Semua Sudah Takdir

Semua Sudah Takdir
Bab 31


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00


Andika membawa Tia masuk ke sebuah mall ternama di kotanya, mereka berjalan dengan tangan yang masih terus bergandengan.


"Untuk apa kita kemari?"tanya Tia tanpa menatap Andika


"Ikut saja, ayo kesana?" balasnya dengan menarik pelan jari jari kecil milik Tia


Tia berjalan lebih cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Andika. Matanya berbinar saat mereka memasuki sebuah toko perhiasan di dalam Mall itu.


"Tolong tunjukan semua perhiasan yang sangat bagus untuk kekasihku !" ujar Andika membuat Tia melotot ke arahnya, dan semua yang berada tak jauh dari mereka terlihat kaget dengan keberadaan lelaki itu.


"Eh tuan, silahkan duduk dulu, kami akan menyiapkan yang Anda butuhkan ," ucap seorang lelaki paruh baya begitu sopan dengan tubuh yang sedikit membungkuk.


Andika mengajak Tia duduk di sebuah sofa yang berada di toko itu. Tak berapa lama, seorang karyawan datang membawa beberapa kotak perhiasan dan meletakkan nya di atas meja yang berada di depan Andika dan Tia.


"Ini adalah koleksi import dari toko kami Nona, silahkan di lihat dulu ," ucap karyawan itu.


Tia masih bingung dan menatap tajam ke arah Andika, berharap agar lelaki itu memberinya penjelasan.


"Ta ... Tapi aku sedang tidak ingin membeli perhiasan ," kata Tia dengan menatap semua perhiasan yang berada di hadapannya.


"Kenapa tidak? Ini adalah hadiah ulang tahunmu ," ujar Andika membuat Tia menghela nafas panjang


"Ini sudah lebih dari cukup ," ucap Tia dengan menunjuk cincin yang berada di jari manisnya.


"Tidak, kau harus memilih lagi sekarang, emm ... atau kau ingin semua ini ?" ujarnya lagi membuat mata Tia membulat dengan sempurna.


"Ceh, kau sudah seperti ingin berjualan saja ," ucap Tia ,


"Baiklah aku ambil ini saja ," lanjutnya memegangi sebuah kotak yang berisi sebuah kalung dengan permata berlian yang sangat indah.


Andika tersenyum dengan terus menatap ke arah kekasihnya. Ia kemudian mengambil kalung yang di pilih oleh Tia dan ingin segera memasangkan benda itu di leher kekasihnya.


~


"Ini sangat cocok untuk mu ," ujarnya setelah berhasil memasangkan kalung dan menatap tak berkedip pada gadis di hadapan.


Tia hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Andika, ia merasa tidak enak dengan pemberian yang berlebihan dari lelaki itu.


"Berapa harganya ?" tanya Tia pada karyawan yang sedang merapikan kembali perhiasan di atas meja.


"Hei, kenapa menanyakan harganya, itu tidak lebih berharga darimu ," timpal Andika dan segera beranjak dari duduknya, "ayo !" lanjutnya sambil mengulurkan tangan pada Tia.


Tia tidak kembali bertanya, ia hanya mengikuti setiap langkah kekasihnya, Tia jga heran kenapa lelaki itu langsung meninggalkan toko perhiasan padahal ia belum melihat Andika membayar kalungnya.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju sebuah Biskop yang juga berada di Mall itu. Andika memesan 2 tiket dan tak lupa membeli popcorn serta minuman untuk Tia.


"Aku tidak pernah menonton di tempat seperti ini sebelumnya ," kata Tia polos dan berhasil membuat Andika tertawa kecil


"Jika kau mau, kau akan mengajakmu setiap malam ," ujarnya dengan terus tersenyum. "Ayo masuk !" sambungnya dan segera masuk dengan membawa popcorn dan sebotol minuman.


Andika memilih duduk di kursi paling belakang karna di situ tidak banyak orang yang duduk. Tia hanya mengikut karna ini pertama kalinya ia akan menonton di tempat seperti ini, ia bahkan tidak tau film apa yang akan ia lihat.


"Dimana minuman mu ?" tanya nya karna melihat hanya ada satu minuman di tangan lelaki itu.


"Ini untuk kita berdua ," balasnya santai dengan terus menatap ke layar besar yang berada di hadapan nya.


"Ah, sial, kenapa dia menayangkan film horor seperti itu ," umpat Tia saat menyadari bahwa sekarang ia sedang menyaksikan film The Grudge dan ia selalu kalah saat menonton film tersebut.


Andika hanya melipat bibirnya agar tidak tertawa, karna ia sendiri yang sengaja memilih film tersebut.


"Jika kau takut, kau bisa memelukku dan sembunyikan wajahmu di sini ," kata Andika yang sudah menarik gadis itu kedalam pelukan nya.


Deg.... Jantung Tia berpacu dengan begitu cepat, ia masih sangat malu jika Andika membuatnya terpojok seperti ini.


"Ehh, ja ... jangan seperti ini ," imbuh Tia dan kembali membetulkan posisi duduknya.


"Tapi aku menyukai nya ," balas Andika dengan kembali manarik Tia kedalam pelukannya. Ia sesekali menyuapi popcorn pada pada gadis yang terus bersandar di dada bidangnya.


