
Satu minggu kemudian.
Sudah tiga hari belakangan Tia tidak berkomunikasi dengan kekasihnya, Andika tidak pernah menghubunginya, dan dia pun sangat sibuk dengan pekerjaannya di Butik. Perbedaan waktu juga membuatnya sulit untuk sekedar menghubungi kekasihnya.
Karena hari ini hari minggu, jadi Tia memutuskan untuk tidak ke Butik, ia ingin bermalas malasan hari ini.
Setelah sarapan bersama, Gunawan berpamitan untuk berangkat bekerja. Meskipun sekarang putrinya bisa membiayai hidup mereka, tapi Gunawan memilih untuk tetap bekerja menjadi kuli bangunan di sebuah proyek. Ia tidak ingin lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan Ayah.
Kedua perempuan itu mengantar Gunawan hingga ke teras rumahnya, lelaki paruh baya itu menaiki sepeda motornya meninggalkan halaman rumah.
Setelah suaminya sudah tak terlihat dari pandangan, Rita mengajak putrinya untuk segera masuk kedalam.
"Ibu, karena hari ini aku tidak ke Butik, bagaimana kalau kita pergi belanja saja." Memberi ide sambil memeluk lengan Ibunya.
"Memangnya mau belanja apa?" tanya Rita sambil mengelus puncak kepala anaknya.
Tia terlihat berpikir, ia pun sebenarnya tidak tahu ingin berbelanja apa. Tapi karena merasa bosan ia memberi ide itu pada Ibunya.
"Kenapa melamun?" Rita menepuk pundaknya pelan, membuat Tia tersentar dengan tangan memegangi dada kirinya.
"Ibu," ujarnya yang tersadar dari lamunan.
"Mau belanja apa?" Rita bertanya lagi karena tadi tidak mendapat jawaban dari Tia.
"Buk, bagaimana jika kita beli rumah saja." Kembali memberi ide membuat Rita menatapnya bingung sekaligus kaget.
"Rumah," ulangnya dan Tia mengangguk membenarkan. "Sayang, apa kau sudah tidak nyaman di rumah peninggalan Nenekmu?" Rita sudah bersuara lirih menatap putrinya.
"Ibu, no … " belum sempat menyelesaikan kalimatnya Rita sudah lebih dulu memotong.
"No." Mengulang lagi ucapan yang aneh dari Tia.
Tia tertawa cengengesan melihat ekspresi wajah Ibunya. Wanita paruh baya itu semakin menatapnya bingung.
__ADS_1
"Maaf Buk," ucapnya di sela sela tawanya. "Aku hanya belajar sedikit berbahasa asing." Tertawa lagi karena merasa lucu sendiri dengan ucapannya. Rita hanya tersenyun dan menggeleng berulang ulang melihat tingkah putrinya.
"No itu artinya tidak Ibu," jelasnya meskipun Rita tidak bertanya.
"Kau sudah banyak berubah." Rita bersuara, membuat senyum di wajah Tia hilang berganti dengan alis yang saling bertautan.
"Ibu aku tetaplah anak ibu dan ayah, tidak ada yang berubah dariku." Membeberkan fakta yang bahkan sudah diketahui. Sekarang giliran Rita yang tertawa melihat ekspresi anaknya.
"Sayang, sebaiknya kau pergi mandi dulu, otakmu sepertinya masih belum berfungsi dengan sempurna." Rita mengejek putrinya, membuat gadis itu memanyunkan bibirnya kesal.
Tia pun segera beranjak dan berjalan menuju kamarnya, mengambil handuk lalu segera masuk ke kamar mandi.
Rita yang masih berada di ruang keluarga terus saja tersenyum mengingat putrinya yang tumbuh menjadi anak hebat seperti sekarang.
Ia kadang merasa ibah kepada putrinya, karena tidak bisa memberikan pendidikan yang layak untuk Tia. Meskipun gadis itu tidak pernah mengatakan bahwa ia juga ingin bersekolah, sebagai orang tua ia sangat tahu bagaimana perasaan putrinya ketika orang orang membandingkan anaknya dengan anak kerabat yang memiliki pendidikan yang tinggi.
~
Di tempat lain, sebuah mobil sport melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota. Akhir pekan selalu membuat kemacetan di mana mana.
