
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk segera menikmati jamuan makan malam yang sudah tertata rapi di atas meja kaca itu. Tia melirik semua orang dengan ujung matanya, rasa canggung masih terus menari pada dirinya.
"Makanlah nak, kau harus terbiasa dengan keluarga barumu," ucap Iskandar dengan tersenyum menatap Tia. Tia pun membalas senyum lelakinya dengan malu malu.
Perlahan Tia menyendokkan makanan kedalam mulutnya, mengunyah dengan begitu pelan. Andika yang menyadari sikap canggung kekasihnya hanya tersenyum tanpa menegur agar Tia tidak merasa semakin canggung.
Mereka masih menikmati makanannya masing masing, hanya Gita dan Isma yang sesekali terlibat pembicaraan. Gita yang terus mengeluh tentang tugas kampus dan harus mengurus Butiknya juga, memasang wajah lesuh yang di buat buat agar mendapat simpati dari keluarganya.
Isma tersenyum menanggapi ocehan putrinya, lalu ia menjawab dengan suara lembut. "Itukan untuk masa depanmu juga sayang." Jawaban yang membuat Gita menyerucutkan bibirnya.
Di tengah asiknya aktivitas makan malam, tiba tiba seorang pelayan mendekat di ikuti seorang gadis di belakangnya.
"Maaf mengganggu kalian, tapi Nona Rosa datang kemari ingin bertemu dengan kalian." Suara pelayan membuat semua orang menatap ke arahnya.
Untuk apa dia kemari? Apa dia masih sangat percaya diri setelah semua yang terjadi? Benar benar tidak tahu malu, batin Andika dengan tatapan yang sudah fokus pada kekasihnya.
"Tidak apa apa Bi. Rosa, kebetulan sekali kau datang, ayo ikut makan malam." Iskandar tersenyum senang melihat kedatangan putri dari sahabatnya itu.
"Apakah tidak masalah aku bergabung dengan kalian?" bertanya dengan wajah polos dibuat buat.
"Tidak masalah, ayo duduk!" Isma ikut menimpali, menunjuk kursi yang kosong di samping Gita.
Rosa dengan bangganya menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya disana. Pelayan yang tadi mengantarnya sudah pergi setelah melihat Rosa diterima dengan baik.
Suasana yang tadinya mulai hangat menurut Tia, sekarang malah menjadi semakin canggung. Tia melirik Andika yang juga sedang menatapnya, pria itu tersenyum dan mengangguk pelan. Biarkan saja dia, kau jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu. Itu adalah kalimat yang Tia terjemahkan sendiri saat melihat tatapan Andika padanya. Ia pun ikut mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.
Setelah acara di meja makan selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati potongan buah yang di bawa oleh pelayan.
"Paman bagaimana kabarmu?" Rosa membuka pembicaraan, bertanya dengan nada simpati.
"Sudah membaik, kau lihatkan sekarang paman sehat." Gunawan tersenyum lalu memasukkan potongan buah kedalam mulutnya. "Dimana papamu? Apa dia tidak akan mengunjungiku?" lanjutnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Seketika Rosa terdiam, menatap ke arah Andika, bertanya melalui sorot matanya, namun Andika terlihat tidak peduli. Apa dia tidak menceritakan semuanya pada paman? Tapi, syukurlah, aku kan tidak perlu khawatir dan menjelaskan pada mereka. Rosa tertawa dalam hati. Karena Andika tidak mengatakan yang sebenarnya membuat ia merasa lega.
"Rosa, ada apa? Apa papamu baik baik saja?" tanya Isma yang melihat perubahan mimik wajah gadis itu saat Gunawan menginggung nama papanya.
"Eh ... ia, papa baik baik saja!" Rosa menjawab dengan tersenyum sejuta Wat, membuat Andika semakin tidak suka padanya. "Sejak kapan kau disini?" pertanyaan Rosa yang ditujukan untuk Tia, namun sepertinya ia enggan menyebut nama gadis itu.
"Tadi pagi." Tia menjawab sekenanya.
"Oh, apa Dika yang akan mengantarmu pulang?" bertanya lagi sambil melirik pada Andika.
"Tidak Rosa. Tia akan menginap disini untuk beberapa hari," balas Gita mewakili.
"Kenapa?"
"Apa kau harus tahu?" tanya Andika menimpali, ia merasa jengah dengan gadis tidak tahu malu di hadapannya
Rosa pun cukup tahu diri sepertinya, ia tidak lagi bertanya saat Andika menunjukkan rasa tidak sukanya. Tia pun enggan menjawab pertanyaan Rosa tadi, membuat gadis itu merasa semakin kesal saja.
