inginkan.


"Baik, Tuan. Besok saya akan meminta orang-orang saya untuk memindahkan semua barang pribadi saya dan milik istri saya," jawab Dirgham.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertiannya," ucap Dirgham dengan senyum hangat di bibirnya.


__ADS_2