Seorang gadis di sampingnya terus memperhatikan. Mencari perhatian meskipun pria itu sama sekali tak menghiraukannya.
"Dika, kenapa terburu buru seperti itu, ini akhir pekan, sebaiknya nikmati perjalanan ini." Bersuara dengan begitu lembut, namun terdengar begitu menggelikan untuk Andika.
"Rosa, sebenarnya kau ingin kemana? Bukankah tadi kau bilang ada janji bersama temanmu." Sudah terdengar kesal kalimatnya. Karena gadis di sampingnya ia harus menunda waktu untuk menghampiri kekasihnya.
"Dia membatalkan janji kami Dika." Rosa masih dengan nada lembut. Membuat Andika benar benar kesal.
Ia menepikan mobilnya, menatap tajam wanita yang masih duduk dengan santainya di samping kemudi.
"Turun.!" Bersuara datar tanpa melihat ke arah Rosa.
"Turun? Kenapa?" Rosa bertanya. Ia Bingung kenapa lelaki itu menurunkannya disini.
__ADS_1
"Bukankah janji bersama temanmu batal. Itu artinya tugasku selesai, lagian Om Hery hanya menyuruhku mengantarmu hingga ke restoran, tapi karena tidak jadi, kau sebaiknya turun di sini saja." Masih dengan nada datar. Menyuruh gadis di sampingnya turun dengan cara halus.
Rosa mengepalkan tangannya geram. Ia menatap Andika yang hanya fokus menatap ke depan, dengan berat hati, Rosa turun dari dalam mobil. Setelah turun, ia menutup pintu mobil dengan sangat keras, membuat Andika tersenyum tipis karena berhasil membuat gadis turun dari mobilnya.
Andika kembali melajukan mobilnya, meninggalkan Rosa yang sedang menatap dengan penuh amarah pada ia dan mobilnya. Andika malah tersenyum puas telah mengerjai gadis itu. Sebenarnya ia pun tidak tega, tapi melihat sikap Rosa yang selalu berlebihan, membuatnya merasa resah jika berlama lama di dalam mobil berdua.
~
Tia sudah selesai dengan acara mandinya. Memakai pakaiannya dan setelah itu beranjak keluar dari dalam kamar.
"Ibu," panggilnya dengan sedikit berteriak karena tidak mendapati keberadaan wanita paruh baya itu.
Setelah berkeliling di dalam rumah, Tia akhirnya ke halaman belakang untuk melihat Ibunya. Dan benar, Rita sedang berada di sana, memberi makan untuk bebek bebeknya.
"Sudah selesai," sapanya saat melihat Tia yang sudah terlihat rapi.
"Ibu, cepat bersiap.! Kita kan akan belanja hari ini," ujar Tia sambil menarik tangan ibunya dan mereka masuk kedalam rumah.
"Apa kau benar benar akan membeli rumah?" tanya Rita penasaran.
"Terserah ibu saja. Tia kan belum menikah, jadi semua tergantung ibu dan ayah." Tia terlihat sangat serius. memperlihatkan senyum hangat di wajahnya membuat mata Rita berkaca kaca.
"Ibu bersiap dulu, tunggu lah disini." Akhirnya memutuskan untuk bersiap, sebelum air matanya tumpah di hadapan Tia.
"Baik Buk." Tia tersenyum. Sambil menunggu ibunya bersiap, ia menuju ruang keluarga. Mencicipi cemilan yang ada di meja kecil di ruangan itu, sambil matanya fokus pada layar televisi.
Rita sudah berada di kamarnya, ia menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi, merasa begitu terharu mendengar ucapan putrinya tadi. Ia pun segera bersiap untuk menemani putrinya berbelanja.
Entah apa yang akan di beli anak itu, Tia benar benar sudah sudah merubah kehidupan kami. Batin Rita sambil terus bersiap siap. Ia merapikan sedikit rambutnya. Bergegas dari kamar lalu segera menghampiri Tia yang sudah menunggunya di luar.
"Ayo," ajaknya mengagetkan Tia namun gadis itu langsung tersenyum melihat senyum bahagia dari wajah ibunya.
Jangan lupa vote, like, dan coment Kak😘
__ADS_1
Sekali lagi, terima kasih😌💙🙏