
Drrtt drrtttt
Bunyi benda kecil dari atas nakas, namun sang pemilik belum menyadari itu. Hingga beberapa kali berdering pun namun tidak ada tanda tanda bahwa sang pemilik nya akan menjawab.
Sedangkan di dapur sudah ada Rita dan Gunawan yang sedang sarapan, Rita sudah membangun kan Tia tapi ia tak kunjung bangun jadi Rita membiarkan nya karna mungkin masih lelah.
"Apa Tia belum bangun?" tanya Gunawan pada istri nya.
"Iya Yah, seperti nya kemarin ia begitu lelah," jawab Rita tersenyum sambil terus menikmati sarapan nya.
"Setelah ini bangun kan dia untuk sarapan dulu, jika dia masih begitu lelah suruh saja istirahat tidak perlu ke butik dulu," ucap nya lagi pada istrinya, "Baiklah," balas Rita. Dan mereka kembali melanjutkan sarapan nya.
"Ibu bangunin Tia dulu Yah," pamit Rita pada suaminya ketika mereka sudah selesai sarapan. Gunawan hanya mengangguk kecil kearah Rita yang berlalu menuju kamar anak nya.
Tok tok tok....
Suara ketukan di balik pintu kamar Tia, karna tidak mendapat jawaban dari dalam kamar, Rita akhir nya masuk karna pintu kamar putrinya memang tidak terkunci. Rita tersenyum saat melihat Tia yang masih dengan nyenyak ter tidur di bawah selimut yang menutupi tubuh nya.
"Tia ayo bangun sayang," ucap Rita yang sudah duduk di samping Tia sambil membelai lembut puncak kepala putrinya.
"Hmm," ucap Tia yang menyadari kedatangn Ibu nya dan berusaha mengumpulkan nafas nya kembali. "Ada apa Buk?" lanjut nya ber tanya dengan mengucek ngucek matanya agar bisa terbuka.
"Ibu membangunkan mu untuk sarapan Nak, ini sudah lewat waktu nya untuk sarapan," ucap Rita tersenyum menatap ke arah putrinya.
"Apa ini sudah siang Buk?" tanya Tia yang sudah bangun dan duduk di samping Ibu nya.
"Belum juga, tapi sudah hampir" balas Rita pada Tia. "Hari ini istirahat saja, tidak perlu ke butik, nanti biar ibu yang menelfon Ulan" lanjut nya pada Tia.
"Tidak Buk, aku akan tetap ke butik karna masih banyak pesanan yang belum aku kirim kemarin, nanti Ulan dan Fina akan kerepotan jika aku tidak datang," ucap nya menjelaskan , "ya sudah sekarang mandi dulu lalu segera sarapan, ini sudah hampir siang" balas Rita dan kemudian keluar dari kamar Tia.
__ADS_1
Setelah Ibu nya keluar Tia kemudian masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya sebelum berangkat ke butik. Setelah hampir sejam di kamar mandi ia keluar menggunakan handuk yang berbentuk baju milik nya.
Ia kemudian menggunakan celana jeans panjang berwarna biru navi dan menggunakan kaos polos berwarna putih, serta sepatu kets berwarna biru putih yang senada dengan pakaian nya. Dia memang selalu sederhana dalam segala hal, meskipun sekarang dia sudah lebih ber kecukupan tapi dia tidak pernah lupa dari mana ia berasal, dan ia tetap mementingkan menabung dari pada membeli sesuatu yang menurut nya tidak begitu penting.
"Ayah kemana Buk?" tanya nya pada Rita saat tidak melihat keberadaan Ayah nya.
"Ayah sudah berangkat bekerja" jawab Rita tersenyum , "apa kau juga sudah ingin berangkat," lanjut nya saat melihat Tia yang sudah selesai sarapan dan merapikan sedikit rambut nya, "iya Buk, aku sudah sangat terlambat," jawab Tia dan kemudian mencium punggung tangan Ibu nya.