Setelah filmnya selesai, kedua manusia itu segera keluar dan kembali berjalan menelusuri Mall.


"Really? Astaga, maafkan aku sayang," ucap Andika begitu menyesal, dan mempercepat langkahnya menuju sebuah restoran yang juga terdapat di Mall itu.


~


"Ah, ini sungguh nikmat," imbuh Tia dengan menyandarkan tubuhnya di kursi karna merasa sangat kenyang.


Andika terus tersenyum melihat tingkah kekasihnya, dan sesekali menggoda gadis itu.


"Apa kita boleh pulang sekarang? Aku sungguh mengantuk."ujar Tia dengan sesekali menguap.


"Ayo," balas Andika yang sudah beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan nya pada gadis itu. Tia menyambutnya dan ikut beranjak bersama Andika.


Mereka berdua segere menuju area parkir tempatnya meletakkan mobil. Tia terlihat sudah sangat mengantuk, ia berjalan dengan lahkah longlai, untung Andika terus merangkul pundaknya, dan itu membantu nya menyeimbangkan langkah yang tak beraturan.


~


Andika segera membuka pintu mobil untuk Tia dan gadis itu pun segera masuk. Setelah itu Andika memutar tubuhnya dan membuka pintu untuknya sendiri. Ia sudah duduh di kursi kemudi dan segera menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan tempat itu.


Tia sudah tak bisa menahan rasa kantuknya, ia pun tertidur dengan pulasnya di samping kemudi.

__ADS_1


~


"Sayang, kita sudah sampai," ucapnya pelan pada gadis yang masih terlelap. "Sayang, bangun lah" tambahnya dengan tangan yang merapakin rambut milik kekasihnya yang telihat acak acakan.


Tia masih tidak bergeming, suara dengkuran nya menandakan bahwa ia tertidur sangan lelap. Andika tersenyum menyeringai dengan terus menatap gadis yang tertidur pulas. Karna Tia belum juga bangun ia kemudian mencium singkat bibir kekasihnya berulang ulang agar ia bangun.


"Ah, apa yang kau lakukan?" tanya Tia dengan suara serak.


"Menciummu," balasnya santai dan kembali mencium bibir mungil kekasihnya, tapi kali ini ia bahkan melu*** bibir gadis itu. Tia sampai membulatkan matanya karna tindakan Andika. Ia mencoba mendorong tubuh Andika, tapi lelaki itu jauh lebih kuat darinya.


Andika melepas ciuman nya karna merasa nafasnya sudah sengal.


"Nafas dulu sayang.!!" ucapnya dengan begitu santai membuat Tia malu sendiri.


"Ceh, kau sangat licik ," hardiknya membuat Andika tersenyum dan kembali menarik Tia lalu melu*** dengan sangat lembut bibir gadis itu. Kali ini Tia tidak lagi memberontak, ia hanya membiarkan saja lelaki itu.


~


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mobil membuat kedua manusia di dalam nya kalang kabut dengan kedatangan seseorang.


"Eh, si... siapa itu, astaga bagaimana sekarang?" ucap Tia panik dan kembali memperbaiki posisi duduknya.


"Pejamkan matamu..!!" balasnya dan Tia tidak kembali bertanya, ia langsung memejamkan matanya layaknya orang yang sedang tertidur.


Perlahan Andika menurunkan kaca mobilnya dan melihat Gunawan yang sedang berdiri di sisinya.


"Eh, Aa ... Ayah, em Ayah coba bangunkan Tia, aku sudah berusaha membangunkan nya tapi tidak berhasil," ujarnya pada Gunawan dengan tersenyum kaku.


"Dia memang susah untuk di bangunkan nak" balas Gunawan tersenyum melihat putrinya terlelap di dalam mobil. "Apa kau bisa menggendong nya masuk?" sambungnya pada Andika. Tanpa menunggu lama Andika segera keluar dan membuka pintu di sisih Tia, lalu menngangkat tubuh gadis yang sedang berpura pura tertidur, dan segera masuk kedalam.


Gunawan mengikuti Andika hingga lelaki itu meletakkan tubuh putrinya di dalam kamar dan mereja berdua kembali berjalan menuju ruang keluarga.


"Apa kamu sudah makan Dik?" tanya Gunawan ketika mereka berdua sudah duduk di sofa.


"Sudah Ayah," jawab Andika tersenyum. "Kalo gitu aku pamit dulu, gak enak udah malam," sambungnya dengan melihat jam di tangan nya yang menunjukkan pukuk 22:00


"Ya sudah, hati hati di jalan, jangan ngebut..!!" ujar Gunawan mengingatkan, dan Andika mengangguk lalu mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.


~


Dalam perjalanan pulang, Andika terus tersenyum mengingat kejadian yang membuatnya kalang kabut, ia bahkan lupa jika kaca mobilnya gelap dan itu membuat orang luar tak bisa melihat kedalam.


"Astaga Tia, aku bahkan tak pamit padanya," katanya pada diri sendiri dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah tampan nya.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan coment🤗


Sekali lagi terima kasih untuk dukungan nya💙🙏


__ADS_2