Obrolan masih terus berlanjut, tidak ada dari mereka yang membahas tentang keluarga Tia, berusaha membuat gadis itu melupakan sedikit saja kesedihannya. Gita yang terus mengeluh dengan semua aktivas kampusnya, sama sekali tidak di mengerti oleh Tia, namun ia tetap memberi solusi dan semangat untuk sahabatnya.
"Itu karena kau tidak membangunkanku Git," jawab Tia malu malu, lalu menatap ke arah kekasihnya yang sedang tersenyum.
"Hahaha, benarkah? Apa penampilan putri mama terlihat berantakan waktu itu?" tanya Isma tidak percaya, namun masih terdengar tawa dari mulutnya.
"Eh ... tidak mam, itu karena aku tidak tahu, dan Andika tiba tiba saja ada di dalam mobil saat aku masih tidur," jelasnya dengan rasa bersalah namun kembali membuat keluarga kekasihnya tertawa.
Di tengah asiknya obrolan mereka, ada satu gadis yang terlihat sangat kesal. siapa lagi kalo bukan Rosa. Mendengar Tia memanggil mama pada Isma membuat darahnya semakin mendidih.
Apa mereka sudah sedekat itu? Cih, berlebihan sekali, dia bahkan tidak ada apa apanya di banding kan denganku. Ini benar benar tidak bisa di biarkan. Mengumpat dalam hati dengan tatapan tidak sukanya pada Tia. Gadis yang di tatap malah tidak terganggu sama sekali.
"Oiya Dik, dimana kau akan melanjutkan S2 mu?" tanya Rosa basa basih.
__ADS_1
"Andika akan mengurus perusahaan saja, papa kan sudah tidak sekuat dulu untuk mengurus semuanya." Gita mewakili kakaknya menjawab pertanyaan Rosa.
Kenapa Dika bersikap dingin sekali pada Rosa? Untuk menjawab pertanyaan gadis itupun ia seperti berat sekali. Gita membatin, merasa aneh sendiri dengan sikap kakaknya. Apa karena dia menjaga perasaan Tia? Tapikan Tia pasti tidak akan marah jika hanya sekedar menjawab pertanyaan. Ah sudahlah, biarkan saja. Begitulah akhirnya Gita menghentikan perdebatan dengan hatinya sendiri.
"Kami mau istirahat dulu, kalian lanjut saja." Iskandar sudah beranjak dari duduk, di ikuti Isma yang juga beranjak.
"Iya pa." Andika menjawab. Dan yang lain hanya mengangguk lalu tersenyum.
Setelah kedua manusia paruh baya itu memasuki kamarnya. Keempat anak mudah yang masih berada di ruang keluarga masih terlihat mengobrol sesekali.
Andika mendorong tubuh Gita agar pindah ke sofa yang lain, agar ia bisa mendekatkan posisi duduknya pada Tia. Dengan wajah manyun Gita pun pindah dan duduk di samping Rosa.
"Sayang, apa kau tidak mengantuk?" tanya Andika lembut sambil menyandarkan kepala Tia di bahunya.
"Tidak." Tia menjawab dengan jari jari yang sudah sibuk dengan ponselnya. "Aku mau menelepon Kak Sisi," lanjutnya memberitahu. Andika hanya mengangguk sambil membelai puncak kepala kekasihnya.
"Dimana kau akan melanjutkan S2 mu Rosa?" tanya Gita pada gadis yang terlihat sedang memperhatikan sepasang kekasihnya di hadapannya.
"Aku belum merencanakannya Git, aku kan sibuk mengurus perusahaan papaku," jelasnya tanpa melihat ke arah Gita.
"Gita, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya dengan setengah berbisik.
"Ada apa," balas Gita penasaran, dengan wajah tidak sabarnya.
"Em ... kenapa dia akan menginap di rumahmu?" tanyanya dengan mata yang menatap Tia.
"Kenapa kau begitu penasaran sih." Gita menghela nafasnya. Pertanyaan Rosa sama sekali tidak menarik untuk ia jawab.
"Aku kan cuman bertanya, kau tinggal jawab saja." Rosa dengan nada kesalnya, namun tetap mengecilkan suara agar sepasang kekasih itu tidak mendengarnya.
"Apa kau tidak tahu kejadian seminggu yang lalu?" tanya Gita dan Rosa mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu apa apa. Lagi lagi Gita menghela nafasnya sebelum kembali berbicara.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung author🤗
Terima kasih😌💙🙏