"Kau adalah pemilik butik itu dan tidak ada kata terlambat untuk mu," ucap Rita, Tia hanya tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkan Ibunya. Ia ke butik menggunakan sepeda motor kesayangan nya yang ia beli dari hasil kerja nya di toko milik pak Juanda dulu.
Sesampai nya di butik Tia melihat sudah banyak pengunjung yang melihat dan memilih milih pakaian di dalam butik nya. Dia berjalan masuk dan menyapa semua pengunjung butik nya agar betah dan tidak bosan berbelanja di tempat itu.
"Silahkan di pilih Nyonya, jika ada yang di perlukan silahkan bertanya pada kami," ucap nya sopan pada salah satu pelanggan.
"Baik Mba, terima kasih," balas pelanggan sambil tersenyum.
"Eh kak Tia sudah datang," Sapa Fina saat melihat Tia
"Ia maaf yah aku terlambat," ucap Tia tidak enak dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Orang Kak Tia yang punya butik nya, mau gk datang juga gk masalah kak" balas Fina tersenyum ke arah Tia.
Tia pun hanya tersenyum pada Fina dan beberapa orang yang sedang menatap ke arah nya.
Setelah berlalu meninggalakan Fina, Tia masuk ke ruangan yang sering ia tempati saat ingin memeriksa handpone nya dan melihat pemesanan online dari benda kecil itu. Tempat itu sudah menjadi tempat pribadi nya, ia sengaja memilih ruangan yang berada di ujung lantai dua, agar bisa fokus dan dari situ dia bisa melihat situasi lantai utama.
~
Sedangkan Di tempat lain, Andika yang baru pulang dari jerman setelah menyelesaikan kuliah S1 nya itu sudah berada di perusahaan utama milik Papa nya, ia sebenarnya ingin mengelolah kantor cabang saja tapi Papa nya tidak mengijinkan jadi ia pun hanya bisa menurut.
__ADS_1
Semua karyawan yang yang melihat Andika, merasa penasaran karna sebelum nya mereka tidak pernah melihat sosok lelaki yang bertubuh tinggi dan seperti Atletis itu berada di perusahaan itu.
Andika sama sekali tidak memperdulikan tatapan semua orang yang mengarah kepada nya, ia hanya berjalan dan sesekali melihat jam di tangan nya.
"Jam berapa pertemuan nya?" tanya nya pada Bimo yang berprofesi sebagai Asisten nya.
"Jam 10:30 tuan" jawab Bimo yang berada di balik punggung Andika.
"Bawakan aku makanan ke ruangan ku," ucap nya lagi yang sudah memasuki pintu lift.
"Baik Tuan," jawab Bimo yang langsung mengeluarkan benda pipih nya dan mengirim pesan pada seseorang untuk menyuruh nya mengantar makanan untuk Boss mereka.
Di dalam lift hanya ada suara nafas yang
saling beradu. Tidak ada yang saling mengeluarkan suara. Karna ruangan Andika memang berada di lantai paling atas jadi perlu beberapa menit untuk sampai ke sana.
Dan kemudian pintu lift terbuka, Andika keluar lebih dulu dan Bimo menyusul di belakang nya. Saat sudah berada di dalam ruang kerja nya, mata Andika menatap setiap sudut ruangan itu dan ujung bibir nya sedikit terangkat saat ia melihat sebuah kursi kecil di samping jendela kaca yang besar yang memperlihatkan keindahan kota M.
"Menurut ku ini tidak terlalu buruk" gumam nya begitu pelan namun masih terdengar di telinga Bimo.
"Ada apa Tuan?" tanya Bimo yang hanya mendengar samar samar ucapan Bossnya.
"Hmm tidak, kau siap kan saja semua keperluan saat pertemuan nanti," ucap nya langsung mengalihkan pembicaraan.
"Baik Tuan." balas Bimo yang kembali sibuk dengan benda pipih nya, sedangkan Andika Sudah duduk bersandar di kursi kerja nya.
Jangan lupa vote , like dan coment🤗
Terima kasih banyak😌💙🙏
__ADS_1